+ All documents
Home > Documents > 111510601004.pdf - Repository Universitas Jember

111510601004.pdf - Repository Universitas Jember

Date post: 08-Jan-2023
Category:
Upload: khangminh22
View: 1 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
132
ANALISIS WILAYAH KOMODITAS UBI KAYU DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PACITAN SKRIPSI Oleh: Ainun Faidah NIM 111510601004 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2015 Digital Repository Universitas Jember
Transcript

ANALISIS WILAYAH KOMODITAS UBI KAYU DAN

KONTRIBUSINYA TERHADAP SEKTOR PERTANIAN

DI KABUPATEN PACITAN

SKRIPSI

Oleh:

Ainun Faidah

NIM 111510601004

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015

Digital Repository Universitas Jember

i

ANALISIS WILAYAH KOMODITAS UBI KAYU DAN

KONTRIBUSINYA TERHADAP SEKTOR PERTANIAN

DI KABUPATEN PACITAN

SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat

untuk menyelesaikan Program Studi Agribisnis (S1)

dan mencapai gelar Sarjana Pertanian

Oleh:

Ainun Faidah

NIM 111510601004

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015

Digital Repository Universitas Jember

ii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

1. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda H. Mahfudz dan Ibu Solehati serta

Saudari saya Nur Aisyah, S.Pd. dan Wardatul Hasanah yang senantiasa

memberikan motivasi, materi, dan do’a yang tulus dan ikhlas kepada saya.

2. Almamater yang saya banggakan Program Studi Agribisnis Fakultas

Pertanian Universitas Jember.

3. Ibu Dr. Triana Dewi Hapsari, SP., MP., selaku Ketua Laboratorium

Manajemen Agribisnis dan telah menjadi sosok ibu yang membimbing dalam

segala hal di kampus pertanian.

4. Dosen-Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember yang telah memberikan

ilmu dan bimbingan selama menempuh studi di Fakultas Pertanian

Universitas Jember,

5. Guru-guru TK Dharma Wanita, SDN Tegal Gede 3, SMPN 3 Jember, dan

SMAN 1 Jember,

6. Teman-teman Asisten Laboratorium Manajemen Agribisnis, khususnya Ela

Fitria Ningrum, SP., Entri Yhonita, SP., dan Imroatul Amalia Safitri dan

teman asisten Laboratorium Ekonomi Pertanian, Laboratorium Komunikasi

Penyuluhan Pertanian, Laboratorium Sosiologi Pertanian, dan Laboratorium

Koperasi & Kelembagaan Pertanian yang selalu memberikan dukungan

dalam berbagi ilmu.

7. Teman-teman Agribisnis angkatan 2011 yang menjadi teman seperjuangan

dalam menuntut ilmu.

Digital Repository Universitas Jember

iii

MOTTO

”Ketergesaan dalam setiap usaha membawa kegagalan”

(Herodotus)

"Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka

terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja.

Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi”

(Ernest Newman)

”Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow”

(Anthony J. D’Angelo)

Digital Repository Universitas Jember

iv

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ainun Faidah

NIM : 111510601004

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul

“Analisis Wilayah Komoditas Ubi Kayu dan Kontribusinya Terhadap Sektor

Pertanian di Kabupaten Pacitan” adalah benar-benar hasil karya sendiri,

kecuali kutipan yang sudah saya sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan

pada institusi manapun, dan bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas

keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung

tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan

dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika

ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember, 19 Agustus 2015

yang menyatakan

Ainun Faidah

NIM 111510601004

Digital Repository Universitas Jember

v

SKRIPSI

ANALISIS WILAYAH KOMODITAS UBI KAYU DAN

KONTRIBUSINYA TERHADAP SEKTOR PERTANIAN

DI KABUPATEN PACITAN

Oleh:

Ainun Faidah

NIM 111510601004

Pembimbing

Dosen Pembimbing Utama : Dr. Triana Dewi Hapsari, SP., MP.

NIP 197104151997022001

Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Jani Januar, MT.

NIP 195901021988031002

Digital Repository Universitas Jember

vi

PENGESAHAN

Skripsi berjudul “Analisis Wilayah Komoditas Ubi Kayu dan Kontribusinya

Terhadap Sektor Pertanian di Kabupaten Pacitan”, telah diuji dan disahkan

pada:

Hari/tanggal : Rabu, 19 Agustus 2015

Tempat : Fakultas Pertanian Universitas Jember

Dosen Pembimbing Utama, Dosen Pembimbing Anggota,

Dr. Triana Dewi Hapsari., SP., MP. Dr. Ir. Jani Januar, MT.

NIP. 197104151997022001 NIP. 195901021988031002

Dosen Penguji,

Aryo Fajar Sunartomo, SP. M.Si.

NIP. 197401161999031001

Mengesahkan

Dekan,

Dr. Ir. Jani Januar, MT.

NIP. 195901021988031002

Digital Repository Universitas Jember

vii

RINGKASAN

Analisis Wilayah Komoditas Ubi Kayu dan Kontribusinya Terhadap Sektor

Pertanian di Kabupaten Pacitan. Ainun Faidah, 111510601004, Program Studi

Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Jember.

Pembangunan subsektor tanaman pangan memiliki arti dan peranan yang

strategis bagi pembangunan nasional dan regional. Ubi kayu adalah salah satu

komoditas subsektor tanaman pangan yang memiliki potensi untuk dikembangkan

di Indonesia dengan rerata produksi selama dua tahun terakhir sebesar

24.057.146,5 ton. Kabupaten Pacitan merupakan salah satu kabupaten penghasil

utama komoditas ubi kayu di Jawa Timur, hal ini ditunjukkan dengan rerata

produksi komoditas ubi kayu Kabupaten Pacitan selama lima tahun terakhir

adalah tertinggi kedua di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Pacitan memiliki 12

kecamatan dan seluruh kecamatan tersebut dapat memproduksi komoditas ubi

kayu. Akan tetapi, tiap kecamatan tersebut memiliki jumlah produksi ubi kayu

yang berbeda-beda. Produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan selama

kurun waktu 2012-2013 memiliki rerata tertinggi diantara tanaman pangan lainnya

yang diusahakan di Kabupaten Pacitan. Akan tetapi, selama kurun waktu lima

tahun terakhir luas panen, luas tanam, dan produksi komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan cenderung menurun.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kecamatan basis produksi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan, (2) karakteristik penyebaran komoditas

ubi kayu di Kabupaten Pacitan, (3) kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan dan sektor pertanian di Kabupaten Pacitan. Penentuan

daerah penelitian dilaksanakan secara sengaja di Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa

Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan analitis.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan sumber

data yang utama adalah BPS Kabupaten Pacitan. Alat analisis data yang

digunakan adalah Location Quotient (LQ), analisis koefisien lokalisasi dan

spesialisasi serta kontribusi. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Kecamatan

basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu

Digital Repository Universitas Jember

viii

tahun 2008-2013 adalah Kecamatan; Tulakan, Pringkuku, Tegalombo, dan

Sudimoro, (2) Karakteristik penyebaran kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan adalah menyebar di kecamatan-kecamatan di Kabupaten

Pacitan dan Kabupaten Pacitan tidak menspesialisasikan kegiatan pertaniannya

pada komoditas ubi kayu, (3) Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan dan PDRB sektor pertanian adalah rendah.

Digital Repository Universitas Jember

ix

SUMMARY

Regional Analysis and Contribution of Cassava Commodity to The

Agricultural Sector in Pacitan Regency. Ainun Faidah, 111510601004,

Agribusiness Study Programme, Faculty of Agriculture, Jember University.

Food crops development has strategic significance and role for national

and regional development in this country. Cassava is one of the food crop

commodities that is potential to be developed in Indonesia, in which the average

production over the past two years amounted to 24,057,146.5 tons. Pacitan

Regency is the second highest cassava producing regency area in East Java

Province, as shown by the mean of Pacitan’s cassava commodity production for

the past five years. Pacitan Regency has 12 districts and all districts can produce

cassava commodity. However, the total production of cassava commodity in each

district is different. Production of cassava commodity in Pacitan Regency in 2012-

2013 had the highest rates among other food crops cultivated in Pacitan Regency.

However, for the past five years of harvested area, acreage, and production of

cassava commodity in Pacitan Regency has shown some decrease.

This study aims to determine: (1) the production basis districts of cassava

commodity in Pacitan Regency, (2) the spreading characteristics of cassava

commodity in Pacitan Regency, (3) the contribution of cassava commodity to the

GDP of food crops subsector and the agricultural sector in Pacitan Regency. The

research was deliberately condusted in Pacitan Regency, East Java Province. The

descriptive and analytical methods are applied in this research. The data used is

secondary data with primary data sources are BPS Pacitan Regency. Data analysis

tools used are Location Quotient (LQ), localization coefficient and specialization

coefficient analysis and contributions. The results showed that: (1) the production

basis districts area of cassava commodity in Pacitan Regency during 2008-2013

are the district; Tulakan, Pringkuku, Tegalombo, and Sudimoro (2) the spreading

characteristics of agricultural activities of cassava commodity in Pacitan Regency

show as disperse and Pacitan Regency does not specialize its agricultural activities

on cassava commodity, (3) the contribution of cassava commodity to the GDP of

food crops and agricultural sector in Pacitan Regency is low.

Digital Repository Universitas Jember

x

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala

limpahan rahmat dan hidayah yang telah diberikan, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Wilayah Komoditas Ubi Kayu dan

Kontribusinya Terhadap Sektor Pertanian di Kabupaten Pacitan”. Skripsi ini

diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program

sarjana strata satu (S1) pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Jember.

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh

karena itu, penulis menyampaikan terima kepada:

1. Dr. Ir. Jani Januar, MT., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Jember,

2. Dr. Ir. Joni Murti Mulyo Aji, M.Rur.M, selaku Ketua jurusan Sosial Ekonomi

Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember,

3. Dr. Triana Dewi Hapsari, SP., MP., selaku Dosen Pembimbing Utama, Dr. Ir.

Jani Januar, MT., selaku Dosen Pembimbing Anggota, dan Aryo Fajar

Sunartomo, SP. M.Si., selaku Dosen Penguji yang telah meluangkan waktu

untuk memberikan bimbingan, motivasi, dan nasihat sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini,

4. Sudarko, SP., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

memberikan bimbingan dan nasihat selama masa studi saya,

5. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda H. Mahfudz dan Ibu Solehati serta

Saudara saya Nur Aisyah, S.Pd. dan Wardatul Hasanah yang senantiasa

memberikan motivasi, materi, dan do’a yang tulus dan ikhlas kepada saya,

6. Ela Fitria Ningrum SP., Entri Yhonita SP., dan Imroatul Amalia Safitri atas

bantuannya selama ini,

7. Para pejuang skripsi 2015, Zumrotul, Rikinta, Irma, Nia, Deti, Siska, Santi,

Imroatul, Nofem, Caca, Nikma, Febriyanti, dan Khusna yang telah

memberikan semangat, do’a, dan bantuan selama masa studi saya,

Digital Repository Universitas Jember

xi

8. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan

Kabupaten Pacitan yang telah bersedia memberikan data dan indormasi sela,a

penyelesaian skripsi ini,

9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi

kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak.

Jember, 19 Agustus 2015 Penulis

Digital Repository Universitas Jember

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. ii

HALAMAN MOTTO ................................................................................. iii

HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................... iv

HALAMAN PEMBIMBINGAN ................................................................ v

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... vi

RINGKASAN .............................................................................................. vii

SUMMARY ................................................................................................. ix

PRAKATA ................................................................................................... x

DAFTAR ISI ................................................................................................ xii

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xv

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xvi

BAB 1. PENDAHULUAN .......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1

1.2 Perumusan Masalah ............................................................... 6

1.3 Tujuan dan Manfaat ............................................................... 6

1.3.1 Tujuan ............................................................................. 6

1.3.2 Manfaat ........................................................................... 6

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 7

2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................... 7

2.2 Karakteristik Komoditas Ubi Kayu ....................................... 10

2.2.1 Sejarah Komoditas Ubi Kayu ...................................... 10

2.2.2 Budidaya Komoditas Ubi Kayu .................................... 15

2.3 Dasar Teori .............................................................................. 17

2.3.1 Teori Wilayah............................................................... 17

2.3.2 Teori Basis Ekonomi .................................................... 19

2.3.3 Produk Domestik Regional Bruto ................................ 25

2. 4 Kerangka Pemikiran ............................................................. 27

Digital Repository Universitas Jember

xiii

BAB 3. METODE PENELITIAN .............................................................. 33

3.1 Penentuan Daerah Penelitian ................................................. 33

3.2 Metode Penelitian .................................................................... 33

3.3 Metode Pengumpulan Data .................................................... 33

3.4 Metode Analisis Data .............................................................. 34

3.5 Definisi Operasional ................................................................ 38

BAB 4 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ........................ 41

4.1 Karakteristik Kabupaten Pacitan ......................................... 41

4.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat .................................... 42

4.3 Keadaan Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan ........ 43

4.4 Pendapatan Regional .............................................................. 45

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 47

5.1 Kecamatan-Kecamatan Basis Produksi Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan .................................................. 47

5.2 Karakteristik Penyebaran Komoditas Ubi Kayu di Kabu-

paten Pacitan ........................................................................... 58

5.3 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Sub

Sektor Tanaman Pangan dan Sektor Pertanian di Kabu-

Paten Pacitan ........................................................................... 66

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 74

6.1 Simpulan .................................................................................. 74

6.2 Saran ........................................................................................ 74

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 75

LAMPIRAN ................................................................................................. 78

Digital Repository Universitas Jember

xiv

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1.1 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan Indonesia,

Tahun 2012-2013 ................................................................. 2

1.2 Perkembangan Luas Panen, Luas Tanam, dan Produksi

Komoditas Ubi Kayu Kabupaten Pacitan, Tahun

2009-2013 ............................................................................ 4

1.3 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan Kabupaten

Pacitan, Tahun 2012 - 2013 ................................................ 5

4.1 Keadaan Penduduk 10 Tahun ke atas di Kabupaten

Pacitan Menurut Pendidikan yang Ditamatkan Tahun 2013 43

4.2 Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2011-2013 ................................ 44

4.3 Perkembangan Luas Tanam Komoditas Ubi Kayu (Ha) di

Kabupaten Pacitan Tahun 2011-2013 ................................. 45

4.4 Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun

2012-2013 di Kabupaten Pacitan ....................................... 46

5.1 Hasil Analisis Nilai Locationt Quotient (LQ) dari

Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun

2008-2013 dari Tertinggi hingga Terendah ....................... 51

5.2 Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif dari Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .................. 59

5.3 Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif dari Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .................. 63

5.4 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB

Subsektor Tanaman Pangan di Kabupaten Pacitan Tahun

2008-2013………………………………………………... 69

5.5 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Sektor

Pertanian di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ............ 71

Digital Repository Universitas Jember

xv

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

2.1 Bagan Pemanfaatan Kulit Ubi Kayu .................................. 11

2.2 Bagan Pemanfaatan Batang Ubi Kayu ............................... 12

2.3 Bagan Pemanfaatan Daun Ubi Kayu .................................. 13

2.4 Bagan Pemanfaatan Daging Ubi Kayu ............................... 14

2.5 Skema Kerangka Pemikiran ................................................ 31

5.1 Grafik Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu

(Ton) di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ................... 48

5.2 Rerata Produksi Komoditas Ubi Kayu tiap Kecamatan di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ................................. 49

5.3 Pemetaan Kecamatan Basis dan Non Basis Produksi

Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun

2008-2013 ............................................................................ 56

5.4 Pemetaan Karakteristik Penyebaran Kegiatan Pertanian

Komoditas Ubi Kayu Tiap Kecamatan di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013 .................................................... 62

5.5 Kontribusi Tiap Sektor Ekonomi terhadap Rerata PDRB

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ................................. 66

5.6 Grafik Perkembangan Kontribusi Komoditas Ubi Kayu

terhadap PDRB Subsektor Tanaman Pangan di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013 .................................................... 69

5.7 Grafik Perkembangan Kontribusi Komoditas Ubi Kayu

terhadap PDRB Sektor Pertanian di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013 ................................................................ 71

Digital Repository Universitas Jember

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Judul Halaman

A. Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu di Indonesia,

Tahun 2009-2013 ................................................................... 78

B. Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu di Jawa

Timur, Tahun 2011-2013 ....................................................... 79

C. Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten

Pacitan, Tahun 2012-2013 ..................................................... 81

D. Perkembangan Luas Tanam Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .................................... 82

E. Perkembangan Luas Panen Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .................................... 83

F. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 dalam Ton ....................... 84

G. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2009 dalam Ton ....................... 85

H. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2010 dalam Ton ....................... 86

I. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2011 dalam Ton ....................... 87

J. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2012 dalam Ton ....................... 88

K. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan

di Kabupaten Pacitan Tahun 2013 dalam Ton ....................... 89

L. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 ............................... 90

M. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2009 ............................... 91

N. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2010 ............................... 92

O Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2011 ............................... 93

P. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2012 ............................... 94

Q. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2013 ............................... 95

Digital Repository Universitas Jember

xvii

R. Nilai Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .................................... 96

S. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 ............................... 97

T. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2009 ............................... 98

U. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2010 ............................... 99

V. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2011 ............................... 100

W. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2012 ............................... 101

X. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi

Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2013 ............................... 102

Y. Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif Komoditas Ubi Kayu

di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ............................... 103

Z. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 ........................ 104

AA. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2009 ........................ 105

BB. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2010 ........................ 106

CC. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2011 ........................ 107

DD. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2012 ……………… 108

EE. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas

Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2013 ………………. 109

FF. Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif Komoditas Ubi Kayu

di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 ……………............ 110

GG. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar

Harga Konstan 2000 Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 .. 111

HH. Data Harga Komoditas Ubi Kayu pada Tingkat Produsen

per Kg di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 (Rp) ……… 112

II. Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Subsektor

Tanaman Pangan Tahun 2008-2013 di Kabupaten Pacitan … 113

JJ. Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Subsektor

Tanaman Pangan Tahun 2008-2013 di Kabupaten Pacitan…. 114

Digital Repository Universitas Jember

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Djalil dalam Oktaliando (2013), prioritas pembangunan di

Indonesia diletakkan pada pembangunan bidang ekonomi dengan titik berat pada

sektor pertanian. Sektor pertanian masih memegang peranan penting bagi

perekonomian nasional. Hal tersebut didasarkan pada peranannya sebagai

penyedia bahan pangan, bahan baku industri, sumber pendapatan bagi jutaan

petani yang tersebar di seluruh Indonesia, serta sebagai sumber penghasil devisa

negara setelah sektor minyak dan gas. Pertanian mencakup beberapa subsektor,

yaitu tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.

Pembangunan subsektor tanaman pangan memiliki arti dan peranan yang

strategis bagi pembangunan nasional dan regional. Hal ini dikarenakan peran

subsektor tersebut tidak hanya sebatas untuk penyediaan bahan pangan dalam

rangka mendukung ketahanan pangan tetapi juga memberikan andil yang cukup

besar terhadap PDB, penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan dan

perekonomian nasional dan regional serta penyediaan bahan baku bagi industri

olahan yang berbasis tanaman pangan (Hafsah, 2003).

Krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1997 yang disertai dengan

kemarau panjang yang melanda Indonesia berdampak terhadap kenaikan harga

berbagai kebutuhan masyarakat diantaranya pangan. Selain itu, permasalahan dan

tantangan di masa mendatang semakin berat dan kompleks diantaranya sebagai

akibat pertumbuhan jumlah penduduk yang masih cukup tinggi, alih fungsi lahan

pertanian ke non pertanian, deraan iklim, dan konsumsi pangan yang masih

bertumpu pada beras mengakibatkan kebutuhan akan pangan khususya beras

setiap tahunnya tidak mampu diimbangi oleh kenaikan produksi dalam negri.

Kondisi tersebut dapat mengancam melemahnya ketahanan pangan baik secara

nasional maupun tingkat rumah tangga. Oleh sebab itu penganekaragaman pangan

khususnya untuk substitusi karbohidrat beras perlu terus digalakkan dan pencarian

bahan pangan sebagai substitutor yang kompatibel sangat penting (Karama, 2003).

Tanaman pangan yang diusahakan di Indonesia terdiri dari beberapa macam,

1

Digital Repository Universitas Jember

2

diantaranya padi, ubi kayu, jagung, ubi jalar, kedelai, kacang tanah, dan kacang

hijau. Berikut perkembangan produksi tanaman pangan di Indonesia selama dua

tahun ini (2012-2013).

Tabel 1.1 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan Indonesia, Tahun 2012-2013

Komoditas Produksi (Ton)

Rerata (Ton) Pangsa(%)* 2012 2013

Padi 69.056.126 71.279.709 70.167.917,5 59,8

Ubi kayu 24.177.372 23.936.921 24.057.146,5 20,5

Jagung 19.387.022 18.511.853 18.949.437,5 16,1

Ubi jalar 2.483.460 2.386.729 2.435.094,5 2,1

Kedelai 843.153 779.992 811.572,5 0,7

Kacang tanah 712.857 701.680 707.268,5 0,6

Kacang hijau 284.257 204.670 244.463,5 0,2

Tanaman

Pangan 116.944.247 117.801.554 117.373.900,5 100

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 (diolah)

Keterangan: a. Pangsa produksi komoditas terhadap total rerata produksi tanaman pangan

Berdasarkan Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa salah satu tanaman pangan

di Indonesia yang memiliki potensi untuk dikembangkan adalah ubi kayu. Hal ini

dapat dilihat dari rerata produksinya selama kurun waktu dua tahun terakhir, yaitu

sebesar 24.057.146,5 ton. Produksi tersebut merupakan tertinggi kedua setelah

padi.

Menurut Damardjati (2000) dalam Hafsah (2003), ubi kayu dapat

dikembangkan sebagai substitusi beras dan bahan baku industri karena memiliki

keunggulan-keunggulan. Ubi kayu dapat beradaptasi pada lahan marginal dan

iklim kering, biaya produksi lebih murah dibandingkan dengan tanaman biji-

bijian, mendukung pengembangan sistem tumpangsari dikarenakan pertumbuhan

kanopi yang cepat mulai bulan keempat dan di waktu panen dapat ditunda sampai

empat bulan tanpa menurunkan hasil pati, hama penyakit yang relatif sedikit dan

mudah diatasi, dan tahan simpan dalam bentuj tepung selama 6-10 bulan dan tidak

mengalami kerusakan sehingga dapat memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.

FAO menegaskan bahwa ubi kayu sanggup mengatasi kebutuhan pangan

bagi lebih dari separuh milyar manusia dan menjadi tumpuan hidup bagi berjuta-

juta petani maupun para pelaku bisnis ubi kayu di dunia. Tercatat lebih dari

65% produksi komoditas ubi kayu di dunia terkonsentrasi di enam negara yaitu

Digital Repository Universitas Jember

3

Nigeria, Thailand, Indonesia, Brazil, Kongo, dan Ghana. Produsen komoditas ubi

kayu paling besar di dunia yakni Nigeria, disusul Thailand, dan Indonesia urutan

ketiga (Subbag Hukum dan Humas Setditjen Tanaman Pangan, 2014).

Ubi kayu tersebar luas di seluruh Indonesia. Potensi komoditas ubi kayu di

Indonesia dapat dilihat dari produksinya di tiap – tiap propinsi. Propinsi Jawa

Timur merupakan propinsi yang memiliki rerata produksi komoditas ubi kayu

tertinggi ketiga setelah Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Lampung (Lampiran

A). Selain itu, Jawa Timur juga merupakan salah satu propinsi sentra produksi ubi

kayu. Hal ini menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki produksi komoditas ubi

kayu yang potensial. Tingginya produksi komoditas ubi kayu di Jawa Timur

dikarenakan luas areal kebun di Jawa Timur telah banyak dimanfaatkan untuk

bercocoktanam komoditas ubi kayu. Areal tersebut tidak hanya pada wilayah

dataran saja namun juga pada wilayah lereng gunung yang cocok untuk ditanami

komoditas ubi kayu. Selain itu, beberapa daerah di Jawa Timur menjadikan

komoditas ubi kayu sebagai bahan pangan pokok selain nasi, seperti di Kabupaten

Pacitan dan Trenggalek.

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu kabupaten penghasil utama

komoditas ubi kayu di Jawa Timur. Hal ini ditunjukkan dengan rerata produksi

komoditas ubi kayu Kabupaten Pacitan selama lima tahun terakhir adalah tertinggi

kedua di Provinsi Jawa Timur (Lampiran B). Tingginya produksi ubi kayu di

Kabupaten Pacitan tersebut salah satunya didukung oleh kondisi alam yang sesuai

dengan pertumbuhan dan perkembangan komoditas ubi kayu. Kabupaten Pacitan

memiliki luas sekitar 1.389,872 km2 dan sekitar 90,6% dari luas tersebut adalah

lahan kering dan gunung-gunung kecil yang tersebar di seluruh Kabupaten

Pacitan. Kondisi alam tersebut mendorong petani untuk mengusahakan komoditas

ubi kayu.

Selain memiliki rerata produksi tertinggi kedua di Jawa Timur, menurut

DirJen Tanaman Pangan 2012, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu sentra

produksi komoditas ubi kayu di Jawa Timur dan Indonesia. Penetapan tersebut

berdasarkan kriteria bahwa kabupaten yang merupakan sentra produksi komoditas

ubi kayu memiliki rata-rata luas panen per tahun lebih dari 5000 hektar (untuk

Digital Repository Universitas Jember

4

Pulau Jawa) serta dapat dilihat juga dari daerah yang memiliki potensi pasar,

industri yang memanfaatkan bahan baku komoditas ubi kayu dan industri rumah

tangga pembuatan keripik singkong. Berikut data perkembangan perkembangan

luas panen, luas tanam, dan produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Tabel 1.2 Perkembangan Luas Panen, Luas Tanam, dan Produksi Komoditas Ubi Kayu

Kabupaten Pacitan, Tahun 2009-2013

Tahun Luas Panen (Ha) Luas Tanam (Ha) Produksi (Ton)

2009 33.783 35.393 564.360

2010 26.938 31.485 508.636

2011 29.168 24.947 549.555

2012 22.178 17.614,8 499.730

2013 17.695 16.816 361.432

Rerata 25.952,4 25.251,16 496.742,6

Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan 2009-2013 (diolah)

Berdasarkan Tabel 1.2 menunjukkan bahwa rerata luas panen, luas tanam

dan produksi komoditas ubi kayu dalam kurun waktu tahun 2009 – 2013 secara

berturut-turut adalah 25.952,4 ton; 25.251,16 ton; 496.742,6 ton. Selain itu, luas

panen, luas tanam dan produksi ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam kurun

waktu tahun 2009-2013 cenderung mengalami penurunan. Luas tanam ubi kayu

mengalami penurunan yang cukup signifikan, dari 35.393 ha pada tahun 2009

menjadi 16.816 ha pada tahun 2013. Penurunan luas tanam tersebut juga sejalan

dengan produksi ubi kayu yang mengalami penurunan. Produksi ubi kayu pada

tahun 2009 sebesar 564.360 ton dan pada tahun 2013 turun menjadi 361.432 ton.

