+ All documents
Home > Documents > Digital Repository Universitas Jember Digital Repository Universitas ...

Digital Repository Universitas Jember Digital Repository Universitas ...

Date post: 07-Jan-2023
Category:
Upload: khangminh22
View: 0 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
128
MANAJEMEN RANTAI PASOKAN ( SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ) PRODUK COCOFIBER DI CV. SUMBER SARI DESA LEMBENGAN KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER SKRIPSI Oleh Rani Oktavia NIM 151510601030 PROGAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2019 Digital Repository Universitas Jember Digital Repository Universitas Jember
Transcript

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT)

PRODUK COCOFIBER DI CV. SUMBER SARI DESA LEMBENGAN

KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

Oleh

Rani Oktavia

NIM 151510601030

PROGAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2019

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

i

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT)

PRODUK COCOFIBER DI CV. SUMBER SARI DESA LEMBENGAN

KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER

SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat

untuk menyelesaikan Program Studi Agribisnis (S1)

dan mencapai gelar Sarjana Pertanian

Oleh

Rani Oktavia

NIM 151510601030

PROGAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2019

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

ii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

1. Ayahanda Moch. Husom Siswantoro dan Ibunda Yayuk Wahyuningsih

tercinta, yang selalu memberikan kasih sayang, dukungan, nasihat, serta doa

bagi penulis.

2. Eyang Ali Imron dan Eyang Lilik Sugiarti yang selalu mendukung dan

memberi nasihat kepada penulis.

3. Kakak kandungku Randy Romadhon dan adikku Raihanna Yasmin tersayang,

yang selalu memotivasi, menghibur, serta memberi semangat kepada penulis.

4. Guru-guru mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

5. Dosen pembimbing Ibu Ati Kusmiati, SP., MP. yang telah bersedia

meluangkan waktu dan tenaganya untuk memberikan bimbingan, nasihat, serta

semangat hingga skripsi ini selesai dikerjakan.

6. Teman-teman angkatan 2015 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Universitas Jember.

7. Seluruh pihak almamater Program Studi Fakultas Pertanian Universitas

Jember.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

iii

MOTTO

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab

kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.”

(QS. Ali Imran: 139)*)1

*) Kementerian Agama. 2019. Quran Kemenag. https://quran.kemenag.go.id/index.php/sura/3.

[Diakses pada 1 November 2019]

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

iv

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rani Oktavia

NIM : 151510601030

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul

“Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) Produk Cocofiber

di CV. Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten

Jember” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali kutipan yang sudah saya

sebutkan sumbernya, belum pernah diajukan pada institusi mana pun, dan bukan

karya jiplakan. Saya bertanggungjawab atas keabsahan dan kebenaran isinya

sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa ada tekanan

dan paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika

ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember, 20 November 2019

Yang Menyatakan,

Rani Oktavia

NIM. 151510601030

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

v

SKRIPSI

MANAJEMEN RANTAI PASOKAN (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT)

PRODUK COCOFIBER DI CV. SUMBER SARI DESA LEMBENGAN

KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER

Oleh

Rani Oktavia

NIM 151510601030

Pembimbing

Dosen Pembimbing Skripsi : Ati Kusmiati, SP., MP.

NIP. 197809172002122001

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

vi

PENGESAHAN

Skripsi berjudul “Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan

Ledokombo Kabupaten Jember” telah diuji dan disahkan pada:

Hari, tanggal : Rabu, 20 November 2019

Tempat : Fakultas Pertanian Universitas Jember

Dosen Pembimbing Skripsi

Ati Kusmiati, SP., MP

NIP. 197809172002122001

Dosen Penguji I,

Dr. Triana Dewi Hapsari, SP., MP.

NIP. 197104151997022001

Dosen Penguji II,

Dr. Ir. Sri Subekti, M.Si.

NIP. 196606261990032001

Mengesahkan,

Dekan,

Ir. Sigit Soeparjono, M.S., Ph.D.

NIP 196005061987021001

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

vii

RINGKASAN

Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management) Produk Cocofiber

di CV. Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten

Jember; Rani Oktavia, 151510601030; Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial

Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Serat sabut kelapa (cocofiber) merupakan produk utama olahan sabut

kelapa yang bernilai ekspor. Produk cocofiber telah membuktikan bahwa limbah

terbesar buah kelapa dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai.

Potensi pengembangan produk cocofiber di Indonesia harus dilakukan karena

untuk saat ini permintaan terhadap produk cocofiber cukup tinggi, namun

produksi yang dilakukan masih sedikit. CV. Sumber Sari merupakan satu-satunya

agroindustri di Kabupaten Jember yang secara konsisten mengolah sabut kelapa

menjadi produk cocofiber dan mengekspornya hingga ke luar negeri. Bahan baku

sabut kelapa yang digunakan oleh CV. Sumber Sari berasal dari Jember,

Banyuwangi, dan Situbondo. Adanya kendala ketidakpastian tentu akan

mempengaruhi keberlangsungan rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber

Sari, baik ketidakpastian dari pemasok (ketidakpatian kuantitas dan waktu

pengiriman bahan baku) maupun ketidakpastian dari internal itu sendiri. Hal ini

dikarenakan apabila produksi terganggu maka produk yang akan disalurkan ke

konsumen akhir juga ikut terganggu, sehingga dalam hal ini kegiatan manajemen

rantai pasokan di CV Sumber Sari sangat penting agar produksi produk cocofiber

dapat berjalan dengan baik.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) aliran produk, aliran

informasi, dan aliran keuangan pada rantai pasokan produk cocofiber di CV.

Sumber Sari, 2) kinerja manajemen rantai pasokan produk cocofiber di CV.

Sumber Sari. Penentuan daerah pada penelitian ini dilakukan secara sengaja

(Purposive Method) yaitu di Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten

Jember, tepatnya di CV. Sumber Sari. Metode penelitian yang digunakan adalah

metode deskriptif dan analitik. Metode pengambilan contoh pada penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dan snowball

sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

viii

metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut diolah dengan

metode analisis deskriptif dan Supply Chain Operation Reference (SCOR) yang

terdiri dari lima atribut kinerja dan sepuluh indikator kinerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) aliran produk pada rantai pasokan

cocofiber meliputi perpindahan produk dari petani ke tengkulak hingga ke

pedagang pengumpul dalam bentuk kelapa tua utuh, dari pedagang pengumpul ke

CV. Sumber Sari dalam bentuk sabut kelapa, dan dari CV. Sumber Sari ke

konsumen dalam bentuk cocofiber. Aliran informasi yang mengalir meliputi

waktu pemanenan buah kelapa, kuantitas buah kelapa, harga buah kelapa,

ketersediaan sabut kelapa, harga sabut kelapa, pengiriman sabut kelapa, kualitas

dan kuantitas cocofiber, informasi pengiriman cocofiber, serta kesepakatan jual-

beli antar masing-masing pelaku rantai pasokan. Aliran keuangan yang mengalir

berupa pembayaran yang dilakukan, dimana terdapat 4 macam sistem pembayaran

yang dilakukan yaitu penundaan pembayaran, pembayaran tunai, pembayaran

uang muka terlebih dahulu, dan pembayaran secara deposito; 2) kinerja rantai

pasokan di CV. Sumber Sari pada atribut kinerja reliability (keandalan) dan

responsiveness (responsivitas) menunjukkan baik karena masing-masing indikator

pada atribut kinerja tersebut memiliki nilai yang baik, sedangkan pada atribut

kinerja agility (ketangkasan), costs (biaya), dan assets (manajemen aset)

menunjukkan nilai yang belum baik. Nilai tersebut belum baik karena pada atribut

kinerja agility, indikator nilai risiko keseluruhan masih memiliki nilai yang tinggi,

yaitu pada proses produksi dan pengadaan bahan baku. Atribut kinerja costs

memiliki nilai yang belum baik karena terdapat biaya yang tinggi dalam

penyampaian material atau bahan baku. Atribut kinerja assets memiliki nilai

belum baik karena indikator pengembalian modal kerja masih berada pada posisi

yang tidak aman.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

ix

SUMMARY

Supply Chain Management Of Cocofiber Products at CV. Sumber Sari

Lembengan Village, Ledokombo District, Jember Regency; Rani Oktavia,

151510601030; Agribusiness study Program, Department of Social Economics

Agriculture, Faculty of Agriculture, University of Jember.

Cocofiber is a main product from the prossesed coconut coir which can be

worth for an exportation. The cocofiber product had proven that the biggest waste

of coconut can be used for a worthwhile product. The potential of the cocofiber

product is quite high, but the production still is quite low. CV. Sumber Sari is the

only agroindustry in Jember that produced cocofiber from a coconut coir

consistently and send it overseas. The main coconut coir raw material that used by

CV. Sumber Sari is coming from Jember, Banyuwangi, and Situbondo. If there is

a problem about uncertainty it will affect the supply chain of cocofiber in CV.

Sumber Sari, either it’s an uncertainty from supplier (uncertainty about quality

and the duration of the raw material) or an uncertainty from the company internals

itself. If the product is interfered, the product that being distributed will also be

interfered, so in this case the supply chains management activity in CV. Sumber

Sari is very important so the production of cocofiber can proceed well.

This research of this purposes are : 1.) knowing product flow, information

flow, financial flow in the supply chains of cocofiber product in CV. Sumber Sari,

2.) knowing supply chains management performance of cocofiber product in CV.

Sumber Sari. The region determination of this research was based on purposive

method which in lembengan village in ledokombo district, in jember regency. In

CV. Sumber Sari precisely. The research method that being used in this research

is descriptive and analytic methods. The sampling method that being used is

execute using purposive sampling method and snowball sampling method. The

collecting data method that being used is observation method, interview, and

documentation. Those data is processed with descriptive analytic method and

supply chain operation referene (SCOR) consisting of five performance attribute

and ten performance indicator.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

x

The result of this research shows that : 1.) The product flow in supply chain

of cocofiber is covering the product movement from farmers to the middlemen

until the supplier in old coconut form, from supplier to CV. Sumber Sari in

coconut coir form, and finally from CV. Sumber Sari to the consumers in

cocofiber product. The information flow involve harvest time of the coconut fruit,

quality of the coconut fruit, the price of the coconut fruit, the stock of the coconut

fruit, the price of the coconut coir, the shipment of the coconut coir, quality and

quantity of cocofiber, shipment information of cocofiber, and the deal among

supply chain performer. The flow of finance that occur is based on the payment

that have been done, which consisting 4 kind of payment method which is the

delayed of the payment, cash payment, advance money first payment, and deposit

payment; 2.) Supply chain performance in CV. Sumber Sari in performance

attribute performance reliability and responsiveness shows well because each

indicator in performance attribute have a good value, meanwhile in performance

attribute agility, cost, and assests shows an unwell value. Those value still unwell

because in agility performance attribute, overall value at risk indicator still has

high value, which in production process and raw material procurement. The Cost

performance attribute has an unwell value because of the high cost in material

delivery. The asset performance attribute has an unwell value because the return

of working capital indicator is still in unsafe position.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xi

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Manajemen Rantai

Pasokan (Supply Chain Management) Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari

Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember”. Skripsi ini

disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1)

pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh

karena itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada:

1. Ir. Sigit Soeparjono, MS., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Jember;

2. M. Rondhi, SP., MP., Ph.D., selaku Koordinator Program Studi Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Jember;

3. Ati Kusmiati, SP., MP., selaku Dosen Pembimbing Skripsi, Dr. Triana Dewi

Hapsari, SP., MP., selaku Dosen Penguji I, dan Dr. Ir. Sri Subekti, M.Si.,

selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan

bimbingan, nasihat, saran, dan motivasi, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini;

4. Dr. Ir. Sri Subekti., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah

memberikan bimbingan, nasihat, dan motivasi selama masa studi;

5. Ayahku Moch. Husom Siswantoro, Ibuku Yayuk Wahyuningsih, kedua

Eyangku Ali Imron dan Lilik Sugiarti, Kakak Randy Romadhon, dan Adik

Raihanna Yasmin yang senantiasa memberikan doa, semangat, dukungan,

nasihat, serta kepercayaan kepada penulis;

6. Pihak-pihak CV. Sumber Sari, khususnya Bapak Panji yang telah

meluangkan waktunya untuk membantu memberikan data dan informasi di

lapang sehingga skripsi ini dapat diselesaikan;

7. Aulathivali Inas, Anung Anindhita, dan Kintan Rafika yang telah menjadi

teman baik penulis yang selalu menemani, mendukung, dan menjadi tempat

berkeluh kesah penulis selama ini;

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xii

8. Putra Adi, Rena Hardianty, dan Dina Fatilah yang telah memberikan

semangat, nasihat, saran, dan bantuan kepada penulis;

9. Fandy Adry Willy, Fibri Alifia Rizki, teman-teman KKN 01 CB-L, dan Grup

Ajg yang telah menemani penulis selama 4 tahun, menjadi teman yang baik,

dan selalu memberikan semangat dan bantuan kepada penulis;

10. Teman-teman Program Studi Agribisnis Angkatan 2015 Fakultas Pertanian

Universitas Jember atas kebersamaan dan bantuannya selama ini;

11. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak

dapat disebutkan satu-persatu.

Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi

kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat memberikan

manfaat bagi semua pihak.

Jember, 20 November 2019

Penulis

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... ii

HALAMAN MOTTO .......................................................................................... iii

HALAMAN PERNYATAAN .............................................................................. iv

HALAMAN PEMBIMBINGAN .......................................................................... v

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. vi

RINGKASAN ...................................................................................................... vii

SUMMARY ............................................................................................................ ix

PRAKATA ............................................................................................................ xi

DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xvi

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 12

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 12

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 14

2.1 Penelitian Terdahulu ...................................................................... 14

2.2 Landasan Teori ............................................................................... 19

2.2.1 Tanaman Kelapa ..................................................................... 19

2.2.2 Olahan Sabut Kelapa .............................................................. 25

2.2.3 Konsep Agroindustri dalam Sistem Agribisnis ...................... 28

2.2.4 Teori Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan .......... 30

2.2.5 Model Supply Chain Operations Reference (SCOR) ............. 36

2.2.6 Teori Return on Assets dan Return on Equity ......................... 40

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xiv

2.3 Kerangka Pemikiran ...................................................................... 42

2.4 Hipotesis ........................................................................................... 47

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 48

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian ........................................... 48

3.2 Metode Penelitian............................................................................ 48

3.3 Metode Pengambilan Contoh......................................................... 49

3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................ 50

3.5 Metode Analisis Data ...................................................................... 51

3.6 Definisi Operasional........................................................................ 56

BAB 4. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN ............................... 60

4.1 Keadaan Umum Desa Lembengan ................................................ 60

4.2 Keadaan Umum CV. Sumber Sari ................................................ 60

4.3 Struktur Organisasi CV. Sumber Sari.......................................... 63

4.4 Sistem Kegiatan di CV. Sumber Sari ............................................ 66

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 69

5.1 Aliran Produk, Aliran Informasi, dan Aliran Keuangan Produk

Cocofiber di Desa Lembengan Kabupaten Jember .................... 69

5.1.1 Aliran Produk .......................................................................... 73

5.1.2 Aliran Informasi ...................................................................... 83

5.1.3 Aliran Keuangan ..................................................................... 89

5.2 Kinerja Manajemen Rantai Pasokan Produk Cocofiber di Desa

Lembengan Kabupaten Jember ................................................... 93

5.2.1 Atribut Kinerja Reliability ...................................................... 94

5.2.2 Atribut Kinerja Responsiveness ............................................. 96

5.2.3 Atribut Kinerja Agility ............................................................ 99

5.2.4 Atribut Kinerja Costs ............................................................ 103

5.2.5 Atribut Kinerja Assets ........................................................... 105

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xv

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 112

6.1 Kesimpulan ................................................................................... 112

6.2 Saran .............................................................................................. 113

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 115

LAMPIRAN ....................................................................................................... 119

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

1.1 Neraca Perdagangan Sub Sektor Pertanian Tahun 2014 .................. 1

1.2 Produksi Tanaman Perkebunan Indonesia Tahun 2014-2017 .......... 2

1.3 Luas Areal, Produktivitas, dan Produksi Kelapa di Pulau Jawa

pada tahun 2014 dan 2015 ................................................................ 4

1.4 Produksi Tanaman Perkebunan di Jawa Timur Tahun 2012-2017

(Ton) ................................................................................................. 5

1.5 Ekspor Sabut Kelapa Indonesia Tahun 2008-2014 .......................... 7

1.6 Produksi Perkebunan Kelapa di Kabupaten Jember tahun 2011-

2015................................................................................................... 9

2.1 Atribut Performa Manajemen Rantai Pasokan Beserta Metrik

Performa ........................................................................................... 39

3.1 Indikator Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Level 1 ................... 52

3.2 Klasifikasi Nilai Standar Kerja ......................................................... 56

5.1 Indikator Pemenuhan Pesanan Sempurna di CV. Sumber Sari ........ 94

5.2 Indikator Siklus Pemenuhan Pesanan Sempurna CV. Sumber Sari.. 97

5.3 Indikator Nilai Risiko Keseluruhan CV. Sumber Sari ..................... 101

5.4 Indikator Biaya Total CV. Sumber Sari ........................................... 104

5.5 Indikator Siklus Waktu Cash-to-Cash CV. Sumber Sari ................. 105

5.6 Indikator Pengembalian Aset Tetap CV. Sumber Sari ..................... 107

5.7 Indikator Pengembalian Modal Kerja CV. Sumber Sari .................. 108

5.8 Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Produk Cocofiber di CV.

Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten

Jember .............................................................................................. 109

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1 Pohon Industri Kelapa ...................................................................... 22

2.2 Produk Turunan dari Pengolahan Sabut Kelapa .............................. 27

2.3 Struktur Rantai Pasokan ................................................................... 32

2.4 Skema Kerangka Pemikiran ............................................................ 46

4.1 Struktur Organisasi CV. Sumber Sari .............................................. 64

4.2 Proses Produksi Cocofiber di CV. Sumber Sari .............................. 67

5.1 Skema Rantai Pasokan Produk Cocofiber ....................................... 69

5.2 Aliran Produk Pertama Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari ....... 73

5.3 Aliran Produk Kedua Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari ......... 75

5.4 Aliran Produk Ketiga Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari ......... 76

5.5 Aliran Informasi Antara Petani dan Tengkulak ............................... 84

5.6 Aliran Informasi Antara Petani dan Pedagang Pengumpul ............. 85

5.7 Aliran Informasi Antara Tengkulak dan Pedagang Pengumpul ...... 86

5.8 Aliran Informasi Antara Tengkulak dan CV. Sumber Sari .............. 87

5.9 Aliran Informasi Antara Pedagang Pengumpul dan CV. Sumber

Sari ................................................................................................... 87

5.10 Aliran Informasi Antara CV. Sumber Sari dan Konsumen ............. 88

5.11 Aliran Keuangan pada Rantai pasokan Cocofiber di CV. Sumber

Sari ................................................................................................... 90

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1A Data Petani Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk Cocofiber di

CV. Sumber Sari ............................................................................... 119

1B Data Tengkulak Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk Cocofiber

di CV. Sumber Sari .......................................................................... 120

1C Data Pedagang Pengumpul Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk

Cocofiber di CV. Sumber Sari ......................................................... 120

2A Perhitungan Indikator Pemenuhan Pesanan Sempurna pada Atribut

Kinerja Reliability ............................................................................ 121

2B Perhitungan Indikator Siklus Pemenuhan Pesanan pada Atribut

Kinerja Responsiveness .................................................................... 122

2C Perhitungan Indikator Nilai Risiko Keseluruhan pada Atribut

Kinerja Agility .................................................................................. 122

2D Perhitungan Indikator Biaya Total Penyampaian Produk pada

Atribut Kinerja Costs ........................................................................ 123

2E Perhitungan Indikator Siklus Cash-to-Cash pada Atribut Kinerja

Assets ................................................................................................ 124

2F Perhitungan Pengembalian Aset Tetap Rantai Pasokan pada

Atribut Kinerja Assets ...................................................................... 124

2G Perhitungan Pengembalian Modal Kerja pada Atribut Kinerja

Assets ................................................................................................ 125

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian pada prinsipnya terdiri atas beberapa sub sektor, salah

satunya yaitu sub sektor perkebunan. Sub sektor perkebunan merupakan sub

sektor yang memiliki dua jenis tanaman yang dikembangkan, yaitu tanaman

tahunan/keras (perennial crops) dan tanaman setahun/semusim (seasonal

crops). Tanaman keras utama sub sektor perkebunan meliputi kelapa sawit,

kelapa, karet, kakao, kopi, teh, cengkeh, dan jambu mete, sedangkan tanaman

setahun/semusim meliputi tebu/gula, tembakau, lada, dan panili. Hampir

seluruh komoditas pada sub sektor perkebunan, kecuali tebu atau gula dan

tembakau merupakan komoditas ekspor andalan dan juga sumber devisa penting

(net exporter) pada sub sektor perkebunan. Tebu/gula dan tembakau belum

menjadi komoditas ekspor karena kedua komoditas tersebut masih dianggap

belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga masih impor dari

negara lain (net importer) (Hadi et al., 2011)

Menurut Kementerian Petanian (2015), sub sektor perkebunan saat ini

menjadi penyumbang ekspor terbesar di sektor pertanian, dimana nilai ekspor

komoditasnya lebih besar dibandingkan dengan nilai impornya. Hal tersebut

tercermin dalam neraca perdagangan sub sektor pertanian pada tahun 2014.

Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Sub Sektor Pertanian Tahun 2014

Sub Sektor Tahun (Juta US$)

2010 2011 2012 2013 2014

Tanaman Pangan

-Ekspor

-Impor

-Neraca

478

3.894

-3.416

585

7.024

-6.439

151

6.307

-6.156

967

5.659

-4.692

560

6.481

-5.921

Hortikultura

-Ekspor

-Impor

-Neraca

391

1.293

-902

491

1.686

-1.195

505

1.813

-1.309

784

1.469

-685

752

1.929

-1.176

Perkebunan

-Ekspor

-Impor

-Neraca

30.703

6.028

24.675

40.690

8.844

31.846

33.119

3.112

30.007

30.687

2.686

28.002

37.123

5.926

31.197

Peternakan

-Ekspor

-Impor

-Neraca

494

1.232

-737

907

1.191

-284

557

2.698

-2.142

1.243

3.015

-1.772

1.330

3.029

-1.699

Sumber: Kementerian Pertanian (2015)

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

2

Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa neraca perdagangan pada

sektor pertanian rata-rata mengalami defisit pada tiap sub sektornya, kecuali pada

sub sektor perkebunan. Neraca perdagangan pada sub sektor perkebunan mulai

tahun 2010 sampai tahun 2014 selalu mengalami surplus dan mampu menutupi

kondisi defisit pada sub sektor-sub sektor lainnya, sehingga neraca perdagangan

di sektor pertanian secara keseluruhan masih berada pada kondisi yang surplus.

Nilai ekspor sub sektor perkebunan pada tabel tersebut juga menunjukkan angka

yang cukup tinggi dibandingkan dengan sub sektor-sub sektor lainnya. Ekspor sub

sektor perkebunan paling tinggi terjadi pada tahun 2011 dengan total ekspor

mencapai 40.690 juta US$, namun demikian ekspor komoditas perkebunan

tersebut hanya tumbuh dengan rata-rata laju pertumbuhan 6,9% per tahun,

sementara impor tumbuh dengan rata-rata laju pertumbuhan 22,2% per tahun.

Dilihat dari kontribusinya, kondisi sub sektor perkebunan yang mengalami surplus

menandakan bahwa dalam pemenuhan kebutuhan perkebunan dalam negeri

produsen lebih banyak mengekspor daripada mengimpor.

Sub sektor perkebunan sebagai sub sektor andalan pertanian di Indonesia

perlu untuk dikembangkan lebih lanjut dalam upaya mempercepat pembangunan

pertanian, meningkatkan pendapatan, serta meningkatkan kesejahteraan

masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (2018),

dapat diketahui bahwasannya setiap tahunnya produksi tanaman pada sub sektor

perkebunan ini terus mengalami pertumbuhan produksi. Berikut data mengenai

produksi tanaman perkebunan Indonesia tahun 2014-2017.