Kabupaten Pacitan memiliki 12 kecamatan dan seluruh kecamatan tersebut

dapat memproduksi komoditas ubi kayu (Lampiran C). Akan tetapi, tiap

kecamatan tersebut memiliki jumlah produksi komoditas ubi kayu yang berbeda-

beda. Rerata produksi tertinggi dimiliki oleh Kecamatan Punung, yaitu sebesar

86.861,6 ton, sedangkan tertinggi kedua adalah Kecamatan Pringkuku sebesar

85.117,2 ton. Kecamatan dengan rerata produksi tertinggi ketiga adalah Donorojo,

sebesar 65.443 ton, kemudian diikuti oleh Kecamatan Tulakan sebesar 58.316 ton,

dan Kecamatan Bandar sebesar 55.205,4 ton lalu tujuh kecamatan lainnya.

Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui apakah seluruh kecamatan atau

hanya beberapa kecamatan di Kabupaten Pacitan yang merupakan basis produksi

Digital Repository Universitas Jember

5

komoditas ubi kayu. Selain itu, juga perlu dianalisis karakteristik penyebaran

komoditas ubi kayu di Pacitan. Potensi komoditas ubi kayu di Pacitan juga

ditunjukkan dengan tingginya produksi komoditas ubi kayu daripada komoditas

tanaman pangan lainnya yang diusahakan di Pacitan seperti yang ditunjukkan data

berikut ini.

Tabel 1.3 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Pacitan, Tahun 2012 –

2013

No Komoditas Produksi Tahun (Ton)

Rerata (Ton) 2012 2013

1. Ubi kayu 499.730 361.432 430.581

2. Padi 178.768 198.169 188.468,5

3. Kedelai 4.425 4.347 4.386

4. Kacang tanah 10.304 9.150 9.727

5. Kacang hijau 59 48 53,5

6. Jagung 138.297 101.683 119.990

7. Ubi jalar 1.355 1.094 1.224,5 Sumber: BPS Kabupaten Pacitan, 2014

Berdasarkan Tabel 1.3 menunjukkan bahwa komoditas ubi kayu memiliki

rerata produksi tertinggi dalam kurun waktu tahun 2012-2013 diantara tanaman

pangan lainnya dengan rerata produksi 430.581 ton. Akan tetapi, berdasarkan

Tabel 1.2 sebelumnya, menunjukkan bahwa selama kurun waktu lima tahun

terakhir luas panen, luas tanam, dan produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan cenderung menurun. Oleh karena itu, perlu diketahui kontribusi komoditas

ubi kayu terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan dan sektor pertanian di

Kabupaten Pacitan.

1.2 Perumusan Masalah

1. Kecamatan mana saja yang merupakan basis produksi komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan?

2. Bagaimanakah karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan?

3. Bagaimana kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB subsektor tanaman

pangan dan sektor pertanian di Kabupaten Pacitan?

Digital Repository Universitas Jember

6

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

2. Karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

3. Kontribusi komoditas ubikayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan dan

sektor pertanian di Kabupaten Pacitan.

1.3.2 Manfaat

1. Sebagai bahan kajian atau informasi bagi pemerintah Kabupaten Pacitan

beserta instansi-instansi terkait untuk pengembangan komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan

2. Sebagai bahan informasi dan referensi untuk penelitian selanjutnya yang

terkait dengan komoditas ubi kayu atau sejenisnya.

Digital Repository Universitas Jember

7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang terkait dengan penentuan wilayah basis produksi ubi kayu

dan karakteristik penyebarannya di Kabupaten Pacitan pernah dilakukan oleh

Zulaika (2002) yang berjudul “Analisis Ekonomi Wilayah Komoditi Ubi Kayu

dalam Mendukung Kegiatan Agroindustri (Studi Kasus di Kabupaten Pacitan

Propinsi Jawa Timur)” menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis LQ, daerah

sentra sekaligus sektor basis ubi kayu di Jawa Timur selama periode penelitian

(1994-1998) adalah Pacitan, Ponorogo, Treggalek, Malang, Bondowoso,

Probolinggo, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Pacitan merupakan wilayah

basis ubi kayu di Jawa Timur dengan LQ tertinggi dari kabupaten yang lain.

Selain itu, ubi kayu di Propinsi Jawa Timur tidak teralokasi pada satu wilayah

kabupaten saja dan Kabupaten Pacitan tidak menspesialisasikan kegiatan

pertanian pada komoditi ubi kayu saja tetapi juga mengembangkan komoditas

tanaman pangan lainnya.

Penelitian terkait ubi kayu juga dilakukan oleh Nurdiastuti (2014) yang

berjudul “Perwilayahan Komoditas Ubi Kayu dalam Mendukung Kegiatan

Agroindustri Chip Mocaf di Kabupaten Trenggalek Propinsi Jawa Timur”

menjelaskan bahwa Trenggalek merupakan wilayah basis ubi kayu di Propinsi

Jawa Timur dengan nilai LQ tertinggi berdasarkan indikator produksi meliputi

Kecamatan Pule, Dongko, Bendungan, Suruh, dan Tugu. Berdasarkan analisis

lokalisasi dan spesialisasi, pengusahaan ubi kayu tidak terkonsentrasi atau

terlokalisasi pada satu wilayah saja, melainkan menyebar di beberapa kecamatan

dan tidak terdapat satupun kecamatan yang hanya menggantungkan

perekonomiannya pada komoditas ubi kayu saja.

Penelitian yang dilakukan oleh Wowor (2014) terkait ubi kayu berjudul

“Kajian Potensi Komoditas Tanaman Pangan di Kabupaten Minahasa”,

menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis LQ, ubi kayu menjadi komoditas

basis di tujuh kecamatan di Kabupaten Minahasa yaitu Kecamatan Lawongan

Barat, Lawongan Selatan, Lawongan Utara, Pineleng, Ttombulu, Tondano

7

Digital Repository Universitas Jember

8

Selatan, dan Tondano Utara. Nilai LQ ubi kayu tertinggi terjadi di Kecamatan

Pineleng.

Herry dan Tohari juga pernah melakukan penelitian terkait ubi kayu tahun

2008 dengan judul “Profil Pengembangan Tanaman Pangan di Kabupaten Cilacap

Jawa Tengah”. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis

koefisien lokalisasi yaitu α > 0,5, penyebaran ubi kayu di setiap wilayah

kecamatan cukup merata terutama di Kecamatan Jeruklegi, Kecamatan

Karangpucung, Kecamatan Dayeuhluhur, Kecamatan Cimanggu, Kecamatan

Sidareja, Kecamatan Gandrungmangu, Kecamatan Kawunganten, dan Kecamatan

Kroya. Selain itu, berdasarkan analisis spesialisasi yaitu β > 1 menunjukkan

bahwa terdapat kecamatan yang cenderung melakukan spesialisasi penanaman ubi

kayu, yaitu Kecamatan Jeruklegi, Kecamatan Dayeuhluhur, Kecamatan Cimanggu

Kecamatan Karangpucung, Kecammatan Sidareja, Kecamatan Gandrungmangu,

Kecamatan Bantarsari, dan Kecamatan Kroya.

Penelitian terkait ubi kayu juga dilkukan oleh Sarno (2010) yang berjudul

“Identifikasi Potensi dan Pengembangan Ubi Kayu dalam Mendukung Ketahanan

Pangan di Wilayah Kabupaten Banjarnegara” menjelaskan bahwa berdasarkan

hasil analisis LQ, komoditas ubi kayu ternyata merupakan komoditas andalan

pada Kecamatan Purwonegoro, Bawang, Sigaluh, Punggelan, dan Karangkobar.

Selain itu, berdasarkan hasil analisis koefisien lokalisasi menunjukkan bahwa pola

distribusi komoditas ubi kayu di masing-masing wilayah atau kecamatan di

Kabupaten Banjarnegara adalah terdistribusi secara tidak merata atau lokasinya

cenderung memusat atau mengumpul di setiap kecamatan, kecuali Kecamatan

Purwonegoro terdistribusi secara merata atau lokasinya cenderung menyebar.

Hasil analisis koefisien spesialisasi menjelaskan bahwa semua kecamatan di

Kabupaten Banjarnegara tidak memiliki spesialisasi dalam kegiatan

pengembangan komoditas ubi kayu, kecuali Kecamatan Purwonegoro, Bawang,

Sigaluh, Punggelan, dan Karangkobar memiliki spesialisasi dalam kegiatan

pengembangan komoditas ubi kayu.

Penelitian terkait ubi kayu pernah telah dilakukan di Kabupaten Pacitan

oleh Ningrum (2014) dengan judul penelitian “Analisis Usahatani Ubi Kayu di

Digital Repository Universitas Jember

9

Kabupaten Pacitan”. Hasil penelitian penelitian tersebut menyatakan bahwa petani

ubi kayu di Kabupaten Pacitan tidak sepenuhnya menerapkan pedoman dalam

melakukan budidaya ubi kayu sesuai dengan standar teknis yang telah ditetapkan,

yaitu pada tahap penanaman (penggunaan bibit lokal) dan pemeliharaan tanaman

ubi kayu (pemberian pupuk yang tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan).

Selain itu, variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi ubi kayu di

Kabupaten Pacitan adalah pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang dalam

budidaya ubi kayu pada sistem tanam monokultur di Kabupaten Pacitan rata-rata

154 kg/ha, sedangkan dosis yang dianjurkan adalah 1-2 ton/ha. Penggunaan bibit

lokal yang tidak unggul dan dosis pupuk yang tidak sesuai dengan yang telah

dianjurkan mempengaruhi kuantitas produksi ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Penelitian yang berjudul “Kontribusi Ekonomi Komoditas Padi Terhadap

Pendapatan Daerah Kabupaten Madiun” yang dilakukan oleh Ningrum (2007)

terkait dengan penentuan wilayah-wilayah basis produksi padi di Madiun dengan

menggunakan analisis LQ selama periode analisis tahun 1997-2005 hasilnya

adalah Kecamatan Kebonsari, Geger, Wungu, Mejayan, Wonoasri, Balerejo,

Madiun dan Sawahan. Karakteristik penyebaran padi di Kabupaten Madiun

selama periode tahun 1997-2005 tidak mengarah pada azas lokalisasi dengan nilai

rata-rata koefisien lokalisasi sebesar 0,233. Selain itu, kontribusi komoditas padi

terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan dan sektor pertanian Kabupaten

Madiun adalah tinggi dengan kontribusi secara berturut-turut sebesar 62,77% dan

24,77%,

Penelitian yang lain terkait kontribusi dilakukan oleh Digdo (2004) yang

berjudul “Prospek dan Kontribusi Komoditas Padi Terhadap Perekonomian serta

Ketahanan Pangan Kabupaten Jember” menjelaskan bahwa kontribusi komoditas

tanaman pangan di Kabupaten Jember adalah tinggi dengan nilai kontribusi rata-

rata tiap tahun sebesar 70,65%. Selain itu, kontribusi komoditas padi terhadap

sektor pertanian di Kabupaten Jember adalah tinggi dengan nilai kontribusi rata-

rata tiap tahunnya sebesar 23,91%.

Penelitian yang dilakukan oleh Isnaini (2009) yang berjudul “Peran dan

Kontribusi Komoditas Padi Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten

Digital Repository Universitas Jember

10

Jombang” menjelaskan bahwa hasil analisis LQ menunjukkan bahwa wilayah-

wilayah sentra penghasil padi di Kabupaten Jombang merupakan sektor basis

selama periode analisis tahun 1998 – 2007 adalah Kecamatan Perak, Gudo,

Mojowarno, Mojoagung, Jombang, Megaluh, Tembelang, Kesamben, Ploso,

Kabuh, dan Plandaan. Hasil analisis kontribusi juga menunjukkan bahwa

kontribusi komoditas padi terhadap PDRB sektor pertanian adalah tinggi dan

terhadap sub sektor tanaman pangan juga tinggi.

2.2 Karakteristik Komoditas Ubi Kayu

2.2.1 Sejarah komoditas Ubi Kayu

Menurut Sosrosoedirdjo (1992), ketela pohon atau ubi kayu telah dikenal

oleh penduduk Brasilisa, Guyana, dan Mexico Selatan sebelum benua Amerika

ditemukan, sehingga menurut para ahli ketela pohon atau ubi kayu berasal dari

Amerika Selatan (Brasilia) yang selanjutnya disebarkan ke berbagai negara oleh

orang Spanyol dan Portugis. Tanaman ketela pohon atau ubi kayu merupakan

tanaman pertanian yang penting diantara tanaman – tanaman pertanian lainnya

hampir di semua daerah tropika dan sub-tropika. Tahun 1851 tanaman ketela

pohon masih merupakan tanaman di pagar – pagar saja dan belum banyak

mendapat perhatian. Tahun 1852 Kebun Raya Bogor menerima bibit ketela pohon

dari Suriname dan setelah diperbanyak pada tahun 1854, bibit – bibit ketela pohon

tersebut dikirim kepada semua karesidenan (dulu).

Menurut Rukmana (1997), komoditas ubi kayu memiliki banyak nama

daerah, diantaranya adalah ketela pohon, singkong, ubi jenderal, ubi Inggris, telo

puhung, kasape, bodin, telo jenderal (Jawa), sampeu, huwi dangdeur, huwi

jenderal (Sunda), kasbek (Ambon), dan ubi Perancis (Padang). Menurut

Plantamor (2013), kedudukan tanaman ubi kayu dalam sistematika (taksonomi)

tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut.

Kingdom : Plantae (tumbuh - tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

Digital Repository Universitas Jember

11

Kelas : Magnoliopsida (biji berkeping dua atau dikotil)

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Manihot

Spesies : Manihot esculenta Crantz

Beberapa sumber seperti Suprapti (2009) dan Rukmana (1997),

menuliskan bahwa nama latin dari spesies ubi kayu adalah Manihot esculenta

Crantz sin. Manihot utilisima Phohl. Penulisan tersebut menunjukkan bahwa

Manihot esculenta Crantz bersinonim dengan penamaan awalnya Manihot

utilisima. Oleh sebab itu, tidak ada perbedaan antara kedua nama tersebut karena

dianggap satu jenis, yaitu ubi kayu.

Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki berbagai

manfaat. Semua bagian dari tanaman ubi kayu dapat dimanfaatkan. Berikut

merupakan bagan pemanfaatan bagian-bagian tanaman ubi kayu.

Gambar 2.1 Bagan Pemanfaatan Kulit Ubi Kayu

Industri makanan

Bahan bakar briket

Industri makan ternak

Pupuk organik

Bioethanol

Media penyerap

Pengawet kayu

Industri makanan

Gula cair (Gucakusi)

Kulit

Asap cair

Digital Repository Universitas Jember

12

Dewasa ini, pemanfaatan kulit ubi kayu tak hanya untuk makanan ternak

dan pupuk organik saja. Berdasarkan Gambar 2.1 menunjukkan bahwa

pemanfaatan kulit ubi kayu kini berkembang menjadi produk-produk lainnya.

kulit ubi kayu dapat digunakan untuk industri makanan seperti keripik. Selain itu,

kulit ubi kayu dapat diolah untuk dijadikan bioethanol, media penyerap, dan

bahan bakar briket. Baru-baru ini diketahui bahwa kulit ubi kayu dapat dijadikan

asap cair untuk pengawetan kayu sehingga mengurangi terjadinya pencemaran

udara akibat penguraian senyawa-senyawa kimia dari proses pembuatan pengawet

kayu. Pemanfaatan yang lainnya adalah diolah menjadi gula cair atau Gucakusi

(gula cair kulit singkong). Penemuan terbaru ini dilakukan oleh sejumlah

mahasiswa IPB yang dapat digunakan sebagai alternatif sumber glukosa.

Penggunaan limbah kulit ubi kayu tersebut dapat memberikan keuntungan

ekonomis karena biaya yang dikeluarkan hanya Rp 3.000,00 per kg dan harga jual

Rp 5.000,00 per kemanisan 800 briks. Dengan adanya penemuan Gucakusi

tersebut diharapkan dapat menekan laju impor gula. Selain kuli, batang ubi kayu

juga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai olahan seperti gambar berikut.

Gambar 2.2 Bagan Pemanfaatan Batang Ubi Kayu

Media penyerap

Bahan bakar briket

Alpha-selulosa Batang

Industri kemasan

Industri plastik

Industri film

Industri kertas, tissu, popok bayi

Industri bahan peledak

Industri membran (filter)

Industri kreatif

Industri obat-obatan

Digital Repository Universitas Jember

13

Masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa batang ubi kayu hanya

digunakan untuk pembibitan ubi kayu pada musim tanam selanjutnya. Akan

tetapi, seiring berkembangnya zaman dan teknologi, batang ubi kayu dapat

digunakan sebagai bahan bakar briket dan media penyerap seperti pada Gambar

2.2. Selain itu, batang ubi kayu juga dapat diambil alpha selulosanya yang dapat

digunakan sebagai bahan baku berbagai industri, sepert industri tisu, kertas, popok

bayi, film, kemasan, dan sebagainya. Bagian tanaman ubi kayu lainnya yang dapat

dimanfaatkan adalah daun.

Gambar 2.3 Bagan Pemanfaatan Daun Ubi Kayu

Berbagai daerah di Indonesia mengenal daun ubi kayu sebagai sayuran.

Akan tetapi, daun ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan

manusia. Berdasarkan Gambar 2.3 di atas, daun ubi kayu dapat dimanfaatkan

menjadi berbagai produk. Ethanol yang terkandung dalam daun ubi kayu dapat

dimanfaatkan menjadi larvasida Aedes aegypti yang dikenal sebagai spesies

nyamuk penyebab demam berdarah. Selain sebagai larvasida, daun ubi kayu juga

dapat dimanfaatkan sebagai bahan bio baterai dan bahan pupuk organik yang

ramah lingkungan. Seiring berkembangnya teknologi, daun ubi kayu juga dapat

dignakan sebagai bahan obat-obatan maupun vitamin. Pemanfaatan ubi kayu yang

banyak diketahui oleh masyarakat luas adalah bagian umbi atau daging ubi kayu.

Berikut bagan berbagai pemanfaatan daging ubi kayu.

Daun

Bio baterai

Pupuk organik

Obat-obatan

Ethanol Larvasida

Digital Repository Universitas Jember

14

Gambar 2.4 Bagan Pemanfaatan Daging Ubi Kayu

Industri makanan

Daging

Bioethanol

Industri makanan

Industri kimia

Industri makanan

Industri makanan,

industri kimia

Gula fruktosa

Etanol

Asam-asam

organik

Senyawa kimia

lain

Gula gluktosa

Industri makanan Tepung Mocaf

Industri makanan Tepung Cassava

Tapioka plaki

Tapioka Industri makanan

Industri makanan

Industri makanan Tapioka pearl

Bahan baku edible film

Industri kimia, farmasi, dan tekstil Dekstrin

Tape Industri makanan

Tepung gaplek Gaplek Industri makanan

Pelet Industri makanan ternak

Onggok Industri makanan

Industri makanan ternak

Industri makanan Tepung onggok

Digital Repository Universitas Jember

15

Mayarakat pada umumnya lebih sering memanfaatkan bagian daging dari

ubi kayu untuk bahan makanan, seperti tepung tapioka, gaplek dan tape. Akan

tetapi, seiring dengan perkembangan zaman muncul berbagai inovasi pemanfaatan

daging ubi kayu seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.4. berdasarkan Gambar

2.4, menunjukkan bahwa daging ubi kayu dapat diolah menjadi berbagai tepung,

seperti tepung mocaf, tepung cassava, tepung tapioka plaki, dan tapoka pearl.

Selain itu, ampas dari hasil pembuatan tapioka atau onggok tak hanya dapat

digunakan untuk pakan ternak, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk industri

makanan. Onggok juga dapat diolah menjadi tepung onggok yang dapat dijadikan

bahan baku industri makanan seperti roti dan mie. Selain itu, daging ubi kayu

yang mengandung kadar HCN yang tinggi seperti ubi kayu yang dibudidayakan di

Propinsi Lampung tak hanya dapat diolah menjadi bahan makanan, tetapi juga

dapat dimanfaatkan menjadi bioethanol.

2.2.2 Budidaya Komoditas Ubi Kayu

Menurut Rukmana (1997), tanaman ubi kayu dapat beradaptasi luas di

daerah beriklim panas(tropis). Daerah penyebaran tanaman ubi kayu di dunia

berada pada kisaran 30o Lintang Utara (LU) dan 30

o Lintang Selatan (LS) di

dataran rendah sampai dataran tinggi 2.500 meter di atas permukaan laut (dpl)

yang bercurah hujan antara 500 mm – 2.500 mm/tahun. Tanaman ubi kayu

membutuhkan kondisi iklim panas dan lembab. Kondisi iklim yang ideal adalah

daerah yang bersuhu minimum 10oC, kelembaban udara (rH) 60% - 65% dengan

curah hujan 700 mm – 1500 mm/tahun, tempatnya terbuka dan mendapat

penyinaran matahari 10 jam/hari. Berikut merupakan tahapan – tahapan budidaya

ub kayu.

1. Penyiapan Bahan Tanaman (Bibit)

Perbanyakan tanaman ubi kayu dapat dilakukan dengan cara generatif (biji)

dan vegetatif (stek batang). Akan tetapi untuk tujuan usahatani pada tingkat

petani biasaynya menggunakan teknik vegetatif dengan stek batang. Batang

tanaman ubi kayu yang akan dijadikan bahan tanaman (bibit) harus dipilih

batang yang memenuhi persyaratan: tanaman berumur cukup tua (10 – 12

Digital Repository Universitas Jember

16

bulan), pertumbuhan normal dan sehat, batang telah berkayu dan berdiameter

± 2 ½ cm serta lurus, belum tumbuh tunas – tunas baru, dan ukuran panjang

stek batang adalah 20 – 25 cm.

2. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan tiga cara pengolahan tanah, yaitu

guludan, hamparan, dan bajang. Guludan dilakukan terutama untuk daerah –

daerah yang sistem drainasenya kurang baik atau untuk penanaman pada

musim hujan. Pengolahan tanah dengan cara hamparan cocok dilakukan di

daerah – daerah kering atau daerah yang sistem drainasenya baik.

3. Penanaman

Tanaman ubi kayu membutuhkan air yang memadai pada stadium atau fase

awal tanam hingga fase pertumbuhan vegetatif umur 4 – 5 bulan. Waktu

tanam pada lahan tegalan (kering) yang paling baik adalah awal musim hujan,

sedangkan di lahan sawah tadah hujan idealnya pada bulan Maret – April.

Penanaman stek ubi kayu dapat dilakukan secara tegak lurus (vertikal), miring

(condong), dan mendatar (ditidurkan).

4. Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman ubi kayu terdiri dari beberapa jenis yaitu penyulaman,

pengairan, penyiangan, pemupukan susulan, dan pembumbunan. Penyulaman

dilakukan untuk mengganti bibit yang mati atau abnomal dengan yang baru.

Penyulaman dilakukan pada umur 1 – 4 minggu setelah tanam. Tanaman ubi

kayu tidak membutuhkan air banyak, tetapi untuk pertumbuhan dan produksi

yang optimal tanah harus cukup lembab (basah). Penyiangan sebaiknya

dilakukan paling sedikit dua kali selama pertumbuhan tanaman ubi kayu, yaitu

pada umur 3 – 4 minggu dan 2 – 3 bulan setelah tanam. Pemupukan susulan

(kedua) dilakukan pada waktu tanaman ubi kayu berumur 2 -3 bulan dengan

pupuk N (Urea) dan K (KCL), masing – masing 2/3 dosis anjuran. Cara

pemupukan susulan adalah dengan ditugal melingkari tanaman sejauh 0 cm –

15 cm dari pangkal batang, sedalam 15 cm, kemudian ditimbun dengan tanah.

Pemeliharaan selanjutnya adalah pembumbunan. Tujuan pembumbunan

Digital Repository Universitas Jember

17

adalah menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan drainase tanah serta

menjaga tanaman ubi kayu agar tidak mudah rebah.

5. Pemanenan

Waktu panen ubi kayu yang paling tepat adalah saat karbohidrat per satuan

luas tanah (hektar) mencapai kadar maksimal. Ciri – ciri ubi kayu yang sudah

saatnya dipanen dan kadar karbohidratnya (pati) maksimal adalah

pertumbuhan daun mulai berkurang, warna daun mulai menguning dan banyak

yang rontok, dan umur tanaman telah mencapai 6 – 8 bulan (varietas genjah)

atau 9 – 12 bulan (varietas dalam).

2.3 Dasar Teori

2.3.1 Teori Wilayah

Ilmu ekonomi regional atau ilmu ekonomi wilayah adalah suatu cabang

dari ilmu ekonomi yang dalam pembahasannya memasukkan unsur perbedaan

potensi suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Manfaat ilmu ekonomi regional

dapat dibagi dua, yaitu manfaat makro dan manfaat mikro. Manfaat makro

bertalian dengan bagaimana pemerintah pusat dapat menggunakannya untuk

mempercepat laju pertumbuhan keseluruhan wilayah. Manfaat mikro, yaitu

bagaimana ilmu ekonomi regional dapat membantu perencana wilayah

menghemat waktu dan biaya dalam proses menentukan lokasi suatu kegiatan atau

proyek (Tarigan, 2012).

Menurut Budiharsono (2001), pembangunan wilayah bkan hanya

merupakan pendisagregasian pembangunan nasional. Hal ini dikarenakan bahwa

pembangunan wilayah mempunyai filsafat, peranan dan tujuan berbeda. ilmu

pembangunan wilayah sebenarnya perkembangannya lebih mendekati ilmu

ekonomi. Perbedaan pokok antara ilmu ekonomi dengan ilmu pembangunan

wilayah terletak pada perlakuan terhadap dimensi spasial.

Menurut Wibowo dan Soetriono (2004), pada umumnya terdapat tiga tipe

wilayah dalam perencanaan pembangunan wilayah, antara lain sebagai berikut.

Digital Repository Universitas Jember

18

1. Wilayah homogen atau formal (homogeneous region)

Konsep wilayah homogen didasarkan pada pendapat bahwa wilayah geografik

dapat dikaitkan bersama-sama menjadi satu wilayah tunggal apabila wilayah

tersebut memiliki ciri – ciri yang seragam. Ciri – ciri itu dapat bersifat

ekonomi (misalnya, struktur produksinya serupa, atau pola konsumsinya

homogen), bersifat geografik (misalnya topografi atau iklimnya serupa),

bahkan dapat juga bersifat sosial atau politik (misalnya, suatu kepribadian

regional atau suatu kesetiaan yang bersifat tradisional kepada partai.