Tabel 1.2 Produksi Tanaman Perkebunan Indonesia Tahun 2014-2017

No Tanaman Produksi Tanaman Perkebunan (Ribu Ton)

Rata-rata 2014 2015 2016 2017

1 Kelapa Sawit 29.278,20 31.070 31.731 37.812,60 32.472,95

2 Kelapa 3.005,90 2.920,70 2.904,20 2.870,70 2.925,38

3 Karet 3.153,20 3.145,40 3.307,10 3.629,50 3.308,80

4 Kopi 643,90 639,40 663,90 668,70 653,98

5 Kakao 728,40 593,30 658,40 659,80 659,98

6 Tebu 2579,20 2498 2332,50 2121,30 2.382,75

7 Teh 154,40 132,60 122,50 139,40 137,23

8 Tembakau 198,30 196,20 126,70 152,30 168,38

Jumlah 39.741,50 41.195,60 41.846,30 48.054,30 42.709,43

Sumber: Badan Pusat Statistika, (2018)

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

3

Berdasarkan tabel 1.2 dapat diketahui bahwasannya produksi tanaman

perkebunan Indonesia mulai tahun 2014 sampai tahun 2017 selalu mengalami

peningkatan jumlah produksi. Hal tersebut tercermin dari jumlah produksi

tanaman perkebunan Indonesia pada tahun 2014 yang sebesar 39.741.500 ton dan

pada tahun 2017 menjadi sebesar 48.054.300 ton. Dilihat dari masing-masing

komoditasnya, dari delapan komoditas perkebunan di atas terdapat dua komoditas

yang cenderung mengalami penurunan produksi yaitu pada komoditas kelapa dan

tebu, namun dalam hal ini tanaman kelapa masih memiliki rata-rata produksi

terbesar ketiga dengan rata-rata produksi mencapai 2.925.380 ton dan tanaman

tebu memiliki rata-rata produksi terbesar keempat yaitu mencapai 2.382.750.

Menurut Dirjen perkebunan dalam Kemala (2015), tanaman kelapa umumnya

mengalami penurunan produksi karena tanaman tersebut sudah tua dan rusak,

meskipun demikian tanaman kelapa masih menjadi komoditas ekspor karena

Indonesia sendiri masih menjadi pemasok utama komoditas kelapa di pasar dunia.

Menurut ILO (2014), kelapa (Cocos nucifer L) merupakan salah satu

komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Hal ini dikarenakan

pada tanaman kelapa tidak hanya daging buahnya yang dapat dimanfaatkan secara

komersil, namun mulai dari akar, batang, sampai daunnya dapat dimanfaatkan

untuk berbagai keperluan, sehingga tidak jarang pohon ini disebut sebagai pohon

kehidupan (tree of life) oleh masyarakat. Perkebunan kelapa di Indonesia sendiri

96 persen diusahakan oleh perkebunan rakyat, baik yang dikelola secara

monokultur maupun yang dikelola dengan kebun campur. Meskipun luas

perkebunan kelapa terbesar kedua setelah sawit, namun usaha tani kelapa belum

mampu menjadi sumber pendapatan utama bagi para petaninya. Di Indonesia,

areal pertanaman kelapa telah mencapai 3,70 juta ha dan tersebar hampir di

seluruh wilayah Nusantara. Luas persebaran tersebut meliputi wilayah Sumatra

dengan luas areal 1,20 juta ha, wilayah Jawa seluas 0,903 juta ha, wilayah

Sulawesi seluas 0,716 juta ha, wilayah Bali, NTB, dan NTT seluas 0,305 juta ha,

wilayah Maluku dan Papua seluas 0,289 juta ha, dan wilayah Kalimantan seluas

0,277 juta ha. Wilayah Jawa dalam hal ini menjadi wilayah dengan areal

pertanaman kelapa paling luas nomor dua setelah wilayah Sumatra. Hal ini

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

4

menandakan bahwasannya masyarakat di Pulau Jawa masih banyak yang

mengusahakan tanaman kelapa di samping mengusahakan tanaman-tanaman

lainnya. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2016), Jawa Timur merupakan

wilayah di pulau Jawa yang potensi kelapanya dapat dikembangkan lebih lanjut

dibandingkan dengan DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan D.I

Yogyakarta. Hal tersebut dapat dilihat dari data luas areal, produktivitas, dan

produksi kelapa di Pulau Jawa pada tahun 2014 dan 2015 ini.

Tabel 1.3 Luas Areal, Produktivitas, dan Produksi Kelapa di Pulau Jawa pada tahun 2014

dan 2015

No Provinsi

Luas Areal (Ha) Produktivitas

(kg/ha)

Produksi

(ton)

2014 2015 2014 2015 2014 2015

1 DKI Jakarta - - - - - -

2 Jawa Barat 178.178 178.027 827 813 107.734 102.814

3 Banten 83.896 81.012 701 725 45.519 45.457

4 Jawa Tengah 230.886 230.014 1.131 1.114 183.486 180.714

5 D.I Yogyakarta 43.558 43.017 1.464 1.458 51.369 50.383

6 Jawa Timur 287.334 286.423 1.377 1.355 252.672 259.502

Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan, (2016)

Berdasarkan tabel 1.3 dapat diketahui bahwa rata-rata luas areal

pertanaman kelapa di Pulau Jawa pada tahun 2014 sampai tahun 2015 mengalami

penurunan dengan penurunan luas areal tertinggi terletak pada Provinsi Banten,

yaitu mencapai 2.884 ha. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa luas areal

pertanaman kelapa di Jawa Timur menjadi wilayah yang paling luas dibandingkan

wilayah di Pulau Jawa lainnya, yaitu mencapai 287.334 ha pada tahun 2014 dan

286.423 ha pada tahun 2015. Perkembangan produktivitas tanaman kelapa di

Pulau Jawa mulai tahun 2014 sampai tahun 2015 mengalami penurunan pada

masing-masing provinsinya, kecuali pada Provinsi Banten. Jawa Timur memiliki

produktivitas tertinggi kedua setelah D. I. Yogyakarta yaitu 1.377 kg/ha pada

tahun 2014 dan 1.355 kg/ha pada tahun 2015, namun data tersebut menunjukkan

bahwa produktivitas tersebut mengalami laju penurunan produktivitas hingga

mencapai 1,60%. Produksi kelapa di Jawa Timur juga tidak kalah dengan provinsi

lain, dengan luas lahan dan produktivitas yang tinggi tersebut membuat produksi

kelapa di Jawa Timur masih lebih tinggi dan cenderung meningkat dibandingkan

dengan provinsi lainnya di Pulau Jawa, yaitu mencapai 252.672 ton pada tahun

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

5

2014 dan 259.502 pada tahun 2015. Di samping memiliki produksi yang paling

tinggi dibandingkan dengan wilayah di Pulau Jawa lainnya, komoditas kelapa di

Jawa Timur sendiri nyatanya juga tidak kalah bersaing dengan komoditas

perkebunan yang lain. Hal tersebut dapat dibuktikan pada data produksi

komoditas perkebunan yang terdapat di Jawa Timur tahun 2012-2017 berikut ini.

Tabel 1.4 Produksi Tanaman Perkebunan di Jawa Timur Tahun 2012-2017 (Ton) Komoditi 2012 2013 2014 2015 2016 2017

Cengkeh 11.699 11.551 9.804 11.525 10.769 11.585

Jambu Mete 12.719 12.811 12.849 13.347 - -

Kelapa 277.876 272.781 252.672 259.502 260.664 258.142

Tembakau 135.412 67.861 108.136 100.414 - -

Tebu 1.287.871 1.244.284 1.260.632 1 207.333 1.035.157 -

Kakao 32.912 33.399 30.299 32.481 31.666 1.010.447

Kopi 54.236 54.076 58.137 60.915 23.218 33.654

Teh 3.958 4.115 7.143 7.143 - 65.414

Karet 27.215 27.296 27.850 27.622 63.635 -

Kapuk Randu 34.913 34.433 26.198 25.288 - 23.215

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (2018)

Berdasarkan tabel 1.4 dapat diketahui bahwa perkebunan kelapa di Jawa

Timur menempati posisi kedua terbesar setelah perkebunan tebu. Produksi kelapa

pada data tersebut cenderung mengalami fluktuasi, dimana produksi tanaman

kelapa paling tinggi berada pada tahun 2012 dengan total produksi 277.876 ton.

Rata-rata produksi kelapa mulai tahun 2012-2016 adalah sebesar 267.048,6 ton

dengan laju peningkatan tertinggi pada tahun 2015 yang mencapai 2,7%. Menurut

Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur (2011), kelapa masih menjadi salah satu

komoditas perkebunan yang penting dalam pembangunan sub sektor perkebunan,

baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun sebagai komoditas ekspor

penghasil devisa negara. Sentra pertanaman kelapa di Jawa Timur sendiri tersebar

di wilayah Kabupaten Sumenep, Banyuwangi, Pacitan, Blitar, Tulungagung,

Trenggalek, Malang, Jember, dan Tuban. Besarnya produksi kelapa di Jawa Timur

tersebut menunjukkan bahwa tanaman kelapa masih memiliki prospek yang cukup

baik untuk dikembangkan karena di samping untuk memenuhi kebutuhan ekspor,

tanaman kelapa juga dapat diolah kembali untuk meningkatkan nilai tambahnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan komoditas

kelapa adalah melalui pengolahan lebih lanjut produk/hasil pertanian atau yang

biasa disebut dengan agroindustri. Udayana (2011) mengemukakan bahwa

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

6

agroindustri menjadi sektor andalan dalam pembangunan nasional dan menjadi

penggerak utama perkembangan sektor pertanian. Agroindustri telah berhasil

memberikan nilai tambah sekitar 20,7%, menyerap tenaga kerja sebesar 30,8%,

dan menyerap bahan baku sebesar 89.9% dari total industri yang ada. Pengolahan

kelapa dalam hal ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai

tambah, menghasilkan produk yang dapat dipasarkan, meningkatkan daya saing,

serta menambah keuntungan bagi pelaku usaha. Menurut Warisno (2003), hampir

semua bagian pada tanaman kelapa dapat diolah dan dimanfaatkan, mulai dari

akar, batang, daun, buah, dan lainnya. Pengolahan kelapa yang umumnya

dilakukan antara lain dengan mengubah kelapa menjadi kopra, desicated coconut,

gula kelapa, minyak kelapa, bungkil kelapa, arang tempurung, serat sabut kelapa,

dan lain sebagainya.

Sabut kelapa dalam hal ini menjadi bagian dari tanaman kelapa yang harus

diolah secara optimal. Hal ini dikarenakan sabut kelapa menjadi bagian yang

cukup besar dari buah kelapa yaitu 35% dari berat keseluruhan, sehingga sabut

kelapa menjadi limbah pengolahan kelapa yang paling tinggi persentasenya. Sabut

kelapa saat ini dapat diolah menjadi dua produk yang bernilai, yaitu produk

cocofiber (serat sabut) dan cocopeat (debu sabut) (Dharma et al., 2018). Menurut

pendapat Dwi (2017), sabut kelapa sebagian besar hanya dimanfaatkan sebagai

bahan bakar pada pengeringan kopra dan rumah tangga, hanya sebagian kecil

yang dimanfaatkan dalam proses industri. Masyarakat umumnya menganggap

sabut kelapa sebagai limbah, sehingga banyak yang belum memanfaatkan sabut

kelapa tersebut dengan baik. Produk olahan sabut kelapa yang paling diminati

oleh pasar internasional adalah produk cocofiber dengan kebutuhan pasarnya yang

mencapai 10.000 ton per bulan, sehingga ekspor produk cocofiber Indonesia

dalam hal ini sangat prospektif untuk ditingkatkan. Ekspor serat sabut kelapa di

Indonesia dilakukan diberbagai negara, khususnya China. Data ekspor produk

sabut kelapa Indonesia ke berbagai negara tahun 2008-2014 dapat dilihat pada

tabel 1.5 berikut.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

7

Tabel 1.5 Ekspor Sabut Kelapa Indonesia Tahun 2008-2014

Tahun

Nilai Produk (US$)

Raw Coir Coconut

Fibres

Coir Coconut Fibres

Processed

Floor Covering of

Coconut Fibres (Coir)

Not Tufted or Flocked

2008 609.245 1.989.529 135.353

2009 2.519.383 3.098.518 61.273

2010 5.243.962 3.824.555 28.230

2011 10.115.130 6.228.817 34.214

2012 6.515.855 7.603.051 1.021

2013 1.954.559 2.458.115 1.532

2014 2.207.877 3.477.271 3.300

Sumber: Dit. Ekspor Tanhut Kemendag dalam Setyarini (2015)

Berdasarkan data dari Direktorat Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan

Kementerian Perdagangan dalam Setyarini (2015) pada tabel 1.5 di atas, dapat

diketahui bahwa ekspor sabut kelapa Indonesia meliputi tiga produk, yang

meliputi raw coir coconut fibres (serat sabut kelapa mentah), coir coconut fibres

processed (serat sabut kelapa olahan), dan floor covering of coconut fibres (coir)

not tufted or flocked (penutup lantai dari serat sabut kelapa yang tidak berumbai).

Ketiga produk tersebut merupakan hasil dari pengolahan sabut kelapa menjadi

serat sabut kelapa atau cocofiber. Rata-rata ekspor tertinggi dari ketiga produk

tersebut adalah ekspor serat sabut kelapa mentah dengan rata-rata ekspor mulai

tahun 2008 sampai 2014 mencapai 4.166.573 US$, disusul dengan ekspor serat

sabut kelapa olahan sebesar 4.097.122 US$, dan ekspor penutup lantai sebesar

37.846 US$. Rukmana (2003) menyebutkan bahwa serat sabut kelapa sangat

berpotensi untuk diekspor ke Eropa, Jepang, serta Taiwan karena potensi pasar

produk olahan sabut kelapa tersebut sangat cerah. Industri otomotif terkenal

seperti Mercedes Benz, Volkswagen Porsche, serta Opel nyatanya menggunakan

serat sabut kelapa sebagai bahan pengisi jok mobil. Hal ini dikarenakan serat

sabut kelapa mempunyai kelebihan diantaranya memiliki daya lentur yang tinggi,

tahan lama, tidak berbau, dan memiliki tingkat pencemaran yang rendah.

Saat ini, total pabrik pengolahan yang mengusahakan sabut kelapa di

Indonesia berjumlah 150 pabrik, namun pabrik pengolahan yang produktif hanya

berjumlah 100 pabrik yang tersebar di seluruh Nusantara. Jumlah pabrik tersebut

ditargetkan akan terus ditingkatkan mengingat potensi kelapa dalam negeri sangat

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

8

tinggi, yaitu mencapai 15 miliar butir per tahun sehingga harus dimaksimalkan

agar tidak terbuang sia-sia (Aiski dalam Nara, 2012). Industri pengolahan sabut

kelapa yang aktif beroperasi salah satunya berada di Kabupaten Jember. Seperti

yang diketahui sebelumnya, Kabupaten Jember merupakan salah satu dari

sembilan Kabupaten yang menjadi sentra pertanaman kelapa di Provinsi Jawa

Timur. Industri yang mengolah sabut kelapa ini bernama CV. Sumber Sari,

dimana industri ini mengolah sabut kelapa menjadi cocofiber dan cocopeat

sebagai produk akhir. Cocofiber di CV. Sumber Sari sendiri dalam hal ini menjadi

produk utama yang bernilai ekspor. Hingga saat ini, hasil produksi cocofiber yang

dihasilkan oleh CV. Sumber Sari sudah dipasarkan hingga ke China dan Jepang.

Pihak CV. Sumber Sari dan pembeli dari China dan Jepang tersebut telah

melakukan kerja sama dalam hal jual-beli cocofiber. Menurut Dinas Perindustrian

dan Perdagangan Kabupaten Jember, CV. Sumber Sari merupakan satu-satunya

agroindustri sabut kelapa di Kabupaten Jember yang secara kontinu memproduksi

dan menjual produk cocofiber hingga ke luar negeri. Perusahaan ini telah berdiri

sejak belasan tahun yang lalu dan masih tetap berproduksi hingga saat ini.

CV. Sumber Sari dalam produksinya mampu mengekspor tiga kontainer

produk cocofiber dari pabriknya selama satu bulan. Bahan baku sabut kelapa yang

digunakan untuk proses produksi ini didapatkan dari beberapa pengepul/pengupas

kelapa yang tersebar di wilayah Jember, namun apabila pasokan sabut kelapa di

Kabupaten Jember tidak mencukupi, maka pelaku agroindustri akan mengambil

pasokan dari Banyuwangi maupun Situbondo. Bahan baku sabut kelapa yang

dipasok pada CV. Sumber Sari tersebut kemudian diolah oleh perusahaan menjadi

produk cocofiber dan kemudian diekspor ke luar negeri. Bahan baku sabut kelapa

sendiri dalam hal ini menjadi bahan yang penting untuk proses produksi. Ada atau

tidaknya sabut kelapa sangat bergantung pada ketersediaan kelapa yang ada pada

pengepul yang mengupas kelapa. Menurut Mahmud dan Ferry (2005), tanaman

kelapa diusahakan oleh perkebunan rakyat, sehingga bahan baku harus

dikumpulkan dari areal yang terpencar-pencar. Di Kabupaten Jember sendiri,

produksi kelapa cenderung mengalami fluktuasi. Hal tersebut dapat dilihat pada

tabel 1.6 di bawah.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

9

Tabel 1.6 Produksi Perkebunan Kelapa di Kabupaten Jember tahun 2011-2015

Tahun Produksi (ton)

2011 11.835

2012 12.882

2013 12.745

2014 11.025

2015 11.845

Sumber: Badan Pusat Statistik (2018)

Berdasarkan tabel 1.6 di atas, dapat diketahui bahwa produksi kelapa di

Kabupaten Jember mulai tahun 2011 sampai tahun 2015 adalah fluktuatif.

Produksi tertinggi perkebunan kelapa terjadi pada tahun 2012 dengan produksi

mencapai 12.882 ton, sedangkan produksi terendah terjadi pada tahun 2014

dengan produksi sebesar 11.025 ton. Penurunan produksi kelapa terbesar terjadi

pada tahun 2014 dengan total penurunan produksi mencapai 1.720 ton. Menurut

Ibrahim (2011), kondisi produksi perkebunan kelapa yang tidak pasti ini

diakibatkan oleh adanya cuaca yang tidak menentu, usia tanaman yang tua,

kurangnya pemeliharaan, dan adanya serangan hama penyakit.

CV. Sumber Sari selaku agroindustri yang kegiatan produksinya sangat

bergantung pada bahan baku sabut kelapa tentu mengalami kendala apabila bahan

baku yang akan digunakannya untuk berproduksi mengalami ketidakpastian

dalam segi kuantitas dan waktu pengiriman. Menurut Direktur Operasional di CV.

Sumber Sari, CV. Sumber Sari pada dasarnya mampu memproduksi cocofiber

hingga mencapai 4-4,5 kontainer dalam satu bulan, namun karena bahan baku

sabut kelapa mengalami ketidakpastian, pihak CV. Sumber Sari menurunkan

kemampuan pengiriman produk kepada konsumen menjadi 3 kontainer dalam satu

bulan. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya keterlambatan pengiriman

produk cocofiber yang dapat menurunkan kepercayaan konsumen terhadap CV.

Sumber Sari. Kegiatan produksi cocofiber di CV. Sumber Sari selama ini sangat

bergantung pada pasokan sabut kelapa yang tersedia dari para pemasok yang

mengupas kelapa. Artinya, apabila pasokan sabut kelapa cukup banyak maka CV.

Sumber Sari akan memproduksi sesuai target dan sisanya akan dikirimkan pada

bulan berikutnya, sedangkan apabila pasokan sedikit maka CV. Sumber Sari akan

memproduksi sesuai dengan pasokan yang ada tersebut. Adanya masalah

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

10

ketidakpastian dari segi kuantitas dan waktu pengiriman ini menyebabkan

terganggunya proses produksi yang terdapat di CV. Sumber Sari, karena tanpa

adanya bahan baku sabut, produk cocofiber tidak dapat dihasilkan.

Di samping adanya kendala ketidakpastian pasokan, kendala lain yang

dihadapi oleh CV. Sumber Sari adalah masalah ketidakpastian produksi. Proses

penjemuran cocofiber di CV. Sumber Sari sangat mengandalkan tenaga matahari

untuk memisahkan serbuk dan sabut dengan baik. Konsumen menghendaki

produk cocofiber dengan standar kekeringan antara 12%-19%. Produk yang

terlalu kering akan mengurangi bobot dan membuat pendapatan perusahaan

berkurang, sedangkan apabila produk terlalu basah maka akan menunda waktu

pengiriman kepada konsumen, menambah biaya baru, serta mengurangi

pendapatan. Adanya kendala ketidakpastian yang dialami oleh CV. Sumber Sari

tentu menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi dalam kegiatan rantai

pasokan, seperti yang dikemukakan oleh Anatan dan Ellitan (2018), bahwa

ketidakpastian menjadi sumber utama kesulitan dalam pengelolaan suatu rantai

pasokan, baik itu ketidakpastian dari pemasok, ketidakpastian internal, maupun

ketidakpastian dari permintaan produk itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan

suatu model pengelolaan yang tangguh dalam manajemen rantai pasokan agar

perusahaan dapat tetap bertahan di dunia bisnisnya.

Rantai pasokan sendiri dapat diartikan sebagai jaringan-jaringan

perusahaan seperti supplier, pabrik, distributor, ritel, serta perusahaan pendukung

yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan mengantarkan suatu

produk ke tangan pemakai akhir atau konsumen. Rantai pasokan memiliki tiga

aliran yang harus dikelola, yaitu aliran barang yang mengalir dari hulu ke hilir,

aliran uang yang mengalir dari hilir ke hulu, dan aliran informasi yang mengalir

dari hulu ke hilir atau pun sebaliknya (Pujawan dan Mahendrawathi, 2010).

Menurut Siahaya (2015), manajemen dalam suatu rantai pasokan perlu untuk

selalu diperhatikan karena manajemen rantai pasokan sendiri melakukan aktivitas

pengoordinasian pengelolaan aliran barang dari pemasok sampai ke konsumen

akhir dengan meningkatkan produktivitas seluruh perusahaan yang tergabung

dalam rantai pasokan melalui optimalisasi kualitas dan waktu, sehingga

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

11

diharapkan dengan adanya manajemen dalam suatu rantai pasokan seluruh

komponen dalam penciptaan suatu produk dapat bersinergi dan melakukan

pekerjaannya secara efektif dan efisien. Berhasil atau tidaknya rantai pasokan

produk cocofiber dapat dilihat dari berjalan lancar atau tidaknya rantai pasokan

bahan baku dan kontinuitas produk yang dihasilkan.

Rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari terdiri dari tiga

aliran yang meliputi aliran produk, aliran informasi, dan aliran keuangan yang

saling terkait satu sama lain. Aliran produk berisi aktivitas pengolahan sabut

kelapa mulai dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi berupa cocofiber.

Aliran informasi berisi mengenai informasi-informasi yang dikomunikasikan

antar pelaku dalam rantai pasokan produk cocofiber. Sementara aliran keuangan

berisi mengenai pembayaran-pembayaran yang dilakukan oleh pelaku rantai

pasokan produk cocofiber. Pengaturan aliran produk, aliran informasi, dan aliran

keuangan sangat penting dilakukan mengingat dalam rantai pasokan sendiri harus

menyinergikan tiap mata rantai dan masing-masing pelakunya untuk

menghasilkan produk yang dapat dijual dan dapat memuaskan konsumen.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diketahui bagaimana aliran produk, aliran

keuangan, dan aliran informasi yang terdapat pada CV. Sumber Sari sehingga

diharapkan aliran dari masing-masing rantai akan lebih efektif dan efisien, serta

akan menguntungkan masing-masing pihak.