2. Wilayah nodal atau fungsional atau wilayah berkutub (polarized region)

Wilayah nodal pada dasarnya dilandasi oleh adanya faktor ketidakmerataan

atau faktor heterogenitas, akan tetapi satu sama lainnya berhubungan erat

secara fungsional. Struktur wilayah nodal dapat digambarkan sebagai satu sel

yang hidup atau sebuah atom, dimana terdapat satu inti (pusat, central,

metropolis) dan wilayah periferi (pinggiran, hinterland) yang merupakan

bagian sekelilingnya bersifat komplementer (saling melengkapi) terhadap

intinya.

3. Wilayah administrasi atau perencanaan (planning region)

Wilayah administrasi atau wlayah perencanaan adalah wilayah yang menjadi

ajang penerapan keputusan ekonomi. Region ini umumnya dibatasi oleh

kenyataan bahwa unit wilayahnya berada di dalam kesatuan kebijakan atau

administrasi.

Menurut Januar (2006), ilmu wilayah pada hakikatnya merupakan ilmu

multi disiplin yang berdimensi ruang seperti halnya desa, kecamatan, kabupaten,

atau propinsi. Penerapan ilmu-ilmu wilayah di dalam konteks pembangunan selalu

bersandar pada empat pilar, yaitu: (1) evaluasi sumber daya alam yang

menyangkut aspek kuantitas, kualitas, dan penyebaran; (2) lokasi; (3) ekonomi;

(4) sosio-kultur. Tujuan analisis wilayah pada dasarnya adalah untuk menjelaskan

proses bagaimana berbagai kehidupan yang mengorganisasikan diri dalam

berbagai ruang organisasi.

Digital Repository Universitas Jember

19

Menurut Adisasmita (2005), pembangunan wilayah (regional) merupakan

fungsi potensi sumberdaya alam, tenaga kerja dan sumberdaya manusia, investasi

modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi,

komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah,

kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah, kewirausahaan

(kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas.

Semua faktor tersebut adalah penting tetapi masih dianggap terpisah-pisah satu

sama lain, dan belum menyatu sebagai komponen yang membentuk basis untuk

penyusunan teori pembangunan wilayah (regional) secara komprehensif.

Perkembangan ekonomi suatu wilayah sangat ditentukan oleh sejauh mana

suatu komoditas atau sumberdaya mampu mendorong perkembangan dan

pertumbuhan ekonomi wilayah melalui kegiatan atau peranan sektor ekspor

termasuk diantaranya perdagangan antar wilayah (Inter Regiobal Trade).

Selanjutnya menurut teori resource base, bahwa perkembangan sektor ekspor

daerah besar sekali peranannya dalam pembangunan ekonomi daerah, karena

selain menyediakan pendapatan di sektor tersebut, sektor ini mampu menciptakan

efek multiplier ke seluruh perekonomian daerah tersebut (Sukirno (1976) dalam

Supriyono, 1998).

2.3.2 Teori Basis Ekonomi

Menurut Wibowo dan Januar (1998), salah satu tujuan dari kebijaksanaan

pembangunan adalah mengurangi perbedaan antara tingkat perkembangan atau

pembangunan dan kemakmuran antara daerah yang satu dengan daerah yang

lainnya. Konsep pembangunan tersebut sering kali disebut dengan konsep

pembangunan regional atau wilayah. Terdapat berbagai teknik analisis dalam

perencanaan pembangunan regional yang dapat menentukan pilihan terhadap

kegiatan-kegiatan ekonomi yang menjadi prioritas pembangunan. Salah satu

model perencanaan demikian dikenal dengan istilah model perencanaan economic

base.

Digital Repository Universitas Jember

20

Model economic base melihat bahwa sektor perekonomian terbagi atas dua

sektor, yaitu sektor basis dan sektor bukan basis (non-basic sector). Sektor non

basis terutama berfungsi di dalam pelayanan di dalam wilayah yang bersangkutan,

sedangkan sektor basis terutama berorientasi kepada ekspor atau di luar wilayah

yang bersangkutan, wlaupun sektor basis tersebut pada dasarnya memproduksi

barang dan jasa di dalam perekonomian untuk keperluan wilayah maupun luar

wilayah. Dengan demikian sektor tersebut mendatangkan arus pendapatan ke

wilayah yang bersangkutan. Peningkatan pendapatan wilayah pada gilirannya

akan meningkatkan pula tingkat konsumsi wilayah maupun tingkat investasi

wilayah, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan wilayah dan

kesempatan kerja.

Ekspor merupakan variabel utama dalam teori tersebut yang dapat

mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Kenaikan pendapatan yang

diperoleh wilayah yang bersangkutan tidak hanya akan meningkatkan permintaan

terhadap sektor basis saja, akan tetapi juga akan meningkatkan permintaan hasil

industri sektor non basis yang pada gilirannya akan meningkatkan investasi di

sektor bukan basis tersebut. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka

landasan teori economic base adalah sektor basis merupakan prioritas

pengembangan dalam suatu wilayah.

Tarigan (2012) menyatakan bahwa teori basis ekonomi (economic base

theory) mendasarkan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu

wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut.

kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan kegiatan non basis,

hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.

Semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis termasuk ke dalam kegiatan atau

sektor service atau pelayanan, tetapi untuk tidak menciptakan pengertian yang

keliru tentang arti service maka disebut sektor non basis. Sektor non basis

(service) adalah untuk memenuhi konsumsi lokal karena sifatnya yang memenuhi

kebutuhan lokal, permintaan sektor ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan

masyarakat setempat. Oleh sebab itu, kenaikannya sejalan dengan kenaikan

pendapatan masyarakat setempat. Dengan demikian, sektor ini terikat terhadap

Digital Repository Universitas Jember

21

kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan

ekonomi wilayah. Berdasarkan anggapan tersebut maka satu – satunya sektor

yang dapat meningkatkan perekonomian wilayah melebihi pertumbuhan alamiah

adalah sektor basis.

Terdapat beberapa metode untuk memilah antara kegiatan basis dan

kegiatan non basis, yaitu metode langsung, tidak langsung, campuran, dan

Location Quotient. Metode langsung dapat dilakukan dengan survei langsung

kepada pelaku usaha, kemana barang yang diproduksi dipasarkan dan darimana

bahan-bahan kebutuhan untuk menghasilkan produk tersebut dibeli. Metode tidak

langsung banyak digunakan dalam mengukur kegiatan basis dan non basis

mengingat rumitnya melakukan survei langsung ditinjau dari sudut waktu dan

biaya. Salah satu metode tidak langsung adalah metode asumsi. Metode ini

mengasumsikan kegiatan tertentu sebagai kegiatan basis dan kegiatan lainnya

sebagai kegiatan non basis, tergantung kondisi wilayah tersebut (berdasarkan data

sekunder). Suatu wilayah yang sudah berkembang, cukup banyak usaha yang

tercampur antara kegiatan basis dan kegiatan non basis. Penggunaan metode

asumsi murni akan memberikan kesalahan besar. Akan tetapi, penggunaan metode

langsung yang murni cukup berat, yang sering dilakukan adalah menggabungkan

antara metode asumsi dengan metode langsung yang disebut metode campuran.

Metode tidak langsung lainnya adalah menggunakan Location Quotient (LQ).

Menurut Daryanto dan Hafizrianda (2010), salah satu sasaran

pembangunan ekonomi wilayah jangka panjang adalah terjadinya pergeseran pada

struktur ekonomi wilayah yang terjadi akibat kemajuan pembangunan suatu

wilayah. Tidak semua sektor dalam perekonomian memiliki kemampuan tumbuh

yang sama. Oleh karena itu, perencana pembangunan wilayah biasanya akan

memanfaatkan sektor-sektor basis yang dianggap dapat mendorong pertumbuhan

ekonomi. Salah satu indikator yang mampu menggambarkan keberadaan sektor

basis adalah melalui indeks LQ (Location Quotient) yaitu suatu indikator

sederhana yang dapat menunjukkan kekuatan atau besar kecilnya peranan suatu

sektor dalam suatu daerah dibandingkan dengan daerah di atasnya atau wilayah

referensi. Ada dua cara untuk mengukur LQ dari suatu sektor dalam suatu

Digital Repository Universitas Jember

22

perekonomian wilayah yaitu melalui pendekatan nilai tambah atau PDRB (Produk

Domestik Regional Bruto) dan tenaga kerja. Pengambilan keputusannya

menyebutkan bahwa suatu sektor yang memiliki angka LQ > 1 maka sektor

tersebut merupakan sektor basis yang menjadi kekuatan daerah untuk mengekspor

produknya ke luar daerah bersangkutan. Sebaliknya jika LQ < 1 maka sektor

tersebut menjadi pengimpor. Jika LQ = 1 maka ada kecenderungan sektor tersebut

bersifat tertutup karena tidak melakukan transaksi ke dan dari luar wilayah,

namun kondisi seperti ini sulit ditemukan dalam sebuah perekonomian wilayah.

Menurut Wibowo dan Januar (1998), penggolongan atau pengklasifikasian

sektor-sektor dalam suatu wilayah ke dalam sektor basis atau sektor bukan basis

dapat dilakukan dengan suatu analisis yang dikenal dengan nama analisis

Location Quotient atau LQ. Analisis ini pada dasarnya merupakan suatu prosedur

untuk mengukur konsentrasi dari suatu kegiatan atau industri di suatu wilayah

dengan cara membandingkan peranannya dalam perekonomian wilayah tersebut

dengan peranan kegiatan atau industri tersebut dalam perekonomian nasional.

Pengukuran konsentrasi dari suatu industri atau kegiatan tersebut dapat dilakukan

dengan menggunakan dasar ukur yang berbeda, yang umumnya disesuaikan

dengan keperluan perencanaannya. Pengukuran konsentrasi dari suatu industri

atau kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan dasar ukur yang

berbeda, yang umumnya disesuaikan dengan keperluan perencanaannya, yaitu:

a. Apabila tujuan dari perencanaan berkaitan dengan industri atau kegiatan

ekonomi yang dapat memiliki dampak ketenagakerjaan yang tinggi, maka

dapat digunakan dasar ukuran kuantitas tenaga kerja,

b. Apabila yang dianggap penting dalam perencanaan adalah peningkatan

pendapatan, maka nilai tambah adalah ukuran yang tepat untuk digunakan

sebagai dasar ukurnya,

c. Apabila yang dianggap penting adalah persoalan output dalam perencanaan

wilayah, maka dapat digunakan dasar ukur kuantitas hasil produksi.

Rumus umum Location Quotient adalah sebagai berikut:

LQs = (vi/vt) / (Vi/Vt)

Digital Repository Universitas Jember

23

Keterangan:

LQs : Location quotient dari sektor s pada suatu wilayah

vi : Dasar ukur dari sektor s di wilayah

vt : Dasar ukur total dari wilayah

Vi : Dasar ukur dari sektor s di seluruh sistem perekonomian

Vt : Dasar ukur total pada seluruh sistem perekonomian

Asumsi yang digunakan:

a. Penduduk di setiap daerah memiliki pola permintaan yang sesuai dengan pola

permintaan tingkat nasional

b. Permintaan daerah akan sesuatu barang pertama-tama dipenuhi dengan hasil

daerah itu sendiri dan jika jumlah yang diminta melebihi jumlah produksi

daerah tersebut maka kekurangannya diimpor dari luar daerah tersebut.

Menurut Setiono (2011), Location Quotient (LQ) adalah salah satu teknik

untuk menghitung kapasitas ekspor suatu perekonomian (wilayah) dan juga untuk

mengetahui derajat kemandirian suatu sektor di perekonomian wilayah tersebut.

Proses perhitungan analisis LQ menggunakan perbandingan antara kondisi

perekonomian suatu wilayah dengan perekonomian acuan yang melingkupi

daerah yang lebih besar. Metode ini relatif tidak terlalu sulit karena prosesnya

sederhana dan tidak membutuhkan banyak data sehingga mudah dilakukan dan

cepat memberikan hasil perhitungan. Kritik terhadap teknik LQ umumnya

ditujukan pada kekurangakuratan hasil perhitungan yang dihasilkan terutama jika

data yang digunakan merupakan besaran agregat yang cukup besar. Pendekatan

yang dilakukan melalui analisisi LQ pada pokoknya mengacu pada pendekatan

basis ekonomi yang melihat ekspor sebagai sumber pendapatan utama sektor

basis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada tingkat lokal dibutuhkan

pengetahuan tentang sektor yang memiliki kemampuan ekspor. Dengan demikian

teknik metode LQ juga merupakan salah satu cara untuk mengetahui jenis-jenis

sektor yang memiliki kapasitas ekspor dalam suatu perekonomian lokal tertentu.

Menurut Setiono (2011), kegiatan ekonomi yang tersebar tidak merata

cenderung menciptakan konsentrasi kegiatan di beberapa lokasi. Sebaliknya

sebaran kegiatan yang relatif merata menunjukkan tidak adanya kecenderungan

Digital Repository Universitas Jember

24

pembentukan konsentrasi atau pusat-pusat kegiatan. Koefisien lokalisasi

menunjukkan kecenderungan sifat sebaran dari suatu kegiatan atau sektor

ekonomi pada suatu wilayah. Nilai koefisien berkisar antara 0 hingga 1. Semakin

mendekati nol berarti sebaran lokasi kegiatan sektor tersebut di wilayah kajian

cenderung merata. Sebaliknya, jika nilai koefisien lokalisasi mendekati satu, maka

sebaran lokasi kegiatan sektor yang bersangkutan cenderung terkonsentrasi di

beberapa lokasi. Selain koefisien lokalisasi, konsep koefisien spesialisasi juga

penting. Konsep koefisien spesialisasi digunakan untuk mengidentifikasi

kecenderungan terjadinya spesialisasi kegiatan di wilayah tertentu. Prosedur

analisisnya pada dasarnya sama seperti pada koefisien lokalisasi. Perbedaannya

adalah jika analisis koefisien lokalisasi dilakukan pada masing-masing sektor,

maka pada koefisien spesialisasi analisisnya dilakukan pada masing-masing

wilayah.

Menurut Warpani (1988) dalam Soetriono (1996), untuk memperkuat

identifikasi terhadap suatu wilayah sebagai basis suatu komoditas menggunakan

analisis lokalisasi dan spesialisasi. Analisis ini digunakan untuk melihat

karakteristik wilayah terhadap dominasi kegiatan pertanian tertentu. Berikut

rumus untuk analisis koefisien lokalisasi dan koefisien spesialisasi.

Koefisien lokalisasi:

αi = [Si / Ni] – [ΣSi / ΣNi]

Keterangan :

αi = Koefisien lokalisasi, yang bertanda positif dengan nilai 0 ≤ α ≤ 1

Si = Dasar ukur i di suatu wilayah

Ni = Dasar ukur i di wilayah yang lebih luas

ΣSi = Dasar ukur total di suatu wilayah

ΣNi = Dasar ukur total di wilayah yang lebih luas

Koefisien spesialisasi:

βi = [Si / ΣSi] – [Ni / ΣNi]

Digital Repository Universitas Jember

25

Keterangan :

βi = Koefisien spesialisasi, yang bertanda positif dengan nilai 0 ≤ β ≤ 1

Si = Dasar ukur i di wilayah

ΣSi = Dasar ukur total di suatu wilayah

Ni = Dasar ukur i di wilayah yang lebih luas

ΣNi = Dasar ukur total di wilayah yang lebih luas

2.3.3 Produk Domestik Regional Bruto

Penyajian PDRB menurut sektor dirinci menurut total nilai tambah dari

sembilan sektor ekonomi yang mencakup sektor pertanian; pertambangan dan

penggalian; industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih; bangunan;

perdagangan, hotel dan restoran; angkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan

dan jasa perusahaan; jasa. PDRB disajikan melalui 2 harga yaitu atas dasar harga

berlaku dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku adalah

PDRB yang dinilai dengan harga tahun berjalan, sedangkan harga konstan

nilainya didasarkan pada harga satu tahun dasar tertentu (BPS Pacitan, 2013).

Pengelompokkan PDRB menurut kelompok sektor yaitu sektor primer,

sekunder dan tersier didasarkan atas output maupun input menurut asal terjadinya

proses produksi masing-masing produsen. Suatu unit dikelompokkan atas

kelompok primer apabila output yang dihasilkan merupakan proses tingkat awal

(dasar), sektor yang masuk dalam kategori ini adalah sektor pertanian dan sektor

pertambangan penggalian. Kelompok sekunder adalah unit-unit kegiatan ekonomi

yang biaya produksinya (inputnya) sebagian besar berasal dari sektor primer,

sektor-sektor yang termasuk sektor ini adalah sektor industri pengolahan, sektor

listrik dan air minum serta sektor bangunan dan sisanya masuk sektor tersier

(Papua, 2013).

Menurut BPS Indonesia (2014), untuk menghitung angka-angka PDRB

ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu menurut pendekatan produksi,

pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran. Berikut penjelasannya.

Digital Repository Universitas Jember

26

1. Menurut Pendekatan Produksi

PDRB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan

oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu

(biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini

dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu Pertanian, Peternakan,

Kehutanan dan Perikanan; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan;

Listrik, Gas dan Air Bersih; Konstruksi; Perdagangan, Hotel dan Restoran;

Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan; Jasa-

jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi

menjadi sub-sub sektor.

2. Menurut Pendekatan Pendapatan

PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor

produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka

waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud

adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya

sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. PDRB dalam

definisi ini mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak

langsung dikurangi subsidi).

3. Menurut Pendekatan Pengeluaran

PDRB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari

pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, pengeluaran

konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan

inventori, dan ekspor netto (ekspor netto merupakan ekspor dikurangi impor).

Menurut Widodo (1990), kontribusi sektor adalah sumbangan atau

peranan (share) yang diberikan oleh masing-masing sektor terhadap PDB.

Indikator kontribusi sektor ini digunakan untuk menganalisis sektor mana yang

paling besar menyumbang atau berperanan terhadap PDB. Kontribusi sektor

terhadap PDB dihitung terutama sebagai indikator perubahan struktur ekonomi

Indonesia.

Digital Repository Universitas Jember

27

2.4 Kerangka Pemikiran

Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan yang dapat

dikembangkan, baik sebagai substitusi beras maupun bahan baku industri. Hal ini

dikarenakan keunggulan-keunggulan yang dimiliki komoditas ubi kayu. Salah

satunya adalah dapat beradaptasi pada lahan marjinal dan iklim kering.

Kabupaten Pacitan merupakan kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang

sekitar 90,6% berupa lahan kering dan tandus serta perbukitan. Hal ini

menyebabkan tidak mungkinnya tanaman pangan untuk tumbuh dan berkembang

dengan baik. Oleh sebab itu, hampir semua wilayah di Pacitan ditanami ubi kayu

yang merupakan tanaman pangan yang masih dapat tumbuh dan berkembang

dengan baik pada lahan yang marjinal. Berdasarkan data Tabel 1.3 juga

menunjukkan bahwa diantara komoditas tanaman pangan lainnya di Kabupaten

Pacitan, komoditas ubi kayu memiliki produksi tertinggi. Selain disebabkan

kondisi wilayah yang marjinal, kebiasaan mayoritas masyarakat setempat yang

dari dulu menjadikan ubi kayu sebagai bahan makanan pokok (tiwul) selain beras

juga menjadi alasan utama dibudidayakannya ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Oleh karena itu, komoditas ubi kayu merupakan tanaman pangan yang berpotensi

untuk dikembangkan di Kabupaten Pacitan agar kebutuhan masyarakat untuk

bahan pangan maupun bahan baku industri dapat terpenuhi.

Kabupaten Pacitan memiliki duabelas kecamatan, yaitu Kecamatan

Donorojo, Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Nawangan,

Bandar, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro. Seluruh kecamatan

tersebut dapat memproduksi komoditas ubi kayu namun dengan kuantitas yang

berbeda. Perbedaan produksi tersebut dapat dijadikan dasar untuk menentukan

kebijakan terkait pengembangan komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Salah

satunya dengan mengetahui kecamatan mana saja yang merupakan basis produksi

komoditas ubi kayu.

Salah satu perkembangan ekonomi suatu wilayah sangat ditentukan oleh

komoditas atau sumberdaya yang mampu mendorong perkembangan dan

pertumbuhan ekonomi wilayah melalui kegiatan sektor basis atau ekspor. Hal ini

dikarenakan tidak semua sektor dalam perekonomian suatu wilayah memiliki

Digital Repository Universitas Jember

28

kemampuan tumbuh yang sama sehingga keberadaan sektor basis merupakan

prioritas pengembangan dalam suatu wilayah. Titik berat dari sektor basis adalah

ekspor ke luar wilayah yang bersangkutan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa

sektor yang merupakan basis cenderung merupakan sektor yang memiliki output

yang lebih tinggi daripada sektor yang lain.

Salah satu cara untuk mengetahui suatu sektor merupakan sektor basis

adalah dengan menggunakan analisis LQ atau Location Quotient. Analisis

tersebut membandingkan kondisi sektor suatu wilayah dengan sektor acuan yang

melingkupi wilayah yang lebih besar. Terdapat tiga macam indikator atau dasar

ukur yang dapat digunakan, tergantung kebutuhan perencana, yaitu berdasarkan

kuantitas tenaga kerja, nilai tambah, dan kuantitas hasil produksi.

Penentuan kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu pada penelitian

ini menggunakan analisis LQ dengan indikator kuantitas hasil produksi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, selama kurun waktu tahun 2009-2013,

terdapat lima kecamatan yang memiliki pangsa produksi komoditas ubi kayu

terbesar di Kabupaten Pacitan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Punung,

Pringkuku, Donorojo, Tulakan, dan Bandar dengan masing-masing pangsa

produksinya terhadap total produksi komoditas ubi kayu di Pacitan adalah 16,9%;

16,6%; 12,7%; 11,3% dan 10,7%. Berdasarkan uraian tersebut, diduga bahwa

Kecamatan Punung, Pringkuku, Donorojo, Tulakan, dan Bandar merupakan basis

produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Dugaan sementara tersebut

juga didukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Zulaika (2002)

untuk mengidentifikasi wilayah basis komoditas ubi kayu di Propinsi Jawa Timur.

Hasilnya menunjukkan bahwa daerah di Jawa Timur yang merupakan basis

komoditas ubi kayu adalah Pacitan, Ponorogo, Treggalek, Malang, Bondowoso,

Probolinggo, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Daerah – daerah tersebut

cenderung memiliki produksi ubi kayu tertinggi di Jawa Timur. Begitu juga

dengan hasil penelitian Nurdiastuti (2014) terkait kecamatan basis produksi ubi

kayu di Trenggalek menggunakan analisis LQ juga menunjukkan kecamatan –

kecamatan yang temasuk basis produksi ubi kayu cenderung merupakan

kecamatan-kecamatan yang produksi ubi kayunya tertinggi di Trenggalek.

Digital Repository Universitas Jember

29

Selain kecamatan basis, juga perlu diketahui penyebaran kegiatan

pertanian suatu komoditas untuk memperkuat identifikasi terhadap suatu wilayah

sebagai basis suatu komoditas. Kegiatan ekonomi yang tersebar tidak merata

cenderung menyebabkan konsentrasi kegiatan di beberapa lokasi. Begitu juga

sebaliknya. Analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik

penyebaran suatu komoditas adalah koefisien lokalisasi dan koefisien spesialisasi.

Koefisien lokalisasi menunjukkan kecenderungan sifat sebaran dari suatu kegiatan

ekonomi pada suatu wilayah. Selain koefisien lokalita, analisis lain yang

digunakan adalah koefisien spesialisasi, suatu analisis yang dapat menggambarkan

suatu wilayah mengkhususkan pada suatu jenis kegiatan tertentu atau tidak. Oleh

sebab itu, analisis koefisien lokalisasi dapat digunakan untuk mengetahui apakah

kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan menyebar di

beberapa kecamatan atau terkonsetrasi pada kecamatan tertentu. Selain itu, dengan

menggunakan analisis koefisien spesialisasi dapat diketahui apakah Kabupaten

Pacitan mengkhususkan kegiatan pertaniannya pada komoditas ubi kayu atau

tidak.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, komoditas ubi kayu

dibudidayakan di seluruh kecamatan di Kabupaten Pacitan, yaitu Kecamatan

Donorojo, Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Nawangan,

Bandar, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro dengan kuantitas

produksi yang berbeda. Oleh sebab itu, dapat diduga bahwa kegiatan komoditas

ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah tidak terlokalisasi. Selain itu, kecamatan-

kecamatan penghasil komoditas ubi kayu juga tidak hanya memproduksi

komoditas ubi kayu saja, tetapi juga memproduksi tanaman pangan lainnya, yaitu

padi, jagung, kedelai, kacang hijau, ubi jalar, dan kacang tanah. Dengan demikian,

dapat diduga bahwa Kabupaten Pacitan tidak mengkhususkan kegiatan

pertaniannya pada komoditas ubi kayu atau kegiatan pertanian ubi kayu di

Kabupaten Pacitan tidak tersepesialisasi.

Selain mengetahui wilayah basis dan karakteristik penyebaran suatu

komoditas pada wilayah tertentu, juga perlu diketahui kontribusi suatu komoditas

terhadap perekonomian wilayah yang bersangkutan. Salah satunya dapat

Digital Repository Universitas Jember

30

menggunakan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah

jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh suatu unit usaha dalam suatu

wilayah tertentu. PDRB dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan ekonomi

suatu wilayah sehingga, apabila komponen penyusun PDRB menghasilkan output

yang tinggi daripada komponen penyusun yang lain, maka komponen tersebut

memberikan kontribusi yang tinggi daripada komponen penyusun yang lain

terhadap PDRB suatu wilayah. Komponen penyusun PDRB di Indonesia pada

umumnya adalah sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri

pengolahan,listrik, gas, dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran,

angkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa-jasa.

Berdasarkan data BPS, sektor pertanian merupakan sektor yang paling

diunggulkan di Kabupaten Pacitan karena menyumbang 37,38% dari keseluruhan

sektor terhadap total PDRB Pacitan pada tahun 2012. Tanaman pangan

merupakan subsektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap sektor

pertanian sebesar 51% dari keseluruhan subsektor penyusun sektor pertanian

lainnya (tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan hasilnya, kehutanan, dan

perikanan). Besarnya kontribusi subsektor tanaman pangan tersebut, dikarenakan

kontribusi tiap komoditas penyusun sub sektor tanman pangan. Terdapat tujuh

komoditas tanaman pangan yang diusahakan di Kabupaten Pacitan, yaitu ubi

kayu, padi, jangung, kedelai, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang hijau. Komoditas

ubi kayu merupakan komoditas yang memiliki produksi tertinggi diantara

komoditas tanaman pangan lainnya tersebut, yaitu 430.581 ton selama tahun

2012-2013. Berdasarkan hal tersebut, dapat diduga bahwa kontribusi komoditas

ubi kayu terhadap PDRB sektor pertanian dan sub sektor tanaman pangan di

Kabupaten Pacitan adalah tinggi daripada tanaman pangan lainnya.

Diharapkan dengan dilakukannya analisis untuk mengetahui kecamatan

mana saja yang merupakan basis produksi ubi kayu serta karakteristik penyebaran

komoditas ubi kayu dan kontribusinya terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan

dan PDRB sektor pertanian di Pacitan dapat mendukung pengembangan

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Secara skematis, kerangka pemikiran

peneliti dapat dilihat pada Gambar 2.2 sebagai berikut:

Digital Repository Universitas Jember

31

Gambar 2.5 Skema Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka dapat disusun beberapa

hipotesis sebagai berikut:

1. Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah

Kecamatan Punung, Pringkuku, Donorojo, Tulakan, dan Bandar.

2. Karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah

tidak terlokalisasi dan tidak terspesialisasi.

Pengembangan komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan

Analisis LQ

Indikator Produksi Analisis Lokalisasi

dan Spesialisasi

Kecamatan basis dan

non basis produksi

komoditas ubi kayu

Kontribusi komoditas ubi

kayu terhadap PDRB sub

sektor tanaman pangan

dan sektor pertanian

Karakteristik

penyebaran

komoditas ubi kayu

Komoditas ubi kayu

di Kabupaten Pacitan

Komoditas ubi kayu tersebar di seluruh

kecamatan dengan jumlah produksi berbeda

Produksi tertinggi dibanding tanaman

pangan lain tetapi luas panen, luas tanam,

dan produksi cenderung menurun

Digital Repository Universitas Jember

32

3. Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan

dan sektor pertanian Kabupaten Pacitan adalah tinggi daripada komoditas

tanaman pangan lainnya.

Digital Repository Universitas Jember

33

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilaksanakan secara sengaja (purposive method)

di Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur. Pertimbangannya karena Kabupaten

Pacitan merupakan sentra produksi komoditas ubi kayu di Jawa Timur dan

memiliki rata – rata produksi ubi kayu tertinggi kedua (468.326 ton per tahun) di

Jawa Timur selama periode 2011 – 2013. Selain itu, sekitar 90,6% wilayah

Kabupaten Pacitan merupakan wilayah marjinal yang tidak dapat ditanami

tanaman pangan lainnya, kecuali komoditas ubi kayu yang masih dapat tumbuh

dan berkembang di lahan yang marjinal.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif dan analitis. Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta

dan fenomena-fenomena kelompok atau individu dengan interpretasi yang tepat

dalam memecahkan suatu masalah. Penelitian analitis digunakan untuk

menerapkan beberapa analisis yang berkaitan dengan penelitian dan menguji

hipotesis-hipotesis, metode analitis digunakan dengan cara menyusun data terlebih

dahulu (Nazir, 2005).

3.3 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi yang berkaitan dengan

penelitian ini. Sumber data yang utama adalah BPS Kabupaten Pacitan. Data –

data tersebut adalah sebagai berikut:

a. Data produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan selama kurun waktu

2008 - 2013

b. Data harga komoditas ubi kayu di tingkat produsen di Kabupaten Pacitan

selama tahun 2008 – 2013

33

Digital Repository Universitas Jember

34

c. Data PDRB sub sektor tanaman pangan dan sektor pertanian di Kabupaten

Pacitan atas dasar harga konstan tahun 2000 selama tahun 2008-2013.

3.4 Metode Analisis Data

Pengujian hipotesis pertama tentang kecamatan basis produksi ubi kayu di

Kabupaten Pacitan dianalisis menggunakan analisis Location Quotient (LQ).

Secara sederhana, LQ dapat dirumuskan sebagai berikut (Wibowo dan Januar,

1998):

LQs = (vi/vt)/(Vi/Vt)

Keterangan:

LQ: Location Quotient dari komoditas ubi kayu di kecamatan i Kabupaten Pacitan

vi : Produksi komoditas ubi kayu (ton) di kecamatan i Kabupaten Pacitan

vt : Total produksi tanaman pangan (ton) di kecamatan i Kabupaten Pacitan

Vi : Produksi komoditas ubi kayu (ton) di Kabupaten Pacitan

Vt : Total produksi tanaman pangan (ton) di Kabupaten Pacitan

i : Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pacitan, yaitu Kecamatan Donorojo,

Kecamatan Punung, Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Pacitan, Kecamatan

Kebonagung, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Bandar,

Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Ngadirojo, dan

Kecamatan Sudimoro.

Asumsi yang digunakan:

a. Pola permintaan penduduk terhadap komoditas ubi kayu di setiap kecamatan

dianggap sesuai dengan pola permintaan Kabupaten Pacitan

b. Permintaan kecamatan terhadap komoditas ubi kayu pertama-tama dipenuhi

dengan hasil kecamatan itu sendiri dan jika jumlah yang diminta melebihi

jumlah produksi kecamatan tersebut, kekurangannya diimpor dari luar

kecamatan tersebut.

Kriteria pengambilan keputusan (Wibowo dan Januar, 1998 ; Setiono, 2011;

Daryanto dan Hafizrianda, 2010):

Nilai LQ = 1, berarti produksi komoditas ubi kayu di tingkat kecamatan i

Kabupaten Pacitan relatif sama dengan produksi komoditas ubi kayu di tingkat

Digital Repository Universitas Jember

35

Kabupaten Pacitan dan transaksi komoditas ubi kayu hanya terjadi di dalam

wilayah itu sendiri.

Nilai LQ > 1, berarti produksi komoditas ubi kayu di tingkat kecamatan i

Kabupaten Pacitan relatif lebih besar daripada produksi komoditas ubi kayu di

tingkat Kabupaten Pacitan, atau dapat dikatakan bahwa kecamatan i

berpotensi untuk mengekspor komoditas ubi kayu ke luar kecamatan i serta

kecamatan tersebut merupakan kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu

di Kabupaten Pacitan.

Nilai LQ < 1, berarti produksi komoditas ubi kayu di tingkat kecamatan i

relatif lebih kecil daripada produksi komoditas ubi kayu di tingkat Kabupaten

Pacitan atau kecamatan tersebut bukan merupakan basis (non basis) produksi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Hipotesis kedua mengenai karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan dianalisis dengan menggunakan analisis lokalisasi dan

spesialisasi (Setiono, 2011).

a. Koefisien lokalisasi, digunakan untuk mengukur penyebaran atau konsentrasi

relatif kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan dengan

rumus:

αi = [Si / Ni] – [ΣSi / ΣNi]

Keterangan :

αi : Koefisien lokalisasi, yang bertanda positif dengan nilai 0 ≤ α ≤ 1

Si : Produksi komoditas ubi kayu di kecamatan i Kabupaten Pacitan (ton)

Ni : Produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan (ton)

ΣSi : Total produksi tanaman pangan di kecamatan i Kabupaten Pacitan (ton)

ΣNi : Total produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan (ton)

i : Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pacitan, yaitu Kecamatan Donorojo,

Kecamatan Punung, Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Pacitan,

Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Nawangan,

Kecamatan Bandar, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan,

Kecamatan Ngadirojo, dan Kecamatan Sudimoro.

Digital Repository Universitas Jember

36

Kriteria pengambilan keputusan:

α ≥ 1 : Kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan tidak

menyebar atau terkonsentrasi pada suatu kecamatan

α < 1: Kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan menyebar

di beberapa kecamatan

b. Koefisien spesialisasi, digunakan untuk melihat kecenderungan terjadinya

spesialisasi kegiatan pertanian di Kabupaten Pacitan pada komoditas ubi kayu.

Βi = [Si / ΣSi] – [Ni / ΣNi]

Keterangan :

βi : Koefisien spesialisasi, yang bertanda positif dengan nilai 0 ≤ β ≤ 1

Si : Produksi komoditas ubi kayu di kecamatan i Kabupaten Pacitan (ton)

ΣSi : Total produksi tanaman pangan di kecamatan i Kabupaten Pacitan (ton)

Ni : Produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan (ton)

ΣNi : Total produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan (ton)

i : Kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pacitan, yaitu Kecamatan Donorojo,

Kecamatan Punung, Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Pacitan,

Kecamatan Kebonagung, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Nawangan,

Kecamatan Bandar, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan,

Kecamatan Ngadirojo, dan Kecamatan Sudimoro.

Kriteria pengambilan keputusan :

β ≥ 1 : Kabupaten Pacitan menspesialisasikan kegiatan pertaniannya pada

komoditas ubi kayu

β < 1 : Kabupaten Pacitan tidak menspesialisasikan kegiatan pertaniannya

pada komoditas ubi kayu

Untuk menguji hipotesis ketiga mengenai kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap PDRB sektor pertanian Kabupaten Pacitan dapat menggunakan rumus

sebagai berikut (Widodo, 1990):

Digital Repository Universitas Jember

37

Keterangan:

P1 :Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor pertanian

Kabupaten Pacitan (%)

X1 : PDRB komoditas ubi kayu Kabupaten Pacitan (Rp)

Y1 : PDRB sektor pertanian Kabupaten Pacitan atas dasar harga konstan tahun

2000 (Rp)

Ubi kayu adalah salah satu komoditas sektor pertanian, dimana sektor

pertanian digolongkan menjadi lima subsektor yakni subsektor tanaman pangan,

perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Oleh karena itu, kontribusi

komponen PDRB sektor pertanian Kabupaten Pacitan perlu dibagi dengan lima

subsektor dari sektor pertanian. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

= 20%

Nilai kontribusi tersebut masih harus dibagi lagi dengan jumlah komoditas

dari sub sektor tanaman pangan. Komoditas tanaman pangan yang diusahakan di

Kabupaten Pacitan adalah 7 komoditas, sehingga perhitungan dari rata-rata

kontribusi komoditas penyusun sub sektor tanaman pangan adalah sebagai

berikut:

Rata-rata kontribusi komoditas penyusun sub sektor tanaman pangan = 20% / 7

= 2,86%

Berdasarkan perhitungan tersebut, kriteria yang digunakan dalam

menentukan tinggi atau rendahnya presentase kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap sektor pertanian Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut:

Jika P1 > 2,86% maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor

pertanian Kabupaten Pacitan adalah tinggi

Jika P1 < 2,86% maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor

pertanian Kabupaten Pacitan adalah rendah.

Digital Repository Universitas Jember

38

Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan

di Kabupaten Pacitan dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

P2 :Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan

Kabupaten Pacitan (%)

X2 : PDRB komoditas ubi kayu Kabupaten Pacitan (Rp)

Y2 : PDRB sub sektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan atas dasar harga

kostan tahun 2000 (Rp)

Tanaman pangan yang diusahakan di Kabupaten Pacitan terdiri dari 7

komoditas. Oleh karena itu, rata-rata kontribusi komoditas tanaman pangan perlu

dibagi dengan 7 komoditas tanaman pangan. Perhitungannya adalah sebagai

berikut:

Rata-rata kontribusi komoditas penyusun sub sektor tanaman pangan = 100% / 7

= 14,29%

Berdasarkan perhitungan tersebut, kriteria yang digunakan dalam menentukan

tinggi atau rendahnya presentase kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan adalah sebagai berikut:

Jika P2 > 14,29% maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan adalah tinggi

Jika P2 < 14,29% maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan adalah rendah.

3.5 Definisi Operasional

1. Wilayah penelitian adalah kecamatan-kecamatan penghasil komoditas ubi

kayu di Kabupaten Pacitan, yaitu Kecamatan; Donorojo, Punung, Pringkuku,

Pacitan, Kebonagung, Arjosari, Nawangan, Bandar, Tegalombo, Tulakan,

Ngadirojo, dan Sudimoro.

2. Waktu penelitian dilakukan pada Bulan Januari 2015

Digital Repository Universitas Jember

39

3. Komoditas ubi kayu adalah varietas bi kayu yang tumbuh dan berkembang di

lahan kering, yaitu di Kabupaten Pacitan yang digunakan baik sebagai bahan

pangan maupun bahan baku industri.

4. Produksi adalah total produksi hasil usahatani komoditas ubi kayu dalam

bentuk segar yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Pacitan dalam kurun

waktu tahun 2008-2013, yang dinyatakan dalan satuan ton.

5. Location Quotient (LQ) adalah alat analisis yang digunakan untuk mengetahui

kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan selama

kurun waktu tahun 2008-2013.

6. Kecamatan basis adalah kecamatan yang memproduksi ubi kayu di Kabupaten

Pacitan dimana hasil produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan

dalam kecamatannya sendiri dan cenderung untuk diekspor ke luar kecamatan

tersebut.

7. Kecamatan non basis adalah kecamatan yang memproduksi ubi kayu di

Kabupaten Pacitan dimana hasil produksinya digunakan untuk memenuhi

kebutuhan dalam kecamatannya sendiri saja.

8. Koefisien lokalisasi digunakan untuk mengukur penyebaran relatif kegiatan

pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

9. Koefisien spesialisasi digunakan untuk mengetahui spesialisasi Kabupaten

Pacitan terhadap kegiatan pertanian komoditas ubi kayu.

10. PDRB adalah total nilai tambah (Rp) yang dihasilkan oleh sembilan sektor

yang ada di Kabupaten Pacitan, yaitu sektor pertanian; pertambangan dan

penggalian; industri pengolahan; listrik, gas, dan air bersih; bangunan;

perdagangan; hotel dan restoran; angkutan dan komunikasi; keuangan,

persewaan dan jasa perusahaan; jasa.

11. PDRB komoditas ubi kayu adalah penerimaan atau hasil perkalian harga jual

komoditas ubi kayu (Rp/Kg) dalam bentuk segar di tingkat petani dengan

jumlah produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

12. PDRB sub sektor tanaman pangan adalah nilai jumlah produk yang dihasilkan

sub sektor tanaman pangan di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu satu

tahun berdasarkan harga konstan tahun 2000.

Digital Repository Universitas Jember

40

13. PDRB sektor pertanian adalah nilai jumlah produk yang dihasilkan sektor

pertanian di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu satu tahun berdasarkan

harga konstan tahun 2000.

14. Kontribusi komoditas ubi kayu adalah besarnya sumbangan komoditas ubi

kayu terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan dan sektor pertanian

Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu tahun 2008 – 2013.

Digital Repository Universitas Jember

41

BAB 4. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Karakteristik Kabupaten Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan kabupaten di Jawa Timur yang terletak

diantara 07o 55

’ – 08

o 17

’ Lintang Selatan dan 110

o 55

’-111

o 25’ Bujur Timur.

Wilayah Kabupaten Pacitan sebagian besar berupa bukit dan gunung, jurang terjal

dan termasuk deretan Pegunungan Seribu yang membujur sepanjang Pulau Jawa.

Kabupaten Pacitan memiliki luas 1.389,87 Km2

atau 138.987,16 Ha yang terdiri

dari tanah kering dengan luas 1.259,72 Km2 dan tanah sawah dengan luas 130,15

Km2. Sebagian besar dari tanah sawah tersebut adalah sawah tadah hujan yang

sebesar 51,53 persen, dan sebagian besar dari tanah kering adalah untuk tanaman

kayu-kayuan yang sebesar 35,89 persen. Wilayah administrasi Kabupaten Pacitan

terbagi dalam 12 kecamatan, 19 kota dan 152 desa dengan batas-batas

administratif sebagai berikut:

- Sebelah utara : Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur)

- Sebelah selatan : Samudera Indonesia

- Sebelah timur : Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur)

- Sebelah barat : Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah)

Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan musim

kemarau. Selama tahun 2013, musim penghujan di Kabupaten Pacitan terjadi pada

bulan Januari-Juli dan bulan November-Desember. Berdasarkan bulan tersebut,

hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari yaitu 27 hari dan bulan Desember

sebanyak 20 hari hujan. Musim kemarau di Kabupaten Pacitan terjadi pada bulan

Agustus-Oktober. Bulan Desember memiliki rata-rata curah hujan yang terbesar

yaitu 24,26 mm3, sedangkan rata-rata curah hujan terkecil terjadi pada bulan

September sebesar 2,19 mm3

karena sepanjang bulan ini hanya terjadi hujan dua

hari saja. Air hujan tersebut mengalir melalui tiga sungai besar yang terdapat di

Kabupaten Pacitan yaitu Sungai Grindulu-Gunungsari, Sungai Lorok-Wonodadi

dan Sungai Kedungpring-Nawangan.

41

Digital Repository Universitas Jember

42

4.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Data kependudukan sangat dibutuhkan untuk perencanaan dan evaluasi

pembangunan, apalagi jika dikaitkan dengan dwifungsi penduduk, yaitu sebagai

fungsi subjek dan fungsi objek. Fungsi subjek bermakna bahwa penduduk adalah

pelaku pembangunan dan fungsi objek bermakna bahwa penduduk menjadi target

dan sasaran pembangunan yang dilakukan. Kedua fungsi tadi harus berjalan

seiring dan sejalan secara integral. Berdasarkan hasil Registrasi Penduduk tahun

2013, jumlah penduduk Kabupaten Pacitan sebesar 599.939 jiwa yang terdiri dari

laki-laki sebesar 298.053 jiwa atau 49,63% dan perempuan sebesar 301.886 jiwa

atau 50,32% dengan rasio jenis kelamin sebesar 98,73%. Kepadatan penduduk

Kabupaten Pacitan tahun 2013 sebesar 432 jiwa/Km2. Kepadatan penduduk paling

tinggi adalah Kecamatan Pacitan sebagai ibukota kabupaten yang mencapai 992

jiwa/Km2, hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kepadatan penduduk

kecamatan lainnya yang hanya berkisar antara 240-539 jiwa/Km2.

Data penduduk merupakan salah satu data pokok yang sangat diperlukan

dalam perencanaan pembangunan karena penduduk merupakan obyek sekaligus

subyek pembangunan baik secara nasional maupun regional. Jumlah penduduk

Kabupaten Jember berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 adalah

sebanyak 2.332.726 jiwa. Kepadatan penduduk di masing-masing kecamatan di

Kabupaten Jember bervariasi. Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah

Kecamatan Kaliwates dengan kepadatan penduduk sebesar 4.485,20 jiwa/km2,

sedangkan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk terendah adalah

Kecamatan Tempurejo dengan kepadatan penduduk sebesar 134,73 jiwa/km2.

Berdasarkan komposisi umurnya, pada tahun 2013 penduduk Kabupaten

Pacitan sebanyak 402.574 jiwa berada pada usia produktif yaitu berusia 15-64

tahun atau sebesar 67,10 persen. Sisanya berada pada usia tidak produktif (0-14

tahun dan 65+) yaitu sebesar 197.819 jiwa atau sebesar 33,74 persen. Berdasarkan

komposisi tersebut, maka sumber daya manusia Kabupaten Pacitan cukup

potensial dalam mendukung pembangunan daerah.

Digital Repository Universitas Jember

43

Terpenuhinya pendidikan yang layak bagi setiap penduduk erat kaitannya

dengan kualitas sumber daya manusia. Hal ini sangatlah disadari oleh pemerintah.

Sejalan dengan hal tersebut, baik pemerintah pusat maupun daerah terus berusaha

untuk meningkatkan sarana dan prasarana fisik beserta tenaga kerja guru. Berikut

Tabel 4.1 yang menunjukkan keadaan penduduk 10 tahun ke atas di Kabupaten

Pacitan menurut pendidikan yang ditamatkan.

Tabel 4.1 Keadaan Penduduk 10 Tahun ke atas di Kabupaten Pacitan Menurut Pendidikan

yang Ditamatkan Tahun 2013

No. Pendidikan Penduduk (jiwa) Persentase (%)

1 Tidak Mempunyai Ijazah 121.237 25,99

2 Tamat SD/Sederajat 181.521 38,92

3 Tamat SLTP/Sederajat 90.791 19,46

4 Tamat SMU/Sederajat 29.367 6,30

5 Tamat SM Kejuruan 25.021 5,36

6 Tamat Diploma I/II 2.709 0,58

7 Tamat Akademi/Diploma III 1.749 0,37

8 Tamat Diploma IV/S1/S2/S3 14.039 3,01

Jumlah 466.434 100 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan, 2014

Berdasarkan Tabel 4.1, menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk

Kabupaten Pacitan yang berusia 10 tahun ke atas adalah lulusan SD Sederajat

yaitu sebesar 181.521 jiwa atau 39,55%, sedangkan yang tidak memiliki ijazah

menempati urutan kedua yaitu sebesar 121.237 jiwa atau 25,99%. Jumlah

penduduk lulusan SLTP/Sederajat sebesar 19,46 persen. Jumlah penduduk tamat

SMU/Sederajat dan tamat SM Kejurusan masing-masing adalah 29.367 jiwa

(6,30%) dan 25.021 jiwa (5,36%) serta jumlah penduduk tamat Diploma

IV/S1/S2/S3 adalah 14.039 atau 3,01%. Jumlah penduduk yang tamat Diploma

I/II dan tamat Akademi/Diploma III masing-masing adalah 2.709 jiwa (0,58%)

dan 1.709 jiwa (0,37%).

4.3 Keadaan Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan

Ubi kayu memiliki peran yang cukup besar dalam memenuhi kebutuhan

pangan maupun mengatasi ketimpangan ekonomi dan pengembangan industri.

Ubi kayu merupakan penyangga pangan yang andal dalam kondisi rawan,

Digital Repository Universitas Jember

44

sehingga masalah kelaparan dapat diatasi. Selain berperan sebagai penyangga

pangan dalam sistem ketahanan pangan, ubi kayu juga berperan sebagai sumber

pendapatan rumah tangga petani. Kabupaten Pacitan merupakan penghasil

komoditas ubi kayu tertinggi kedua di Jawa Timur selama periode tahun 2011-

2013. Mayoritas jenis ubi kayu yang ditanam di Kabupaten Pacitan adalah ubi

kayu jenis Pandemir. Ubi kayu ini memiliki karakteristik rasa yang pahit sehingga

tidak bisa dikonsumsi secara langsung. Tanaman ubi kayu yang diusahakan di

Kabupaten Pacitan terbagi menjadi 2 sistem tanam, yaitu secara monokultur

sebagai tanaman utama dan secara tumpang sari. Ubi kayu diusahakan secara

monokultur dilakukan pada konsisi tanah di daerah pegunungan yang curam

dengan kemiringan lahan 60 derajat karena tanaman pangan lainnya tidak dapat

tumbuh pada kondisi tersebut. daerah pegunungan yang tidak curam dan terdapat

lahan datar maka tanaman ubi kayu diusahakan secara tumpang sari. Berikut data

produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan selama periode tahun 2011-

2013.

Tabel 4.2 Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun

2011-2013

No Kecamatan Produksi (Ton)

2011 2012 2013

1 Donorojo 77.210 46.638 19.029

2 Punung 115.323 49.320 23.946

3 Pringkuku 79.641 97.878 68.443

4 Pacitan 23.032 23.258 3.358

5 Kebonagung 5.062 6.088 1.747

6 Arjosari 14.733 18.629 3.335

7 Nawangan 33.973 19.767 35.389

8 Bandar 72.636 84.831 39.986

9 Tegalombo 58.150 57.768 67.033

10 Tulakan 49.616 58.072 63.404

11 Ngadirojo 19.651 22.056 19.328

12 Sudimoro 15.403 15.425 16.434

Jumlah 564.430 499.730 361.432

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan, 2014

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, menunjukkan bahwa seluruh kecamatan di

Kabupaten Pacitan menghasilkan komoditas ubi kayu. Produksi ubi kayu di

Digital Repository Universitas Jember

45

Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu tahun 2011-2013 cenderung mengalami

penurunan. Produksi ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu tersebut

secara berturut-turut adalah 564.430 ton, 499.730 ton, dan 361.432 ton. Penurunan

produksi komoditas ubi kayu tersebut selaras dengan menurunnya luas tanam

komoditas ubi kayu dalam kurun waktu yang sama. Luas tanam pada tahun 2011

adalah 25.627 Ha, lalu menurun menjadi 23.541 Ha pada tahun 2012. Penurunan

yang drastis terjadi pada tahun berikutnya, yaitu menjadi 16.816 Ha seperti yang

tercantum pada tabel berikut.

Tabel 4.3 Perkembangan Luas Tanam Komoditas Ubi Kayu (Ha) di Kabupaten Pacitan

Tahun 2011-2013

No. Kecamatan Tahun

2011 2012 2013

1. Donorojo 5.700 3.505 1.000

2. Punung 5.610 2.419 1.000

3. Pringkuku 4.050 4.308 4.211

4. Pacitan 1.233 1.037 79

5. Kebonagung 353 185 54

6. Arjosari 1.085 652 392

7. Nawangan 811 548 1.765

8. Bandar 460 3.387 1.950

9. Tegalombo 2.290 2.661 2.576

10. Tulakan 2.521 3.017 2.526

11. Ngadirojo 725 1.000 385

12. Sudimoro 789 822 878

Jumlah 25.627 23.541 16.816

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan, 2014

4.4 Pendapatan Regional

Produk Domestik Regional Domestik (PDRB) dapat menunjukkan

pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah tak terkecuali Kabupaten Pacitan.

Perkembangan PDRB dari tahun ke tahun yang meningkat menunjukkan adanya

peningkatan perekonomian di suatu daerah. Tingkat pertumbuhan ekonomi

Kabupaten Pacitan dapat ditunjukkan dengan perubahan Produk Domestik

Regional Bruto (PDRB) tahun yang bersangkutan dibandingkan dengan tahun

sebelumnya. Penyajian PDRB di Kabupaten Pacitan terbagi menjadi sembilan

sektor ekonomi yang mencakup sektor pertanian, pertambangan dan penggalian,

Digital Repository Universitas Jember

46

industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan

restoran, angkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

serta jasa-jasa lainnya. Berikut ini disajikan perkembangan nilai Produk Domestik

Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jember dari tahun 2012 hingga tahun 2013.

Tabel 4.4 Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2012-2013 di

Kabupaten Pacitan

No Sektor

Tahun

(Juta Rp) Rerata

(Juta Rp)

Pangsa

(%) 2012 2013

1. Pertanian 1.540.293,62 1.785.952,63 1.663.123,13 36,80

Tanaman Bahan Makanan 745.656,75 811.955,29 778.806,02 17,23

Tanaman Perkebunan Rakyat 370.534,67 396.526,31 383.530,49 8,49

Peternakan 270.959,05 379.838,59 325.398,82 7,20

Kehutanan 3.559,20 5.621,38 4.590,29 0,10

Perikanan 149.583,94 192.001,05 170.792,50 3,78

2. Pertambangan dan Penggalian 137.771,06 152.124,43 144.947,75 3,21

3. Industri Pengolahan 156.008,47 175.784,12 165.896,30 3,67

4. Listrik, Gas dan Air Bersih 44.328,60 48.758,79 46.543,70 1,03

5. Bangunan/Konstruksi 396.031,18 479.801,28 437.916,23 9,69

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 566.625,80 666.293,43 616.459,62 13,64

7. Angkutan & Komunikasi 270.652,42 305.447,03 288.049,73 6,37

8.

Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan 345.386,55 395.208,97 370.297,76 8,19

9. Jasa-jasa 755.401,04 817.024,17 786.212,61 17,40

Jumlah 4.212.498,74 4.826.394,85 4.519.446,80

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan, 2014 (diolah)

Berdasarkan Tabel 4.6, dapat diketahui bahwa PDRB Kabupaten Pacitan

dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami peningkatan. Tahun 2012 PDRB

Kabupaten Pacitan sebesar Rp 4.212.498,74 juta menjadi Rp 4.826.394,85 juta di

tahun 2013. Berdasarkan tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa dalam kurun

waktu tahun 2012-2013, sektor pertanian memberikan kontribusi paling besar

terhadap PDRB Kabupaten Pacitan daripada sektor-sektor ekonomi lainnya, yaitu

sebesar 36,80%. Besarnya kontribusi sektor pertanian tersebut dipengaruhi oleh

subsektor-subsektor yang ada di dalamnya. Subsektor tanaman bahan makanan

memberikan kontribusi paling besar terhadap sektor pertanian, sebesar 17,23%.

Digital Repository Universitas Jember

47

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Kecamatan-Kecamatan Basis Produksi Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan

Komoditas ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan yang unggul

di Kabupaten Pacitan. Hal ini ditunjukkan dengan rerata produksi komoditas ubi

kayu di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu tahun 2009-2013 yang menduduki

peringkat kedua tertinggi di Propinsi Jawa Timur. Tingginya produksi tersebut

didukung oleh kondisi alam Kabupaten Pacitan yang sekitar 90% merupakan

lahan kering dan pegunungan, sehingga tanaman yang cocok untuk dibudidayakan

adalah komoditas ubi kayu karena selain di lahan yang subur komoditas ubi kayu

dapat tumbuh dengan baik di lahan marjinal. Selain itu, pola konsumsi masyarakat

Kabupaten Pacitan dari dulu cenderung menjadikan komoditas ubi kayu sebagai

sebagai bahan makanan pokok daripada beras. Keadaan Kabupaten Pacitan

tersebut membuat seluruh kecamatan di Kabupaten Pacitan memiliki potensi

dalam pembudidayaan komoditas ubi kayu. Hal ini dibuktikan dalam kurun waktu

2008-2013 seluruh kecamatan di Kabupaten Pacitan mengusahakan komoditas ubi

kayu namun perkembangan produksi komoditas ubi kayu di tiap kecamatan

berbeda-beda.

Perbedaan produksi komoditas ubi kayu tentunya dapat menggambarkan

perbedaan potensi produksi komoditas ubi kayu yang berbeda pula di tiap

kecamatan. Salah satunya tergantung pada kondisi alam di tiap kecamatan.

Pembudidayaan komoditas ubi kayu di wilayah yang cenderung datar dilakukan

dengan cara sistem tumpang sari seperti di Kecamatan Punung, Kecamatan

Donorojo, dan Kecamatan Pringkuku. Akan tetapi, pada wilayah yang cenderung

miring (di pegunungan) sistem penanaman komoditas ubi kayu dilakukan secara

monokultur seperti di Kecamatan Bandar dan Kecamatan Nawangan. Sistem

penanaman ubi kayu yang disebabkan kondisi alam tersebut tentunya

menyebabkan jumlah produksi komoditas ubi kayu tiap wilayah atau kecamatan

berbeda. Selain sistem penanaman, luas tanam dan panen komoditas ubi kayu juga

mempengaruhi jumlah produksi komoditas ubi kayu. Berikut disajikan grafik

47

Digital Repository Universitas Jember

48

perkembangan produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan tahun 2008-

2013.

Gambar 5.1 Grafik Perkembangan Produksi Komoditas Ubi Kayu (Ton) di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013

Berdasarkan Gambar 5.1 di atas menunjukkan bahwa produksi komoditas

ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam kurun waktu tahun 2008 – 2013 mengalami

fluktuasi dan cenderung menurun. Produksi komoditas ubi kayu tertinggi terjadi

pada tahun 2008. Produksi komoditas ubi kayu pada tahun tersebut mencapai

792.115 ton. Tingginya produksi tersebut dikarenakan pada tahun 2007-2008,

Pemerintah Kabupaten Pacitan mengeluarkan suatu kebijakan yaitu memberikan

kewajiban terhadap para petani untuk serentak mengusahakan komoditas ubi

kayu. Pemerintah juga menjanjikan untuk membeli semua hasil panen komoditas

ubi kayu yang diusahakan para petani pada tahun tersebut. Kebijakan tersebut

dikeluarkan karena ada pihak investor yang menjanjikan kepada Pemerintah

Kabupaten Pacitan untuk mendirikan pabrik bioethanol. Akan tetapi, setelah para

petani mengusahakan komoditas ubi kayu pada tahun tersebut, pabrik bioethanol

tidak didirikan disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu alasan menyebutkan

bahwa hasil panen komoditas ubi kayu para petani tidak akan mencukupi

kebutuhan pabrik bioethanol. Peristiwa tersebut menyebabkan petani kecewa dan

menurunkan keinginan petani untuk mengusahakan komoditas ubi kayu sehingga

pada tahun-tahun selanjutnya produksi ubi kayu cenderung mengalami penurunan.

792115

Digital Repository Universitas Jember

49

Tahun 2010-2011 terjadi kenaikan produksi dari 511.735 ton menjadi 564.430

ton. Hal ini dikarenakan luas panen pada tahun tersebut mengalami peningkatan

dari 26.999 Ha menjadi 29.852 Ha. Namun, pada tahun-tahun selanjutnya

produksi komoditas ubi kayu mengalami penurunan hingga tahun 2013 menjadi

361.432 ton. Hal ini dikarenakan minat petani untuk mengusahakan komoditas ubi

kayu yang semakin menurun sehingga luas tanam maupun luas panen komoditas

ubi kayu semakin menurun (Lampiran D dan E) dan menyebabkan jumlah

produksi komoditas ubi kayu mengalami penurunan. Produksi komoditas ubi kayu

tiap kecamatan pada kurun waktu tahun 2008-2013 pun juga berbeda-beda sesuai

dengan kondisi tiap kecamatan. Berikut merupakan rerata produksi komoditas ubi

kayu tiap kecamatan pada tahun 2008-2013.

Gambar 5.2 Rerata Produksi Komoditas Ubi Kayu tiap Kecamatan di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013

Berdasarkan Gambar 5.2 menunjukkan bahwa rerata produksi komoditas

ubi kayu pada tahun 2008-2013 di tiap kecamatan berbeda. Kecamatan Punung

merupakan kecamatan yang memiliki rerata produksi komoditas ubi kayu tertinggi

sebesar 92.815 ton. Kecamatan Punung merupakan pintu keluar barat-utara

transaksi komoditas ubi kayu dalam bentuk segar di Kabupaten Pacitan. Hal ini

membuktikan bahwa produksi komoditas ubi kayu di kecamatan tersebut adalah

tinggi.

Digital Repository Universitas Jember

50

Kecamatan yang memiliki produksi komoditas ubi kayu tertinggi kedua

adalah Kecamatan Pringkuku dengan rerata produksi komoditas ubi kayu sebesar

87.067 ton. Kecamatan dengan rerata produksi komoditas ubi kayu tertinggi

ketiga adalah Kecamatan Donorojo sebesar 75.293 ton. Kecamatan Kebonagung

adalah kecamatan dengan rerata produksi komoditas ubi kayu terendah, yaitu

9.188 ton. Perbedaan jumlah produksi komoditas ubi kayu di tiap kecamatan

tersebut menandakan potensi komoditas ubi kayu tiap kecamatan juga berbeda.

Selain itu, juga berpengaruh terhadap pengembangan komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu analisis wilayah untuk

mengetahui apakah seluruh kecamatan atau hanya beberapa kecamatan di

Kabupaten Pacitan yang merupakan basis produksi komoditas ubi kayu sehingga

dapat diberi penanganan yang tepat demi pengembangan dan pembangunan

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Analisis Location Quotient atau LQ merupakan salah satu teknik dalam

analisis wilayah yang dapat menggambarkan kecamatan basis produksi komoditas

ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Metode perhitungan LQ menggunakan

perbandingan antara kondisi perekonomian suatu wilayah dengan perekonomian

acuan yang melingkupi wilayah yang lebih besar. Wilayah yang digunakan dalam

perhitungan LQ pada penelitian ini adalah tingkat kecamatan dan Kabupaten

Pacitan sebagai wilayah acuan berdasarkan jumlah produksi komoditas ubi kayu

sebagai indikator, sebab jika output yang dianggap penting dalam perencanaan

pembangunan wilayah, maka dapat dasar ukur yang digunakan untung

menghitung LQ. Pengambilan keputusan yang digunakan untuk menentukan

kecamatan basis produksi ubi kayu didasarkan pada nilai LQ yang dihasilkan

dalam analisis. Jika dalam analisis hasil LQ yang diperoleh adalah sama dengan

satu maka ada kecenderungan transaksi komoditas ubi kayu di kecamatan tersebut

bersifat tertutup karena tidak melakukan transaksi ke dan dari luar kecamatan.

Jika nilai LQ lebih besar dari satu artinya kecamatan tersebut merupakan

kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu maka dapat mengekspor komoditas

ubi kayu ke luar kecamatan yang bersangkutan. Sebaliknya jika nilai LQ lebih

kecil dari satu, berarti kecamatan yang bersangkutan merupakan kecamatan non

Digital Repository Universitas Jember

51

basis produksi komoditas ubi kayu maka cenderung mengimpor komoditas ubi

kayu dari luar kecamatan untuk memenuhi kebutuhannya. Penentuan kecamatan

basis atau non basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

menggunakan nilai rata-rata LQ selama kurun waktu tahun 2008-2013.

Penggunaan rata-rata dari data selama 6 tahun (time series) bertujuan untuk

menghindari hasil yang bias dan kurang akurat. Selain itu, digunakannya data

mulai dari tahun 2008 karena setelah tahun tersebut produksi komoditas ubi kayu

di Kabupaten Pacitan mulai cenderung mengalami penurunan dari total produksi

sebesar 792.115 ton menjadi 361.432 ton pada tahun 2013. Berikut ini adalah

hasil analisis LQ dari komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan tahun 2008-2013.

Tabel 5.1 Hasil Analisis Nilai Locationt Quotient (LQ) dari Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 dari Tertinggi hingga Terendah

No Kecamatan Nilai Location Quotient (LQ)

Rata-rata 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Tulakan 1,139 1,168 1,226 1,118 1,096 1,422 1,195

2 Sudimoro 1,106 1,083 1,148 1,051 1,093 1,281 1,127

3 Tegalombo 1,186 1,126 0,815 1,095 0,744 1,451 1,070

4 Pringkuku 0,895 1,009 1,058 0,973 1,088 1,113 1,023

5 Punung 1,000 1,013 1,161 1,029 1,129 0,594 0,988

6 Ngadirojo 1,012 1,040 0,750 1,052 0,713 1,152 0,953

7 Donorojo 0,980 0,970 1,048 0,898 1,167 0,523 0,931

8 Nawangan 1,010 0,934 0,723 1,040 0,695 1,101 0,917

9 Arjosari 0,900 0,954 0,998 0,889 1,123 0,418 0,880

10 Pacitan 0,860 0,983 0,994 0,896 1,109 0,299 0,857

11 Kebonagung 0,740 0,559 0,869 0,403 2,158 0,177 0,818

12 Bandar 0,975 0,923 0,491 1,098 1,065 0,961 0,919

Sumber: Data BPS (diolah)

Berdasarkan hasil analisis LQ pada Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa,

selama kurun waktu tahun 2008-2013 terdapat empat kecamatan di Kabupaten

Pacitan yang memiliki nilai rata-rata LQ lebih besar dari satu. Artinya empat

kecamatan tersebut merupakan kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan sehingga empat kecamatan tersebut dalam kurun waktu tahun

2008-2013 dapat mengekspor komoditas ubi kayu ke luar kecamatan yang

bersangkutan. Kecamatan-kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu tersebut

adalah Kecamatan Tulakan, Kecamatan Sudimoro, Kecamatan Tegalombo, dan

Digital Repository Universitas Jember

52

Kecamatan Pringkuku. Hasil analisis tersebut berbeda dengan hipotesis yang

diajukan, artinya hipotesis yang menduga bahwa kecamatan basis produksi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah Kecamatan Punung, Pringkuku,

Donorojo, Tulakan, dan Bandar ditolak. Hal ini dikarenakan hanya Kecamatan

Pringkuku dan Tulakan saja yang berdasarkan hasil analisis merupakan kecamatan

basis produksi komoditas ubi kayu sedangkan Kecamatan Punung, Donorojo, dan

Bandar memiliki nilai rata-rata LQ kurang dari satu yang artinya kecamatan-

kecamatan tersebut adalah kecamatan non basis produksi komoditas ubi kayu.

Nilai rata-rata LQ kurang dari satu tersebut karena pada tahun-tahun tertentu

selama kurun waktu tahun 2008-2013 nilai LQ yang dihasilkan kurang dari satu

sehingga mempengaruhi nilai rata-rata LQ yang dihasilkan.

Kecamatan Punung merupakan kecamatan yang memiliki rerata produksi

komoditas ubi kayu tertinggi di Kabupaten Pacitan selama kurun waktu tahun

2008-2013, yaitu 92.815 ton. Namun, pada hasil analisis menunjukkan nilai rata-

rata LQ yang dihasilkan kurang dari satu. Hal ini dikarenakan pada tahun 2013

nilai LQ Kecamatan Punung kurang dari satu, yaitu 0,594 sehingga

mempengaruhi hasil rata-rata nilai LQ selama kurun waktu tahun 2008-2013

Kecamatan Punung. Nilai LQ pada tahun 2013 yang kurang dari satu tersebut

dikarenakan rasio produksi komoditas ubi kayu terhadap total produksi tanaman

pangan di Kecamatan Punung (0,066) lebih kecil daripada rasio produksi

komoditas ubi kayu terhadap total produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan

(0,112). Nilai rasio yang lebih kecil tersebut dikarenakan produksi komoditas ubi

kayu yang kecil yaitu 23.946 ton terhadap total produksi tanaman pangan sebesar

75.368 ton.

Kecilnya produksi komoditas ubi kayu di Kecamatan Punung pada tahun

2013 tersebut dikarenakan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah luas lahan

yang digunakan untuk menanam komoditas ubi kayu. Luas tanam komoditas ubi

kayu di Kecamatan Punung pada tahun 2013 mengalami penurunan, dari 2419 ha

pada tahun 2012 menjadi hanya 1000 ha. Menurunnya luas tanam tersebut

dikarenakan lahan yang semula digunakan untuk menanam ubi kayu

dialihfungsikan untuk kepentingan yang lain, salah satunya untuk tanaman pangan

Digital Repository Universitas Jember

53

lainnya dan tanaman kayu. Luas tanam yang digunakan untuk tanaman kayu pada

tahun 2013 adalah 2.305 ha, lebih luas dari luas tanaman komoditas ubi kayu. Hal

ini dikarenakan petani mulai tertarik menanam tanaman kayu sebab memiliki nilai

ekonomis yang lebih tinggi daripada komoditas ubi kayu yang harga per kg hanya

berkisar Rp 1.200,00.

Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Donorojo dan Bandar. Nilai rata-rata

LQ Kecamatan Donorojo selama kurun waktu tahun 2008-2013 kurang dari satu,

yaitu 0,931. Nilai rata-rata tersebut dikarenakan pada tahun 2008, 2009, 2011 dan

2013 nilai LQ yang dihasilkan kurang dari satu sehingga mempengaruhi nilai rata-

rata LQ yang dihasilkan. Nilai LQ yang terkecil terjadi pada tahun 2013, yaitu

0,523. Kecilnya nilai tersebut disebabkan produksi komoditas ubi kayu pada tahun

2013 di Kecamatan Donorojo hanya 19.029 ton sedangkan total produksi tanaman

pangan di Kecamatan Donorojo sebesar 68.043 ton. Seperti yang terjadi di

Kecamatan Punung, produksi komoditas ubi kayu di Kecamatan Donorojo pada

tahun tersebut mengalami penurunan yang semula sebesar 46.638 ton pada tahun

sebelumnya. Penurunan produksi tersebut dikarenakan luas tanam komoditas ubi

kayu yang menurun drastis dari seluas 3.505 ha menjadi hanya 1.000 ha. Semakin

menyempitnya luas tanam tersebut dikarenakan terjadinya alih fungsi lahan tanam

komoditas ubi kayu menjadi lahan tanam komoditas lainnya seperti tanaman kayu.

Kecamatan Bandar pun juga sama. Nilai rata-rata LQ yang dihasilkan

kurang dari satu, yaitu 0,916. Hal ini disebabkan nilai LQ selama tahun 2008-

2013 kurang dari satu, kecuali tahun 2011, sehingga mempengaruhi nilai rata-rata

LQ yang diperoleh. Nilai LQ terendah terjadi pada tahun 2010, yaitu ssenilai

0,491. Penyebabnya pun sama dengan yang terjadi di Kecamatan Punung dan

Donorojo.

Pada umumnya selain dikarenakan harga yang kalah saing, alih fungsinya

lahan tanam komoditas ubi kayu juga disebabkan oleh kekecewaan petani

terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan yang pernah dilakukan pada

tahun 2007-2008. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada tahun tersebut

pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan agar petani serentak

menanamkomoditas ubi kayu untuk digunakan sebagai bahan baku pabrik

Digital Repository Universitas Jember

54

bioethanol yang akan didirikan. Adanya kebijakan tersebut, membuat peteni

serentak menanam komoditas ubi kayu sehingga pada saat panen yaitu tahun

2008, produksi komoditas ubi kayu Kabupaten Pacitan mencapai 792.115 ton.

Akan tetapi, karena suatu hal pabrik tersebut batal didirikan sehingga

menyebabkan petani kecewa dan menurunkan minat petani untuk menanam

komoditas ubi kayu. Oleh sebab itu, pada tahun-tahun berikutnya luas tanam

komoditas ubi kayu cenderung menurun.

Penyebab lainnya yang tak kalah penting adalah cara atau teknis budidaya

komoditas ubi kayu yang dilakukan oleh petani, terutama dalam penggunaan input

dan pemeliaharaan. Bibit merupakan input yang penting dalam menentukan

kuantitas produksi komoditas ubi kayu yang dihasilkan. Petani ubi kayu di

Kabupaten Pacitan pada umumnya menggunakan varietas lokal, yaitu pandemir,

ubi kayu pahit yang tidak dapat dikonsumsi secara langsung. Penggunaan bibit

tersebut dikarenakan petani tidak mendapatkan informasi tentang bibit unggul dan

dan tidak adanya bantuan bibit unggul dari pemerintah. Selain itu, bibit yang

digunakan pun berasal dari batang hasil panen sebelumnya dan batang dalam satu

pohon distek semua. Menurut Ningrum (2014), pada umumnya batang stek yang

digunakan untuk bibit tersebut di Kabupaten Pacitan belum sesuai anjuran yang

ditetapkan Balitkabi bahwa bagian pucuk yang terlalu muda dan pangkal yang

keras berkayu sebaiknya tidak digunakan untuk bibit tanaman selanjutnya karena

tidak maksimal dalam menyerap air maupun nutrisi lainnya.

Selain penggunaan bibit yang belum sesuai dan tidak unggul,

pemeliharaan yang dilakukan petani juga mempengaruhi produksi komoditas ubi

kayu. Pemeliharaan yang dilakukan petani salah satunya dengan cara pemupukan.

Salah satu pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang. Pupuk kandang

merupakan pupuk yang berfungsi mengembalikan unsur hara tanah yang hilang

akibat proses penanaman ubi kayu sebelumnya. Menurut Ningrum (2014),

menjelaskan bahwa penggunaan pupuk kandang untuk usahatani komoditas ubi

kayu di Kabupaten Pacitan pada sistem tanam monokultur rata-rata adalah 154

kg/ha. Hal tersebut sangat jauh dengan dosis yang dianjurkan pada sistem tanam

monokultur, yaitu 1-2 ton/ha. Pupuk kandang harus menjadi pupuk yang paling

Digital Repository Universitas Jember

55

banyak berkontribusi pada penanaman komoditas ubi kayu. Hal ini disebabkan

fungsi pupuk kandang yang dapat mengembalikan unsur hara tanah yang telah

hilang akibat proses pemanenan komoditas ubi kayu pada musim sebelumnya.

Menurut Tarigan (2012), metode LQ merupakan metode yang

membandingkan porsi suatu sektor tertentu di suatu wilayah yang dibandingkan

dengan porsi suatu sektor yang sama di wilayah yang lebih luas atau wilayah

referensi. Hal ini menunjukkan bahwa yang perlu digarisbawahi pada metode LQ

adalah porsi suatu sektor. Suatu sektor atau komoditas mungkin memiliki

kuantitas output yang lebih tinggi di suatu wilayah daripada sektor atau komoditas

yang sama di wilayah yang lainnya. Namun, porsi kuantitas output dari sektor

atau komoditas tersebut bisa saja kecil terhadap total output secara keseluruhan.

Oleh karena itu, meskipun Kecamatan Punung memiliki rerata produksi ubi kayu

tertinggi, namun porsi produksi tersebut kecil (23.946 ton) terhadap total produksi

tanaman pangan di Kecamatan Punung (75.368 ton). Begitu juga dengan

Kecamatan Sudimoro yang meskipun memiliki rata-rata produksi komoditas ubi

kayu yang terendah diantara kecamatan lainnya di Kabupaten Pacitan (Lampiran

C), namun berdasarkan hasil analisis LQ kecamatan tersebut merupakan

kecamatan basis prosuksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Hal ini

dikarenakan porsi produksi komoditas ubi kayu terhadap total produksi tanaman

pangan di Kecamatan Sudimoro adalah lebih besar daripada porsi produksi

komoditas ubi kayu terhadap total produksi tanaman pangan di Kabupaten

Pacitan. Begitu juga dengan kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu yang

lainnya, yaitu Kecamatan Tulakan, Pringkuku, dan Tegalombo. Letak kecamatan

basis produksi komoditas ubi kayu tersebut dapat dilihat pada peta berikut ini.

Digital Repository Universitas Jember

56

Keterangan: Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013

Kecamatan non basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013 Gambar 5.3 Pemetaan Kecamatan Basis dan Non Basis Produksi Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008 - 2013

Berdasarkan Gambar 5.3 menunjukkan bahwa kecamatan basis produksi

komoditas ubi kayu tahun 2008-2013 terletak di sebelah selatan dan timur

Kabupaten Pacitan. Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu yang terletak

di sebelah selatan adalah Kecamatan Pringkuku. Secara geografis, sebagian besar

wilayah kecamatan tersebut adalah perbukitan dan wilayah utara kecamatan

tersebut sebagian besar adalah dataran tinggi sehingga komodtas ubi kayu dapat

berkembang dengan baik. Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di

sebelah timur adalah Kecamatan Tegalombo, Tulakan dan Sudimoro. Kecamatan

Tegalombo adalah kecamatan yang berada di daerah lintasan terpanjang DAS

Grindulu dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo. Kondisi

topografi wilayah Tegalombo berada di dataran tinggi. Kondisi wilayah yang

seperti itu membuat kecamatan tersebut lebih banyak menggantungkan

perekonomiannya dari sektor pertanian. Hal tersebut ditunjukkan dengan keadaan

Tulakan

Sudimoro

Tegalombo

Pringkuku

Sudimoro

Donorojo

Punung

Pacitan

Kebonagung

Arjosari

Nawangan

Ngadirojo

Bandar

Digital Repository Universitas Jember

57

riil di Kecamatan tersebut banyak dijumpai tanama pangan khususnya komoditas

ubi kayu yang ditanam di bukit-bukit. Keadaan Kecamatan Tegalombo yang

berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo membuat kecamatan tersebut

merupakan pintu masuk ke Kabupaten Pacitan dari arah Kabupaten Ponorogo.

Berbatasan langsung dengan Kabupaten Ponorogo membuat hasil panen

komoditas ubi kayu sering diimpor atau dipasarkan ke pabrik-pabrik besar di

Kabupaten Ponorogo, seperti Cargil Starches and Sweeteners South East Asia

(CSSSEA)-Ponorogo Plant.

Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di sebelah timur lainnya

adalah Kecamatan Tulakan. Kecamatan tersebut terletak di dataran tinggi atau

pegunungan dan memiliki area yang paling luas diatara kecamatan lainnya di

Kabupaten Pacitan. Keadaan wilayah yang terletak di daerah pegunungan tersebut

membuat penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan tanaman pangan

yang paling banyak ditanam adalah komoditas ubi kayu. Kecamatan selanjutnya

adalah Kecamatan Sudimoro. Kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang

terletak paling timur Kabupaten Pacitan. Wilayah Kecamatan Sudimoro berupa

pegunungan sehingga tanaman pangan yang banyak diusahakan adalah komoditas

ubi kayu. Selain itu, Kecamatan Sudimoro juga berbatasan dengan Kabupaten

Ponorogo di sebelah utara dan Kabupaten Trenggalek di sebelah timur.

Berbatasan dengan dua kabupaten tersebut membuat sebagian besar hasil panen

komoditas ubi kayunya diimpor ke pabrik-pabrik besar di Kabupaten Ponorogo

dan Kabupaten Trenggalek.

Salah satu alasan sering diimpornya komoditas ubi kayu ke luar

Kabupaten Pacitan (seperti ke Ponorogo, Trenggalek, dan Wonogiri) adalah

sedikitnya agroindustri penepungan yang dapat menampung semua hasil panen

komoditas ubi kayu. Selain itu, agroindustri penepungan tersebut adalah rumahan

yang memiliki kapasitas produksi yang kecil yaitu sekitar 25 kg per produksi dan

sistem penepungannya masih secara tradisional. Proses pemerahan pati ubi kayu

dilakukan oleh tenaga manusia dengan cara diinjak dan proses pengeringan yang

bergantung pada sinar matahari. Sebenarnya pengolahan komoditas ubi kayu ada

di tingkat petani yaitu dalam bentuk gaplek. Akan tetapi, gaplek yang dihasilkan

Digital Repository Universitas Jember

58

hanya digunakan untuk kebutuhan home industri di dalam Kabupaten Pacitan

saja. Beda halnya dengan di luar Kabupaten Pacitan seperti Kabupaten Ponorogo

dan Kabupaen Trenggalek yang memiliki pabrik penepungan atau pengolahan ubi

kayu yang memiliki kapasitas yang besar dan dengan sistem pengolahan yang

modern sehingga mampu menampung hasil panen komoditas ubi kayu dengan

kapasitas yang besar.