Adanya permasalahan ketidakpastian dalam rantai pasokan produk

cocofiber tentu akan berpengaruh terhadap performa perusahaan, sehingga perlu

dilakukan upaya untuk mengoptimalkan kinerja melalui pengukuran kinerja rantai

pasokan. Menurut Asrol (2015), pengukuran kinerja rantai pasokan perlu

dilaksanakan dalam rangka mengoreksi masalah yang mungkin terjadi dalam

rantai pasokan sebelum dampaknya meluas, mengevaluasi kinerja rantai pasokan

secara holistik, mengatur koordinasi rantai pasokan untuk memenuhi permintaan

konsumen, serta menciptakan integrasi hulu hingga hilir pabrik yang lebih efektif

dan efisien. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui kinerja rantai pasokan

yang terdapat di CV. Sumber Sari sehingga dapat diketahui masalah-masalah apa

saja yang terjadi pada suatu model rantai pasokan yang dilaksanakan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

12

Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, maka peneliti tertarik

untuk meneliti terkait dengan manajemen rantai pasokan produk cocofiber di CV.

Sumber Sari. Manajemen rantai pasokan dalam hal ini menarik untuk dikaji

karena pada dasarnya manajemen dalam suatu rantai pasokan sangat diperlukan

untuk meningkatkan produktivitas CV. Sumber Sari agar perusahaan dapat

berproduksi secara efektif dan efisien. Manajemen rantai pasokan ini dapat dilihat

melalui bagaimana rantai pasokan tersebut bekerja. Kinerja manajemen rantai

pasokan dalam hal ini dapat dilihat berdasarkan aliran produk, aliran informasi,

dan aliran keuangan. Di samping itu pengukuran kinerja rantai pasokan secara

keseluruhan juga diperlukan dalam upaya untuk mengoptimalkan kinerja rantai

pasokan sehingga diharapkan permasalahan-permasalahan yang terjadi dapat

segera diatasi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana aliran produk, aliran informasi, dan aliran keuangan pada rantai

pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan

Ledokombo Kabupaten Jember?

2. Bagaimana kinerja manajemen rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber

Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui aliran produk, aliran informasi, dan aliran keuangan pada

rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan

Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

2. Untuk mengetahui kinerja manajemen rantai pasokan produk cocofiber di CV.

Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

13

1.3.2 Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam pengambilan keputusan

kebijakan pengembangan kegiatan agroindustri berbahan baku potensi lokal

terutama di wilayah Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

2. Sebagai tambahan informasi bagi pelaku usaha dalam melakukan

pengembangan agroindustri sabut kelapa tingkat lanjut di Kecamatan

Ledokombo Kabupaten Jember.

3. Sebagai bahan pelengkap informasi dan pertimbangan bagi penelitian

selanjutnya.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

14

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai mekanisme rantai pasokan dilakukan oleh Tariang et

al pada tahun 2018 dengan judul “Deskripsi Rantai Pasok Mebel Berbahan Baku

Kayu Kelapa (Studi Kasus di BLPT GMIM Kaaten Kota Tomohon)” yang

dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan

manajemen rantai pasok yang terdapat di BLPT GMIM Kaaten Kota Tomohon

meliputi tiga aliran yang harus dikelola dengan baik yaitu meliputi aliran produk,

aliran informasi, dan aliran keuangan. Aliran produk pada rantai pasok mebel

kayu kelapa berawal dari pemasok kayu kelapa yang memasok kayu kelapa

dengan kualitas kelas 1 dan kualitas kelas 2. Kemudian kayu kelapa tersebut

diangkut menuju BLPT untuk menjalani proses produksi. Kayu kelapa dengan

kualitas kelas 1 digunakan untuk memproduksi semua jenis produk mebel yang

dikehendaki oleh konsumen, sedangkan kayu kelapa dengan kualitas kelas 2

digunakan untuk memproduksi konstruksi bangunan dan souvenir. Produk yang

telah jadi tersebut kemudian dijual ke konsumen akhir melalui jasa ekspedisi.

Aliran informasi pada rantai pasokan mebel ini terjadi mulai dari hilir ke hulu

maupun sebaliknya, dimana informasi yang dialirkan berkaitan dengan informasi

mengenai bahan baku (seperti ketersediaan, kualitas, kuantitas, dan harga),

pengiriman (seperti jadwal keberangkatan kapal, harga perkonteiner, serta status

pengiriman), dan produk yang dihasilkan (seperti kualitas, kuantitas, desain, serta

waktu pengiriman). Aliran finansial pada rantai pasok mebel kayu kelapa di BLPT

dimulai dari konsumen, Jasa Ekspedisi, BLPT, dan supplier. Konsumen

melakukan pembayaran kepada BLPT secara kredit dengan membayar 30% uang

muka dan melakukan pelunasan saat barang selesai diproduksi, sedangkan BLPT

membayar kepada jasa ekspedisi tergantung atas kesepakatan yang dilakukan.

Anis et al (2017) juga melakukan penelitian mengenai rantai pasokan

dengan judul “Analisis Pengelolaan Rantai Pasok Tepung Kelapa pada PT. XYZ

di Sulawesi Utara”. Penelitian ini dianalisis secara deskriptif dengan menjelaskan

dan menggambarkan model rantai pasok tepung kelapa pada PT. XYZ, dimulai

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

15

dari petani kelapa, supplier kelapa, hingga konsumen. Hasil penelitian

menunjukkan bahwasannya aliran material pada rantai pasokan tepung kelapa

dimulai dari pemasok kelapa yang membeli kelapa ke petani kelapa di

wilayahnya. Pemasok kelapa ini lalu memasok kelapa ke PT. XYZ, kemudian

kelapa-kelapa tersebut oleh PT. XYZ diolah menjadi 2 jenis tepung kelapa yaitu

granulated dan special cut, sedangkan kelapa yang pecah dan tidak baik mutunya

akan ditempatkan di penampungan khusus untuk dibuat menjadi kopra. Produk

tepung kelapa yang dihasilkan kemudian dikirim ke konsumen akhir lewat jasa

ekspedisi. Konsumen dari PT. XYZ adalah perusahaan-perusahaan di berbagai

negara yang menggunakan tepung kelapa sebagai salah satu bahan baku untuk

kebutuhan produksi, seperti perusahaan di Belanda, Belgia, Hongkong, Australia,

Selandia Baru, Italia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Angola, Jerman, Hungaria,

India, Jepang, Malaysia, Polandia, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Singapura,

Srilangka, dan Turki. Aliran informasi pada rantai pasokan tepung kelapa berupa

informasi bahan baku tepung kelapa, kuantitas bahan baku, pemesanan,

pembelian, waktu pengiriman yang telah disepakati, jadwal keberangkatan kapal,

serta informasi pergerakan produk. Pembayaran yang dilakukan dapat

menggunakan 3 cara, yaitu pembayaran setelah pengiriman barang, pembayaran

dengan memberikan uang muka terlebih dahulu kemudian pelunasan ketika

barang telah sampai, serta pembayaran yang ditunda beberapa lama setelah barang

diterima sesuai kesepakatan.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Purba et al (2018) yang berjudul

“Analisis Rantai Pasokan Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di PTPN V Sei Pagar

Kabupaten Kampar”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penurunan

produksi kebun kelapa sawit yang menyebabkan ketidakpastian jumlah bahan

baku yang diterima pabrik yang menyebabkan kinerja mesin menjadi tidak efisien

dan biaya produksi menjadi meningkat. Penelitian ini kemudian dianalisis secara

deskriptif dengan mengidentifikasi 3 komponen rantai pasokan yaitu rantai pasok

hulu, manajemen internal, serta segmen pasok hilir. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa terdapat tiga aliran yang terdapat pada rantai pasokan tandan buah kelapa

sawit, yaitu aliran produk, aliran informasi, dan aliran finansial (keuangan). Aliran

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

16

produk pada rantai pasokan TBS ini dimulai dari pemasok yang memasok TBS

menuju ke pabrik PKS (Pengolahan Kelapa Sawit), kemudian TBS tersebut diolah

menjadi dua produk yaitu CPO dan kernel, lalu kedua produk tersebut dikirimkan

ke konsumen akhir. Produk CPO sendiri dipasok ke perusahaan PT SAN Dumai,

ITMS Siak, CV. PII, PT. IVO M T, PT.W N I, PT. Sari dumai Sejati, dan PT.

Adhitya S.O, sedangkan produk kernel semuanya dikirim ke PTPN V Tandun.

Aliran informasi pada produk TBS berjalan dua arah yaitu dari pabrik terkait

dengan harga beli pabrik dan kebutuhan pabrik, sedangkan dari pemasok terkait

dengan jumlah ketersedian bahan baku yang akan dikirim. Aliran finansial pada

produk TBS terjadi dari pabrik hingga ke pemasok, dimana aliran ini meliputi

informasi pembayaran produk dan jadwal pembayaran bentuk uang secara tunai.

Berdasarkan penelitian Emhar et al (2014) yang berjudul “Analisis Rantai

Pasokan (Supply Chain) Daging Sapi di Kabupaten Jember” yang dianalisis secara

deskriptif. Penelitian tersebut menunjukkan bahwasannya terdapat 3 aliran rantai

pasokan pada pola tersebut yang meliputi aliran produk, aliran keuangan, dan

aliran informasi. Aliran produk mengalir dari hulu hingga hilir, yaitu mulai dari

peternak, pedagang sapi hidup, jagal (pengusaha daging), pedagang pengecer

daging, hingga konsumen daging sapi segar. Aliran keuangan mengalir dari hilir

ke hulu, yaitu dari konsumen akhir daging sapi ke peternak sapi potong. Aliran

keuangan ini meliputi sistem pembayaran yang dilakukan antar pelaku rantai

pasokan, yang meliputi sistem pembayaran secara tunai, kredit, serta pembayaran

di akhir. Aliran informasi pada rantai pasokan daging sapi mengalir secara timbal

balik, dimana informasi tersebut berkaitan dengan stok sapi hidup, jumlah

permintaan, harga sapi hidup, harga daging sapi, maupun informasi terkait

peraturan pemotongan. Aliran informasi yang ada tersebut mengalir secara

vertikal dan horizontal. Aliran informasi vertikal artinya terdapat koordinasi pada

mata rantai yang berbeda yaitu antara peternak, pedagang sapi, pengusaha daging

(jagal), pihak RPH, pedagang pengecer, dan konsumen. Aliran secara horizontal

artinya terdapat koordinasi pada sesama anggota mata rantai, yaitu adanya

koordinasi antar pedagang sapi hidup dan adanya koordinasi antar sesama

pengusaha daging (jagal).

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

17

Berdasarkan penelitian-penelitian mengenai rantai pasokan di atas, dapat

disimpulkan bahwa mekanisme rantai pasokan pada dasarnya membahas

mengenai tiga aliran yang meliputi aliran produk, aliran informasi, serta aliran

keuangan. Ketiga aliran rantai pasokan tersebut dapat dianalisis menggunakan

metode deskriptif. Aliran produk pada rantai pasokan dapat dilihat dari

pergerakan barang mulai dari hulu sampai hilir, yaitu mulai dari barang mentah

sampai ke tangan konsumen. Aliran informasi dapat dilihat dari komunikasi yang

berlangsung antar pelaku rantai pasokan, baik dari hulu ke hilir maupun dari hilir

ke hulu. Aliran keuangan dapat dilihat dari kegiatan transaksi keuangan yang

dilakukan antar pelaku rantai pasokan mulai dari hilir sampai ke hulu. Perbedaan

antara penelitian yang sudah ada sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan

oleh peneliti terletak pada objek yang diteliti serta lokasi penelitian yang

dilakukan, dimana pada penelitian ini objek penelitiannya adalah produk

cocofiber dan lokasi penelitian yang dilakukan adalah di Desa Lembengan.

Penelitian mengenai pengukuran kinerja rantai pasokan dilakukan oleh

Ishak pada tahun 2019 dengan judul “Pengukuran Capaian Kinerja Supply Chain:

Studi Kasus pada PT Eastern Pearl Flour Mills Makassar”. Analisis data yang

digunakan untuk mengukur kinerja supply chain pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan Supply Chain Operations Reference (SCOR) 10.0. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa kinerja supply chain di PT Eastern Pearl Flour Mills dilihat

dari atribut reliability, responsiveness, agility, costs, dan assets telah dikelola

dengan baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar metrik pengukuran yang

digunakan pada masing-masing atribut kinerja telah berada di posisi excellent dan

posisi good, namun metrik pengukuran pada atribut assets berada diposisi average

sehingga membutuhkan perbaikan agar kinerjanya berada di posisi excellent.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Duwimustaroh et al (2016) yang

berjudul “Analisis Kinerja Rantai Pasok Kacang Mete (Anacardium occidentale

Linn) dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA) di PT Supa Surya

Niaga, Gedangan, Sidoarjo”. Penelitian ini menilai efisiensi pemasok pada rantai

pasokan menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) model DEA-

CCR (Charnes, Cooper & Rhodes). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

18

efisiensi untuk rantai pasok kacang mete di PT Supa Surya Niaga tahun 2014

secara keseluruhan yaitu 94,275%. Nilai efisiensi tersebut belum maksimal karena

pada tahun 2014 terjadi peningkatan permintaan kacang mete, namun permintaan

tersebut kurang bisa dipenuhi karena tanaman jambu mete belum memasuki masa

panennya.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Ahmad dan Yuliawati pada tahun 2013

dengan judul “Analisa Pengukuran dan Perbaikan Kinerja Supply Chain di PT.

XYZ”. Metode yang digunakan untuk mengukur kinerja rantai pasok adalah

dengan menggunakan model Supply Chain Operations Reference (SCOR). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pada atribut performansi responsiveness, agility,

costs, dan assets masih terdapat permasalahan yang harus segera diperbaiki.

Kinerja atribut reliability pada dasarnya berada di posisi advantage, namun

kinerjanya masih belum mencapai target yang ingin dicapai sehingga masih

membutuhkan perbaikan sesegera mungkin. Kinerja atribut responsiveness dan

agility berada di posisi major opportunity karena dari skala produksi dan potensi

perusahaan itu sendiri, sedangkan kinerja atribut costs dan assets masih berada di

posisi medium karena biaya material yang digunakan masih cukup tinggi.

Berdasarkan penelitian Isnia et al (2017) yang berjudul “Analisis

Manajemen Rantai Pasok Susu Sapi Perah pada Koperasi Peternak Galur Murni di

Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember” yang dianalisis menggunakan

analisis SCOR (Supply Chain Operations Reference). Pengukuran kinerja rantai

pasok dilakukan secara keseluruhan, dimana di dalamnya terdapat dua proses

kegiatan yang meliputi proses penyaluran produk peternakan berupa susu sapi

perah (segar) dan olahan susu sapi (susu pasteurisasi dan yoghurt). Pengukuran

kinerja dilakukan dengan menghitung indikator-indikator pada atribut kinerja

reliability, responsiveness, agility, costs, dan assets dimana penarikan kesimpulan

pada penelitian kinerja rantai pasok ini dilakukan berdasarkan nilai maksimum

yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Koperasi Peternak Galur

Murni memiliki kinerja yang baik pada atribut reliability dan responsiveness,

sedangkan atribut agility, costs, dan assets menunjukkan kinerja yang belum baik

dikarenakan nilai dari masing-masing indikator perhitungan belum sempurna.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

19

Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, dapat diketahui bahwa kinerja

manajemen rantai pasokan dapat dihitung menggunakan metode SCOR (Supply

Chain Operations Reference). Kelebihan dari penggunaan SCOR adalah metode

ini dapat melihat kinerja manajemen rantai pasokan secara keseluruhan dan

representatif, sehingga pelaku agroindustri dapat melakukan perbaikan untuk

penerapan rantai pasokan selanjutnya apabila dirasa kurang maksimal.

Penggunaan model SCOR dapat membantu perusahan mengumpulkan informasi-

informasi untuk pengambilan keputusan yang dibutuhkan dalam manajemennya.

Perbedaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian sebelumnya

adalah terletak pada objek yang diteliti serta lokasi penelitian yang dilakukan.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Tanaman Kelapa

Winarno (2014) mengemukakan bahwa tanaman kelapa pada dasarnya

merupakan tanaman kehidupan (tree of life) yang paling dibudidayakan secara

ekstensif dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tanaman kelapa dapat tumbuh

dan dibudidayakan di seluruh daerah yang memiliki iklim tropis-basah. Sebanyak

94,64% produksi kelapa berasal dari wilayah Asia-Pasifik, dimana Indonesia

menjadi negara yang memiliki luas lahan dan produksi kelapa terbesar, diikuti

oleh Filipina dan India. Pohon kelapa yang tersebar di Nusantara saat ini

menunggu untuk mendapat perhatian sepenuhnya agar dikelola dengan baik,

dimanfaatkan secara efektif, dan direncanakan bagi pengembangan yang baik. Hal

ini dikarenakan baik komoditas kelapa, kopra, maupun olahan kelapa lainnya

memberikan kontribusi yang tinggi terhadap masyarakat Indonesia.

Menurut Warisno (2003), tanaman kelapa merupakan salah satu tanaman

dengan jenis palmae dan merupakan tanaman monokotil atau berumah satu.

Tanaman kelapa umumnya tumbuh ke atas dan tidak bercabang. Terdapat dua

jenis varietas utama dalam tanaman kelapa, yaitu varietas genjah dan varietas

dalam. Kuantitas produksi kelapa sendiri sangat dipengaruhi oleh umur tanaman.

Secara garis besar, masa berproduksi tanaman kelapa dibagi menjadi 3, yaitu

masa taruna, masa dewasa, dan masa tua. Masa taruna dimulai pada saat tanaman

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

20

kelapa mulai menghasilkan sampai terjadinya puncak produksi. Masa taruna

kelapa genjah dimulai 3-18 tahun, sedangkan kelapa dalam dimulai 6-20 tahun.

Masa dewasa merupakan masa-masa produksi buah kelapa sudah konstan. Masa

dewasa kelapa genjah berlangsung 15-20 tahun, sedangkan kelapa dalam

berlangsung 20-25 tahun. Masa tua merupakan masa terjadinya penurunan

produksi buah kelapa dan rentannya tanaman kelapa terserang hama dan penyakit,

sehingga perlu dilakukan peremajaan. Masa tua kelapa genjah dimulai pada umur

30 tahun, sedangkan kelapa dalam dimulai pada umur 40 tahun. Berdasarkan tata

nama atau yang biasa disebut dengan taksonomi, tanaman kelapa dimasukkan ke

dalam klasifikasi sebagai berikut.

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Sub-divisio : Angiospermae

Class : Monocotyledonae

Ordo : Palmaes

Famili : Palmae

Genus : Cocos

Spesies : Cocos nucifera L.

Tanaman kelapa merupakan tanaman serba guna yang seluruh bagiannya

dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Tanaman kelapa umumnya tumbuh

pada daerah tropis yaitu pada iklim panas yang lembab. Suhu yang baik bagi

tanaman kelapa adalah berkisar antara 6-7 derajat dengan rata-rata tahunannya

mencapai 27 derajat celcius. Hal ini dikarenakan suhu yang tinggi menyebabkan

tanaman kelapa yang masih tumbuh dan berkembang menjadi kering dan

menyebabkan buahnya berkurang. Kelapa umumnya dapat tumbuh baik pada

ketinggian pesisir sampai ketinggian 600-700 meter di atas permukaan laut.

Kelapa dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah. Syarat tanah untuk pertumbuhan

tanaman kelapa adalah tanah yang baik, artinya tanah tersebut struktur baik,

peresapan air dan tata udara baik, permukaan air tanah letaknya cukup dalam

minimal satu meter dari permukaan tanah, dan keadaan air tanahnya tidak

menggenang (Setyamidjaja, 2008).

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

21

Tanaman kelapa pada dasarnya dapat dimanfaatkan menjadi berbagai

macam produk yang memiliki nilai ekonomi tersendiri. Seluruh bagian

tanaman kelapa nyatanya dapat dimanfaatkan menjadi barang yang lebih bernilai.

Daging buah kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan

kopra, minyak kelapa, coconut cream, santan, dan kelapa parutan kering. Air

kelapa dapat digunakan untuk membuat cuka dan nata de coco. Tempurung

kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat arang aktif dan kerajinan tangan.

Batang kelapa dapat digunakan untuk menjadi bahan-bahan bangunan, baik untuk

kerangka bangunan maupun untuk dinding, serta atap. Daun kelapa dapat

diambil lidinya untuk digunakan sebagai sapu, serta barang-barang anyaman.

Buah kelapa yang terdiri atas sabut kelapa dapat dibuat keset, sapu, dan

matras (Abadi, 2015).

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007), berbagai

industri pada dasarnya dapat mengembangkan tanaman kelapa untuk dijadikan

produk pangan dan non pangan mulai dari produk primer yang masih

menampakkan ciri-ciri kelapa hingga yang tidak lagi menampakkan ciri-ciri

kelapa. Produk olahan kelapa yang dihasilkan saat ini masih terbatas baik jumlah

maupun jenisnya, padahal sebagai tree of life banyak sekali yang dapat

dimanfaatkan pada setiap bagian dari pohon kelapa tersebut. Buah kelapa sendiri

memiliki empat komponen dasar yang dapat diolah menjadi berbagai macam

produk. Komponen tersebut meliputi daging buah, tempurung, sabut, dan air.

Daging buah merupakan bagian dari buah kelapa yang memiliki potensi

pengolahan yang paling luas, baik untuk produk pangan maupun non pangan.

Hasil penting dari pengolahan daging kelapa segar adalah desiccated coconut,

coconut cream, coconut milk, dan coconut crude oil. Tempurung pada umumnya

digunakan sebagai bahan bakar, namun saat ini penggunaannya mulai beragam,

salah satu contohnya adalah pengolahan menjadi arang aktif. Arang aktif dari

tempurung kelapa selain digunakan dalam industri farmasi dan pertambangan,

kini arang aktif sudah dibuat untuk penyaring atau penjernih ruangan untuk

menyerap polusi dan bau tidak sedap dalam ruangan. Secara lengkap, pengolahan

kelapa akan ditunjukkan lewat gambar pohon industri di bawah ini.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

22

Gambar 2.1 Pohon Industri Kelapa

(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007)

Menurut Barri et al (2015), proses budidaya pada tanaman kelapa meliputi

beberapa tahap yaitu tahap persemaian, pembibitan, penyiapan lahan, penanaman,

pemeliharaan tanaman, pemanenan, serta peremajaan. Berikut penjelasan lebih

lanjut mengenai tahapan budidaya tanaman kelapa.

1. Persemaian

Pesemaian (pre-nursery) merupakan salah satu tahapan penting dalam

proses budidaya dimana pada tahap ini lokasi, penyiapan lahan, serta syarat-syarat

agronomis dan teknis harus dipenuhi dengan baik. Syarat lokasi persemaian yang

harus diperhatikan meliputi tanah yang digunakan harus datar dan tidak

Concentr

Kecap

Tempurung

Vinegar

Daging

Sabut

Parut

Nata

Minuman Buah

Air

Kulit

Kopra

Tepung

Arang

Serat

Cocopeat

Kayu

DC

CCO

Bangunan

Furniture Batang

Lidi

Cocomix

Semi VCO

Coco cake

Bungkil

Tepung

Aktif

Berkaret

Geotextile

Oleokimia

Skim Milk

M. Goreng

Coco Shake

Skim Milk

VCO

Pakan

Kerajinan

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

23

tergenang, dekat dengan sumber air, serta akses transportasinya mudah dan

terjaga. Lokasi pesemaian juga harus dibersihkan terlebih dahulu dari rumput, sisa

akar dan lain-lain. Kemudian tanah tersebut diolah baik secara manual dengan

cangkul, bajak yang ditarik ternak (sapi atau kerbau), ataupun bajak yang ditarik

traktor sampai tanah mencapai kedalaman 30 cm-40 cm. Pembuatan pesemaian

dilakukan dengan ukuran lebar bedengan 1,5-2,0 m, panjang disesuaikan dengan

keadaan setempat, dan tinggi 25 cm. Jarak antar bedengan dibuat sejauh 30-40 cm

yang berfungsi sebagai parit pembuangan air. Pesemaian sebaiknya dipagar untuk

menghindari kerusakan akibat gangguan hewan.

2. Pembibitan

Pembibitan merupakan tempat pertumbuhan kecambah yang terseleksi dari

bedeng pesemaian (pre-nursery). Proses pembibitan dapat dilakukan dengan dua

cara, yaitu pembibitan menggunakan polybag atau pembibitan langsung pada

bedeng pembibitan (main nursery). Pembibitan dengan menggunakan polybag

mencakup beberapa kegiatan yang meliputi persiapan polybag, pengisian tanah ke

dalam polybag, dan pemindahan kecambah ke dalam polybag, sedangkan apabila

menggunakan pembibitan langsung pada bedeng pembibitan, kecambah yang

terseleksi pada bulan 1, 2, 3 dan 4 ditanam pada bedeng pembibitan yang

terpisah.

3. Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan dapat dilakukan bersamaan dengan penyiapan bibit

kelapa. Tahapan penyiapan lahan tergantung pada kondisi topografi dan vegetasi.

Penyiapan lahan dalam hal ini meliputi proses pembukaan lahan dan penentuan

jarak tanam. Jarak tanam yang dapat digunakan pada penanaman tanaman kelapa

meliputi sistem tanam segi tiga dengan jarak tanam 9 m x 9 m, sistem tanam pagar

dengan jarak tanam 6 m x 16 m, sistem tanam gergaji dengan jarak tanam (5/2 m

x 3 m) 16 m atau (6/2 m x 3 m) 16 m, sistem tanam segi empat dengan jarak

tanam 8,5 m x 8,5 m atau 9 m x 9 m.

4. Penanaman

Penanaman tanaman kelapa dilakukan saat bibit telah berumur 6-8 bulan.

Dua minggu sebelum penanaman, akar yang menembus polybag dipotong.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

24

Kemudian polybag yang telah dipotong bagian bawahnya dimasukkan ke dalam

bagian tengah lobang dan posisi bibit diatur agar berdiri tegak, lalu lobang ditutup

menggunakan tanah lapisan atas yang telah dicampur dengan pupuk. Permukaan

tanah sekitar bibit dibuat agak cembung, sehingga tidak mudah tergenang air.

5. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa yang umumnya dilakukan meliputi

pembersihan kebun, area piringan, pemupukan, dan pengendalian hama dan

penyakit. Pembersihan kebun dilakukan dengan cara membersihkan lahan

pertanaman dari gulma yang meliputi pengendalian gulma secara fisik maupun

secara mekanis. Pengendalian gulma secara fisik dilakukan dengan membersihkan

gulma di sekitar pohon dengan jari-jari 1-2 m menggunakan cangkul. Kemudian

untuk tanaman yang telah berproduksi, setelah pembersihan gulma dapat

ditambahkan sabut atau daun kelapa untuk mencegah tumbuhnya gulma sekaligus

memberikan unsur hara pada tanaman. Pengendalian gulma secara mekanis

dilakukan dengan menggunakan peralatan mekanis seperti hand-slasher, traktor

dilengkapi rotari pemotong rumput, dan pembajakan yang sekaligus bertujuan

penggemburan tanah.

Pemberian pupuk pada tanaman dilakukan berdasarkan umur tanaman,

ketersediaan hara dalam tanah dan tanaman, begitu pula dengan pengendalian

hama dan penyakit tanaman juga dilakukan berdasarkan hama maupun

penyakitnya itu sendiri. Umumnya, jenis pupuk yang diberikan pada tanaman

kelapa meliputi urea, sp-36, KCl, kieserite, serta borax. Pemupukan pada

tanaman yang baru ditanam dilakukan 3 bulan setelah penanaman. Pemupukan

pada tanaman yang berumur 2 tahun dilakukan dengan cara ditabur pada daerah

bobokor dengan jari-jari 100 cm, kemudian ditutup dengan tanah. Pemupukan

pada tanaman berumur 3-4 tahun dilakukan dengan cara ditabur di daerah bobokor

dengan jari-jari 150 cm, kemudian ditutup dengan tanah.

6. Pemanenan

Pemanenan buah kelapa dilakukan dengan cara melihat umur buah kelapa

yang akan dipanen. Umur kelapa yang akan dipanen untuk produk kelapa muda

sebagai keperluan minuman segar berbeda dengan umur panen untuk produk

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

25

minyak atau kopra. Kesalahan penentuan usia buah kelapa saat panen akan

menurunkan kualitas produk yang akan dihasilkan. Pemanenan buah kelapa

umumnya dilakukan dengan beberapa teknik. Panen buah kelapa pada pohon yang

masih rendah yaitu berkisar 5-8 m dapat menggunakan tangga bambu atau galah

bambu yang ujungnya dipasang sabit. Panen buah kelapa pada pohon yang

memiliki tinggi lebih dari 8 m dilakukan dengan cara dipanjat atau menggunakan

jasa hewan seperti monyet. Umumnya setiap butir kelapa akan tahan banting

apabila dijatuhkan dari atas, sehingga manusia yang memanjat pohon kelapa dapat

menjatuhkan buah kelapa yang dipanennya langsung dari atas pohon kelapa.

2.2.2 Olahan Sabut Kelapa

Menurut Sepriyanto (2018), sabut kelapa merupakan salah satu bagian

kelapa yang dapat diolah menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi,

misalnya diolah menjadi serat sabut (cocofiber) dan serbuk sabut (cocopeat). Serat

sabut kelapa (cocofiber) merupakan produk hasil pengolahan sabut kelapa yang

secara tradisional dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuat sapu, keset, tali, dan

alat-alat rumah tangga lain. Seiring dengan berkembangnya teknologi, serat sabut

kelapa yang tadinya masih dimanfaatkan secara tradisional kemudian

dikembangkan dan dimanfaatkan menjadi bahan baku industri karpet, dashboard

kendaraan, kasur, bantal, hardboard, pelapis kursi mobil, spring bed, bahkan

sampai diekspor untuk dijadikan bahan baku pembuatan jok pesawat dan jok

mobil mewah. Cocopeat merupakan sabut kelapa yang diolah menjadi butiran-

butiran gabus yang dapat digunakan sebagai media tanam. Cocopeat dianggap

mampu menjadi media untuk pertumbuhan tanaman hortikultura dan media

tanaman rumah kaca karena memiliki sifat dapat menahan kandungan air dan

unsur kimia pupuk serta dapat menetralkan keasaman tanah. Proses pengolahan

sabut kelapa menjadi cocofiber maupun cocopeat membutuhkan mesin pengurai

yang berfungsi mengurai atau memisahkan serat buah kelapa dari lapisan spons

atau serbuk. Prinsip kerja dari mesin pengurai sabut kelapa ini yaitu memukul

sampai terpisah bagian serat dan serbuk dari buah kelapa yang telah diumpankan

pada hopper mesin pengurai.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

26

Rukmana (2003) mengemukakan bahwa sabut kelapa dapat diolah menjadi

serat sabut kelapa yang berpotensi untuk diekspor ke Jepang, Taiwan, dan Eropa.

Proses penyeratan sabut kelapa akan mampu menghasilkan debu sabut sebanyak

10%-15% dari volume bahan baku sabut kelapa utuh. Di samping diolah menjadi

serat, sabut kelapa juga dapat digunakan sebagai bahan aneka kerajinan,

pembungkus cangkok tanaman, medium tumbuh bagi tanaman anggrek, serta

dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Pengolahan sabut kelapa menjadi

serat sabut dapat digolongkan menjadi tiga bentuk produk, yaitu:

1. White fibre, yaitu serat yang berukuran panjang, halus, dan berwarna putih.

2. Bristle fibre, yaitu serat yang berukuran panjang dengan komposisi 1/3 serat

sabutnya berwarna cokelat. Bristle fibre ini diperoleh dari serat kelapa yang

sudah tua.

3. Mattres fibre, yaitu serat pendek dengan komposisi 2/3 serat sabutnya

berwarna cokelat.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2007), produksi

buah kelapa Indonesia yang mencapai 15,5 miliar butir per tahun, dapat

menghasilkan kurang lebih 1,8 juta ton serat sabut kelapa (cocofiber). Sabut

kelapa tersebut apabila diolah dapat menghasilkan produk berupa serat (serat

panjang), bristle (serat halus dan pendek), debu sabut (Gambar 2.2). Serat dalam

hal ini dapat diproses lagi menjadi serat berkaret, matras, geotextile, karpet, dan

produk-produk kerajinan/industri rumah tangga. Matras dan serat berkaret dapat

banyak digunakan dalam industri jok, kasur, dan pelapis panas. Bristle atau serat

yang lebih kasar dan pendek dapat diolah menjadi hardboard. Debu sabut dapat

diolah menjadi kompos, cocopeat, serta particle board/hardboard. Cocopeat pada

umumnya digunakan sebagai substitusi gambut alam untuk industri bunga dan

pelapis lapangan golf. Penggunaan cocopeat sebagai substitusi gambut dilakukan

di samping adanya isu lingkungan yang berkaitan dengan gambut alam, juga

karena mutu produk cocopeat yang lebih baik dari produk gambut.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

27

Gambar 2.2 Produk Turunan dari Pengolahan Sabut Kelapa

(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007)

Menurut Lay dan Patrik (2017), sabut kelapa merupakan komponen dari

buah kelapa yang memiliki persentase paling besar, yaitu 35% dari berat buah

keseluruhan. sabut kelapa memiliki beberapa bagian yang meliputi kulit sabut,

serat sabut, serbuk/debu sabut, serta bagian keras dari ujung sabut. Saat ini, dari

keempat bagian tersebut bagian yang bernilai ekonomis tinggi adalah bagian serat

sabut dan debu sabut. Serat sabut kelapa dapat dibedakan lagi menjadi tiga bagian

berdasarkan ukuran dan pemanfaatannya yang meliputi mat/yarn fibre, bristle

fibre, dan mattres. Mat/yarn fibre umumnya digunakan sebagai pembuatan tikar,

permadani, dan tali. Bristle fibre umumnya digunakan untuk pembuatan sapu dan

bahan kerajinan. Mattres umumnya digunakan sebagai bahan pengisi spring bed

dan jok mobil. Serat sabut kelapa dapat diolah dengan menggunakan dua cara,

yaitu dengan cara biologi dan cara mekanis. Penyeratan serat sabut kelapa secara

biologi dilakukan dengan memanfaatkan peran mikroorganisme untuk

melunakkan sabut kelapa. Teknik pengolahan sabut kelapa dengan cara biologis

ini dilakukan dengan cara merendam sabut kelapa ke dalam air. Teknik

Sabut

Debu Sabut

Serat Pendek

Serat Panjang

Kompos

Cocopeat

Hardboard

Genteng

Geotekstil

Isolator Listrik

Hardboard

Kerajinan

-Keset

-Karpet

-Tali, dll

Matras

Serat Berkaret

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

28

pengolahan ini dianggap dapat memudahkan petani dalam proses pemisahan serat

dari sabut kelapa, namun proses pengolahannya membutuhkan waktu yang lama.

Berbeda dengan cara biologis, penyeratan sabut secara mekanis merupakan cara

yang populer untuk dikembangkan saat ini. Penyeratan secara mekanis dianggap

lebih praktis, waktu pengolahan jauh lebih singkat, kapasitas olah lebih tinggi, dan

pengendalian proses produksi dan mutu hasil olahan dapat dikendalikan.

Menurut Dhanu (2011), serat sabut kelapa merupakan produk ekspor yang

dimana mutunya sangat ditentukan oleh warna, persentase kotoran, keadaan air,

panjang serat, dan bobot per bale. Spesifikasi mutu produk serat yang umumnya

diekspor adalah cocofiber yang memiliki warna cokelat atau kuning, memiliki

persentase kotoran < 3% untuk yang berwarna cokelat dan < 7% - 9% untuk yang

berwarna kuning, memiliki kadar air sampai 5%, memiliki panjang serat 5 cm –

25 cm, bobot per bale kurang lebih 115 kg, dan dikemas menggunakan tali

plastik. Spesifikasi-spesifikasi tersebut tidaklah mutlak karena pada dasarnya

konsumen dapat mengubah spesifikasi tersebut sesuai dengan yang dikehendaki.

2.2.3 Konsep Agroindustri dalam Sistem Agribisnis

Menurut Awantara (2014), agroindustri dapat didefinisikan sebagai suatu

kegiatan industri yang memanfaatkan produk primer hasil pertanian sebagai bahan

bakunya untuk diolah sedemikian rupa sehingga menjadi produk baru, baik yang

bersifat setengah jadi maupun yang siap dikonsumsi. Agroindustri sebagai salah

satu subsistem yang penting dalam suatu sistem agribisnis memiliki potensi untuk

mendorong pertumbuhan yang tinggi karena pangsa pasar yang besar dalam

produk nasional. Agroindustri adalah pengelolahan komoditas pertanian dari

barang mentah menjadi barang jadi maupun dari barang mentah menjadi setengah

jadi, sehingga menghasilkan nilai tambah bagi barang tersebut. Manajemen

agroindustri adalah penggunaan ilmu-ilmu manajemen dalam proses agroindustri

untuk mempermudah dalam proses produksi yang meliputi perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan serta pengendalian.

Menurut Soetriono (2015), apabila diklasifikasikan maka agroindustri dalam

sistem agribisnis dapat mencakup beberapa kegiatan antara lain:

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

29

1. Industri pengolahan hasil pertanian dalam bentuk setengah jadi dan atau

produk jadi seperti misalnya industri minyak kelapa sawit, industri pengolahan

karet, industri pengalengan ikan, dan sebagainya.

2. Industri penanganan hasil pertanian segar seperti misalnya industri pembekuan

ikan, industri penanganan bunga segar, dan sebagainya.

3. Industri pengadaan sarana produksi pertanian seperti pupuk, pestisida, dan

bibit.

4. Industri pengadaan alat-alat pertanian dan agroindustri lainnya, seperti industri

traktor pertanian, industri perontok, industri mesin pengolah minyak sawit, dan

sebagainya.

Menurut Udayana (2011), agroindustri pada dasarnya berasal dari dua kata,

yaitu agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menggunakan

hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang

menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam

usaha pertanian. Suatu usaha yang bergerak di bidang pertanian dengan menjual

hasil pertanian, baik itu djadikan sebagai bahan baku, sebagai bahan pelengkap,

maupun sebagai penyedia jasa. Agroindustri apabila dilihat dari sistem agribisnis,

dapat dilihat sebagai bagian (subsistem) agribisnis yang memproses dan

mentranformasikan bahan-bahan hasil pertanian (bahan makanan, kayu dan serat)

menjadi barang-barang setengah jadi yang langsung dapat dikonsumsi dan

barang atau bahan hasil produksi industri yang digunakan dalam proses produksi

seperti traktor, pupuk, pestisida, mesin pertanian dan lain-lain. Berdasarkan

penjelasan tersebut, dapat diketahui pula bahwa agroindustri merupakan sub

sektor yang luas yang meliputi industri hulu sektor pertanian sampai dengan

industri hilir. Industri hulu adalah industri yang memproduksi alat-alat dan mesin

pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam proses budidaya

pertanian, sedangkan industri hilir merupakan industri yang mengolah hasil

pertanian menjadi bahan baku atau barang yang siap dikonsumsi atau

merupakan industri pasca panen dan pengolahan hasil pertanian.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

30

2.2.4 Teori Rantai Pasokan dan Manajemen Rantai Pasokan

Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), rantai pasok merupakan

jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk

menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir.

Perusahaan-perusahaan yang termasuk ke dalam jaringan tersebut umumnya

meliputi supplier, distributor, pabrik atau industri, toko atau ritel, serta

perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. Di dalam

rantai pasok terdapat tiga macam aliran yang harus dikelola, yaitu aliran barang,

aliran uang, dan aliran informasi. Aliran barang merupakan aliran yang mengalir

dari hulu (upstream) ke hilir (downstream), misalnya bahan baku yang dikirim ke

pabrik dari supplier kemudian diproduksi menjadi sebuah produk, lalu dikirim ke

distributor, lalu ke pengecer, kemudian dikirim ke konsumen akhir. Aliran uang

merupakan aliran yang mengalir dari hilir ke hulu, misalnya mengenai sistem

pembayaran yang dilakukan, term pembayaran, mau pun invoice. Aliran informasi

merupakan aliran yang dapat mengalir dari hilir ke hulu maupun sebaliknya dari

hulu ke hilir (dua arah), misalnya informasi mengenai persediaan produk,

informasi ketersediaan kapasitas produksi, informasi status pengiriman bahan

baku, dan lain sebagainya. Pengelolaan rantai pasok dalam hal ini memiliki

beberapa tantangan yang harus dihadapi, yaitu:

1. Tantangan Kompleksitas Struktur Supply Chain

Kegiatan rantai pasok atau supply chain umumnya melibatkan banyak pihak

di dalamnya, baik pihak dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan

sehingga hubungan yang ditimbulkan pun sangat kompleks. Pihak-pihak yang

terdapat dalam suatu rantai pasok juga seringkali memiliki kepentingan yang

berbeda-beda bahkan sampai bertentangan satu sama lain. Konflik yang terjadi di

dalam perusahaan maupun konflik yang terjadi antar perusahaan inilah yang

menjadi suatu tantangan yang besar dalam mengelola sebuah supply chain,

sehingga perlu dilakukan pengelolaan yang baik dalam suatu kegiatan rantai

pasokan. Pengelolaan yang baik dalam hal ini dimaksudkan agar kinerja masing-

masing pelaku dalam rantai pasok dapat baik pula. Kompleksitas suatu supply

chain di samping diakibatkan oleh konflik antar hubungan, juga dapat dipengaruhi

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

31

oleh perbedaan bahasa, zona waktu, dan budaya antara satu perusahaan dengan

perusahaan lain. Misalnya, hubungan antara suatu perusahaan dalam negeri

dengan perusahaan yang berada di luar negeri, dimana perbedaan tiga hal tersebut

sangat mungkin terjadi.

2. Tantangan Ketidakpastian

Ketidakpastian merupakan sumber utama kesulitan pengelolan suatu supply

chain. Ketidakpastian dapat menimbulkan ketidakpercayaan diri terhadap rencana

yang sudah dibuat dan menyebabkan janji tidak bisa terpenuhi. Ketidakpastian

pada supply chain diklasifikasikan menjadi tiga bagian berdasarkan sumbernya,

yang meliputi ketidakpastian permintaan, ketidakpastian dari arah supplier, dan

ketidakpastian internal. Ketidakpastian permintaan dalam hal ini terjadi karena

memang suatu perusahaan tidak mampu memastikan mengenai berapa barang

yang akan terjual pada minggu atau hari tertentu pada suatu ritel dan berapa

banyaknya pesanan produk yang dibutuhkan distributor dari suatu pabrik.

Umumnya, semakin ke hulu ketidakpastian permintaan ini biasanya semakin

menigkat. Peningkatan ketidakpastian permintaan dari hilir ke hulu pada suatu

supply chain dinamakan bullwhip effect. Ketidakpastian dari supplier berupa

ketidakpastian pada lead time pengiriman, ketidakpastian harga bahan baku atau

komponen, ketidakpastian kualitas, serta ketidakpastian kuantitas material yang

dikirim. Ketidakpastian internal dapat berupa ketidakpastian yang diakibatkan

oleh kerusakan mesin kerja, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidak hadiran

tenaga kerja, serta ketidakpastian waktu maupun kualitas produksi.

Menurut Siahaya (2015), Supply Chain Management merupakan proses

pengintegrasian sumber-sumber bisnis yang kompeten baik di dalam maupun di

luar perusahaan seperti pemasok, pabrik atau manufaktur, gudang, pengangkut,

distributor, retailer, serta konsumen untuk mendapatkan sistem suplai yang

kompetitif dan berfokus kepada sinkronisasi aliran produk dan aliran informasi

untuk menciptakan nilai pelanggan (customer value). Supply Chain Management

dalam hal ini digunakan untuk meningkatkan produktivitas seluruh perusahaan

yang tergabung dalam kegiatan rantai pasok melalui optimalisasi kualitas dan

waktu. Aktivitas Supply Chain Management sendiri meliputi tiga hal, yaitu:

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

32

1. Rantai Suplai Hulu (Upstream Supply Chain), yang meliputi aktivitas-aktivitas

pada bagian perusahaan manufaktur dan pemasok.

2. Rantai Suplai Internal (Internal Supply Chain), yang meliputi aktivitas-

aktivitas di dalam internal perusahaan seperti pergudangan dan proses

produksi.

3. Rantai Suplai Hilir (Downstream Supply Chain), yang meliputi aktivitas-

aktivitas pada bagian distributor dan konsumen seperti penyaluran produk.

Menurut Anatan dan Ellitan (2008), manajemen rantai pasokan merupakan

strategi alternatif yang memberikan solusi dalam menghadapi ketidakpastian

lingkungan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui pengurangan biaya

operasi dan perbaikan pelayanan konsumen dan kepuasan konsumen. Manajemen

rantai pasokan juga dapat diartikan sebagai proses penciptaan nilai tambah pada

barang maupun jasa yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas persediaan, aliran

kas, dan aliran informasi. Elemen-elemen dalam SCM tidak dapat berjalan secara

terpisah namun harus menjadi satu kesatuan sehingga menghasilkan sinergi. Oleh

karena itu, aliran material, aliran kas, dan aliran informasi dalam supply chain

perlu untuk diintegrasikan. Aplikasi manajemen rantai pasok memiliki tiga tujuan

utama yaitu penurunan biaya, penurunan modal, dan perbaikan pelayanan.

Penurunan biaya dicapai dengan meminimalkan biaya logistik. Penurunan modal

dicapai dengan meminimalkan tingkat investasi dalam bidang logistik. Perbaikan

pelayanan dapat dilakukan secara berkala karena pelayanan atau jasa logistik yang

dilakukan perusahaan sangat mempengaruhi pendapatan dan profitabilitas

perusahaan. Berikut merupakan gambar struktur rantai pasok sederhana.

4.

5.

Gambar 2.3 Struktur Rantai Pasokan (Anatan dan Ellitan, 2008)

Supplier

Manufak-

tur

Distributi-

on Center

Whole-

saler

Retailer

End

Customer

Aliran Produk

Aliran Keuangan

Aliran Informasi

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

33

Berdasarkan gambar 2.3 di atas, dapat diketahui bahwa dalam suatu rantai

pasokan sederhana memiliki komponen-komponen yang disebut channel, dimana

komponen tersebut meliputi beberapa pelaku yang terdiri dari supplier,

manufaktur, distribution center, wholesaler, serta retailer yang bekerja untuk

memenuhi kebutuhan konsumen akhir (end customer). Aliran produk pada

struktur rantai pasokan di atas menunjukkan pergerakan dari hulu ke hilir. Aliran

informasi menunjukkan pergerakan dari dua arah, yaitu hulu ke hilir dan hilir ke

hulu. Aliran keuangan menunjukkan pergerakan dari hilir ke hulu.

Definisi Supply Chain Management sebagai sebuah rantai suplai, rantai

pasokan, jaringan logistik, atau jaringan suplai merupakan sebuah sistem

terkoordinasi yang terdiri atas organisasi, sumber daya manusia, aktivitas,

informasi, dan lain sebagainya yang terlibat secara bersama-sama dalam

memindahkan suatu produk atau jasa baik dalam bentuk fisik maupu virtual dari

suatu pemasok ke pelanggan. Fungsi suplai pada dasarnya dijalankan oleh badan

usaha yang umumnya terdiri dari manufaktur, penyedia layanan jasa, distributor,

dan saluran penjualan. Semua pihak yang berada dalam satu rantai pasok harus

bekerja sama satu sama lain secara maksimal untuk meningkatkan pelayanan

dengan harga murah, berkualitas, serta pengirimannya tepat. Rantai pasokan

menekankan pada pola terpadu aliran-aliran mulai dari supplier sampai pada

konsumen akhir. Ketiga aliran tersebut meliputi aliran material, aliran informasi,

dan aliran keuangan. Aliran material meliputi aliran produk mulai dari supplier

sampai customer termasuk retur, services, recycling, dan disposal (pembuangan).

Aliran informasi meliputi transmisi pembelian dan laporan status pengiriman

barang. Aliran keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat, maupun jadwal

pembayaran. Rantai pasok yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai

yang dihasilkan oleh rantai pasok tersebut (Arif, 2018).

Menurut Marimin dan Maghfiroh (2010), mekanisme rantai pasok produk

pertanian secara alami dibentuk oleh para pelaku rantai pasok itu sendiri.