5.2 Karakteristik Penyebaran Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan

Selain kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu, karakteristik

penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan juga perlu diketahui untuk

mendukung atau memperkuat hasil analisis LQ yang telah dilakukan. Penentuan

karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam

penelitian ini menggunakan analisis lokalisasi dan spesialisasi. Analisis lokalisasi

dan spesialisasi digunakan untuk memperkuat analisis LQ. Analisis lokalisasi

digunakan untuk mengetahui karakteristik penyebaran kegiatan pertanian

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Analisis spesialisasi digunakan untuk

melihat kecenderungan terjadinya spesialisasi atau pengkhususan kegiatan

pertanian di Kabupaten Pacitan pada komoditas ubi kayu. Dengan diketahuinya

karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu diharapkan akan adanya suatu upaya

untuk mengembangkan potensi tiap kecamatan terhadap komoditas ubi kayu.

Data yang digunakan unuk analisis lokalisasi dan spesialisasi pada

penelitian ini adalah data produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan selama

kurun waktu 2008-2013. Penyebaran komoditas ubi kayu dapat diketahui dengan

menghitung nilai kofisien lokalisasi. Koefisien lokalisasi diperoleh dari selisih

antara perbandingan produksi komoditas ubi kayu di lingkup kecamatan dan

produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan dengan perbandingan total

produksi tanaman pangan di kecamatan dan total produksi tanaman pangan dii

Kabupaten Pacitan. Koefisien lokalisasi merupakan penjumlahan nilai lokalisasi

yang bernilai positif. Jika koefisien lokalisasi lebih besar dari satu, maka kegiatan

pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan tidak menyebar atau

cenderung terkonsentrasi pada suatu kecamatan. Jika koefisien lokalisasi kurang

Digital Repository Universitas Jember

59

dari satu maka kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

menyebar di beberapa kecamatan. Berikut merupakan hasil perhitungan koefisien

lokalisasi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Tabel 5.2 Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif dari Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013

No Kecamatan Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif

2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 0,0072

2 Punung 0,0001 0,0024 0,0353 0,0057

3 Pringkuku 0,0012 0,0126 0,0193

4 Pacitan 0,0007 0,0000

5 Kebonagung

6 Arjosari

7 Nawangan 0,0007 0,0023 0,0090

8 Bandar 0,0115 0,0103

9 Tegalombo 0,0164 0,0093 0,0089 0,0147 0,0576

10 Tulakan 0,0148 0,0153 0,0189 0,0093 0,0244 0,0520

11 Ngadirojo 0,0005 0,0014 0,0017 0,0057 0,0070

12 Sudimoro 0,0026 0,0019 0,0047 0,0013 0,0034 0,0100

Jumlah 0,0350 0,0316 0,0660 0,0408 0,0719 0,1550

Rata-Rata Koefisien Lokalisasi Kabupaten Pacitan 0,0667

Sumber: Data BPS (Diolah)

Berdasarkan Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa tidak semua kecamatan di

Kabupaten Pacitan di tiap tahunnya memiliki koefisien lokalisasi bernilai positif.

Kecamatan yang memiliki nilai lokalisasi positif pada tahun 2008 hanya enam

kecamatan, yaitu Kecamatan Punung, Kecamatan Nawangan, Kecamatan

Tegalombo, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Ngadirojo, dan Kecamatan

Sudimoro. Nilai koefisien lokalisasi pada tahun tersebut adalah 0,0350 (α < 1)

yang artinya pada tahun 2008 kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan adalah menyebar. Jumlah kecamatan yang memiliki nilai

koefisien lokalisasi positif pada tahun 2009 sama dengan jumlah pada tahun

sebelumnya, kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Punung,

Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan, Kecamatan

Ngadirojo, dan Kecamatan Sudimoro. Nilai koefisien lokalisasi pada tahun

tersebut adalah 0,0316 (α < 1) yang artinya pada tahun 2009 kegiatan pertanian

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah menyebar. Akan tetapi, pada

tahun 2010 hanya terdapat empat kecamatan yang memiliki nilai koefisien

Digital Repository Universitas Jember

60

lokalisasi positif (0,0660), yaitu Kecamatan Donorojo, Kecamatan Punung,

Kecamatan Tulakan, dan Kecamatan Sudimoro. Tahun 2011, jumlah kecamatan

yang memiliki koefisien lokalisasi positif bertambah menjadi tujuh kecamatan,

yaitu Kecamatan Punung, Kecamatan Nawangan, Kecamatan Bandar, Kecamatan

Tegalombo, Kecamatan Tulakan, Kecamatan Ngadirojo, dan Kecamatan

Sudimoro. Nilai koefisien lokalisasi pada tahun tersebut adalah 0,0408 (α < 1)

yang artinya pada tahun 2011 kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan adalah menyebar. Nilai koefisien lokalisasi komoditas ubi

kayu di Kabupaten Pacitan pada tahun 2012 adalah 0,0719 (α < 1) yang artinya

pada tahun 2012 kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

adalah menyebar. Jumlah kecamatan yang memiliki nilai lokalisasi positif tersebut

adalah tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Pacitan,

Kecamatan Bandar, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan, Kecamatan

Ngadirojo, dan Kecamatan Sudimoro. Tahun 2013, kecamatan yang memiliki

nilai koefisien lokalisasi positif adalah Kecamatan Pringkuku, Kecamatan Pacitan,

Kecamatan Nawangan, Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Tulakan,

Kecammatan Ngadirojo, dan Kecamatan Sudimoro. Berdasarkan Tabel 5.2

tersebut juga menunjukkan bahwa terdapat dua kecamatan di Kabupaten Pacitan

yang memiliki nilai koefisien lokalita positif tiap tahunnya dalam kurun waktu

tahun 2008-2013, yaitu Kecamatan Tulakan dan Kecamatan Sudimoro. Hal ini

dikarenakan rasio antara produksi komoditas ubi kayu di masing-masing

kecamatan tersebut dan produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan lebih

besar dari pada rasio antara total produksi tanaman pangan di masing-masing

kecamatan tersebut dan total produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan pada

sepanjang tahun 2008-2013.

Bermacam-macamnya nilai koefisien lokalisasi selama kurun waktu tahun

2008-2013 tersebut menyebabkan rerata nilai koefisien lokalisasi komoditas ubi

kayu adalah 00667 yang artinya nilai koefisien lokalisasi tersebut kurang dari

satu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun 2008-2013 kegiatan

pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah menyebar. Artinya,

hipotesis yang menyatakan bahwa karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di

Digital Repository Universitas Jember

61

Kabupaten Pacitan tidak terlokalisasi adalah diterima. Kegiatan pertanian

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan yang menyebar ini menunjukkan bahwa

kondisi lahan atau agroklimat di tiap kecamatan di Kabupaten Pacitan sesuai

untuk berusahatani komoditas ubi kayu. Hal ini sejalan dengan informasi dari

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan (2014) bahwa sebagian besar wilayah

Kabupaten Pacitan adalah bukit, gunung, dan jurang terjal serta lahan kritis.

Kondisi wilayah tersebut menyebabkan petani menanam komoditas ubi kayu

karena tanaman pangan lainnya tidak dapat tumbuh dengan baik pada kondisi

wilayah seperti itu. Selain itu, kondisi kegiatan pertanian komoditas ubi kayu

yang menyebar memberikan keuntungan jika terjadi kegagalan panen di salah satu

kecamatan, maka kebutuhan komoditas ubi kayu dapat dipenuhi oleh kecamatan

lainnya. Selain itu, menyebarnya kegiatan pertanian komoditas ubi kayu tersebut

juga memberikan peluang untuk mengembangkan komoditas ubi kayu. Berikut

pemetaan karakteristik penyebaran komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

tahun 2008-2013.

Digital Repository Universitas Jember

62

Keterangan:

Kecamatan yang kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan selalu menyebar sepanjang tahun 2008-2013

Kecamatan yang kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan tidak selalu menyebar sepanjang tahun 2008-2013

Gambar 5.4 Pemetaan Karakteristik Penyebaran Kegiatan Pertanian Komoditas Ubi Kayu

Tiap Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 – 2013

Berdasarkan Gambar 5.4 menunjukkan bahwa hanya terdapat dua

kecamatan di Kabupaten Pacitan yang kegiatan pertanian komoditas ubi kayunya

selalu menyebar sepanjang tahun 2008-2013. Kecamatan tersebut adalah

Kecamatan Tulakan dan Kecamatan Sudimoro. Dua kecamatan tersebut,

berdasarkan hasil analisis LQ tahun 2008-2013, merupakan basis produksi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua

kecamatan tersebut memiliki potensi dalam perkembangan komoditas ubi kayu.

Selain analisis lokalisasi, analisis spesialisasi juga digunakan dalam

penelitian ini. Analisis spesialisasi digunakan untuk mengetahui apakah

Kabupaten Pacitan mengkhususkan kegiatan pertaniannya pada komoditas ubi

kayu. Analisis spesialisasi merupakan selisih dari perbandingan produksi

Tulakan

Sudimoro

Digital Repository Universitas Jember

63

komoditas ubi kayu di suatu kecamatan dan produksi tanaman pangan di suatu

kecamatan dibandingkan dengan produksi komoditas ubi kayu di kabupaten dan

produksi tanaman pangan di Kabupaten Pacitan. Ukuran kekhasan suatu wilayah

ditunjukkan oleh nilai dari koefisien spesialisasi (β). Jika nilai koefisien

spesialisasi kurang dari satu, maka Kabupaten Pacitan tidak mengkhususkan

kegiatan pertaniannya pada komoditas ubi kayu. Jika nilai koefisien spesialisasi

lebih dari sama dengan satu, maka Kabupaten Pacitan mengkhususkan kegiatan

pertaniannya pada komoditas ubi kayu. Berikut merupakan hasil perhitungan

koefisien spesialisasi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan.

Tabel 5.3 Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif dari Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013

No Kecamatan Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif

2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 0,0298

2 Punung 0,0002 0,0092 0,1011 0,0189

3 Pringkuku 0,0060 0,0366 0,0412 0,0606

4 Pacitan 0,0098

5 Kebonagung

6 Arjosari

7 Nawangan 0,0071 0,0265 0,0541

8 Bandar 0,0647 0,0388

9 Tegalombo 0,1382 0,0866 0,0624 0,0874 0,2411

10 Tulakan 0,1030 0,1149 0,1416 0,0780 0,1596 0,2255

11 Ngadirojo 0,0092 0,0273 0,0342 0,0894 0,0811

12 Sudimoro 0,0787 0,0568 0,0930 0,0334 0,0755 0,1503

Jumlah 0,3365 0,3009 0,4021 0,3180 0,5016 0,8126

Rata-Rata Koefisien Spesialisasi Kabupaten Pacitan 0,4453

Sumber: Data BPS (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tahun

2008-2013 tidak semua kecamatan di Kabupaten Pacitan yang memiliki nilai

koefisien spesialisasi positif. Pada tahun 2008 nilai koefisien spesialisasi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan adalah 0,335 yang artinya koefisien

tersebut kurang dari satu. Oleh karena itu pada tahun 2008 Kabupaten Pacitan

tidak mengkhususkan kegiatan pertaniannya pada komoditas ubi kayu namun juga

mengusahakan komoditas tanaman pangan lainnya seperti ubi jalar, padi, dan

kedelai. Kecamatan-kecamatan yang memiliki nilai koefisien spesialisasi positif

pada tahun 2008 berjumlah enam kecamatan, yaitu Kecamatan Punung,

Nawangan, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro. Nilai koefisien

spesialisasi pada tahun 2009 pun juga bernilai positif namun mengalami

Digital Repository Universitas Jember

64

penurunan menjadi 0,3009. Jumlah kecamatan yang memiliki nilai koefisien

spesialisasi positif pun juga sama denga tahun sebelumnya. Kecamatan-kecamatan

tersebut adalah Kecamatan Punung, Pringkuku, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo,

dan Sudimoro.

Pada tahun 2010 nilai koefisien spesialisasi komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan pun juga positif namun mengalami peningkatan dari tahun

sebelumnya menjadi 0,4021. Kecamatan-kecamatan yang memiliki koefisien

spesialisasi positif pada tahun tersebut menurun menjadi lima kecamatan, yaitu

Kecamatan Donorojo, Punung, Pringkuku, Tulakan, dan Sudimoro. Pada tahun

selanjutnya nilai koefisien spesialisasi juga positif namun menurun menjadi

0,3180. Akan tetapi, jumlah kecamatan yang memiliki nilai koefisien spesialisasi

positif meningkat menjadi tujuh kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut

adalah Kecamatan Pringkuku, Nawangan, Bandar, Tegalombo, Tulakan,

Ngadirojo, dan Sudimoro.

Nilai koefisien spesialisasi pada tahun 2012 mengalami peningkatan

menjadi 0,501 dengan jumlah kecamatan yang memiliki nilai koefisien

spesialisasi positif adalah tujuh kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah

Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Bandar, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, dan

Sudimoro. Pada tahun 2013 jumlah kecamatan yang memiliki nilai koefisien

spesialisasi positif menurun menjadi enam kecamatan, yaitu Kecamatan

Pringkuku, Nawangan, Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro. Nilai

koefisien spesialisasi pada tahun 2013 pun juga mengalami peningkatan menjadi

0,812. Meskipun jumlah kecamatan yang memiliki nilai koefisien positif

mengalami penurunan dari tahun sebelumnya namun nilai koefisien spesialisasi

masing-masing kecamatan tersebut meningkat.

Selama kurun waktu tahun 2008-2013 nilai koefisien spesialisasi

komoditas ubi kayu mengalami fluktuasi. nilai rerata koefisien spesialisasi pada

kurun waktu tersebut sebesar 0,4453. Artinya nilai koefisien spesialisasi

komoditas kurang dari satu, maka dalam kurun waktu tahun 2008-2013,

Kabupaten Pacitan tidak mengkhususkan kegiatan pertaniannya pada komoditas

ubi kayu. Artinya, hipotesis yang menyatakan bahwa karakteritik penyebaran

Digital Repository Universitas Jember

65

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan tidak terspesialisasi adalah diterima.

Kenyataannya, sistem penanaman ubi kayu di Kabupaten Pacitan selain dilakukan

secara monokultur juga dilakukan secara tumpangsari. Sistem penanaman

tumpangsari dilakukan pada lahan di pegunungan yang relatif datar. Pada kondisi

lahan tersebut masih bisa untuk ditanami komoditas pangan lainnya seperti padi,

jagung, dan kacang-kacangan sehingga komoditas ubi kayu hanya dijadikan

tanaman sela. Berdasarkan hasil penelitian Ningrum (2014), pola tanam yang

dilakukan oleh rata-rata para petani komoditas ubi kayu yang melakukan sistem

penanaman tumpang sari dalam satu tahun terdapat tiga pola tanam, yaitu Bulan

Desember-Maret adalah padi-ubi kayu, Bulan April-Juli adalah jagung-ubi kayu,

dan Agustus-November adalah kacang-kacangan-ubi kayu. Alasan petani

melakukan sistem penanaman tumpangsari adalah untuk mengoptimalkan fungsi

lahan dan mendapatkan tambahan pendapatan selain dari hasil komoditas ubi

kayu.

Selama ini memang tidak ada kebijakan khusus terkait komoditas ubi

kayu. Penyuluhan terkait teknis budidaya yang dilakukan punterfokus pada

tanaman pangan lainnya seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Akan tetapi,

berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

Kabupaten Pacitan tahun 2011-2016, salah satu kebijakan umum Kabupaten

Pacitan adalah Kebijakan umum untuk strategi pengembangan ekonomi

kerakyatan. Salah satu tujuannya adalah peningkatan produksi dan ketersediaan

pangan secara berkelanjutan. Program yang diprioritaskan salah satunya adalah

program peningkatan produksi pertanian yang menjadi tanggung jawab Dinas

Tanaman Pangan dan Peternakan. Ubi kayu merupakan salah satu komoditas yang

diupayakan agar produksi dan produktifitasnya meningkat. Salah satunya pada

pengembangan komoditas ubi kayu berupa demfarm masing-masing seluas 25 Ha

di Desa Jatimalang Kecamatan Arjosari dan Desa Ploso Kecamatan Tegalombo

yang dilaksanakan tahun 2014. Tujuan khusus dilakukannya demplot

pengembangan ubi kayu tersebut adalah mengenalkan suatu teknologi budidaya

ubi kayu kepada petani dan menungkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan

petani di sekitar maupun di luar demplot.

Digital Repository Universitas Jember

66

5.3 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Subsektor Tanaman

Pangan dan Sektor Pertanian di Kabupaten Pacitan

Produk Domestik Regional Domestik (PDRB) dapat menunjukkan

pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah tak terkecuali Kabupaten Pacitan.

Perkembangan PDRB dari tahun ke tahun yang meningkat menunjukkan adanya

peningkatan perekonomian di suatu daerah. Tingkat pertumbuhan ekonomi

Kabupaten Pacitan dapat ditunjukkan dengan perubahan Produk Domestik

Regional Bruto (PDRB) tahun yang bersangkutan dibandingkan dengan tahun

sebelumnya. Penyajian PDRB di Kabupaten Pacitan terbagi menjadi sembilan

sektor ekonomi yang mencakup sektor pertanian, pertambangan dan penggalian,

industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan

restoran, angkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

serta jasa-jasa lainnya. Tiap-tiap sektor ekonomi tersebut memberikan kontribusi

yang berbeda terhadap PDRB Kabupaten Pacitan. Berikut adalah kontribusi tiap-

tiap sektor ekonomi terhadap rerata PDRB Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013.

Gambar 5.5 Kontribusi Tiap Sektor Ekonomi terhadap Rerata PDRB Kabupaten Pacitan

Tahun 2008 – 2013

Berdasarkan Gambar 5.5 di atas, menunjukkan bahwa kontribusi tiap

sektor ekonomi terhadap rerata PDRB Kabupaten Pacitan tahun 2008-2013

berbeda-beda. Sektor pertanian memberikan kontribusi yang cukup besar yaitu

38,04% dari nilai rerata PDRB Kabupaten Pacitan. Berdasarkan hal tersebut maka

dapat dikatakan bahwa sektor pertanian merupakan sektor utama penggerak

Digital Repository Universitas Jember

67

perekonomian di Kabupaten Pacitan. Besarnya kontribusi sektor pertanian

tersebut dikarenakan kondisi alam wilayah Kabupaten Pacitan yang sesuai untuk

usaha di sektor pertanian sehingga menghasilkan produksi yang maksimal.

Sektor pertanian di Kabupaten Pacitan terbagi menjadi lima subsektor,

yaitu subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan,

kehutanan, dan perikanan. Subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi

yang paling besar terhadap sektor pertanian yaitu sebesar Rp 504.559,44 juta dari

rerata PDRB sektor pertanian Kabupaten Pacitan sebesar Rp 954.945,78 juta pada

tahun 2008-2013. Besarnya kontribusi tersebut dikarenakan usaha sektor pertanian

di Kabupaten Pacitan pada kenyatannya didominasi oleh usaha tanaman pangan.

Sebab, mata pencaharian dengan budidaya tanaman pangan telah menjadi

kebiasaan masyarakat Kabupaten Pacitan sejak dulu. Komoditas tanaman pangan

yang dibudidayakan pun beragam, yaitu padi, kedelai, jagung, ubi kayu, ubi jalar,

kacang tanah, dan kacang hijau.

Ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan yang paling banyak

diusahakan di Kabupaten Pacitan. Hal ini dikarenakan kondisi alam Kabupaten

Pacitan yang sebagian besar wilayahnya merupakan lahan kering dan berbukit

sehingga mendorong penduduk setempat menanam komoditas yang masih dapat

tumbuh dan berkembang dengan baik, yaitu ubi kayu. Selain itu, kebiasaan

penduduk setempat yang menjadikan tiwul (makanan berbahan dasar ubi kayu)

sebagai makanan pokok selain beras turut menyebabkan banyak ditemukannya

tanaman ubi kayu yang diusahakan penduduk setempat. Tingginya produksi

komoditas ubi kayu dari pada tanaman pangan lainnya di Pacitan dapat dilihat

pada Lampiran F – Lampiran K.

Selain sebagai bahan makanan, ubi kayu juga dapat dikembangkan

menjadi bioethanol sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan. Hal ini

menyebabkan ubi kayu menjadi salah satu penghasil devisa negara melalui ekspor

baik dalam bentuk segar maupun bentuk gaplek atau dalam bentuk olahan lainnya.

pengembangan komoditas ubi kayu selain memberikan keuntungan ekonomi

secara nasional, juga dapat memberikan dampak yang sama bagi perekonomian

wilayah penghasil atau sentra komoditas ubi kayu.

Digital Repository Universitas Jember

68

Kabupaten Pacitan merupakan kabupaten yang menghasilkan komoditas

ubi kayu tertinggi kedua di Jawa Timur. Komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan tak hanya digunakan untuk bahan baku industri makanan saja, namun uga

dikirim ke luar Pacitan untuk digunakan sebagai bahan baku industri kimia atau

bioethanol. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ubi kayu memiliki peranan

penting bagi sektor lainnya di dalam perekonomian Kabupaten Pacitan. Oleh

karena itu, kontribusi komoditas ubi kayu penting untuk diketahui karena dapat

menggambarkan presentase sumbangan pengusahaan komoditas ubi kayu

terhadap subsektor tanaman pangan dan sektor pertanian sehingga pada akhirnya

juga berpengaruh terhadap PDRB Kabupaten Pacitan. Tinggi atau besarnya

prosentase kontribusi komoditas ubi kayu tersebut dapat dijadikan bahan

pertimbangan Pemerintah setempat dalam mengembangkan komoditas ubi kayu.

Pada penelitian ini, besarnya kontribusi komoditas ubi kayu terhadap

PDRB subsektor tanaman pangan di Kabupaten Pacitan diperoleh dari

perbandingan nilai PDRB komoditas ubi kayu pada tahun tertentu terhadap PDRB

subsektor tanaman pangan di Kabupaten Pacitan pada tahun tertentu. Kemudian

dibandingkan dengan rata-rata kontribusi komponen penyusun PDRB subsektor

tanaman pangan (14,29%). Apabila nilai kontribusi komoditas ubi kayu terhadap

PDRB subsektor tanaman pangan lebih besar dari 14,29%, maka kontribusi

komoditas ubi kayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan di Kabupaten

Pacitan dapat dikatakan tinggi. Jika nilai kontribusinya lebih kecil dari 14,29%

maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan di

Kabupaten Pacitan adalah rendah. Berikut adalah kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap PDRB subsektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013.

Digital Repository Universitas Jember

69

Tabel 5.4 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Tanaman Pangan di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013

Tahun PDRB (000 Rupiah)

Kontribusi (%) Keterangan Ubi Kayu Tanaman Pangan

2008 646.900 344.424.980 0,188 Rendah

2009 588.530 362.315.690 0,162 Rendah

2010 554.380 376.216.400 0,147 Rendah

2011 633.634 386.787.500 0,164 Rendah

2012 591.764 397.303.430 0,149 Rendah

2013 453.092 403.679.240 0,112 Rendah

Rerata 0,154 Rendah

Sumber: Data BPS (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.4 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kontribusi

komoditas ubi kayu dalam kurun waktu tahun 2008-2013 terhadap subsektor

tanaman pangan adalah 0,154%. Nilai tersebut lebih kecil dari rata-rata kontribusi

komoditas penyusun subsektor tanaman pangan (2,86%) yang artinya kontribusi

komoditas ubi kayu terhadap PDRB sub sektor tanaman pangan di Kabupaten

Pacitan dalam kurun waktu tahun 2008-2013 adalah rendah. Nilai kontribusi

tersebut dipengaruhi oleh nilai kontribusi komoditas ubi kayu tiap tahunnya dalam

kurun waktu tahun 2008-2013. Berikut grafik perkembangan kontribusi

komoditas ubi kayu terhadap subsektor tanaman pangan di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013.

Gambar 5.6 Grafik Perkembangan Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB

Subsektor Tanaman Pangan di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013

Tahun

0.000

0.050

0.100

0.150

0.200

2008 2009 2010 2011 2012 2013

0,188

0,162

0,147

0,164

0,149

0,112

0,000

0,050

0,100

0,150

0,200

Ko

ntr

ibu

si (

%)

Digital Repository Universitas Jember

70

Berdasarkan Gambar 5.6 menunjukkan bahwa kontribusi komoditas ubi

kayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan Kabupaten Pacitan mengalami

fluktuasi. Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,188 %. Hal

ini dikarenakan produksi komoditas ubi kayu pada tahun tersebut tertinggi selama

kurun waktu tahun 2008-2013, yaitu 792.155 ton meskipun harga per kg

komoditas ubi kayu pada tahun tersebut paling rendah. Nilai kontribusi terendah

terjadi pada tahun 2013 yaitu 0,112%. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut

produksi komoditas ubi kayu mengalami penurunan dan jumlah produksinya

terendah selama kurun waktu 2008-2013, meskipun harga per Kg komoditas ubi

kayu pada tahun tersebut naik dari Rp 1217,00 per Kg pada tahun 2012 menjadi

Rp 1275,00 per Kg pada tahun 2013.

Selain menganalisis kontribusi komoditas ubi kayu terhadap subsektor

tanaman pangan, penelitian ini juga menganalisis kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap PDRB sektor pertanian. Tinggi atau rendahnya kontribusi komoditas ubi

kayu terhadap PDRB sektor pertanian dapat diketahui dengan membandingkan

presentase kontribusi komoditas ubi kayu terhadap nilai rata-rata kontribusi

komponen penyusun PDRB sektor pertanian di Kabupaten Pacitan (2,86%).

Apabila nilai kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor pertanian

lebih besar dari 2,86%, maka kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB

sektor pertanian di Kabupaten Pacitan dapat dikatakan tinggi. Jika nilai

kontribusinya lebih kecil dari 2,86%, maka kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap PDRB sektor pertanian di Kabupaten Pacitan adalah rendah. Berikut

tabel kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor pertanian di

Kabupaten Pacitan.