Mekanisme yang dilakukan secara tradisional dapat berupa petani yang menjual

produk pertaniannya langsung ke pasar maupun ke tengkulak. Umumnya, petani

yang menjual produk pertaniannya kepada tengkulak memiliki posisi yang rendah

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

34

atau lemah karena tengkulak akan mengambil margin yang besar, mengingat

karakteristik produk pertanian yang mudah rusak dan bersifat musiman.

Mekanisme rantai pasok modern terbentuk untuk mengatasi beberapa hal, yaitu

mengatasi kelemahan karakteristik dari produk pertanian, meningkatkan

kesejahteraan petani dari sisi ekonomi dan sosial, meningkatkan permintaan

kebutuhan pelanggan akan produk yang berkualitas, dan memperluas pangsa pasar

yang ada. Hal ini menyebabkan pelaku pada rantai pasok bertambah, seperti

adanya manufaktur untuk mengolah produk, adanya distributor atau pedagang

besar untuk mendistribusikan produk, serta adanya pasar swalayan yang menjual

produk dan memiliki fasilitas-fasilitas untuk menjaga produk agar lebih tahan

lama dan terjamin kualitasya. Mekanisme modern ini tidak hanya memacu petani

untuk terus meningkatkan mutu hasil pertaniannya, namun juga memacu para

pelaku rantai pasok untuk menjamin kualitas produk yang diinginkan pasar.

Menurut Indrajit dan Djokopranoto dalam Marimin dan Maghfiroh (2010),

hubungan organisasi dalam rantai pasok ini terdiri dari beberapa macam, yaitu:

1. Rantai 1 adalah Supplier

Supplier merupakan sumber penyedia bahan pertama baik dalam bentuk

bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, dan suku cadang.

Supplier pada rantai 1 merupakan titik awal dari mata rantai penyaluran barang.

Supplier pada rantai pasok pertanian sendiri terdiri dari produsen dan tengkulak.

Produsen bisa menjadi supplier untuk tengkulak atau langsung memasok untuk

supplier, sedangkan tengkulak mengumpulkan produk pertanian dari para petani

kemudian menjualnya kembali dengan harga yang tinggi.

2. Rantai 1-2 adalah Supplier Manufacturer

Manufaktur dalam rantai ini berfungsi untuk membuat, mempabrikasi,

meng-assembling, merakit, mengonversi ataupun menyelesaikan barang.

Hubungan antara kedua mata rantai ini berpotensi menguntungkan kedua belah

pihak karena telah melakukan konsep supplier partnering. Manufaktur mendapat

kepastian kuantitas dan kualitas produk dari supplier, sedangkan supplier

mendapatkan kepastian harga produk.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

35

3. Rantai 1-2-3 adalah Supplier Manufacturer Distributor

Beranjak dari rantai sebelumnya, pada rantai 1-2-3, barang yang sudah jadi

pada manufaktur kemudian disalurkan kepada pelanggam melalui distributor dan

ditempuh dengan supply chain. Barang disalurkan dari pabrik ke distributor atau

pedagang besar dalam jumlah besar, kemudian disalurkan kembali kepada

pengecer dalam jumlah yang kecil.

4. Rantai 1-2-3-4 adalah Supplier Manufacturer Distributor Retail

Produk yang telah disalurkan kepada distributor maupun pedagang besar

akan disalurkan lagi kepada pengecer, namun sebelum dilakukan penyaluran

kembali ke pengecer umumnya pedagang besar tersebut akan menimbun barang

pada gudangnya sendiri maupun menyewa dari pihak lain. Pedagang besar

sebagai distributor pada rantai pasok pertanian umumnya memasok produk

pertaniannya kepada pengecer di pasar tradisional maupun swalayan.

5. Rantai 1-2-3-4-5 adalah Supplier Manufacturer Distributor Retail

Pelanggan

Konsumen merupakan rantai terakhir dalam kegiatan rantai pasok. Mata

rantai pasok akan dianggap berhenti apabila barang yang telah ditawarkan telah

sampai di tangan konsumen.

Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), untuk menciptakan

manajemen kinerja rantai pasok yang efektif diperlukan suatu pengukuran yang

mampu mengevaluasi kinerja supply chain secara holistik. Sistem pengukuran

diperlukan untuk melakukan monitoring dan pengendalian, mengomunikasikan

tujuan organisasi ke fungsi-fungsi pada supply chain, mengetahui dimana posisi

suatu organisasi relatif terhadap pesaing maupun terhadap tujuan yang hendak

dicapai, serta menentukan arah perbaikan untuk menciptakan keunggulan dalam

bersaing. Suatu sistem pengukuran kinerja biasanya memiliki beberapa tingkatan

dengan cakupan yang berbeda-beda. Umumnya, suatu sistem pengukuran kinerja

mengandung individual metrics, metric sets, dan overall performance

measurement systems. Individual metrics merupakan ukuran yang bisa

diverifikasi, diwujudkan dalam bentuk kuantitatif maupun kualitatif, dan

didefinisikan terhadap suatu titik acuan tertentu. Kumpulan dari metrik-metrik

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

36

kemudian membentuk metric sets yang dikumpulkan untuk memberikan informasi

kinerja suatu sub-sistem. Kumpulan dari beberapa metric sets membentuk overall

performance measurement system yang berfungsi untuk menjadi alat untuk

menciptakan kesesuian (alignment) antara metric sets dengan tujuan strategis

organisasi.

2.2.5 Model Supply Chain Operations Reference (SCOR)

Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), Supply Chain Operations

Reference (SCOR) merupakan suatu model acuan dari operasi supply chain

dimana model ini mengintegrasikan tiga elemen utama dalam manajemen, yaitu

business process reengineering, benchmarking, dan process measurement ke

dalam kerangka lintas fungsi dalam supply chain. Business process reeingineering

memiliki fungsi untuk menangkap proses kompleks yang terjadi saat ini (as is)

dan mendefinisikan proses yang diinginkan oleh perusahaan (to be).

Benchmarking berfungsi untuk mendapatkan data kinerja operasional dari

perusahaan sejenis. Target internal kemudian ditentukan berdasarkan kinerja best

in class yang diperoleh. Benchmarking dilakukan untuk mengetahui dimana posisi

perusahaan relatif terhadap kompetitor atau perusahaan acuan,

mengidentifikasikan pada aspek mana perusahaan lebih baik, dan pada aspek

mana perusahaan membutuhkan perbaikan. Process Measurement berfungsi untuk

mengukur, mengendalikan, dan memperbaiki proses-proses supply chain. Model

SCOR sendiri membagi proses-proses supply chain menjadi lima proses inti.

Proses-proses tersebut meliputi proses plan, source, make, deliver, dan return.

Berikut merupakan fungsi dari kelima proses tersebut.

1. Plan, yaitu proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk

menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan seperti pengadaan,

produksi, maupun pengiriman. Prosesnya meliputi menaksir kebutuhan

distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi,

material, dan kapasitas, serta melakukan penyesuaian (alignment) supply chain

plan dengan financial plan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

37

2. Source, yaitu proses yang berkaitan dengan pengadaan barang maupun jasa

untuk memenuhi permintaan. Kegiatan yang dilakukan pada proses ini

mencakup penjadwalan pengiriman dari supplier, menerima, mengecek, dan

memberikan pembayaran untuk barang yang dikirim supplier, memilih

supplier, mengevaluasi kinerja supplier, dan sebagainya.

3. Make, yaitu proses untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang

diinginkan konsumen atau pasar. Kegiatan produksi ini dapat dilakukan atas

dasar ramalan (make-to-stock), pesanan (make-to-order), maupun engineer-to-

order. Kegiatan yang termasuk dalam proses ini meliputi kegiatan produksi

mulai dari penjadwalan produksi sampai pemeliharaan fasilitas produksi.

4. Deliver, yaitu proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun

jasa, yang meliputi order management, transportasi, dan distribusi. Kegiatan

yang termasuk dalam proses ini meliputi menangani pesanan pelanggan sampai

dengan pengiriman tagihan kepada para pelanggan.

5. Return, yaitu proses dimana perusahaan menerima pengembalian produk

karena berbagai alasan. Post-delivery customer support juga merupakan bagian

dari proses return. Kegiatan yang termasuk dalam proses ini meliputi

identifikasi kondisi prosuk, penjadwalan pengembalian, dan sebagainya.

Menurut Council (2012), model Supply Chain Operations Reference

(SCOR) merupakan salah satu produk dari Supply Chain Council, Inc yang

bertujuan untuk membantu perusahaan atau organisasi dalam menyusun perbaikan

yang cepat dalam rantai pasoknya. Kinerja SCOR pada dasarnya terdiri dari dua

jenis elemen, yaitu atribut kinerja dan metrik kinerja. Atribut kinerja adalah

pengelompokan metrik yang digunakan untuk mengekspresikan dan menetapkan

arah strategi. Metrik kinerja mengukur kemampuan rantai pasokan untuk

mencapai atribut kinerja yang strategis tersebut. Atribut kinerja reliability,

responsiveness, dan agility dianggap berfokus pada pelanggan, sedangkan costs

dan assets dianggap berfokus pada internal perusahaan. Semua metrik yang

terdapat pada rantai pasokan dikelompokkan setidaknya ke dalam satu atribut

kinerja dan setiap atribut kinerja dapat memiliki satu atau lebih metrik level-1.

SCOR pada dasarnya mengakui tiga tingkat metrik yang telah ditentukan, yaitu:

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

38

1. Metrik level-1, digunakan untuk menilai kesehatan rantai pasokan secara

keseluruhan. Metrik ini juga dikenal sebagai metrik strategis dan indikator

kinerja utama (KPI). Kegiatan benchmarking pada metrik level-1 dapat

membantu perusahaan dalam menetapkan target realistis untuk mendukung

arahan strategis.

2. Metrik level-2, merupakan penjelasan dari metrik level-1. Kegiatan pada

metrik level-2 ini dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi akar

penyebab atau penyebab kesenjangan kinerja untuk metrik level-1.

3. Metrik level-3, merupakan penjelasan dari metrik level-2.

Menurut supply chain council dalam Marimin dan Maghfiroh (2010),

model SCOR berfokus pada aspek-aspek seperti semua kegiatan yang berkaitan

dengan interaksi pembeli mulai dari pesanan barang yang masuk hingga ke

pelunasan pembayaran oleh pembeli dan lain sebagainya. Beberapa aspek yang

tidak termasuk ke dalam ruang lingkup SCOR antara lain proses pelatihan,

pengawasan kualitas, teknologi informasi, dan administrasi. Hal ini dikarenakan

aspek tersebut diasumsikan sebagai aspek pendukung yang penting di luar model

SCOR. Pengukuran performa rantai pasokan dapat dinilai dengan menggunakan

indikator-indikator dalam ukuran kuantitatif yang disebut dengan metrik

penilaian. Pengukuran secara kuantitatif ini dilakukan agar kinerja rantai pasokan

dapat diukur dengan baik, dapat disesuaikan dengan target yang dikehendaki,

serta dapat dievaluasi di kemudian hari. Banyaknya metrik dan tingkatan metrik

yang digunakan disesuaikan dengan jenis dan banyaknya proses, serta tingkatan

proses rantai pasokan yang diterapkan pada aktivitas rantai pasok perusahaan

terkait. Kriteria yang digunakan untuk mengukur performa proses rantai pasokan

disebut dengan atribut performa. Atribut performa terdiri dari reliabilitas,

responsivitas, fleksibilitas, biaya, dan manajemen aset. Masing-masing dari atribut

performa tersebut terdiri dari satu atau lebih metrik level 1. Umumnya metrik

level 1 ini digunakan untuk dasar menentukan strategi pengembangan rantai

pasokan yang hendak dicapai oleh perusahaan, disesuaikan dengan atribut

performa yang paling dikehendaki oleh pembeli (eksternal) maupun perusahaan

(internal). Berikut dijelaskan mengenai atribut performa dalam rantai pasokan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

39

Tabel 2.1 Atribut Performa Manajemen Rantai Pasokan Beserta Metrik Performa

Atribut

Performa Definisi Metrik Level 1

Reliabilitas

Rantai Pasokan

Performa rantai pasokan perusahaan dalam

memenuhi pesanan pembeli dengan produk,

jumlah, waktu, kemasan, kondisi, dan

dokumentasi yang tepat sehingga mampu

memberikan kepercayaan kepada pembeli

bahwa pesanannya akan dapat terpenuhi

dengan baik.

Pemenuhan Pesanan

Sempuran

Responsivitas

Rantai Pasokan

Waktu (kecepatan) rantai pasokan

perusahaan dalam memenuhi pesanan

konsumen.

Siklus Pemenuhan

Pesanan

Fleksibilitas

Rantai Pasokan

Keuletan rantai pasokan perusahaan dan

kemampuan untuk beradaptasinya terhadap

perubahan pasar untuk memelihara

keuntungan kompetitif rantai pasokan.

Fleksibilitas Rantai

Pasokan Atas

Adaptabilitas Rantai

Pasokan Atas

Adaptabilitas Rantai

Pasokan Bawah

Nilai Risiko

Keseluruhan

Biaya Rantai

Pasokan

Biaya yang berkaitan dengan pelaksanaan

proses rantai pasokan. Biaya Total SCM

Manajemen

Aset Rantai

Pasokan

Efektifitas suatu perusahaan dalam

manajemen asetnya untuk mendukung

terpenuhinya kepuasan konsumen.

Siklus Cash-to-Cash

Return On Supply

Chain Fixed Asset

Return On Working

Capital

Sumber: Supply Chain Council dalam Marimin dan Maghfiroh (2010)

Setelah atribut performa telah disusun, selanjutnya adalah menentukan target

pencapaian yang dibutuhkan perusahaan untuk menghasilkan performa yang

terbaik dan mampu memenangi persaingan pasar. Penentuan tersebut dilakukan

dengan benchmarking, yaitu dengan membandingkan kondisi perusahaan dengan

perusahaan kompetitor yang paling maju di bidangnya (best in class

performance), namun apabila membandingkan dengan perusahaan kompetitor

dirasa sulit maka benchmarking juga dapat dilakukan dengan berdasarkan target

internal perusahaan yang hendak dicapai. Selanjutnya, langkah terakhir dalam

pengukuran performa adalah dengan mengidentifikasi praktek-praktek apa saja

yang harus diterapkan untuk mencapai target tersebut (best practise).

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

40

2.2.6 Teori Return on Assets dan Return on Equity

Menurut Hery (2015), Return on Assets (ROA) dan Return on Equity

(ROE) merupakan rasio yang termasuk ke dalam rasio profitabilitas yang

digunakan untuk menilai kompensasi finansial atas penggunaan aset atau ekuitas

terhadap laba bersih (laba setelah bunga dan pajak). Rasio profitabilitas sendiri

pada dasarnya digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dalam

menghasilkan laba. Hak pengembalian atas aset atau return on assets merupakan

rasio yang menunjukkan hasil atau pengembalian atas penggunaan aset

perusahaan dalam menciptakan laba bersih. Artinya, rasio ini dapat digunakan

untuk mengukur besarnya laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana

yang dikeluarkan untuk total aset. Hasil pengembalian atas ekuitas atau return on

equity merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur pengembalian atas

penggunaan ekuitas perusahaan dalam menciptakan laba bersih. Artinya, rasio ini

dapat digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih yang dihasilkan dari setiap

dana yang dikeluarkan untuk ekuitas.

Serupa dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hery, Sugiono (2009)

juga berpendapat bahwasannya Return on Assets (ROA) dan Return on Equity

(ROE) merupakan dua rasio yang termasuk ke dalam rasio profitabilitas, dimana

rasio profitabilitas ini digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan secara

keseluruhan dan efisiensi dalam pengelolaan kewajiban dan modal. ROA

digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian atas seluruh aset yang ada.

Return on Assets (ROA) dalam hal ini dapat juga disebut dengan Return on

Investment (ROI) karena rasio ini sama-sama menggambarkan efisiensi pada dana

yang digunakan dalam perusahaan. Semakin tinggi nilai ROA yang dihasilkan,

maka semakin mampu perusahaan dalam mendayagunakan aset untuk

memperoleh keuntungan. Perhitungan ROA dapat dilakukan sebagai berikut.

Berbeda dengan ROA, Return on Equity (ROE) mengukur tingkat pengembalian

atas seluruh modal yang ada. Rasio ini juga dapat disebut dengan rentabilitas

modal sendiri. Perhitungan ROE dilakukan dengan membagi laba bersih dengan

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

41

total ekuitas. Perhitungan ekuitas sendiri dilakukan dengan mengurangkan aset

dengan kewajiban yang dimiliki perusahaan. Perhitungan ROE dapat dilakukan

sebagai berikut.

Menurut Hartono (2012), Return on Assets (ROA) dan Return on Equity

(ROE) merupakan rasio yang digunakan oleh penganalisa untuk mengetahui

tingkat keuntungan usaha dalam hubungan dengan volume penjualan, jumlah

aktiva, dan investasi tertentu dari pengelola usaha. Return on Assets (ROA) juga

dapat disebut dengan Return on Investment (ROI), digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan keuntungan

dengan jumlah aktiva yang tersedia dalam perusahaan. ROA diukur dengan

membagi pendapatan bersih dengan rata-rata total aset yang digunakan oleh

perusahaan. Kriteria pengujian dalam ROA dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. ROA > 5%, “green”, artinya usaha bisnis dalam keadaan aman atau

menguntungkan.

2. ROA antara 0 – 5%, “yellow”, artinya usaha bisnis dalam keadaan batas

kemampuan atau keuntungan minimal (peringatan).

3. ROA < 0, artinya usaha bisnis dalam keadaan tidak aman atau tidak

menguntungkan.

Berbeda dengan ROA, perhitungan Return on Equity (ROE) digunakan untuk

mengukur pengembalian atas modal yang telah diinvestasikan pada perusahaan.

ROE sendiri dilakukan dengan membagi antara pendapatan bersih dengan rata-

rata modal sendiri. Kriteria pengujian pada return on equity (ROE) dapat

dijelaskan sebagai berikut.

1. ROE > 15%, “green”, artinya usaha bisnis dalam keadaan aman atau

menguntungkan.

2. ROE antara 5 – 15%, “yellow”, artinya usaha bisnis dalam keadaan batas

keamanan atau keuntungan minimal (peringatan).

3. ROE < 5%, “red”, artinya usaha bisnis dalam keadaan tidak aman.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

42

2.3 Kerangka Pemikiran

Sabut kelapa merupakan bagian dari buah kelapa yang harus diolah secara

optimal. Hal ini dikarenakan bagian tersebut menjadi bagian terbesar dari buah

kelapa, yaitu 35% dari berat keseluruhan. Umumnya sabut kelapa masih

dimanfaatkan secara sederhana oleh masyarakat, hanya sebagian kecil yang

digunakan untuk industri, padahal apabila diolah lebih lanjut sabut kelapa ini

dapat menjadi produk yang lebih bernilai, salah satunya cocofiber. Di Indonesia

sendiri, permintaan untuk produk cocofiber sudah mencapai 10.000 ton/bulan,

namun produksi cocofiber yang dilakukan masih sangat sedikit, sehingga perlu

adanya pengembangangan agar potensinya dapat dimaksimalkan. Industri yang

mengolah sabut kelapa salah satunya berada di Jember Jawa Timur, yaitu CV.

Sumber Sari. CV. Sumber Sari memproduksi cocofiber rutin setiap hari dan

mengekspornya hingga ke China dan Jepang. Bahan baku yang digunakan berasal

dari kelapa-kelapa yang dikupas oleh pemasok. Sabut kelapa yang dihasilkan

tersebut kemudian dikirim ke CV. Sumber Sari untuk diolah kembali menjadi dua

jenis produk yaitu cocofiber dan cocopeat, namun yang diekspor dalam hal ini

hanya produk cocofiber. Rata-rata setiap minggunya, CV. Sumber Sari

membutuhkan ±55 truk bahan baku sabut kelapa untuk membuat 1 kontainer

produk cocofiber, dimana setiap satu truk bahan baku berisi ±2.000-2.200 kupasan

kelapa. Kendala yang dihadapi oleh CV. Sumber Sari selaku pelaku usaha

berkaitan dengan adanya ketidakpastian pasokan dari pemasok dan juga adanya

ketidakpastian internal perusahaan.

Ketidakpastian pasokan dalam hal ini meliputi adanya ketidakpastian

kuantitas dan waktu pengiriman bahan baku sabut kelapa yang dipasok. Ada atau

tidaknya sabut kelapa sangat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya kelapa yang

dikupas oleh pemasok. Keterlambatan maupun kekurangan bahan baku sabut

kelapa pada akhirnya membuat produksi menjadi kurang efektif dan efisien. Di

samping itu, adanya ketidakpastian internal juga menjadi permasalahan yang

dapat mengganggu proses produksi produk cocofiber itu sendiri. Ketidakpastian

internal dalam hal ini adalah adanya permasalahan mengenai fenomena cuaca

yang sulit diprediksi, mengingat proses penjemuran menjadi hal terpenting dalam

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

43

produksi cocofiber karena pada dasarnya konsumen produk cocofiber

menghendaki kadar kekeringan produk cocofiber yang mencapai 12%-19%.

Ketidakpastian pasokan dari para pemasok dan juga ketidakpastian produksi tentu

menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam sebuah rantai pasokan. Dengan

adanya manajemen rantai pasokan yang baik, masing-masing mata rantai dari

hulu sampai hilir diharapkan dapat terintegrasi satu sama lain. Maka dari itu,

untuk memperbaiki aliran rantai pasok mulai dari hulu sampai hilir agar produksi

dan penjualan produk cocofiber dapat terjadi tanpa adanya hambatan yang cukup

berarti diperlukan suatu manajemen rantai pasokan yang baik.

Menurut Pujawan dan Mahendrawathi (2010), rantai pasokan memiliki

tiga aliran yang harus dikelola dengan baik, yaitu aliran produk, aliran informasi,

dan aliran keuangan. Berdasarkan penelitian Tariang et al (2018), Anis et al

(2017), purba et al (2018), dan Emhar et al (2014), aliran produk, aliran

informasi, dan aliran keuangan yang terdapat pada rantai pasokan dapat dianalisis

secara deskriptif dengan menggambarkan dan menjelaskan model rantai pasokan

mulai dari pemasok sampai ke konsumen akhir. Aliran produk pada produk

cocofiber dapat dilihat melalui penyaluran produk cocofiber mulai dari produk

berbentuk kelapa sampai menjadi produk cocofiber. Aliran informasi berkaitan

dengan komunikasi yang terjadi antar mata rantai pada rantai pasokan produk

cocofiber yang berlangsung secara dua arah, dimana informasi yang dialirkan ini

dapat meliputi informasi mengenai bahan baku, pengiriman, maupun produk yang

dihasilkan. Berdasarkan penelitian Emhar et al (2014), aliran informasi juga dapat

dilihat secara vertikal dan horizontal. Aliran informasi secara vertikal melihat

informasi yang terjadi antar mata rantai yang berbeda, sedangkan aliran informasi

secara horizontal melihat informasi yang terjadi antar sesama anggota mata rantai.

Aliran keuangan berkaitan dengan nilai dalam bentuk rupiah dimana pada aliran

ini mencakup sistem pembayaran yang dilakukan oleh masing-masing pelaku

pada rantai pasokan.

Di samping mengukur kinerja melalui pengelolaan aliran rantai pasokan,

perlu juga dilakukan pengukuran terkait dengan kinerja rantai pasokan secara

keseluruhan. Adanya permasalahan ketidakpastian pasokan dan ketidakpastian

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

44

internal tentu akan berpengaruh terhadap performa perusahaan, sehingga perlu

dilakukan upaya mengoptimalkan kinerja rantai pasokan melalui pengukuran

kinerja rantai pasokan agar masalah yang terjadi dalam suatu rantai dapat diatasi

sebelum dampaknya meluas. Berdasarkan penelitian Isnia et al (2017),

pengukuran kinerja rantai pasokan secara keseluruhan dapat dilakukan dengan

menggunakan model SCOR (Supply Chain Operations Reference). Pengukuran

kinerja dengan SCOR dilakukan dengan menghitung indikator-indikator pada

atribut kinerja reliability (keandalan), responsiveness (responsivitas), agility

(ketangkasan), costs (biaya), dan assets (manajemen aset), dimana penarikan

kesimpulan dilakukan berdasarkan nilai maksimum yang dihasilkan. Menurut

Council (2012), model Supply Chain Operations Reference (SCOR) ini bertujuan

untuk membantu perusahaan atau organisasi dalam menyusun perbaikan yang

cepat dalam rantai pasokannya.

Model SCOR memiliki lima atribut kinerja, dimana masing-masing atribut

kinerja memiliki satu atau lebih indikator atau metrik level-1. Indikator atau

metrik level-1 pada tiap-tiap atribut kinerja ini digunakan untuk menilai kesehatan

rantai pasokan secara keseluruhan serta membantu dalam menetapkan target

realistis untuk mendukung arahan strategis perusahaan. Kelima atribut kinerja dan

metrik level-1 tersebut meliputi (1) reliability: pemenuhan pesanan sempurna, (2)

responsiveness: siklus pemenuhan pesanan, (3) agility: fleksibilitas rantai pasok

atas, adabtabilitas rantai pasok atas, adabtabilitas rantai pasok bawah, dan nilai

risiko keseluruhan, (4) costs: biaya total dalam rantai pasokan, dan (5) assets:

siklus cash-to-cash, pengembalian aset tetap rantai pasok, dan pengembalian

modal kerja. Penelitian Duwimustaroh et al (2016) menunjukkan bahwa kinerja

rantai pasokan kacang mete memiliki nilai efisiensi belum maksimal karena

adanya permintaan yang tidak bisa dipenuhi sebab tanaman jambu mete belum

memasuki masa panen. Penelitian oleh Ahmad dan Yuliawati (2013)

menunjukkan bahwa nilai pada atribut reliability, responsiveness, agility, costs,

dan assets masih belum mencapai target perusahaan karena masih terdapat

permasalahan pada material yang dipasok.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

45

Berdasarkan kedua rumusan masalah di atas, dapat diketahui bahwa tujuan

utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kinerja

rantai pasokan agroindustri sabut kelapa CV. Sumber Sari. Usaha peningkatan

kinerja tersebut dilakukan agar ke depannya dapat dilakukan kegiatan rantai

pasokan yang lebih efektif dan efisien oleh perusahaan maupun pelaku usaha lain

yang terintegrasi. Diharapkan dengan adanya kegiatan rantai pasokan yang efektif

dan efisien ini, tiap-tiap mata rantai dalam sebuah rantai pasokan dapat

memperoleh apa yang diharapkan secara maksimal. Kerangka pemikiran pada

penelitian ini disajikan pada skema kerangka pemikiran pada gambar 2.4 berikut.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

46

Gambar 2.4 Skema Kerangka Pemikiran

Sabut Kelapa

Agroindustri pengolahan sabut kelapa

CV. Sumber Sari

Kinerja Rantai Pasokan

Analisis Deskriptif

Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasokan Produk Cocofiber

di CV. Sumber Sari

Produksi Cocofiber

Permasalahan:

Adanya

Ketidakpastian

pasokan dan

ketidakpastian

internal yang

mempengaruhi

produksi

Manajemen Rantai Pasokan Produk Cocofiber CV. Sumber Sari

Model Supply Chain Operations Reference

(SCOR)

1. Reliability

Indikator: Pemenuhan Pesanan Sempurna

2. Responsiveness

Indikator: Siklus Pemenuhan Pesanan

3. Agility

Indikator: Fleksibilitas Rantai Pasok

Atas, Adaptabilitas Rantai Pasok Atas,

Adaptabilitas Rantai Pasok Bawah, Nilai

Risiko Keseluruhan

4. Costs

Indikator: Biaya Total Rantai Pasok

5. Assets

Indikator: Siklus Cash-to-Cash,

Pengembalian Aset tetap, Pengembalian

Modal Kerja

1. Aliran Produk

2. Aliran Informasi

3. Aliran Keuangan

Mekanisme Rantai

Pasokan

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

47

2.4 Hipotesis

1. Kinerja manajemen rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari Desa

Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember dilihat dari aspek

reliability, responsiveness, agility, costs, dan assets diduga memiliki nilai yang

belum baik.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

48

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah dan Waktu Penelitian

Penentuan daerah penelitian ini dilakukan secara sengaja (Purposive

Method) yaitu di Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember,

tepatnya di CV. Sumber Sari. Menurut Eriyanto (2007), penentuan lokasi yang

dilakukan dengan sengaja (purposive) merupakan penentuan berdasarkan

kesengajaan dengan pertimbangan tertentu dari peneliti dengan argumen yang

dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Alasan peneliti memilih CV. Sumber

Sari sebagai lokasi penelitian adalah sebagai berikut.

1. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Pulau Jawa yang potensi

kelapanya dapat dikembangkan lebih lanjut dibandingkan wilayah di Pulau

Jawa lainnya karena di samping memiliki wilayah pertanaman yang luas, juga

memiliki produktivitas yang cukup tinggi.

2. Kabupaten Jember merupakan salah satu wilayah yang menjadi sentra

pertanaman kelapa di Jawa Timur.

3. CV. Sumber Sari merupakan satu-satunya agroindustri di Kabupaten Jember

yang selama 19 tahun konsisten mengolah sabut kelapa menjadi produk utama

yaitu cocofiber dimana telah diekspor ke luar negeri.

Penelitian ini dilaksanakan mulai 27 januari 2019 – 3 juni 2019, dimana

penelitian diawali dari CV Sumber Sari kemudian ke pelaku lain seperti pedagang

pengumpul, tengkulak, dan petani. Penggunaan waktu untuk pengukuran kinerja

rantai pasokannya sendiri menggunakan data perusahaan mulai bulan Januari

2018 sampai Desember 2018. Hal ini dilakukan untuk menilai kinerja rantai

pasokan perusahaan selama satu tahun penuh agar penilaian lebih maksimal.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif dan analitik. Metode deskriptif merupakan metode yang

menggambarkan secara faktual dan akurat mengenai keadaan dari suatu

hubungan-hubungan variabel yang diteliti. Tujuannnya adalah untuk membuat

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

49

deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai

fakta, sifat, atau hubungan antar fenomena yang diselidiki (Hamdi, 2014). Metode

analitik digunakan untuk menguji hipotesis dan menginterpretasikan lebih dalam

tentang hubungan-hubungan antar variabel yang terkait. Tujuannya adalah untuk

memaparkan karakteristik tertentu serta menganalisis dan menjelaskan mengapa

atau bagaimana sebuah fenomena dapat terjadi (Hermawan, 2005). Metode

deskriptif pada penelitian ini digunakan untuk menjelaskan dan menjabarkan

mengenai bagaimana aliran produk, aliran informasi, serta aliran keuangan produk

cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo

Kabupaten Jember. Metode analitik dalam penelitian ini digunakan untuk menilai

dan mengintepretasikan hasil analisis mengenai kinerja manajemen rantai pasokan

produk cocofiber di CV. Sumber Sari di Desa Lembengan, apakah perusahaan

tersebut telah melaksanakan rantai pasokan secara efektif dan efisien atau belum.

3.3 Metode Pengambilan Contoh

Metode yang digunakan dalam pengambilan contoh adalah dengan

menggunakan metode purposive sampling dan metode snowball sampling.

Metode purposive sampling merupakan metode pengambilan contoh dimana

sampel yang dipilih dilakukan melalui penetapan kriteria tertentu oleh peneliti.

Metode purposive sampling dilakukan dengan mengambil sampel berdasarkan

alasan bahwa sampel tersebut benar-benar mengetahui permasalahan yang terkait

dengan penelitian ini (Swarjana, 2012). Responden yang dipilih berdasarkan

metode purposive sampling adalah pemilik agroindustri pengolahan sabut kelapa

CV. Sumber Sari. Pemilik agroindustri dipilih sebagai responden karena pemilik

tersebut dianggap dapat memberikan informasi-informasi yang terkait dengan

kinerja rantai pasokan pada agroindustri CV. Sumber Sari Desa Lembengan

Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember dan juga pemiliki agroindustri tersebut

dapat memberikan informasi yang membawa peneliti kepada responden

selanjutnya yang terkait dengan siapa saja pelaku rantai pasokan yang terlibat.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

50

Metode snowball sampling merupakan metode penentuan sampel dimana

sampel yang diambil awalnya jumlahnya kecil, namun kemudian semakin

membesar sampai data lengkap didapatkan (Sugiyono, 2009). Metode snowball

sampling dipilih untuk pengambilan contoh dalam penelitian ini karena responden

awal belum mampu memberikan data yang memuaskan, sehingga peneliti mencari

responden lainnya yang dianggap dapat memberikan informasi sebagai sumber

data. Langkah yang dilakukan dalam pengambilan data mengenai aliran rantai

pasokan dan mata rantai yang terlibat dalam rantai pasokan menggunakan teknik

snowball sampling adalah dengan melakukan wawancara kepada pemilik

agroindustri sabut kelapa selaku responden awal untuk memperoleh data dan

informasi terkait responden selanjutnya. Penentuan responden selanjutnya akan

berkembang sesuai petunjuk dari pemilik agroindustri sebelumnya terkait dengan

kemana produk dijual dan dari mana bahan baku didapat. Berdasarkan hal tersebut

maka diperoleh responden yang meliputi 5 pedagang pengumpul, 5 tengkulak,

serta 16 petani kelapa.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Menurut Poespodihardjo (2010), dalam penelitian umumnya terdapat

enam teknik pengumpulan data. Teknik-teknik tersebut meliputi observasi

langsung, observasi partisipatif, wawancara, dokumentasi, physical artifact, dan

arsip. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati dan

mencatat secara sistematis terhadap perilaku subyek (orang), objek (benda),

ataupun kejadian tertentu tanpa adanya komunikasi dengan responden. Metode

observasi yang dilakukan pada pendekatan kuantitatif umumnya bersifat pasif.

Kelebihan dari pengumpulan data melalui observasi ini adalah peneliti tidak

bergantung pada pihak lain karena peneliti mengumpulkan keseluruhan data

asli secara langsung (Dwiastuti, 2017). Metode observasi yang digunakan

dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung dimana peneliti

mengamati secara langsung kegiatan-kegitan yang berhubungan dengan rantai

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

51

pasokan (supply chain) produk cocofiber yang dilakukan di CV. Sumber Sari

Desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, sehingga peneliti

mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya bagaimana proses rantai pasokan

yang dilaksanakan tersebut.

2. Wawancara merupakan metode pengumpulan data primer dengan cara

menanyakan sesuatu pada orang yang dapat memberi informasi secara tatap

muka menggunakan instrumen kuesioner atau daftar pertanyaan. Metode

wawancara ini menimbulkan terjadinya proses komunikasi secara langsung

antara pewawancara dengan responden sehingga akan didapatkan data yang

berupa data primer, yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti

secara langsung dari sumber datanya (Dwiastuti, 2017). Teknik wawancara

dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan kuesioner untuk memperoleh

data mengenai bagaimana aliran produk, keuangan, dan informasi berlangsung,

dan juga terkait mengenai kinerja rantai pasokan di CV. Sumber Sari Desa

Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.

3. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mencari bukti-

bukti berupa tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang.

Dokumentasi dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, yang diperoleh

melalui pencarian dari berbagai studi pustaka dan literatur yang relevan dengan

topik penelitian (Sugiyono dalam Sugiarto, 2015). Dokumentasi yang

digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan catatan tertulis

mengenai produksi produk cocofiber, dokumen-dokumen jual-beli, dan

catatan-catatan lain yang dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam

perhitungan analisis, di samping itu data sekunder juga didapatkan dari Badan

Pusat Statistika (BPS) dan Dirjen Perkebunan Indonesia.

3.5 Metode Analisis Data

Rumusan masalah pertama mengenai aliran produk, aliran informasi, dan

aliran keuangan pada rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari dapat

diselesaikan dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif

yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara terhadap

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

52

responden agar kemudian dapat digambarkan aliran produk, aliran informasi,

dan aliran keuangan pada rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari

Desa Lembengan ke dalam sebuah skema. Wawancara dalam hal ini juga

dilakukan agar peneliti mendapatkan informasi yang sangat jelas untuk kemudian

menyusunnya dalam bentuk deskripsi terperinci dalam hal penggambaran aliran

produk, aliran keuangan, dan aliran informasi pada rantai pasokan produk

cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan.

Menjawab rumusan masalah kedua dan untuk menguji hipotesis mengenai

kinerja rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari diselesaikan

menggunakan metode SCOR 11.0. Pengukuran kinerja dilakukan dengan

menggunakan atribut kinerja rantai pasokan dengan menggunakan matriks level 1.

Atribut kinerja rantai pasokan yang digunakan meliputi keandalan (Reability),

responsivitas (Responsiveness), ketangkasan (Agility), biaya (Cost), dan

manajemen aset (Assets). Indikator matriks level 1 dengan perhitungan indikator-

indikator kerja yang digunakan adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1 Indikator Pengukuran Kinerja Rantai Pasokan Level 1

Atribut Kinerja Indikator Level 1 Satuan

Keandalan Pemenuhan Pesanan secara Sempurna %

Responsivitas Siklus Pemenuhan Pesanan Hari

Ketangkasan

Fleksibitas Rantai Pasokan Atas Hari

Adabtabilitas Rantai Pasokan Atas %

Adabtabilitas Rantai Pasokan Bawah %

Nilai Risiko Keseluruhan %

Biaya Biaya Total Rantai Pasokan Rupiah

Manajemen Aset

Siklus Cash-to-Cash Hari

Pengembalian Aset Tetap Rantai Pasokan %

Pengembalian Modal Kerja %

Sumber: Supply Chain Council (2012)

Tabel 3.1 menunjukkan antara atribut kinerja dengan indikator level 1-nya.

Setiap atribut kinerja memiliki satu atau lebih indikator level 1. Indikator level 1

dalam hal ini merupakan perhitungan yang dapat digunakan perusahaan untuk

mengukur seberapa berhasilnya perusahaan tersebut dalam mencapai posisi yang

diinginkan pada pasar yang kompetitif. Definisi dan perhitungan dari indikator

level 1 akan dijelaskan sebagai berikut.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

53

1. Pemenuhan Pesanan Sempurna

Pemenuhan pesanan sempurna merupakan persentase pesanan yang terkirim

dengan sempurna dengan dokumentasi yang akurat serta tidak ada kerusakan

dalam proses pengiriman.

Pemenuhan Pesanan Sempurna = (Jumlah Pemesanan yang Sempurna) / (Total

Pesanan) x 100%

2. Siklus Pemenuhan Pesanan

Siklus pemenuhan pesanan merupakan rata-rata siklus waktu aktual yang

secara konsisten dicapai untuk memenuhi pesanan pelanggan. Siklus waktu ini

dimulai dari penerimaan pesanan dan diakhiri dengan penerimaan pesanan oleh

pelanggan.

Siklus Pemenuhan Pesanan = Jumlah siklus waktu aktual (source + make +

deliver) untuk semua pesanan terkirim

3. Fleksibitas Rantai Pasokan Atas

Fleksibilitas rantai pasokan atas merupakan jumlah hari yang dibutuhkan

untuk mencapai peningkatan yang tidak terduga sebesar 5% pada jumlah

pengiriman.

Fleksibilitas = Fleksibilitas Atas (source + make + deliver + source return +

deliver return)

4. Adaptabilitas Rantai Pasokan Atas

Adaptabilitas rantai pasokan atas adalah persentase peningkatan

maksimum yang dapat dipertahankan pada pengiriman barang yang dapat dicapai

dalam 30 hari.

Adaptabilitas Atas = Adaptabilitas Atas (source + make + deliver + source return

+ deliver return)

5. Adaptabilitas Rantai Pasokan Bawah

Adaptabilitas rantai pasokan bawah adalah pengurangan kuantitas jumlah

pesanan 30 hari sebelumnya untuk mengirim tanpa adanya persediaan maupun

biaya penalti.

Adaptabilitas Bawah = Adaptabilitas Bawah (source + make + deliver)

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

54

6. Nilai Risiko Keseluruhan

Nilai risiko keseluruhan merupakan persentase dari peristiwa-peristiwa

yang dianggap menganggu hubungan di seluruh rantai pasokan.

Nilai Risiko Keseluruhan = Total nilai risiko pada kegiatan (plan + source +

make + deliver + return)

Biaya Total Rantai Pasokan

Biaya total rantai pasokan merupakan seluruh biaya baik biaya langsung

maupun tidak langsung yang berhubungan dengan rantai pasok.

Biaya Total Rantai Pasokan = Biaya perencanaan + biaya pengadaan + biaya

penyampaian material + biaya produksi + biaya

manajemen pesanan + biaya pemenuhan

pesanan + biaya pengembalian

7. Siklus Cash-to-Cash

Siklus cash-to-cash merupakan waktu yang diperlukan untuk

mengembalikan kembali investasi kepada perusahaan setelah investasi tersebut

digunakan untuk pembelian bahan mentah, dengan kata lain siklus cash-to-cash

digunakan untuk mengukur seberapa cepat perusahaan mengubah persediaan

menjadi uang.

Siklus Cash-to-Cash = Jumlah hari suplai persediaan + jumlah hari penjualan

belum dibayar + jumlah hari pengadaan belum dibayar

8. Pengembalian Aset Tetap Rantai Pasokan

Pengembalian aset tetap rantai pasokan mengukur pengembalian yang

diterima perusahaan atas modal yang diinvestasikannya dalam aset tetap rantai

pasokan.

Pengembalian Aset Tetap Rantai Pasokan = (Penerimaan rantai pasokan – Biaya

Kegiatan Rantai Pasok) / Aset Tetap

Rantai Pasok

9. Pengembalian Modal Kerja

Pengembalian modal kerja merupakan pengukuran yang menilai besarnya

investasi relatif terhadap posisi modal kerja dibandingkan pendapatan yang

dihasilkan pada rantai pasokan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

55

Pengembalian Modal Kerja = (Penerimaan Rantai Pasokan – Biaya Kegiatan

Rantai Pasokan) / (Persediaan + Piutang - hutang)

Penarikan kesimpulan pada metode SCOR pada dasarnya dapat dilakukan

dengan membandingkan kinerja rantai pasok perusahaan yang diteliti dengan

perusahaan kompetitor sejenis yang memiliki kinerja rata-rata atau “best in class”.

Pengukuran dengan nilai kinerja yang lebih besar daripada agroindustri rata-rata,

maka perusahaan masuk ke dalam kategori “best in class”. Pengukuran seperti ini

tidak dapat dilakukan di CV. Sumber Sari, mengingat pengukuran kinerja

semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Di samping mengukur

menggunakan “best in class”, penarikan kesimpulan metode SCOR juga dapat

dilakukan dengan membandingkan indikator pengukuran kinerja metrik level-1

pada masing-masing agroindustri yang diteliti. Pengukuran semacam ini juga

tidak dapat dilakukan karena dalam hal ini agroindustri yang mengolah sabut

kelapa di Kabupaten Jember hanya terdapat satu perusahaan saja. Berdasarkan hal

tersebut, maka pengukuran kinerja SCOR pada penelitian ini hanya sampai pada

business process reeingineering karena kegiatan benchmarking tidak dapat

dilakukan karena tidak adanya perusahaan sejenis yang dapat dijadikan

pembanding.

Penarikan kesimpulan pada penelitian ini adalah dengan membandingkan

berdasarkan nilai yang dihasilkan pada masing-masing atribut kinerja. Apabila

masing-masing indikator pada masing-masing atribut kinerja memiliki nilai yang

maksimum atau baik, maka dapat dikatakan rantai pasokan produk cocofiber di

CV. Sumber Sari memiliki kinerja yang baik. Penilaian baik atau buruknya

indikator pada siklus pemenuhan pesanan, fleksibilitas rantai pasokan atas, nilai

risiko keseluruhan, biaya total rantai pasokan, dan siklus cash-to-cash dapat

dilihat berdasarkan nilai maksimum yang dihasilkan oleh perusahaan. Penilaian

baik atau buruknya indikator pengembalian aset tetap rantai pasokan dapat

dibandingkan dengan kriteria pengujian pada Return on Assets (ROA), sedangkan

penilaian pada indikator pengembalian modal kerja dapat dibandingkan dengan

kriteria pengujian pada Return on Equity (ROE). Kriteria pengujian dalam ROA

adalah sebagai berikut.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

56

1. ROA > 5%, “green”, artinya usaha bisnis dalam keadaan aman atau

menguntungkan.

2. ROA antara 0 – 5%, “yellow”, artinya usaha bisnis dalam keadaan batas

kemampuan atau keuntungan minimal (peringatan).

3. ROA < 0, artinya usaha bisnis dalam keadaan tidak aman atau tidak

menguntungkan.

Sedangkan kriteria pengujian pada return on equity (ROE) adalah sebagai berikut.

1. ROE > 15%, “green”, artinya usaha bisnis dalam keadaan aman atau

menguntungkan.

2. ROE antara 5 – 15%, “yellow”, artinya usaha bisnis dalam keadaan batas

keamanan atau keuntungan minimal (peringatan).

3. ROE < 5%, “red”, artinya usaha bisnis dalam keadaan tidak aman.

Penilaian pada indikator pemenuhan pesanan secara sempurna, adaptabilitas rantai

pasokan atas, serta adapatabilitas rantai pasokan bawah dapat menggunakan tabel

3.2 di bawah ini. Tabel 3.2 ini merupakan tabel klasifikasi nilai standar kerja

untuk membantu dalam menentukan dimana posisi perusahaan yang diteliti dilihat

dari nilai kinerja yang dihasilkannya.

Tabel 3.2 Klasifikasi Nilai Standar Kerja

Nilai Kinerja (%) Kriteria

95-100 Excellent

90-94 Above Average

80-89 Average

70-79 Below Average

60-69 Poor

<60 Unacceptable

Sumber: Monckza et al dalam Nugroho dan Pariasa (2017)

3.6 Definisi Operasional

1. Sabut kelapa merupakan bagian terluar dari buah kelapa yang berbentuk

serat-serat kasar.

2. Serat sabut kelapa (cocofiber) adalah produk olahan sabut kelapa berupa

produk setengah jadi yang telah mengalami proses penguraian dan

penjemuran sehingga menjadi produk yang berbentuk rambut panjang dan

berwarna coklat atau kuning keemasan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

57

3. Rantai pasokan (supply chain) cocofiber merupakan kegiatan penyaluran

dan/atau transformasi produk cocofiber, mulai dari produk tersebut berbentuk

buah kelapa sampai produk tersebut berbentuk cocofiber dan telah sampai di

atas kapal untuk disalurkan ke tangan konsumen, termasuk aliran keuangan

dan aliran informasinya.

4. Konsumen adalah orang yang membeli produk cocofiber langsung pada CV.

Sumber Sari.

5. Aliran produk pada rantai pasokan merupakan keseluruhan aliran aktivitas

dalam penciptaan produk cocofiber, mulai dari dalam bentuk mentah sampai

menjadi produk cocofiber yang siap dikirimkan ke konsumen.

6. Aliran informasi pada rantai pasokan adalah keseluruhan dalam rantai

pasokan produk cocofiber yang berisi mengenai informasi-informasi baik dari

hulu ke hilir maupun dari hilir ke hulu.

7. Aliran keuangan pada rantai pasokan adalah keseluruhan kegiatan yang berisi

mengenai sistem pembayaran yang dilakukan dari hilir ke hulu dan dijelaskan

dalam satuan rupiah.

8. Pemasok adalah individu yang menyediakan bahan baku sabut kelapa untuk

CV. Sumber Sari yang berada di kawasan Kabupaten Jember.

9. Kinerja rantai pasokan merupakan keseluruhan aktivitas rantai pasokan pada

CV. Sumber Sari yang dilakukan secara sistematis oleh masing-masing mata

rantai sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

10. Atribut kinerja adalah kriteria dalam pengukuran suatu kinerja rantai pasokan

produk cocofiber.

11. Indikator kinerja, dapat disebut juga metrik kinerja merupakan alat ukur dari

suatu atribut kinerja.