Digital Repository Universitas Jember

71

Tabel 5.5 Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Sektor Pertanian di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013

Tahun PDRB (000 Rupiah)

Kontribusi (%) Keterangan Ubi Kayu Pertanian

2008 646.900 563.086.050 0,1149 Rendah

2009 588.530 591.126.240 0,0996 Rendah

2010 554.380 613.885.630 0,0903 Rendah

2011 633.634 635.330.480 0,0997 Rendah

2012 591.764 658.987.290 0,0898 Rendah

2013 453.092 671.630.630 0,0675 Rendah

Rerata 0,094 Rendah

Sumber: Data BPS (diolah)

Berdasarkan Tabel 5.5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata kontribusi

komoditas ubi kayu dalam kurun waktu tahun 2008-2013 terhadap sektor

pertanian adalah 0,094%. Nilai tersebut kurang dari 14,29% yang artinya

kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB sektor pertanian di Kabupaten

Pacitan dalam kurun waktu tahun 2008-2013 adalah rendah. Nilai kontribusi

tersebut dipengaruhi oleh nilai kontribusi komoditas ubi kayu tiap tahunnya dalam

kurun waktu tahun 2008-2013. Berikut grafik perkembangan kontribusi

komoditas ubi kayu terhadap sektor pertanian di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-

2013.

0

0.02

0.04

0.06

0.08

0.1

0.12

0.14

2008 2009 2010 2011 2012 2013

Gambar 5.7 Grafik Perkembangan Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB

Sektor Pertanian di Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013

Ko

ntr

ibu

si (

%)

0,0000

0,0200

0,0400

0,0600

0,0800

0,1000

0,1200

0,1400

0,1149

0,0996

0,0903

0,0997

0,0898

0,0675

Tahun

Digital Repository Universitas Jember

72

Berdasarkan Gambar 5.7 menunjukkan bahwa kontribusi komoditas ubi

kayu terhadap PDRB sektor pertanian Kabupaten Pacitan mengalami fluktuasi.

Kontribusi tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,1149. Hal ini

dikarenakan produksi komoditas ubi kayu pada tahun tersebut tertinggi selama

kurun waktu tahun 2008-2013, yaitu 792.155 ton meskipun harga per kg

komoditas ubi kayu pada tahun tersebut paling rendah. Nilai kontribusi terendah

terjadi pada tahun 2013 yaitu 0,675%. Hal ini dikarenakan pada tahun tersebut

produksi komoditas ubi kayu terendah meskipun harga perKg komoditas ubi kayu

pada tahun tersebut naik.

Berdasarkan hasil analisis yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat

disimbulkan bahwa hipotesis yang menyatakan kontribusi komoditas ubi kayu

terhadap PDRB subsektor tanaman pangan dan sektor pertanian Kabupaten

Pacitan adalah tinggi daripada komoditas tanaman pangan lainnya, ditolak.

Rendahnya kontribusi komoditas ubi kayu baik terhadap subsektor tanaman

pangan maupun sektor pertanian, dikarenakan nilai PDRB komoditas ubi kayu di

Kabupaten Pacitan selama tahun 2008-2013 tidak sejalan dengan PDRB sektor

pertanian dan PDRB subsektor tanaman pangan yang semakin meningkat tiap

tahunnya (Lampiran GG – JJ). Hal ini menyebabkan presentase kontribusi

komoditas ubi kayu pada tahun tersebut rendah, baik terhadap PDRB subsektor

tanaman pangan maupun PDRB sektor pertanian di Kabupaten Pacitan.

PDRB komoditas ubi kayu diperoleh dari hasi perkalian total produksi

komoditas ubi kayu (Kg) dengan harga komoditas ubi kayu (Rp/Kg) di tingkat

petani. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya PDRB komoditas ubi kayu tersebut

dipengaruhi oleh oleh dua faktor, yaitu produksi dan harga. Seperti yang telah

dijelaskan pada subbab sebelumnya, perkembangan produksi komoditas ubi kayu

di Kabupaten Pacitan selama tahun 2008-2013 cenderung menurun dikarenakan

luas lahan tanam yang semakin sempit serta cara bertanam komoditas ubi kayu

yang dilakukan oleh petani pada umumnya tidak sesuai dengan standar teknis

yang dianjurkan Balitkabi, serta penggunaan bibit yang tidak unggul.

Digital Repository Universitas Jember

73

Selain karena produksi, harga jual komoditas ubi kayu juga mempengaruhi

besarnya PDRB komoditas tersebut. Harga jual komoditas ubi kayu jika

dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya dapat dikatakan lebih rendah,

seperti padi. Harga padi GKG (gabah kering giling) per kg sekitar Rp 4000,00

sedangkan harga komoditas ubi kayu per Kg adalah sekitar

Rp600,00 – Rp1.200,00. Selain itu, sifat komoditas ubi kayu yang musiman,

menyebabkan harga jualnya selalu berfluktuatif. Harga komoditas ubi kayu

berfluktuasi tiap bulannya, terutama pada saat panen raya sekitar Bulan Juli harga

komoditas ubi kayu di tingkat petani mengalami penurunan. Apabila pada bulan

biasa harga komoditas ubi kayu per kg sekitar Rp 1.200,00 namun pada saat

musim panen raya harga per kg di tingkat petani bisa mencapai

Rp600,00 – Rp700,00.

Digital Repository Universitas Jember

74

BAB 6. SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

1. Kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan dalam

kurun waktu tahun 2008-2013 adalah Kecamatan Tulakan, Kecamatan

Pringkuku, Kecamatan Tegalombo, dan Kecamatan Sudimoro.

2. Karakteristik penyebaran kegiatan pertanian komoditas ubi kayu di Kabupaten

Pacitan adalah menyebar di kecamatan-kecamatan di Kabupaten Pacitan dan

Kabupaten Pacitan tidak menspesialisasikan kegiatan pertaniannya pada

komoditas ubi kayu.

3. Kontribusi komoditas ubi kayu terhadap PDRB subsektor tanaman pangan dan

PDRB sektor pertanian adalah rendah.

6.2 Saran

1. Perlu dilakukan upaya menerapkan sapta usaha tani sesuai dengan standar

secara konsisten, terutama mengoptimalkan sumber daya yang ada,

penggunaan bibit unggul dan perbaikan teknis budidaya komoditas ubi kayu

yang sesuai standar teknis. Hal ini disarankan agar menurunnya produksi

komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan berkurang sehingga jumlah

kecamatan basis produksi komoditas ubi kayu di Kabupaten Pacitan

meningkat.

2. Perlu adanyadukungan Pemerintah Kabupaten Pacitan yaitu berupa kebijakan

seperti pengenalan bibit unggul dan pendampingan terhadap petani dalam

budidaya komoditas ubi kayu secara menyeluruh agar produksi ubi kayu

meningkat serta pengaturan harga dasar komoditas ubi kayu sehingga

kontribusi komoditas ubi kayu terhadap sektor pertanian Kabupaten Pacitan

meningkat.

74

Digital Repository Universitas Jember

75

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Graha

Ilmu.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2010. Pacitan Dalam Angka 2010.

Pacitan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2013. Pacitan Dalam Angka 2011.

Pacitan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2012. Pacitan Dalam Angka 2012.

Pacitan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2013. Pacitan Dalam Angka 2013.

Pacitan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan. 2014. Pacitan Dalam Angka 2014.

Pacitan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Pacitan.

Budiharsono, S. 2001. Teknik Analisa Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan.

Jakarta: Pradnya Paramita.

Daryanto, Arief dan Hafizrianda, Yundy. 2010. Model-Model Kuantitatif untuk

Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah: Konsep dan Aplikasi. Bogor:

PT Penerbit IPB Press.

Digdo, M. Riyanto. 2004. “Prospek dan Kontribusi Komoditas Padi terhadap

Perekonomian serta Ketahanan Pangan Kabupaten Jember”. Tidak

Diterbitkan. Skripsi. Jember: Program Sarjana Universitas Jember.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian. 2012. Road Map

Peningkatan Produksi Ubikayu 2010 – 2014. Jakarta: Direktorat Jenderal

Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Hafsah, M. Jafar. 2003. Bisnis Ubi Kayu Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan.

Herry, Adwi dan Tohari. 2008. Profil Pengembangan Tanaman Pangan di

Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Agrin. Vol 12(2): 146-157.

Isnaini, Nur. 2009. “Peran dan Kontribusi Komoditas Padi Terhadap

Perekonomian Wilayah Kabupaten Jombang”. Tidak Diterbitkan. Skripsi.

Jember: Program Sarjana Universitas Jember.

75

Digital Repository Universitas Jember

76

Januar, Jani. 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah: Teori, Konsep dan

Implementasi. Jember: Universitas Jember.

Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Ciawi: Ghalia Indonesia.

Ningrum, Army Yudha. 2007. “Kontribusi Ekonomi Komoditas Padi Terhadap

Pendapatan Daerah Kabupaten Madiun”. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember:

Program Sarjana Universitas Jember.

Ningrum, Ela Fitria. 2014. “Analisis Usahatani Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan”.

Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember: Program Sarjana Universitas Jember.

Nurdiastuti, Suci. “Perwilayahan Komoditas Ubi Kayu dalam Mendukung

Kegiatan Agroindustri Chip Mocaf di Kabupaten Trenggalek Propinsi Jawa

Timur”. Tidak Diterbitkan. Tesis. Jember: Program Pascasarjana Universitas

Jember.

Oktaliando, Rendy, A. Hudoyo, dan A. Soelaiman. 2013. Analisis Keterkaitan

Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Di Propvinsi Lampung. Ilmu-

Ilmu Agribisnis. Vol 1(1): 16-25.

Papua. 2013. PDRB [serial online]. http://papua.go.id/view-detail-page-

160/pdrb.html. [20 Desember 2014].

Plantamor. 2013. Informasi Spesies Singkong [serial online].

www.plantamor.com/index.php?plant=814. [10 September 2015].

Rivai, Rudi S. dan Anugrah, Iwan S. 2011. Konsep dan Implementasi

Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia. Forum Penelitian Agro

Ekonomi. Vol. 29(1): 13 – 25.

Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta:

Kanisius.

Sa’id, E. Gumbira, dan Intan, A. Harizt. 2001. Manajemen Agribisnis. Jakarta:

Ghalia Indonesia.

Saliem, Handewi P. dan S. Nuryanti. 2011. Perspektif Ekonomi Global Kedelai

dan Ubikayu Mendukung Swasembada. Jakarta: Pusat Sosial Ekonomi dan

Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian.

Setiono, Dedi NS. 2011. Ekonomi Pengembangan Wilayah (Teori dan Analisis).

Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sosroedirdjo. 1992. Bercocok Tanam Ketela Pohon. Jakarta: Yasaguna.

Digital Repository Universitas Jember

77

Soekartawi, 2010. Agribisnis (Teori dan Aplikasinya). Jakarta: Rajawali Pers.

Soetriono. 1996. Sektor Basis Kedelai Sebagai Pendukung Agroindustri di

Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Agrijournal. Vol 3(2): 10-19.

Subbag Hukum dan Humas Setditjen Tanaman Pangan. 2014. Ubi kayu Panga

Alternatif Potensial Kabupaten Pati [serial online].

http://tanamanpangan.pertanian.go.id/berita-ubi-kayu-pangan-alternatif-

potensial-kabupaten-pati.html#ixzz3NEsJb8Kq. [22 November 2014].

Sudarsono, Arif. 2004. “Analisis Wilayah Komoditas Padi dalam Mendukung

Perekonomian Propinsi Jawa Timur”. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember:

Program Sarjana Universitas Jember.

Sukirno, S. 2012. Mikro Ekonomi edisi ketiga. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Suprapti, M. Lies. 2009. Tepung Tapioka: Pembuatan dan Pemanfaatannya.

Yogyakarta: Kanisius.

Supriyono, Agus. 1998. “Studi Perwilayahan Komoditas Kedelai Dalam

Mendukung Kegiatan Agroindustri”. Tidak Diterbitkan. Laporan Penelitian.

Jember: Universitas Jember.

Tarigan, Robinson. 2012. Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi

Aksara.

Wibowo, Rudi dan Soetriono. 2004. Konsep Teori dan Landasan Analisis

Wilayah. Malang: Bayumedia Publishing.

Wibowo, R. dan Januar, Jani. 1998. Teori Perencanaan Pembangunan Wilayah.

Jember: Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Widodo, Suseno Triyanto. 1990. Indikator Ekonomi Dasar Perhitungan

Perekonomian Indonesia. Yogyakarta.

Wowor, Meilani Anggaria Elisabeth. 2014. Kajian Potensi Komoditas Tanaman

Pangan di Kabupaten Minahasa. Jurnal. Minahasa: Universitas

Samratulangi. Tidak Ada Halaman.

Zulaika, Lilik. 2002. “Analisis Ekonomi Wilayah Komoditi Ubikayu dalam

Mendukung Kegiatan Agroindustri (Studi Kasus di Kabupaten Pacitan

Propinsi Jawa Timur)”. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember: Program Sarjana

Universitas Jember.

Digital Repository Universitas Jember

78

LAMPIRAN

Lampiran A. Perkembangan Produksi Ubi Kayu Di Indonesia, Tahun 2009 -2013

Propinsi Produksi (Ton)

Rerata 2009 2010 2011 2012 2013

Lampung 7.569.178 8.637.594 9.193.676 8.387.351 8.329.201 8.423.400

Jateng 3.676.809 3.876.242 3.501.458 3.848.462 4.089.635 3.798.521

Jatim 3.222.637 3.667.058 4.032.081 4.246.028 3.601.074 3.753.776

Propinsi

lainnya

7.570.521 7.737.224 7.316.810 7.695.531 7.917.011 7.647.419

Indonesia 22.039.145 23.918.118 24.044.025 24.177.372 23.936.921 23.623.116

Sumber: BPS Indonesia, 2014 (diolah)

78

Digital Repository Universitas Jember

79

Lampiran B. Perkembangan Produksi Ubi Kayu di Jawa Timur, Tahun 2011-2013

No Kabupaten/Kota 2011 2012 2013 Rata - Rata

1 Ponorogo 595.943 705.278 578.494 626.572

2 Pacitan 563.230 486.381 355.366 468.326

3 Trenggalek 380.313 441.120 271.968 364.467

4 Tulungagung 180.423 146.587 127.168 151.393

5 Blitar 138.332 157.731 109.165 135.076

6 Kediri 94.145 102.650 81.189 92.661

7 Malang 451.011 396.748 335.980 394.580

8 Lumajang 33.962 39.289 32.193 35.148

9 Jember 52.587 47.803 41.679 47.356

10 Banyuwangi 48.477 39.848 37.821 42.049

11 Bondowoso 125.237 142.940 117.918 128.698

12 Situbondo 720 9.239 8.253 6.071

13 Probolinggo 89.803 125.874 146.356 120.678

14 Pasuruan 108.997 157.223 98.576 121.599

15 Sidoarjo - 122 - 41

16 Mojokerto 15.036 33.733 27.069 25.279

17 Jombang 28.626 33.941 13.897 25.488

18 Nganjuk 131.956 125.298 120.336 125.863

19 Madiun 58.854 61.967 60.268 60.363

20 Magetan 113.125 98.661 94.209 101.998

21 Ngawi 109.441 115.215 165.423 130.026

22 Bojonegoro 51.673 94.162 83.401 76.412

23 Tuban 113.015 171.938 244.522 176.492

24 Lamongan 53.273 88.992 34.134 58.800

25 Gresik 14.255 13.841 22.493 16.863

26 Bangkalan 85.613 75.986 63.864 75.154

27 Sampang 188.003 160.547 129.369 159.306

28 Pamekasan 29.138 31.603 37.029 32.590

29 Sumenep 171.429 137.725 159.350 156.168

30 Kota Kediri 641 330 610 527

31 Kota Blitar - - - -

32 Kota Malang 1.537 1.278 1.704 1.506

33 Kota Probolinggo - - - -

34 Kota Pasuruan - - - -

Digital Repository Universitas Jember

80

Lanjutan Lampiran B

No Kabupaten/Kota 2011 2012 2013 Rata - Rata

35 Kota Mojokerto - - - -

36 Kota Madiun - - - -

37 Kota Surabaya 1.073 206 303 527

38 Kota Batu 2.213 1.727 966 1.635

Jumlah 547.175 512.235 449.822 3.959.712

Sumber: BPS Jawa Timur, 2014 (diolah)

Digital Repository Universitas Jember

66

Lampiran C. Perkembangan Produksi Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan, Tahun 2012-2013

Kecamatan Produksi (Ton)

Rerata(Ton) Pangsa

(%) 2009 2010 2011 2012 2013

Donorojo 103.628 80.710 77.210 46.638 19.029 65.443 12,7

Punung 115.744 129.975 115.323 49.320 23.946 86.861,6 16,9

Pringkuku 90.921 88.703 79.641 97.878 68.443 85.117,2 16,5

Pacitan 29.960 22.423 23.032 23.258 3.358 20.406,2 4

Kebonagung 9.202 19.491 5.062 6.088 1.747 8.318 1,6

Arjosari 23.658 20.369 14.733 18.629 3.335 16.144,8 3,1

Nawangan 40.526 21.439 33.973 19.767 35.389 30.218,8 5,9

Bandar 62.187 16.387 72.636 84831 39.986 55.205,4 10,7

Tegalombo 52.760 31.027 58.150 57.768 67.033 53.347,6 10,4

Tulakan 67.865 52.623 49.616 58.072 63.404 5.8316 11,3

Ngadirojo 23.855 10.086 19.651 22.056 19.328 18.995,2 3,7

Sudimoro 15.939 18.502 15.403 15.425 16.434 16.340,6 3,2

Pacitan 636.245 511.735 564.430 499.730 361.432 514.714,4 100

Sumber: BPS Pacitan, 2014 (diolah)

81

Digital Repository Universitas Jember

82

Lampiran D. Perkembangan Luas Tanam Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013

No Kecamatan Luas Tanam (Ha)

2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 6884 6046 6015 5700 3505 1000

2 Punung 5943 5614 5510 5610 2419 1000

3 Pringkuku 3950 4773 4750 4050 4308 4211

4 Pacitan 1235 1644 1350 1233 1037 79

5 Kebonagung 648 1022 534 353 185 54

6 Arjosari 1305 1187 1247 1085 652 392

7 Nawangan 2629 2040 2281 811 548 1765

8 Bandar 4165 3311 3737 460 3387 1950

9 Tegalombo 3440 3188 1785 2290 2661 2576

10 Tulakan 3533 4284 2042 2521 3017 2526

11 Ngadirojo 1383 1435 1445 725 1000 385

12 Sudimoro 1014 834 849 789 822 878

Jumlah 36129 35378 31545 25627 23541 16816

Sumber: BPS, 2014

Digital Repository Universitas Jember

83

Lampiran E. Perkembangan Luas Panen Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013

No Kecamatan Luas Tanam (Ha)

2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 6884 6046 6008 5707 3470 1035

2 Punung 5943 5614 5510 5610 2419 1000

3 Pringkuku 3717 4773 4650 4150 4308 4211

4 Pacitan 1220 1637 1197 1248 1117 176

5 Kebonagung 648 497 975 268 306 88

6 Arjosari 1249 1187 1083 811 887 147

7 Nawangan 2579 1963 1091 1580 917 1772

8 Bandar 3811 3311 797 3302 3215 1829

9 Tegalombo 3064 2945 1835 2581 2467 2929

10 Tulakan 3533 3582 2405 2578 2778 2876

11 Ngadirojo 1393 1375 595 1225 1075 780

12 Sudimoro 1014 834 853 792 778 852

Jumlah 35055 33764 26999 29852 23737 17695

Sumber: BPS, 2014

Digital Repository Universitas Jember

84

Lampiran F. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2008 dalam Ton

No. Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 124.542 19.030 591 1.269 7 25.363 134

2 Punung 122.584 19.334 1.874 4.376 6 16.587 69

3 Pringkuku 96.815 21.020 277 1.581 19 25.482 248

4 Pacitan 24.335 12.175 279 339 21 868 30

5 Kebonagung 13.537 10.436 53 243 36 282 19

6 Arjosari 25.225 10.661 229 575 4 992 21

7 Nawangan 60.737 9.637 254 541 - 9.700 52

8 Bandar 92.567 10.503 156 162 - 24.279 23

9 Tegalombo 82.629 7.258 11 101 - 3.670 48

10 Tulakan 96.134 15.461 254 431 - 911 380

11 Ngadirojo 31.249 9.182 430 144 - 516 -

12 Sudimoro 21.761 3.381 132 159 12 892 131

Jumlah 792.115 148.078 4.540 9.921 105 109.542 1.155

84

Digital Repository Universitas Jember

85

Lampiran G. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2009 dalam Ton

No.

Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 103.628 21.601 815 1.341 9 28.465 62

2 Punung 115.744 20.828 1.856 5.481 12 22.798 57

3 Pringkuku 90.921 17.397 334 1.752 31 20.940 234

4 Pacitan 29.960 12.096 997 239 28 1.112 51

5 Kebonagung 9.202 13.600 76 202 55 802 87

6 Arjosari 23.658 10.990 278 457 3 835 9

7 Nawangan 40.526 9.357 224 723 - 12.336 196

8 Bandar 62.187 11.938 182 163 - 23.948 -

9 Tegalombo 52.760 8.037 16 88 - 7.490 -

10 Tulakan 67.865 14.523 239 517 - 1.661 50

11 Ngadirojo 23.855 8.743 444 209 - 245 -

12 Sudimoro 15.939 4.704 222 227 16 383 -

Jumlah 636.245 153.814 5.683 11.399 154 121.015 746

85

Digital Repository Universitas Jember

86

Lampiran H. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2010 dalam Ton

No. Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 80.710 21.435 718 1.725 - 18.278 6

2 Punung 129.975 26.378 1.413 4.116 18 16.548 54

3 Pringkuku 88.703 21.470 333 1.786 13 21.228 114

4 Pacitan 22.423 12.244 68 140 - 1.013 92

5 Kebonagung 19.491 15.220 41 254 7 720 29

6 Arjosari 20.369 9.796 57 256 2 2.035 18

7 Nawangan 21.439 12.237 217 659 - 12.597 135

8 Bandar 16.387 9.736 122 77 - 26.758 97

9 Tegalombo 31.027 8.427 12 37 - 21.215 -

10 Tulakan 52.623 13.771 116 104 - 1.649 196

11 Ngadirojo 10.086 10.926 158 120 - 160 -

12 Sudimoro 18.502 5.282 273 192 13 1.394 40

Jumlah 511.735 166.922 3.528 9.466 53 123.595 781

86

Digital Repository Universitas Jember

87

Lampiran I. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2011 dalam Ton

No.

Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 77.210 24.596 832 1.608 13 26.280 -

2 Punung 115.323 23.119 873 4.193 9 26.541 65

3 Pringkuku 79.641 22.358 250 2.043 - 19.879 -

4 Pacitan 23.032 13.553 793 273 2 1.273 83

5 Kebonagung 5.062 13.493 70 94 10 313 26

6 Arjosari 14.733 8.479 227 295 8 1.381 13

7 Nawangan 33.973 11.874 126 282 - 3.225 77

8 Bandar 72.636 12.215 233 177 - 15.112 -

9 Tegalombo 58.150 11.118 8 14 - 11.321 -

10 Tulakan 49.616 15.597 223 118 - 1.227 537

11 Ngadirojo 19.651 7.740 404 173 - 382 -

12 Sudimoro 15.403 6.115 116 90 8 515 -

Jumlah 564.430 170.257 4.155 9.360 50 107.449 801

87

Digital Repository Universitas Jember

88

Lampiran J. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2012 dalam Ton

No.

Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 46.638 22.189 1.443 3.462 14 12.264 18

2 Punung 49.320 24.474 808 3.733 9 32.463 83

3 Pringkuku 97.878 27.207 239 1.512 16 25.725 80

4 Pacitan 23.258 13.251 586 398 2 493 156

5 Kebonagung 6.088 15.017 75 72 7 125 16

6 Arjosari 18.629 10.089 261 291 3 2.219 19

7 Nawangan 19.767 9.523 157 278 - 14.194 245

8 Bandar 84.831 13.311 46 159 - 34.386 76

9 Tegalombo 57.768 11.204 21 92 - 14.877 82

10 Tulakan 58.072 17.066 89 57 - 622 551

11 Ngadirojo 22.056 8.941 430 169 - 401 -

12 Sudimoro 15.425 6.496 270 81 8 528 29

Jumlah 499.730 178.768 4.425 10.304 59 138.297 1.355

88

Digital Repository Universitas Jember

89

Lampiran K. Data Produksi Komoditas Tanaman Pangan Per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Tahun 2013 dalam Ton

No.