12. Pemenuhan pesanan sempurna adalah indikator dalam atribut kinerja

reliability pada SCOR yang mengukur tentang kemampuan CV. Sumber Sari

dalam memenuhi pesanan konsumennya secara tepat dan cepat, tanpa adanya

kerusakan maupun kesalahan. Indikator ini dinyatakan dalam satuan persen.

13. Jumlah pesanan sempurna adalah banyaknya produk cocofiber yang

dikririmkan ke konsumen tanpa adanya kesalahan mau pun kerusakan (kg).

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

58

14. Siklus pemenuhan pesanan sempurna merupakan indikator dalam atribut

kinerja responsiveness yang mengukur tentang kecepatan CV. Sumber Sari

dalam menyediakan produk cocofiber yang telah dipesan oleh konsumen

secara tepat dan dinyatakan dalam satuan hari.

15. Fleksibilitas atas rantai pasokan adalah indikator dalam atribut kinerja agility

yang mengukur tentang kemampuan perusahaan dalam merespon kenaikan

permintaan cocofiber di luar produksi yang dilakukan oleh CV. Sumber Sari,

dimana indikator ini dinyatakan dalam satuan hari.

16. Adaptabilitas atas rantai pasokan adalah indikator dalam atribut kinerja agility

yang mengukur kemampuan CV. Sumber Sari dalam merespon kenaikan

permintaan cocofiber yang terjadi dalam rentang 30 hari, dimana indikator ini

dinyatakan dalam satuan hari.

17. Adaptabilitas bawah rantai pasokan adalah indikator dalam atribut kinerja

agility yang mengukur kemampuan CV. Sumber Sari dalam merespon

penurunan permintaan cocofiber yang terjadi dalam rentang 30 hari, dimana

indikator ini dinyatakan dalam satuan hari.

18. Nilai risiko keseluruhan adalah indikator dalam atribut kinerja agility yang

mengukur mengenai kemungkinan-kemunkinan yang dapat terjadi di CV.

Sumber Sari yang dapat menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu

kegiatan rantai pasokan. Indikator ini dinyatakan dalam satuan persen.

19. Perhitungan biaya total merupakan indikator dalam atribut kinerja costs yang

mengukur tentang seberapa besar biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan

rantai pasokan di CV. Sumber Sari untuk menghasilkan dan mengalirkan

produk cocofibernya ke konsumen. Indikator ini dinyatakan dalam satuan

rupiah.

20. Siklus waktu cash-to-cash merupakan indikator dalam atribut kinerja assets

yang mengukur tentang waktu yang dibutuhkan CV. Sumber Sari dalam

mengembalikan biaya yang dikembalikan sejak awal pembelian bahan baku

dari para pemasok sampai CV. Sumber Sari menerima hasil dari penjualan

cocofiber. Indikator ini dinyatakan dalam satuan hari.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

59

21. Pengembalian aset tetap rantai pasokan merupakan indikator dalam atribut

kinerja assets yang mengukur mengenai kemampuan CV. Sumber Sari dalam

pengembalian yang diterima atas modal aset tetapnya yang telah dikeluarkan,

dan dinyatakan dalam satuan persen.

22. Pengembalian modal kerja adalah indikator dalam atribut kinerja assets yang

mengukur tentang kemampuan CV. Sumber Sari dalam menghasilkan laba

dengan menggunakan modal sendiri, dan dinyatakan dalam satuan persen.

23. Plan adalah kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan kegiatan rantai

pasokan yang akan dilakukan di CV Sumber Sari.

24. Source adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan bahan baku sabut

kelapa yang dilakukan oleh CV Sumber Sari.

25. Make adalah kegiatan yang berkaitan dengan proses transformasi bahan baku

sabut kelapa menjadi produk cocofiber yang dilakukan oleh CV Sumber Sari,

mulai dari penjadwalan produksi sampai pemeliharaan fasilitas produksi.

26. Deliver adalah kegiatan yang berkaitan dengan distribusi produk cocofiber ke

tangan konsumen, mulai dari penanganan pesanan sampai pengiriman tagihan

kepada konsumen.

27. Return adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengembalian produk

cocofiber dari konsumen ke CV Sumber Sari karena adanya ketidaksesuaian

pesanan.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

60

BAB 4. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Keadaan Umum Desa Lembengan

Desa Lembengan merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan

Ledokombo Kabupaten Jember. Desa ini berjarak kurang lebih 25 km dari pusat

Kota Jember dan memiliki waktu tempuh sekitar 45 menit dengan menggunakan

transportasi darat. Desa Lembengan memiliki lima dusun yang meliputi Dusun

Klonceng, Dusun Krajan 1, Dusun Krajan 2, Dusun Darungan, dan Dusun Oloh.

Adapun batas-batas wilayah Desa Lembengan adalah sebagai berikut.

Batas Utara : Desa Plalangan

Batas Selatan : Desa Suren

Batas Timur : Desa Ledokombo dan Desa Sumber Lesung

Batas Barat : Desa Kalisat dan Desa Gambiran Kecamatan Kalisat

Desa Lembengan memiliki wilayah dengan luas 7.132 ha. Desa

Lembengan sendiri memiliki iklim tropis dengan hawa sejuk karena berada di

dekat kaki gunung Raung. Desa ini memiliki potensi yang besar dibidang

pertaniannya. Lahannya sangat cocok untuk ditanami berbagai jenis tanaman. Di

samping itu, pengairan yang baik pun membuat potensi pertanian yang dimiliki

desa ini dirasa sangat besar. Potensi pertanian yang besar di desa ini membuat

sebagian warganya berprofesi sebagai petani.

4.2 Keadaan Umum CV. Sumber Sari

CV. Sumber Sari merupakan salah satu perusahaan yang mengolah limbah

kelapa yaitu sabut kelapa menjadi produk yang bernilai ekspor seperti cocofiber

dan cocopeat. CV. Sumber Sari ini terletak di Jl. Bengawan Solo No. 56 Desa

Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Awal mulanya, CV.

Sumber Sari didirikan dengan nama CV. Tiga Sehati pada 13 Juni 2000 dan

dikelola oleh 3 manajer, salah satunya Bapak Suwidi. CV. Tiga Sehati akhirnya

tidak mampu dipertahankan pada beberapa tahun setelah didirikan dan pada tahun

2010 CV. Sumber Sari didirikan sendiri oleh Bapak Suwidi. Sebelum CV. Sumber

Sari didirikan, Bapak Suwidi merupakan pemasok kelapa yang memasok kelapa-

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

61

kelapa di pasar lokal, bahkan juga pasar di luar daerah seperti di Surabaya, Tuban,

Nganjuk, dan Solo. Banyaknya pasokan kelapa yang dikirimkan oleh Bapak

Suwidi menimbulkan adanya timbunan sabut kelapa yang memakan banyak

tempat, mengingat pengiriman kelapa yang dilakukan adalah dalam bentuk kelapa

kupas. Bapak Suwidi akhirnya menemukan solusi akan adanya timbunan sabut

kelapa yang menumpuk tersebut lewat kawannya, yaitu dengan adanya

pengolahan sabut kelapa menjadi serat sabut kelapa (cocofiber). Adanya kepastian

pasar serat sabut kelapa membuat Bapak Suwidi yakin dalam membangun pabrik

pengolahan sabut kelapa karena di samping dapat menghasilkan serat sabut

kelapa, sabut kelapa juga dapat menghasilkan serbuk yang juga memiliki pasarnya

tersendiri.

CV. Sumber Sari di samping didirikan dengan tujuan untuk mengurangi

adanya limbah sabut kelapa akibat adanya pengupasan kelapa, juga didirikan

dengan tujuan untuk memajukan perekonomian masyarakat di Desa Lembengan.

Hal ini dikarenakan dengan adanya pabrik pengolahan sabut kelapa ini, lapangan

pekerjaan menjadi terbuka bagi masyarakat di Desa Lembengan itu sendiri.

Penentuan lokasi yang dilakukan pada usaha pengolahan sabut kelapa ini sangat

dipertimbangkan. Lokasi tersebut dipilih karena dekat dengan bahan baku serta

jauh dari pemukiman, sehingga tidak bising dan mengganggu masyarakat sekitar.

Bahan baku sabut kelapa yang digunakan di CV. Sumber Sari ini didapatkan dari

para pemasok kelapa yang berada di sekitar pabrik pengolahan serta dari

Situbondo dan Banyuwangi, mengingat CV. Sumber Sari tidak melakukan

budidaya sendiri maupun pengupasan kelapa sendiri. Para pemasok kelapa

tersebut merupakan rekan-rekan Bapak Suwidi yang telah dipercaya dalam bisnis

pemasok kelapa yang telah dijalankan sebelumnya.

Pabrik pengolahan sabut kelapa CV. Sumber Sari dalam hal ini telah

menjadi perusahaan yang telah dinyatakan sah secara hukum. Hal tersebut dapat

dibuktikan dari adanya Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), NPWP, Surat

Keterangan Terdaftar (SKT), akta pendirian perusahaan, rekening perusahaan,

Izin Usaha Industri (IUI), serta Tanda Daftar Perusahaan (TDP) yang dimiliki

perusahaan. Mulai tahun 2015, CV. Sumber Sari mengalami regenerasi dimana

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

62

Bapak Suwidi menyerahkan CV. Sumber Sari untuk dikelola oleh anaknya

sendiri, yaitu Bapak Kirap Panji Harmoko. CV. Sumber Sari di bawah manajerial

Bapak Panji telah mampu melakukan ekspor serat sabut kelapa hingga ke China

dan Jepang. Visi dan misi yang diciptakan oleh CV. Sumber Sari untuk selalu

memajukan usahanya adalah sebagai berikut.

A. Visi

Perusahaan akan selalu memprioritaskan aktivitas bisnis yang terpadu dan

terprogram untuk memberikan hasil optimal dan kepuasan pelanggan dengan

menjalin hubungan yang baik.

B. Misi

1. Berperan aktif menjalankan roda bisnis dengan mendukung program

pemerintah untuk meningkatkan perekonomian bangsa.

2. Berperan serta di dalam meningkatkan lapangan pekerjaan dan turut serta

membangun budaya kerja yang berkualitas dan profesional.

3. Mempersiapkan segala macam kebutuhan standar perusahaan dan ikut

menjaga kestabilan perekonomian akibat pasar bebas (free trade).

CV. Sumber Sari dapat dikatakan sebagai satu-satunya pabrik pengolahan

sabut kelapa yang secara konsisten mengolah cocofiber dan cocopeat di

Kabupaten Jember. Kapasitas produksi cocofiber yang dapat dihasilkan CV.

Sumber Sari adalah mencapai 3-4 ton setiap hari dengan jam kerja 8 jam. Akan

tetapi proses produksi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan sabut kelapa

dari pemasok kelapa. Aset yang dimiliki CV. Sumber Sari dalam menjalankan

usahanya meliputi, tanah dan bangunan, mesin, serta alat pendukung. Aset-aset

tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Tanah dan Bangunan

CV. Sumber Sari memiliki luas tanah seluas 8000 m2. Tanah tersebut

merupakan tanah milik sendiri. Pembagian yang dilakukan pada tanah 8.000m2

tersebut terdiri atas tanah untuk gedung kantor, tanah untuk bangunan produksi,

tanah untuk bangunan ayak dan press, serta tanah untuk lantai jemur. Tanah untuk

bangunan sendiri memiliki luas kurang lebih 3.000 m2, sedangkan tanah untuk

lantai jemur memiliki luas kurang lebih 5.000 m2.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

63

2. Mesin dan Peralatan Pendukung

Mesin dan peralatan pendukung yang digunakan di CV. Sumber Sari

merupakan mesin-mesin yang selalu mengalami perbaikan dan pembaruan untuk

mendukung proses produksi agar terus dapat memenuhi permintaan

konsumennya. Mesin-mesin yang digunakan di CV. Sumber Sari ini meliputi

mesin pengurai, mesin penyaring, serta mesin press. Fungsi mesin dan peralatan

pendukung tersebut adalah sebagai berikut.

a. Mesin pengurai sabut kelapa berfungsi untuk mengurai sabut kelapa menjadi

serat-serat panjang. Penguraian ini dilakukan agar serat yang terdapat pada

sabut kelapa dapat terlepas dari pengikatnya, yaitu cocopeat.

b. Mesin penyaring (ayakan) sabut kelapa berfungsi untuk menyaring hasil

uraian sabut kelapa agar terpisah dengan sempurna dari pengikatnya.

c. Mesin press berfungsi untuk mengepress atau mencetak serat sabut kelapa

(cocofiber) menjadi bentuk ball atau kotak. Pengepressan dalam hal ini

dilakukan mengingat volume serat sabut kelapa (cocofiber) jauh lebih besar

dari beratnya.

d. Peralatan pendukung yang digunakan di CV. Sumber Sari antara lain adalah

timbangan untuk mengukur berat cocofiber dalam bentuk ball/kotak, tester

kadar air untuk mengukur kadar air cocofiber, sekop untuk proses

penjemuran cocofiber, serta tali untuk mengikat cocofiber per ball.

4.3 Struktur Organisasi CV. Sumber Sari

CV. Sumber Sari dalam melaksanakan produksinya sehari-hari dibantu oleh

tenaga kerja yang bekerja setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00

WIB. Tenaga kerja dalam hal ini menjadi aset penting pada CV. Sumber Sari

karena meskipun bahan baku yang digunakan telah sesuai dan peralatan yang

digunakan telah memadai, apabila tenaga kerja tidak sesuai dalam hal jumlah

maupun kualifikasi, maka perusahaan tidak akan mampu menghasilkan produk

yang diinginkan oleh konsumen. Adapun struktur organisasi pada CV. Sumber

Sari dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

64

Gambar 4.1 Struktur Organisasi CV. Sumber Sari

Berdasarkan struktur organisasi pada gambar 4.1 di atas, dapat diketahui

bahwa CV. Sumber Sari dipimpin oleh seorang direktur utama yang bernama

Bapak Kirap Panji Harmoko yaitu anak dari pemilik pabrik pengolahan CV.

Sumber Sari sebelumnya. Direktur utama ini kemudian membawahi satu divisi

yaitu direktur operasional, dimana direktur operasional ini dipegang oleh Bapak

Mahmudi. Direktur operasional ini kemudian membawahi 3 divisi lagi yang

terdiri dari penanggung jawab produksi dan quality control, penanggung jawab

penjemuran dan pengepressan, serta para tenaga kerja. Tugas dan tanggung jawab

masing-masing divisi pada struktur organisasi di atas dijelaskan sebagai berikut.

1. Direktur

a. Memimpin dan mengelola perusahaan, serta berwenang dalam pengambilan

keputusan dalam perusahaan.

b. Menetapkan prosedur kegiatan perusahaan untuk mencapai sasaran yang

ditetapkan perusahaan.

c. Mengawasi dan mengkoordinir kegiatan-kegiatan secara periodik dan

pertanggungjawabannya.

d. Mengadakan perekrutan, mutasi dan pemberhentian pekerja, serta menentukan

upah dari masing-masing pekerja.

e. Menetapkan kebijakan operasional perusahaan untuk jangka pendek maupun

jangka panjang.

Direktur

Direktur Operasional

Penanggung Jawab

Penjemuran dan

Pengepressan

Penanggung Jawab

Produksi dan Quality

Control

Tenaga Kerja

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

65

2. Direktur Operasional

a. Mengumpulkan data dari hasil produksi yang telah dicapai dan memroses data

tersebut.

b. Menghitung efektivitas kerja mesin.

c. Menghitung etos kerja sumber daya manusia.

d. Menghitung konversi bahan baku terhadap hasil produksi dan serap (sampah).

e. Mengontrol proses produksi serta menyesuaikan dengan data yang telah

tertulis.

f. Membuat laporan harian, laporan bulanan, laporan akhir tahun serta melakukan

evaluasi hasil produksi.

g. Menyusun jadwal (shift) kerja operator produksi.

h. Menjadwalkan kebutuhan bahan baku.

i. Mengarsipkan data.

3. Penanggung Jawab Produksi dan Quality Control

a. Membuat jadwal dan rencana kerja.

b. Menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja.

c. Memantau dan menganalisis produk yang dihasilkan.

d. Mengawasi proses dalam pembuatan produk dan memastikan barang yang

diproduksi memiliki kualitas sesuai standar yang ditetapkan perusahaan.

e. Memantau perkembangan setiap hasil produksi.

4. Penanggung Jawab Penjemuran dan Pengepressan

a. Mengatur jadwal kegiatan penjemuran produk cocofiber.

b. Menyiapkan dan mengatur pembagian tugas para pekerja, serta mengawasi

kegiatan para pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya.

c. Mengukur dan menghitung hasil kerja yang dilakukan, serta melaporkan hasil

kegiatan pelaksanaan pekerjaan.

d. Membayar upah para tenaga kerja.

5. Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja di CV. Sumber Sari secara keseluruhan adalah sebanyak

56 orang, dimana sebanyak 32 orang bekerja dibagian penjemuran serat sabut

kelapa yang telah diurai. Kemudian sebanyak 4 orang bekerja sebagai joki sabut

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

66

kelapa yaitu menaikkan maupun menurunkan sabut kelapa dan 11 orang bekerja

pada bagian produksi. Sebanyak 4 orang bekerja sebagai supir untuk mengambil

sabut kelapa dari pemasok kelapa, 3 orang bekerja untuk mengepress cocofiber

menjadi bentuk ball/kotak, dan 2 orang bekerja pada bagian administrasi untuk

mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi.

4.4 Sistem Kegiatan di CV. Sumber Sari

Aktivitas-aktivitas yang dilakukan di pabrik pengolahan sabut kelapa CV.

Sumber Sari meliputi aktivitas pengadaan bahan baku sabut kelapa, aktivitas

pengolahan sabut kelapa menjadi cocofiber, serta aktivitas pengiriman produk

kepada konsumen.

1. Pengadaan Bahan Baku Sabut Kelapa

Bahan baku yang digunakan oleh CV. Sumber Sari untuk membuat

cocofiber adalah sabut kelapa. Sistem pengadaan bahan baku sabut kelapa yang

dilakukan yaitu setiap para pemasok kelapa selesai mengupas kelapa dan sabut

kelapa yang telah dikumpulkan telah mencapai kurang lebih 1 pick up/1 truk, para

pemasok tersebut dapat menjualnya ke CV. Sumber Sari. Pengiriman yang

dilakukan adalah dengan menggunakan truk dari CV. Sumber Sari, dimana para

pemasok akan memberitahukan kuantitas bahan baku yang tersedia dan siap

dikirim, kemudian CV. Sumber Sari akan mengirimkan pekerja dan alat

transportasinya untuk mengambil bahan baku sabut kelapa tersebut. Tak jarang

pula terdapat pemasok yang secara sukarela mengirimkan sabut kelapa

menggunakan pick up miliknya sendiri. Sabut kelapa yang hanya diterima oleh

CV. Sumber Sari adalah sabut kelapa dari kelapa tua dan sabut kelapa tersebut

tidak basah dan tidak busuk.

2. Pengolahan Sabut Kelapa Menjadi Cocofiber

Proses pengolahan sabut kelapa di CV. Sumber Sari dilakukan setiap hari

dan menyesuaikan dengan bahan baku yang tersedia. Umumnya dalam sehari,

CV. Sumber Sari mampu memproduksi 10 truk sabut kelapa untuk dijadikan

cocofiber sebanyak kurang lebih 35 ball dengan masing-masing ball-nya memiliki

berat kurang lebih 87,5 kg. Proses pengolahan ini dilakukan oleh 56 tenaga kerja

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

67

yang berasal dari lingkungan sekitar CV. Sumber Sari. Kegiatan pengolahan yang

dilakukan terdiri dari tahap penguraian, penjemuran, pengayakan, dan

pengepressan. Berikut gambar proses produksi cocofiber di CV. Sumber Sari.

Gambar 4.2 Proses Produksi Cocofiber di CV. Sumber Sari

Berdasarkan gambar 4.2 dapat diketahui bahwa proses produksi cocofiber

di CV. Sumber Sari meliputi empat tahapan. Tahap awal yang dilakukan adalah

tahap penguraian, dimana tahap ini dilakukan untuk memisahkan sabut kelapa

(cocofiber) dengan serbuknya (cocopeat). Sabut kelapa dimasukkan ke dalam

mesin penggiling untuk dilakukan penguraian. Tahap penguraian dalam proses ini

dibagi menjadi dua tahap. Tahap penguraian pertama oleh mesin pengurai A dan

tahap penguraian kedua oleh mesin pengurai B. Tahap penguraian pertama

dilakukan untuk mengurai sabut kelapa menjadi cocofiber dan serbuk sabut

(cocopeat), sedangkan penguraian kedua dilakukan untuk menghaluskan

cocofiber agar lebih halus dibandingkan dengan penguraian pada tahap pertama.

Setelah dilakukan penguraian, tahap kedua dalam proses pengolahan sabut

kelapa di CV. Sumber Sari adalah tahap penjemuran. Proses penjemuran dalam

hal ini dilakukan dengan tujuan agar produk cocofiber yang tadinya masih sedikit

basah, dapat menjadi produk cocofiber dengan kekeringan mencapai 12% sampai

19% sesuai permintaan konsumen. Penjemuran cocofiber dilakukan pada tanah

yang luas dan lapang dengan beralaskan terpal untuk menjaga agar cocofiber tidak

basah karena tanah yang lembab. Proses penjemuran ini membutuhkan perhatian

yang lebih baik dari tenaga kerja penjemuran maupun dari penanggung jawab

penjemuran sendiri. Hal ini dikarenakan kualitas produk cocofiber ditentukan dari

proses penjemuran, di samping dari kebersihan cocofiber itu sendiri.

Penguraian

Penjemuran

Pengayakan

Pengepressan

Kadar kekeringan

Cocofiber 12-19%

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

68

Tahap selanjutnya setelah proses penjemuran adalah proses pengayakan.

Proses pengayakan dalam hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memisahkan

serta membersihkan serat sabut kelapa dari berbagai macam kotoran, sehingga

serat sabut (cocofiber) akan lebih bersih serta layak untuk diekspor. Produk

cocofiber yang telah dijemur kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk diayak.

Proses pengayakan ini digerakkan oleh mesin, sehingga tenaga kerja hanya perlu

menunggu sampai cocofiber selesai diayak untuk kemudian dilakukan

pengepressan.

Tahap terakhir dalam proses produksi di CV. Sumber Sari adalah proses

pengepressan. Proses pengepressan ini dilakukan menggunakan mesin pompa

hidrolis dan bertujuan untuk membuat produk cocofiber yang sudah diurai dan

diayak menjadi bentuk ball/kotak. Proses pengepressan dilakukan dengan cara

mengisi mesin press dengan produk cocofiber sedikit demi sedikit hingga

mencapai berat kurang lebih 87,5 kg per ball. Dalam waktu satu jam, CV. Sumber

Sari dapat mengepress hingga mencapai 6 ball cocofiber. Setelah pengepressan

dilakukan, tenaga kerja akan mengikat masing-masing ball cocofiber

menggunakan tali dengan warna yang berbeda untuk membedakan cocofiber yang

dikirimkan ke China dan Jepang.

3. Pengiriman Produk ke Konsumen

CV. Sumber Sari pada dasarnya merupakan perusahaan pengolah sabut

kelapa yang menjual produk utamanya yaitu cocofiber menuju ke China dan

Jepang. Konsumen dari China maupun Jepang sendiri telah melakukan kerjasama

dengan CV. Sumber Sari sebelumnya, sehingga CV. Sumber Sari tidak menjual

produknya secara bebas kepada konsumen lainnya. Pengiriman produk cocofiber

ke China dan Jepang meliputi beberapa metode sesuai dengan kesepakatan antara

CV. Sumber Sari dengan pihak konsumen. Umumnya, metode yang sering

digunakan adalah pihak konsumen yang menanggung semua hal yang

berhubungan dengan pengiriman. Artinya pihak konsumen menyiapkan truk

kontainer dan menjadwalkan keberangkatkan kapal untuk CV. Sumber Sari,

sedangkan CV. Sumber Sari hanya memastikan produk cocofiber yang akan

dikirim telah siap sebelum jadwal keberangkatan kapal telah tiba.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

112

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Aliran rantai pasokan produk cocofiber di CV. Sumber Sari meliputi tiga aliran

yaitu aliran produk, aliran informasi, dan aliran keuangan. Pelaku rantai

pasokan yang terlibat meliputi petani, tengkulak, pedagang pengumpul, CV.