Kecamatan

Komoditas

Ubi Kayu Padi Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau Jagung Ubi Jalar

1 Donorojo 19.029 29.731 1.286 1.225 13 16.759 0

2 Punung 23.946 27.581 1.264 4.877 9 17.617 74

3 Pringkuku 68.443 23.978 637 1.436 12 20.398 66

4 Pacitan 3.358 15.986 265 502 3 787 111

5 Kebonagung 1.747 16.531 13 61 3 123 0

6 Arjosari 3.335 10.640 129 8 2 813 0

7 Nawangan 35.389 13.876 179 500 0 10.159 0

8 Bandar 39.986 11.834 66 125 0 25.210 620

9 Tegalombo 67.033 10.969 0 34 0 8.363 0

10 Tulakan 63.404 18.773 313 142 0 554 217

11 Ngadirojo 19.328 11.601 83 88 0 288 0

12 Sudimoro 16.434 6.669 112 152 6 612 6

Jumlah 361.432 198.169 4.347 9.150 48 101.683 1.094

89

Digital Repository Universitas Jember

90

Lampiran L. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008

No Kecamatan

Komodita (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 124.542 46.394 170.936 0,157 0,160 0,980

2 Punung 122.584 42.246 164.830 0,155 0,155 1,000

3 Pringkuku 96.815 48.627 145.442 0,122 0,137 0,895

4 Pacitan 24.335 13.712 38.047 0,031 0,036 0,860

5 Kebonagung 13.537 11.069 24.606 0,017 0,023 0,740

6 Arjosari 25.225 12.482 37.707 0,032 0,035 0,900

7 Nawangan 60.737 20.184 80.921 0,077 0,076 1,010

8 Bandar 92.567 35.123 127,690 0,117 0,120 0,975

9 Tegalombo 82.629 11.088 93.717 0,104 0,088 1,186

10 Tulakan 96.134 17.437 113.571 0,121 0,107 1,139

11 Ngadirojo 31.249 10.272 41.521 0,039 0,039 1,012

12 Sudimoro 21.761 4.707 26.468 0,027 0,025 1,106

Jumlah 792.115 273.341 1.065.456

Digital Repository Universitas Jember

91

Lampiran M. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2009

No Kecamatan

Komodita (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 103.628 52.293 155.921 0,163 0,168 0,970

2 Punung 115.744 51.032 166.776 0,182 0,180 1,013

3 Pringkuku 90.921 40.688 131.609 0,143 0,142 1,009

4 Pacitan 29.960 14.523 44.483 0,047 0,048 0,983

5 Kebonagung 9.202 14.822 24.024 0,014 0,026 0,559

6 Arjosari 23.658 12.572 36.230 0,037 0,039 0,954

7 Nawangan 40.526 22.836 63.362 0,064 0,068 0,934

8 Bandar 62.187 36.231 98.418 0,098 0,106 0,923

9 Tegalombo 52.760 15.631 68.391 0,083 0,074 1,126

10 Tulakan 67.865 16.990 84.855 0,107 0,091 1,168

11 Ngadirojo 23.855 9.641 33.496 0,037 0,036 1,040

12 Sudimoro 15.939 5.552 21.491 0,025 0,023 1,083

Jumlah 636.245 292.811 929.056

Digital Repository Universitas Jember

92

Lampiran N. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2010

No Kecamatan

Komodita (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 80.710 42.162 122.872 0,158 0,151 1,048

2 Punung 129.975 48.527 178.502 0,254 0,219 1,161

3 Pringkuku 88.703 44.944 133.647 0,173 0,164 1,058

4 Pacitan 22.423 13.557 35.980 0,044 0,044 0,994

5 Kebonagung 19.491 16.271 35.762 0,038 0,044 0,869

6 Arjosari 20.369 12.164 32.533 0,040 0,040 0,998

7 Nawangan 21.439 25.845 47.284 0,042 0,058 0,723

8 Bandar 16.387 36.790 53.177 0,032 0,065 0,491

9 Tegalombo 31.027 29.691 60.718 0,061 0,074 0,815

10 Tulakan 52.623 15.836 68.459 0,103 0,084 1,226

11 Ngadirojo 10.086 11.364 21.450 0,020 0,026 0,750

12 Sudimoro 18.502 7.194 25.696 0,036 0,031 1,148

Jumlah 511.735 304.345 816.080

Digital Repository Universitas Jember

93

Lampiran O. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2011

No Kecamatan

Komoditas (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 77.210 53.329 130.539 0,137 0,152 0,898

2 Punung 115.323 54.800 170.123 0,204 0,199 1,029

3 Pringkuku 79.641 44.530 124.171 0,141 0,145 0,973

4 Pacitan 23.032 15.977 39.009 0,041 0,046 0,896

5 Kebonagung 5.062 14.006 19.068 0,009 0,022 0,403

6 Arjosari 14.733 10.403 25.136 0,026 0,029 0,889

7 Nawangan 33.973 15.584 49.557 0,060 0,058 1,040

8 Bandar 72.636 27.737 100.373 0,129 0,117 1,098

9 Tegalombo 58.150 22.461 80.611 0,103 0,094 1,095

10 Tulakan 49.616 17.702 67.318 0,088 0,079 1,118

11 Ngadirojo 19.651 8.699 28.350 0,035 0,033 1,052

12 Sudimoro 15.403 6.844 22.247 0,027 0,026 1,051

Jumlah 564.430 292.072 856.502

Digital Repository Universitas Jember

94

Lampiran P. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2012

No Kecamatan

Komoditas (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 46.638 39.390 86.028 0,093 0,103 0,904

2 Punung 49.320 61.570 110.890 0,099 0,133 0,741

3 Pringkuku 97.878 54.779 152.657 0,196 0,183 1,069

4 Pacitan 23.258 14.886 38.144 0,047 0,046 1,016

5 Kebonagung 6.088 15.312 21.400 0,012 0,026 0,474

6 Arjosari 18.629 12.882 31.511 0,037 0,038 0,985

7 Nawangan 19.767 24.397 44.164 0,040 0,053 0,746

8 Bandar 84.831 47.978 132.809 0,170 0,159 1,065

9 Tegalombo 57.768 26.276 84.044 0,116 0,101 1,146

10 Tulakan 58.072 18.385 76.457 0,116 0,092 1,266

11 Ngadirojo 22.056 9.941 31.997 0,044 0,038 1,149

12 Sudimoro 15.425 7.412 22.837 0,031 0,027 1,126

Jumlah 499.730 333.208 832.938

Digital Repository Universitas Jember

95

Lampiran Q. Hasil Perhitungan Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2013

No Kecamatan

Komoditas (Ton)

Total vi/vt Vi/Vt LQ Ubi

Kayu

Komoditas

Tanaman

Pangan

Lainnya

1 Donorojo 19.029 49.014 68.043 0,053 0,101 0,523

2 Punung 23.946 51.422 75.368 0,066 0,112 0,594

3 Pringkuku 68.443 46.527 114.970 0,189 0,170 1,113

4 Pacitan 3.358 17.654 21.012 0,009 0,031 0,299

5 Kebonagung 1.747 16.731 18.478 0,005 0,027 0,177

6 Arjosari 3.335 11.592 14.927 0,009 0,022 0,418

7 Nawangan 35.389 24.714 60.103 0,098 0,089 1,101

8 Bandar 39.986 37.855 77.841 0,111 0,115 0,961

9 Tegalombo 67.033 19.366 86.399 0,185 0,128 1,451

10 Tulakan 63.404 19.999 83.403 0,175 0,123 1,422

11 Ngadirojo 19.328 12.060 31.388 0,053 0,046 1,152

12 Sudimoro 16.434 7.557 23.991 0,045 0,035 1,281

Jumlah 361.432 314.491 675.923

Digital Repository Universitas Jember

96

Lampiran R. Nilai Locationt Quotient (LQ) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan

Tahun 2008-2013

No Kecamatan Nilai Location Quotient (LQ)

Rata-rata 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 0,980 0,970 1,048 0,898 1,167 0,523 0,931

2 Punung 1,000 1,013 1,161 1,029 1,129 0,594 0,988

3 Pringkuku 0,895 1,009 1,058 0,973 1,088 1,113 1,023

4 Pacitan 0,860 0,983 0,994 0,896 1,109 0,299 0,857

5 Kebonagung 0,740 0,559 0,869 0,403 2,158 0,177 0,818

6 Arjosari 0,900 0,954 0,998 0,889 1,123 0,418 0,880

7 Nawangan 1,010 0,934 0,723 1,040 0,695 1,101 0,917

8 Bandar 0,975 0,923 0,491 1,098 0,448 0,961 0,816

9 Tegalombo 1,186 1,126 0,815 1,095 0,744 1,451 1,070

10 Tulakan 1,139 1,168 1,226 1,118 1,096 1,422 1,195

11 Ngadirojo 1,012 1,040 0,750 1,052 0,713 1,152 0,953

12 Sudimoro 1,106 1,083 1,148 1,051 1,093 1,281 1,127

Digital Repository Universitas Jember

97

Lampiran S. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008

No Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/Ni ΣSi/ΣNi

Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 124.542 170.936 0,1572 0,1604 -0,0032

2 Punung 122.584 164.830 0,1548 0,1547 0,0001

3 Pringkuku 96.815 145.442 0,1222 0,1365 -0,0143

4 Pacitan 24.335 38.047 0,0307 0,0357 -0,0050

5 Kebonagung 13.537 24.606 0,0171 0,0231 -0,0060

6 Arjosari 25.225 37.707 0,0318 0,0354 -0,0035

7 Nawangan 60.737 80.921 0,0767 0,0759 0,0007

8 Bandar 92.567 127.690 0,1169 0,1198 -0,0030

9 Tegalombo 82.629 93.717 0,1043 0,0880 0,0164

10 Tulakan 96.134 113.571 0,1214 0,1066 0,0148

11 Ngadirojo 31.249 41.521 0,0395 0,0390 0,0005

12 Sudimoro 21.761 26.468 0,0275 0,0248 0,0026

Jumlah 792.115

Nubi kayu

1.065.456

ΣNtanaman pangan

97

Digital Repository Universitas Jember

98

Lampiran T. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2009

No Kecamatan

Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/Ni ΣSi/ΣNi

Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 103.628 155.921 0,1629 0,1678 -0,0050

2 Punung 115.744 166.776 0,1819 0,1795 0,0024

3 Pringkuku 90.921 131.609 0,1429 0,1417 0,0012

4 Pacitan 29.960 44.483 0,0471 0,0479 -0,0008

5 Kebonagung 9.202 24.024 0,0145 0,0259 -0,0114

6 Arjosari 23.658 36.230 0,0372 0,0390 -0,0018

7 Nawangan 40.526 63.362 0,0637 0,0682 -0,0045

8 Bandar 62.187 98.418 0,0977 0,1059 -0,0082

9 Tegalombo 52.760 68.391 0,0829 0,0736 0,0093

10 Tulakan 67.865 84.855 0,1067 0,0913 0,0153

11 Ngadirojo 23.855 33.496 0,0375 0,0361 0,0014

12 Sudimoro 15.939 21.491 0,0251 0,0231 0,0019

Jumlah 636.245

Nubi kayu

929.056

ΣNtanaman pangan

98

Digital Repository Universitas Jember

99

Lampiran U. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2010

No Kecamatan

Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/Ni ΣSi/ΣNi

Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 80.710 122.872 0,1577 0,1506 0,0072

2 Punung 129.975 178.502 0,2540 0,2187 0,0353

3 Pringkuku 88.703 133.647 0,1733 0,1638 0,0096

4 Pacitan 22.423 35.980 0,0438 0,0441 -0,0003

5 Kebonagung 19.491 35.762 0,0381 0,0438 -0,0057

6 Arjosari 20.369 32.533 0,0398 0,0399 -0,0001

7 Nawangan 21.439 47.284 0,0419 0,0579 -0,0160

8 Bandar 16.387 53.177 0,0320 0,0652 -0,0331

9 Tegalombo 31.027 60.718 0,0606 0,0744 -0,0138

10 Tulakan 52.623 68.459 0,1028 0,0839 0,0189

11 Ngadirojo 10.086 21.450 0,0197 0,0263 -0,0066

12 Sudimoro 18.502 25.696 0,0362 0,0315 0,0047

Jumlah 511.735

Nubi kayu

816.080

ΣNtanaman pangan

99

Digital Repository Universitas Jember

100

Lampiran V. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2011

No Kecamatan

Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/Ni ΣSi/ΣNi

Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 77.210 130.539 0,1368 0,1524 -0,0156

2 Punung 115.323 170.123 0,2043 0,1986 0,0057

3 Pringkuku 79.641 124.171 0,1411 0,1450 -0,0039

4 Pacitan 23.032 39.009 0,0408 0,0455 -0,0047

5 Kebonagung 5.062 19.068 0,0090 0,0223 -0,0133

6 Arjosari 14.733 25.136 0,0261 0,0293 -0,0032

7 Nawangan 33.973 49.557 0,0602 0,0579 0,0023

8 Bandar 72.636 100.373 0,1287 0,1172 0,0115

9 Tegalombo 58.150 80.611 0,1030 0,0941 0,0089

10 Tulakan 49.616 67.318 0,0879 0,0786 0,0093

11 Ngadirojo 19.651 28.350 0,0348 0,0331 0,0017

12 Sudimoro 15.403 22.247 0,0273 0,0260 0,0013

Jumlah 564.430

Nubi kayu

856.502

ΣNtanaman pangan

100

Digital Repository Universitas Jember

101

Lampiran W. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2012

No Kecamatan

Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan

Si/Ni ΣSi/ΣNi Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 46 .638 86.028 0,0933 0,1033 -0,0100

2 Punung 49.320 110.890 0,0987 0,1331 -0,0344

3 Pringkuku 97.878 152.657 0.1959 0,1833 0,0126

4 Pacitan 23.258 38.144 0.0465 0,0458 0,0007

5 Kebonagung 6.088 21.400 0.0122 0,0257 -0,0135

6 Arjosari 18.629 31.511 0.0373 0,0378 -0,0006

7 Nawangan 19.767 44.164 0.0396 0,0530 -0,0135

8 Bandar 84.831 132.809 0.1698 0,1594 0,0103

9 Tegalombo 57.768 84.044 0.1156 0,1009 0,0147

10 Tulakan 58.072 76.457 0.1162 0,0918 0,0244

11 Ngadirojo 22.056 31.997 0.0441 0,0384 0,0057

12 Sudimoro 15.425 22.837 0.0309 0,0274 0,0034

Jumlah 499.730

Nubi kayu

832.938

ΣNtanaman pangan

101

Digital Repository Universitas Jember

102

Lampiran X. Hasil Perhitungan Koefisien Lokalisasi (α) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2013

No Kecamatan

Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/Ni ΣSi/ΣNi

Koefisien

Lokalisasi (α)

1 Donorojo 19.029 68.043 0,0526 0,1007 -0,0480

2 Punung 23.946 75.368 0,0663 0,1115 -0,0453

3 Pringkuku 68.443 114.970 0,1894 0,1701 0,0193

4 Pacitan 3.358 21.012 0,0093 0,0311 -0,0218

5 Kebonagung 1.747 18.478 0,0048 0,0273 -0,0225

6 Arjosari 3.335 14.927 0,0092 0,0221 -0,0129

7 Nawangan 35.389 60.103 0,0979 0,0889 0,0090

8 Bandar 39.986 77.841 0,1106 0,1152 -0,0045

9 Tegalombo 67.033 86.399 0,1855 0,1278 0,0576

10 Tulakan 63.404 83.403 0,1754 0,1234 0,0520

11 Ngadirojo 19.328 31.388 0,0535 0,0464 0,0070

12 Sudimoro 16.434 23.991 0,0455 0,0355 0,0100

Jumlah 361.432

Nubi kayu

675.923

ΣNtanaman pangan

102

Digital Repository Universitas Jember

103

Lampiran Y. Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten

Pacitan Tahun 2008-2013

No Kecamatan Nilai Koefisien Lokalisasi (α) Positif

Rerata 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 0.0072 0.0012

2 Punung 0.0001 0.0024 0.0353 0.0057 0.0072

3 Pringkuku 0.0012 0.0126 0.0193 0.0055

4 Pacitan 0.0007 0.0000 0.0001

5 Kebonagung

6 Arjosari

7 Nawangan 0.0007 0.0023 0.0090 0.0020

8 Bandar 0.0115 0.0103 0.0036

9 Tegalombo 0.0164 0.0093 0.0089 0.0147 0.0576 0.0178

10 Tulakan 0.0148 0.0153 0.0189 0.0093 0.0244 0.0520 0.0225

11 Ngadirojo 0.0005 0.0014 0.0017 0.0057 0.0070 0.0027

12 Sudimoro 0.0026 0.0019 0.0047 0.0013 0.0034 0.0100 0.0004

Jumlah 0.0350 0.0316 0.0660 0.0408 0.0719 0.1550 0.0667

Digital Repository Universitas Jember

104

Lampiran Z. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2008

No Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 124.542 170.936 0,7286 0,7435 -0,0149

2 Punung 122.584 164.830 0,7437 0,7435 0,0002

3 Pringkuku 96.815 145.442 0,6657 0,7435 -0,0778

4 Pacitan 24.335 38.047 0,6396 0,7435 -0,1038

5 Kebonagung 13.537 24.606 0,5502 0,7435 -0,1933

6 Arjosari 25.225 37.707 0,6690 0,7435 -0,0745

7 Nawangan 60.737 80.921 0,7506 0,7435 0,0071

8 Bandar 92.567 127.690 0,7249 0,7435 -0,0185

9 Tegalombo 82.629 93.717 0,8817 0,7435 0,1382

10 Tulakan 96.134 113.571 0,8465 0,7435 0,1030

11 Ngadirojo 31.249 41.521 0,7526 0,7435 0,0092

12 Sudimoro 21.761 26.468 0,8222 0,7435 0,0787

Jumlah 792.115

Nubi kayu

1.065.456

ΣNtanaman pangan

10

4

Digital Repository Universitas Jember

105

Lampiran AA. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2009

No

Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 103.628 155.921 0,6646 0,6848 -0,0202

2 Punung 115.744 166.776 0,6940 0,6848 0,0092

3 Pringkuku 90.921 131.609 0,6908 0,6848 0,0060

4 Pacitan 29.960 44.483 0,6735 0,6848 -0,0113

5 Kebonagung 9.202 24.024 0,3830 0,6848 -0,3018

6 Arjosari 23.658 36.230 0,6530 0,6848 -0,0318

7 Nawangan 40.526 63.362 0,6396 0,6848 -0,0452

8 Bandar 62.187 98.418 0,6319 0,6848 -0,0530

9 Tegalombo 52.760 68.391 0,7714 0,6848 0,0866

10 Tulakan 67.865 84.855 0,7998 0,6848 0,1149

11 Ngadirojo 23.855 33.496 0,7122 0,6848 0,0273

12 Sudimoro 15.939 21.491 0,7417 0,6848 0,0568

Jumlah 636.245

Nubi kayu

929.056

ΣNtanaman pangan

105

Digital Repository Universitas Jember

106

Lampiran BB. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2010

No Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 80.710 122.872 0,6569 0,6271 0,0298

2 Punung 129.975 178.502 0,7281 0,6271 0,1011

3 Pringkuku 88.703 133.647 0,6637 0,6271 0,0366

4 Pacitan 22.423 35.980 0,6232 0,6271 -0,0039

5 Kebonagung 19.491 35.762 0,5450 0,6271 -0,0820

6 Arjosari 20.369 32.533 0,6261 0,6271 -0,0010

7 Nawangan 21.439 47.284 0,4534 0,6271 -0,1737

8 Bandar 16.387 53.177 0,3082 0,6271 -0,3189

9 Tegalombo 31.027 60.718 0,5110 0,6271 -0,1161

10 Tulakan 52.623 68.459 0,7687 0,6271 0,1416

11 Ngadirojo 10.086 21.450 0,4702 0,6271 -0,1569

12 Sudimoro 18.502 25.696 0,7200 0,6271 0,0930

Jumlah 511.735

Nubi kayu

816.080

ΣNtanaman pangan

10

6

Digital Repository Universitas Jember

107

Lampiran CC. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2011

No

Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 77.210 130.539 0,5915 0,6590 -0,0675

2 Punung 115.323 170.123 0,6779 0,6590 0,0189

3 Pringkuku 79.641 124.171 0,6414 0,6590 -0,0176

4 Pacitan 23.032 39.009 0,5904 0,6590 -0,0686

5 Kebonagung 5.062 19.068 0,2655 0,6590 -0,3935

6 Arjosari 14.733 25.136 0,5861 0,6590 -0,0729

7 Nawangan 33.973 49.557 0,6855 0,6590 0,0265

8 Bandar 72.636 100.373 0,7237 0,6590 0,0647

9 Tegalombo 58.150 80.611 0,7214 0,6590 0,0624

10 Tulakan 49.616 67.318 0,7370 0,6590 0,0780

11 Ngadirojo 19.651 28.350 0,6932 0,6590 0,0342

12 Sudimoro 15.403 22.247 0,6924 0,6590 0,0334

Jumlah 564.430

Nubi kayu

856.502

ΣNtanaman pangan

107

Digital Repository Universitas Jember

108

Lampiran DD. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2012

No

Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 46.638 86.028 0,5421 0,6000 -0,0578

2 Punung 49.320 110.890 0,4448 0,6000 -0,1552

3 Pringkuku 97.878 152.657 0,6412 0,6000 0,0412

4 Pacitan 23.258 38.144 0,6097 0,6000 0,0098

5 Kebonagung 6.088 21.400 0,2845 0,6000 -0,3155

6 Arjosari 18.629 31.511 0,5912 0,6000 -0,0088

7 Nawangan 19.767 44.164 0,4476 0,6000 -0,1524

8 Bandar 84.831 132.809 0,6387 0,6000 0,0388

9 Tegalombo 57.768 84.044 0,6874 0,6000 0,0874

10 Tulakan 58.072 76.457 0,7595 0,6000 0,1596

11 Ngadirojo 22.056 31.997 0,6893 0,6000 0,0894

12 Sudimoro 15.425 22.837 0,6754 0,6000 0,0755

Jumlah 499.730

Nubi kayu

832.938

ΣNtanaman pangan

108

Digital Repository Universitas Jember

109

Lampiran EE. Hasil Perhitungan Koefisiefisien Spesialisasi (β) Komoditas Ubi Kayu di Kabupaten Pacitan Tahun 2013

No

Kecamatan Produksi Ubi Kayu (Ton)

Subi kayu

Total Produksi Tanaman Pangan (Ton)

ΣStanaman pangan Si/ΣSi Ni/ΣNi

Koefisien

Spesialisasi (β)

1 Donorojo 19.029 68.043 0,2797 0,5347 -0,2551

2 Punung 23.946 75.368 0,3177 0,5347 -0,2170

3 Pringkuku 68.443 114.970 0,5953 0,5347 0,0606

4 Pacitan 3.358 21.012 0,1598 0,5347 -0,3749

5 Kebonagung 1.747 18.478 0,0945 0,5347 -0,4402

6 Arjosari 3.335 14.927 0,2234 0,5347 -0,3113

7 Nawangan 35.389 60.103 0,5888 0,5347 0,0541

8 Bandar 39.986 77.841 0,5137 0,5347 -0,0210

9 Tegalombo 67.033 86.399 0,7759 0,5347 0,2411

10 Tulakan 63.404 83.403 0,7602 0,5347 0,2255

11 Ngadirojo 19.328 31.388 0,6158 0,5347 0,0811

12 Sudimoro 16.434 23.991 0,6850 0,5347 0,1503

Jumlah 361.432

Nubi kayu

675.923

ΣNtanaman pangan

109

Digital Repository Universitas Jember

110

Lampiran FF. Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif Komoditas Ubi Kayu di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013

No Kecamatan Nilai Koefisien Spesialisasi (β) Positif

Rerata 2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Donorojo 0,0298 0.0050

2 Punung 0,0002 0,0092 0,1011 0,0189 0.0216

3 Pringkuku 0,0060 0,0366 0,0412 0,0606 0.0241

4 Pacitan 0,0098 0.0016

5 Kebonagung 0.0000

6 Arjosari 0.0000

7 Nawangan 0,0071 0,0265 0,0541 0.0146

8 Bandar 0,0647 0,0388 0.0172

9 Tegalombo 0,1382 0,0866 0,0624 0,0874 0,2411 0.1026

10 Tulakan 0,1030 0,1149 0,1416 0,0780 0,1596 0,2255 0.1371

11 Ngadirojo 0,0092 0,0273 0,0342 0,0894 0,0811 0.0402

12 Sudimoro 0,0787 0,0568 0,0930 0,0334 0,0755 0,1503 0.0813

Jumlah 0,3365 0.3009 0.4021 0,3180 0,5016 0,8126 0.4453

Digital Repository Universitas Jember

111

Lampiran GG. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Pacitan Tahun 2008 - 2013

No Sektor/

Sub Sektor

PDRB (dalam Juta Rupiah) Rerata

2008 2009 2010 2011 2012 2013

1 Pertanian 563.086,05 591.126,24 613.885,63 635.330,48 658.987,29 671.630,63 954,945.78

a. Tanaman Bahan Makanan 344.424,98 362.315,69 376,216,40 386.787,50 397.303,43 403.679,24 504,559.44

b. Tanaman Perkebunan Rakyat 114.395,51 117.015,19 118.177,47 119.650,61 123.471,92 125.295,15 206,049.96

c. Peternakan dan Hasilnya 71.167,37 74.290,85 78.820,83 84.889,71 89.161,36 90.559,42 159,994.40

d. Kehutanan 698,08 723,87 826,49 861,77 935,55 1.007,49 2,048.47

e. Perikanan 32.400,12 36.780,64 39.844,44 43.140,89 48.115,04 51.089,33 82,291.85

2 Pertambangan dan Penggalian 57.462,41 61.009,72 65.877,32 69.294,95 73.618,96 78.082,61 90,589.98

3 Industri Pengolahan 50.288,03 51.497,06 54.082,53 57.371,61 60.909,84 65.213,65 90,838.64

4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 12.691,02 13.809,26 14.982,19 16.061,55 17.022,81 18.097,84 25,105.24

5 Bangunan 107.546,91 117.765,07 131.713,77 149.733,99 167.951,78 190.546,97 230,432.03

6

Perdagangan, Hotel, dan

Restoran 149.770,76 162.879,40 184.700,54 208.392,02 231.351,81 254.960,43 323,110.33

7 Angkutan dan Komunikasi 70.211,89 74.732,10 79.762,08 85.912,69 93.170,62 101.793,45 147,786.37

8

Keuangan, Persewaan, dan Jasa

Perusahaan 123.040,03 128.939,94 141.575,72 154.055,15 168.440,95 182.482,34 214,701.06

9 Jasa-jasa 236.106,52 251.555,23 261.642,99 275.313,63 291.108,91 305.914,71 432,840.60

1.370.203,62 1.453.314,02 1.548.222,77 1.651.466,07 1.762.562,97 1.868.722,63 2,510,350.01

111

Digital Repository Universitas Jember

112

Lampiran HH. Data Harga Komoditas Ubi Kayu pada Tingkat Produsen per Kg di

Kabupaten Pacitan Tahun 2008-2013 (Rp)

Bulan Tahun

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013

Januari 300 800 900 1000 1200 1200 1200

Februari 300 600 900 1000 1000 1200 1250

Maret 300 800 900 1000 1200 1200 1250

April 300 800 900 1200 1000 1200 1300

Mei 300 800 900 1200 1200 1250 1300

Juni 300 800 900 1000 1200 1250 1300

Juli 300 800 900 1200 1200 1250 1200

Agustus 300 800 900 1200 1100 1200 1300

September 300 800 1000 1200 1200 1200 1300

Oktober 300 800 1000 1000 1100 1200 1300

November 300 1000 1000 1000 1000 1200 1300

Desember 1000 1000 900 1000 1100 1250 1300

Rerata 358 817 925 1083 1125 1217 1275

Sumber: BPS, 2014

Digital Repository Universitas Jember

113

Lampiran II. Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Subsektor

Tanaman Pangan Tahun 2008-2013 di Kabupaten Pacitan

No Tahun PDRB (000 Rupiah)

Kontribusi (%) Ubi Kayu Tanaman Pangan

1 2008 646.900 344.424.980 0,188

2 2009 588.530 362.315.690 0,162

3 2010 554.380 376.216.400 0,147

4 2011 633.634 386.787.500 0,164

5 2012 591.764 397.303.430 0,149

6 2013 453.092 403.679.240 0,112

Rerata 0,154

Digital Repository Universitas Jember

114

Lampiran JJ. Kontribusi Komoditas Ubi Kayu terhadap PDRB Sektor Pertanian

Tahun 2008-2013 di Kabupaten Pacitan

No Tahun PDRB (000 Rupiah)

Kontribusi (%) Ubi Kayu Pertanian

1 2008 646.900 563.086.050 0,1149

2 2009 588.530 591.126.240 0,0996

3 2010 554.380 613.885.630 0,0903

4 2011 633.634 635.330.480 0,0997

5 2012 591.764 658.987.290 0,0898

6 2013 453.092 671.630.630 0,0675

Rerata 0,094

Digital Repository Universitas Jember


Recommended