Sumber Sari, dan konsumen.

a. Aliran produk mengalir dari petani sampai ke konsumen. Produk yang

mengalir dari petani ke tengkulak hingga ke pedagang pengumpul adalah

buah kelapa tua utuh, produk yang mengalir dari pedagang pengumpul ke

CV. Sumber Sari adalah sabut kelapa, dan produk yang mengalir dari CV.

Sumber Sari ke konsumen adalah cocofiber.

b. Aliran informasi yang mengalir meliputi dua aliran yaitu aliran vertikal dan

aliran horizontal. Aliran informasi vertikal mengalir antar petani dan

tengkulak, petani dan pedagang pengumpul, tengkulak dan pedagang

pengumpul, tengkulak dan CV. Sumber Sari, pedagang pengumpul dan

CV. Sumber Sari, serta CV. Sumber Sari dengan konsumen. Aliran yang

mengalir meliputi waktu pemanenan buah kelapa, kuantitas buah kelapa,

harga buah kelapa, ketersediaan sabut kelapa, harga sabut kelapa,

pengiriman sabut kelapa, kualitas dan kuantitas cocofiber, informasi

pengiriman cocofiber, serta kesepakatan jual-beli antar masing-masing

pelaku rantai pasokan. Aliran horizontal mengalir antar tengkulak dan antar

pedagang pengumpul yaitu mengenai harga buah kelapa.

c. Aliran keuangan yang mengalir berupa pembayaran yang dilakukan pada

masing-masing pelaku rantai pasokan. Terdapat 4 macam sistem

pembayaran yang dilakukan yaitu pembayaran yang ditunda, pembayaran

secara langsung/tunai, pembayaran uang muka terlebih dahulu kemudian

sisanya dilakukan saat selesai pengiriman, dan pembayaran secara deposito.

2. Berdasarkan perhitungan kinerja rantai pasokan yang telah dilakukan, dapat

diketahui bahwa nilai pada atribut kinerja reliability dan responsiveness

menunjukkan baik karena masing-masing indikator pada atribut kinerja

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

113

tersebut memiliki nilai baik, sedangkan pada atribut kinerja agility, costs, dan

assets masih menunjukkan nilai yang belum baik. Hal ini dikarenakan pada

masing-masing atribut kinerja tersebut, masih terdapat indikator-indikator yang

belum memiliki nilai yang baik, sehingga kinerja rantai pasokannya belum

baik. Atribut kinerja agility memiliki nilai yang belum baik karena indikator

nilai risiko keseluruhan masih memiliki nilai yang tinggi, yaitu pada proses

produksi dan pengadaan bahan baku. Atribut kinerja costs memiliki nilai yang

belum baik karena terdapat biaya yang tinggi dalam penyampaian material atau

bahan baku. Atribut kinerja assets memiliki nilai belum baik karena indikator

pengembalian modal kerja masih berada pada posisi yang tidak aman, sehingga

perusahaan dianggap belum mampu mengelola modalnya dengan baik.

6.2 Saran

1. Untuk menjamin kontinyuitas produk, CV. Sumber Sari sebaiknya menambah

jumlah supplier bahan baku sabut kelapanya agar produksi cocofiber dapat

berjalan dengan lancar. Adanya strategi banyak pemasok ini diharapkan dapat

membuat pemasok saling bersaing dan mempertanggungjawabkan

kewajibannya masing-masing. Di samping itu perlu adanya perhatian khusus

dari pemerintah terhadap pengembangan komoditas kelapa sehingga potensi

kelapa dan industri pengolahan kelapa khususnya di wilayah daerah dapat

dimaksimalkan.

2. Usulan perbaikan untuk meningkatkan kinerja manajemen rantai pasokan di

CV. Sumber Sari adalah:

a. Ketangkasan (Agility)

Perlu adanya penyesuaian kembali tata letak dalam proses produksi produk

cocofiber sehingga produksi yang dilakukan berjalan lancar. Di samping itu

perlu adanya perbaikan dan/atau pembaruan mesin produksi sebagai upaya

untuk meningkatkan produksi cocofiber di CV. Sumber Sari.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

114

b. Biaya (Costs)

CV. Sumber Sari perlu menambah kendaraan pengangkut material (bahan

baku) yang lebih besar sehingga diharapkan kegiatan pengadaan baku lebih

efisien.

c. Manajemen Aset (Assets)

CV Sumber Sari perlu memproduksi cocofiber untuk persediaan sebagai

upaya untuk memaksimalkan keuntungan. Di samping itu juga perlu

adanya perencanaan manajemen keuangan dalam mengelola sumber-

sumber dana yang terdapat di CV Sumber Sari sehingga modal yang

dimiliki dapat dikelola dengan baik.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

115

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, F. R. 2015. Diversifikasi Produk Buah Kelapa (Cocos Nucifera L).

http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/ind/pdf/divkelapa.pdf. [Diakses pada

diakses pada 13 Agustus 2018].

Anatan, L. dan L. Ellitan. 2008. Supply Chain Management: Teori dan Aplikasi.

Bandung: Alfabeta.

Anatan, L. dan L. Ellitan. 2018. Supply Chain Management: Perencanaan,

Proses, dan Kemitraan. Bandung: Alfabeta.

Anis, C.S., Agnes L.H., dan Grace A.J.R. 2017. Analisis Pengelolaan Rantai

Pasok Tepung Kelapa Pada PT. XYZ Di Sulawesi Utara. Agri-

SosioEkonomiUnsrat (ISSN: 1907-4298). 13(1): 81-88.

Arif, M. 2018. Supply Chain Management. Yogyakarta: Deepublish.

Asrol, M. 2015. Pengukuran dan Peningkatan Kinerja Rantai Pasok Agroindustri

Gula Tebu (Studi Kasus Di PT A). Skripsi. Bogor: Departemen Teknologi

Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Awantara, I. G. P. D. 2014. Sistem Manajemen Lingkungan: Perspektif

Agrokompleks. Yogyakarta: Deepublish.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prosepek dan Arah

Pengembangan Agribisnis Kelapa Edisi Kedua. Jakarta: Badan Litbang

Pertanian.

Badan Pusat Statistik. 2011. Perusahaan Industri Pengolahan.

Http://Www.Bps.Go.Id/Subjek/View/Id/9. [Diakses pada 13 Agustus 2018].

Badan Pusat Statistik. 2018. Produksi Perkebunan Kelapa Menurut

Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun 2006-2017.

https://jatim.bps.go.id/statictable/2018/11/12/1388/produksi-perkebunan-

kelapa-menurut-kabupaten-kota-di-jawa-timur-ton-2006-2017.html.

[Diakses pada 14 Juni 2019].

Barri, N.L., Lay A., Meldy L.A.H., Arie A.L., Jeanette K., Yulianus R.M., dan

Engelbert M. 2015. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Kelapa Dalam.

Manado: Balai Penelitian Tanaman Palma.

Dhanu. 2011. Coir Fibre Spesifications. http://www.coirexports-

india.com/products/Product-Specification. [Diakses pada 2 Desember

2019].

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

116

Dharma, P.A.W., A.A.N.G Suwastika, dan N.W.S Sutari. 2018. Kajian

Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Menjadi Larutan Mikroorganisme

Lokal. Agroekoteknologi Tropika (ISSN: 2301-6515). 7(2): 200-210.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2016. Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas

Kelapa 2015-2017. Jakarta: Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan.

Duwimustaroh, S., R. Astuti, dan E. R. Lestari. 2016. Analisis Kinerja Rantai

Pasok Kacang Mete (Anacardium occidentale Linn) dengan Metode Data

Envelopment Analysis (DEA) di PT Supa Surya Niaga, Gedangan, Sidoarjo.

Teknologi dan Manajemen Agroindustri. 5(3): 169-180.

Dwi, Y.M. 2017. Optimalisasi Bahan Baku Kelapa. Jakarta: Warta Ekspor.

September 2017. Halaman 8.

Dwiastuti, R. 2017. Metode Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian: Dilengkapi

Pengenalan Berbagai Perspektif Pendekatan Metode Penelitian. Malang:

UB Press.

Emhar, A., J.M.M Aji, dan T. Agustina. 2014. Analisis Rantai Pasokan (Supply

Chain) Daging Sapi di Kabupaten Jember. Berkala Ilmiah Pertanian. 1(3):

53-61.

Eriyanto. 2007. Teknik Sampling Analisis Opini Publik. Yogyakarta: LKIS

Printing Cemerlang.

Hadi, P. U., Sri H. S., Muchjidin R., Dewa K. S. S., Reny K., dan Sri N. 2011.

Outlook Pertanian 2010-2025. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Hamdi, A.S. 2014. Metode Penelitian Kuatitatif Aplikasi dalam Pendidikan.

Yogyakarta: Deepublish.

Hartono, B. 2012. Ekonomi Bisnis dan Peternakan. Malang: UB Press.

Hermawan, A. 2005. Penelitian Bisnis: Paradigma Kuantitatif. Jakarta: Grasindo.

Hery. 2015. Analisis Kinerja Manajemen. Jakarta: Grasindo.

ILO. 2014. Kajian Kelapa dengan Pendekatan Rantai Nilai dan Iklim Usaha di

Kabupaten Sarmi. http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/@asia/@ro-

bangkok/@ilo-jakarta/documents/publication/wcms_342734.pdf. [Diakses

pada 29 Oktober 2018].

Ibrahim, A. 2011. Pengembangan Sistem pakar Identifikasi Hama dan penyakit

Tanaman Kelapa. Generic. 5(2): 2087-9814.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

117

Ishak, A.A.A. 2019. Pengukuran Capaian Kinerja Supply Chain: Studi Kasus pada

PT Eastern Pearl Flour Mills Makassar. Journal of Applied Accounting and

Taxation. 4(2): 184-202.

Isnia, M., Yuli H., dan Ati K. 2017. Analisis Manajemen Rantai Pasok Susu Sapi

Perah pada Koperasi Peternak Galur Murni di Kecamatan Sumberbaru

Kabupaten Jember. JSEP. 10(1): 65-77.

Kemala, N. 2015. Kajian Pendapatan dan Kontribusi Usahatani Kelapa (Cocos

Nucifera) terhadap Pendapatan Keluarga Petanidi Kabupaten Tanjung

Jabung Barat, Provinsi Jambi. Universitas Batanghari Jambi. 15(3): 125-

132.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015. Rencana Strategis Kementerian

Pertanian 2015-2019. Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Lay, A. dan Patrik M.P. 2017. Pengolahan Serat Sabut Kelapa.

http://balitka.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2017/03/12-

pengolahan-serat-sabut.pdf. [Diakses pada 25 November 2018].

Mahmud, Z dan Y. Ferry. 2005. Prospek Pengolahan Hasil Samping Buah Kelapa.

http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/dbasebun/asset_dbasebun/Penerbit

an-20160906095930.pdf. [Diakses pada 29 November 2019].

Marimin dan N. Maghfiroh. 2010. Aplikasi Teknik Pengambilan Keputusan dalam

Manajemen Rantai Pasok. Bogor: IPB Press.

Nara, N. 2012. 500 Pabrik Sabut Kelapa Siap Didirikan.

https://ekonomi.kompas.com/read/2012/09/13/23065581/500.Pabrik.Sabut.

Kelapa.Segera.Didirikan. [Diakses pada 14 Juni 2019].

Nugroho, T.W dan I.I. Pariasa. 2017. Pengukuran Kinerja Manajemen Rantai

Pasok Kopi Amstirdam di Kabupaten Malang dengan Pendekatan SCOR

(Supply Chain Operation Reference). Prosiding Seminar Nasional

Pembangunan Pertanian II. 2017. 160.

Poespodihardjo, A. S. W. 2010. Beyond Borders: Communication Modernity and

History. Jakarta: STIKOM The London School of Public Relations.

Pujawan I. N. dan Mahendrawathi. 2010. Supply Chain Management Edisi Kedua.

Surabaya: Guna Widya.

Purba, F. S., Novia D., dan Evy M. 2018. Analisis Rantai Pasokan Tandan Buah

Segar Kelapa Sawit di PTPN V Sei Pagar Kabupaten Kampar. Jurnal UR.

5(1): 1-7.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

118

Rukmana, R. 2003. Aneka Olahan Kelapa. Jogjakarta: Kanisius.

Sembiring, S. 2018. Analisis Kinerja Manajemen Rantai Pasok Pupuk Organik di

CV. DIL Blitar. Skripsi. Malang: Fakultas pertanian Universitas Brawijaya.

Sepriyanto. 2018. Alat Pengurai Sabut Kelapa dengan Blade Portable untuk

Menghasilkan Cocofiber dan Cocopeat. Civronlit Universitas Batanghari.

3(1): 46-54.

Setyamidjaja, D. 2008. Bertanam Kelapa. Yogyakarta: Kanisius.

Setyarini, L. 2015. Perencanaan Bisnis Cocopeat Balok dengan Pendekatan

Wirakoperasi di Kabupaten Bogor. Skripsi. Bogor: Departemen Agribisnis

Institut Pertanian Bogor.

Siahaya, W. 2015. Sukses Supply Chain Management: Akses Demand Chain

Management. Bogor: In Media.

Soetriono. 2015. Daya Saing Agribisnis: Kopi Robusta. Malang: Surya Pena

Gemilang.

Sugiarto, E. 2015. Menyusun Proposal Penelitian Kualitatif: Skripsi dan Tesis.

Yogyakarta: Suaka Media.

Sugiono, A. 2009. Manajemen Keuangan untuk Praktisi Keuangan. Jakarta:

Grasindo.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Supply Chain Council. 2012. SCOR (Supply Chain Operators References Model

Revision 11.0. United States of Amerika: Supply Chain Council.

Swarjana, I. K. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: CV. Andi

Offset.

Tariang, E. S., A. Esthephina S., dan J. Ruth Mandei. 2018. Deskripsi Rantai

Pasok Mebel Berbahan Baku Kayu Kelapa (Studi Kasus di BLPT GMIM

Kaaten Kota Tomohon. Agri-Sosioekonomi Unsrat. 14(3): 247-256.

Udayana, I. G. B. U. 2011. Peran Agroindustri dalam Pembangunan Pertanian.

Bali: Singhadwala edisi 44. Februari 2011. Halaman 3.

Warisno. 2003. Budidaya Kelapa Genjah. Yogyakarta: Kanisisus.

Winarno. 2014. Kelapa Pohon Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

119

LAMPIRAN

Lampiran 1. Data Responden

Lampiran 1A. Data Petani Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari

No. Nama Alamat

Jumlah

Tanaman

Kelapa

(Pohon)

Produksi

Kelapa Per

Bulan

(Butir)

Tujuan Penjualan Hasil Panen

Harga Jual

Kelapa Lembaga Nama Pemilik

Lembaga

1. P. Iqbal Suren ± 50 300-400 Pedagang Pengumpul P. Yuli Rp 4.000

2. P. Misbah Suren ± 30 190-210 Pedagang Pengumpul P. Yuli Rp 4.000 3. H. Mat Lembengan ± 50 300-400 Pedagang Pengumpul P. Yuli Rp 4.000 4. H. Abdurrohim Sumber Lesung ± 130 600-750 Tengkulak P. Kur Rp 3.500 5. H. Faisol Sumber Lesung ± 180 700-1.000 Tengkulak P. Kur Rp 3.500 6. P. Sri Sumber Jati ± 80 400 Tengkulak P. Dar Rp 3.000 7. H. Lutfi Klonceng ± 90 350-500 Tengkulak P. Kur Rp 3.500 8. P. Adzim Sumber Jati ± 20 100 Pedagang Pengumpul P. Buhari Rp 3.500 9. H. Nur Kajar ± 50 500-700 Pedagang Pengumpul P. Buhari Rp 3.500 10. H. Samsul Sempolan ± 50 200-250 Tengkulak P. Yudi Rp 3.500 11. H. Fikri Lembengan ± 100 700 Tengkulak P. Nita Rp 3.500 12. H. Gozali Lembengan ± 40 250-350 Tengkulak P. Nita Rp 3.500 13. P. Angga Plalangan ± 80 600-700 Tengkulak P. Nasrul Rp 3.500 14. P. Saiful Sumber Kejayan ± 150 500 Pedagang Pengumpul P. Jadi Rp 4.000 15. H. Marzuki Sumber Kejayan ± 50 300 Pedagang Pengumpul P. Jadi Rp 4.000 16. P. Haris Sempolan ± 500 1.500-2.000 Tengkulak P. Nasrul Rp 3.500

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

120

Lampiran 1B. Data Tengkulak Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari

No. Nama Alamat Produk yang dijual

Tujuan Penjualan

Harga Jual Lembaga

Nama

Pemilik

Lembaga

1. P. Dar Sumber Jati Buah Kelapa Pedagang Pengumpul P. Ta’in Rp 4.000

2. P. Nita Sempolan Buah Kelapa Pedagang Pengumpul P. Khorin Rp 4.000

3. P. Nasrul Lembengan Buah Kelapa Pedagang Pengumpul P. Buhari Rp 4.000

4. P. Kur Sumber Lesung Buah Kelapa, Kelapa Kupas,

dan Sabut Kelapa

Pedagang Pengumpul

dan CV. Sumber Sari

P. Yuli dan

P. Panji

Rp 4.500 &

Rp 150.000/truk

5. P. Yudi Silo Buah Kelapa Pedagang Pengumpul P. Jadi Rp 4.500

Lampiran 1C. Data Pedagang Pengumpul Kelapa dalam Rantai Pasokan Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari

No. Nama Alamat Produk yang dijual Tujuan Penjualan Harga Jual Sabut Kelapa

1. P. Yuli Lembengan Kelapa Kupas dan Sabut

Kelapa

Pasar dan CV. Sumber Sari Rp 150.000/ truk

2. P. Buhari Sempolan Kelapa Kupas dan Sabut

Kelapa

Pasar dan CV. Sumber Sari Rp 150.000/ truk

3. P. Khorin Jumedak Kelapa Kupas dan Sabut

Kelapa

Pasar dan CV. Sumber Sari Rp 90.000/ pick up

4. P. Ta’in Sumber Jati Kelapa Kupas dan Sabut

Kelapa

Pasar dan CV. Sumber Sari Rp 90.000/ pick up

5. P. Jadi Kejayan Kelapa Kupas dan Sabut

Kelapa

Pasar dan CV. Sumber Sari Rp 150.000/ truk

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

121

Lampiran 2. Perhitungan Indikator Kinerja Rantai Pasokan Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari dengan Metode SCOR

Lampiran 2A. Perhitungan Indikator Pemenuhan Pesanan Sempurna pada Atribut Kinerja Reliability Indikator Perhitungan Pemenuhan Pesanan Sempurna

Pemenuhan

Pesanan

Sempurna (%)

Pemenuhan Kuantitas

Pesanan

Pemenuhan Waktu

Pesanan Akurasi Dokumen Kesempurnaan Barang

Pesanan

Sempurna

Pesanan

Keseluruhan

Kesepakatan

Pesanan

Pesanan

Diterima

Pesanan dengan

Dokumen Tepat

Total

Pesanan

Pesanan yang dikirim

dengan kondisi

sempurna

Total

Pesanan

454.857 kg 454.857 kg 454.857 kg 404.317,5 kg 454.857 kg 454.857 kg 454.857 kg 454.857 kg 97,2 %

1) Pemenuhan Kuantitas Pesanan

(Jumlah Pemesanan yang Sempurna / Total Pesanan) x 100%

= (454.857 / 454.857) x 100%

= 100%

2) Pemenuhan Waktu Pesanan

(Jumlah Barang yang dikirim Tepat Waktu / Total Pesanan) x 100%

= (404.317,5 / 454.857) x 100%

= 88,9%

3) Akurasi Dokumen

(Jumlah Barang yang Dikirim dengan Dokumen yang Tepat / Total Pesanan) x 100%

= (454.857 / 454.857) x 100%

= 100%

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

122

4) Kesempurnaan Barang

(Jumlah Barang yang Dikirim dengan Kondisi Sempurna / Total Pesanan) x 100%

= (454.857 / 454.857) x 100%

= 100%

Presentase = (100% + 88,9% + 100% + 100%) / 4

= 97,2%

Lampiran 2B. Perhitungan Indikator Siklus Pemenuhan Pesanan pada Atribut Kinerja Responsiveness

Indikator Perhitungan Siklus Pemenuhan Pesanan (Hari) Jumlah

Source Make Deliver Deliver untuk Retail

5 2 3 0 10

Siklus Pemenuhan Pesanan = Rata-rata Siklus Waktu (Source + Make + Deliver + Deliver untuk Retail)

= (5 + 2 + 3 + 0)

= 10 Hari

Lampiran 2C. Perhitungan Indikator Nilai Risiko Keseluruhan pada Atribut Kinerja Agility

Indikator Perhitungan Nilai Risiko (%) Nilai Risiko

Keseluruhan (%) Plan Source Make Deliver Return

0 20 20 0 0 40

Nilai Risiko di CV. Sumber Sari = Nilai Risiko di (Plan + Source + Make + Deliver + Return)

= (0 + 20 + 20 + 0 + 0) % = 40%

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

123

Lampiran 2D. Perhitungan Indikator Biaya Total Penyampaian Produk pada Atribut Kinerja Costs Indikator (Rp)

Jumlah Penyampaian Material Produksi Manajemen Pesanan Pemenuhan Pesanan

Rp 341.550.000 Rp 669.885.500 Rp 27.000.000 Rp 49.266.000 Rp 1.087.701.500

1) Biaya Penyampaian Material di CV. Sumber Sari = Biaya Pembelian Bahan Baku + Biaya Transportasi

= (1.485 truk x Rp 150.000) + Rp 138.600.000

= Rp 222.750.000 + Rp 118.800.000

= Rp 341.550.000

2) Biaya produksi di CV. Sumber Sari = Biaya Tenaga Kerja + Biaya Perawatan Mesin + Biaya Listrik

= Rp 397.885.500 + Rp 20.000.000 + Rp 252.000.000

= Rp 669.885.500

3) Biaya Manajemen pesanan = Rp 27.000.000

4) Biaya Pemenuhan Pesanan = Biaya pembelian Tali + Biaya Tenaga Kerja

= Rp 18.000.000 + Rp 31.266.000

= Rp 49.266.000

Biaya Total Penyampaian Produk di CV. Sumber Sari = Rp 341.550.000 + Rp 669.885.500 + Rp 27.000.000 + Rp 49.266.000

= Rp 1.087.701.500

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

124

Lampiran 2E. Perhitungan Indikator Siklus Cash-to-Cash pada Atribut Kinerja Assets Indikator Perhitungan Siklus Cash-to-Cash (Hari)

Jumlah Jumlah Hari Suplai Persediaan

Jumlah Hari Penjualan Belum

Dibayar

Jumlah Hari Pengadaan Belum

Dibayar

10 1 1 10

Siklus Cash-to-Cash = Jumlah (Hari Suplai Persediaan + Hari Penjualan Belum Dibayar – Hari Pengadaan Belum Dibayar)

= 10 + 1 – 1

= 10 Hari

Lampiran 2F. Perhitungan Pengembalian Aset Tetap Rantai Pasokan pada Atribut Kinerja Assets

Indikator Perhitungan (Rp) Pengembalian

Aset Tetap Rantai Pasokan

(%) Penerimaan Rantai Pasokan Biaya Kegiatan Rantai Pasokan Aset Tetap Rantai Pasokan

Rp 1.478.285.250 Rp 1.087.701.500 Rp 1.191.100.000 30

Penerimaan Rantai Pasokan = Kuantitas Produk Cocofiber x Harga Jual Cocofiber

= 454.857 kg x Rp 3.250

= Rp 1.478.285.250

Pengembalian Aset Tetap = (Penerimaan Rantai Pasokan – Biaya Kegiatan Rantai Pasokan) / Aset Tetap Rantai Pasokan

= (Rp 1.478.285.250 – Rp 1.087.701.500) / Rp 1.191.100.000

= 0,3 atau 30%

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

125

Lampiran 2G. Perhitungan Pengembalian Modal Kerja pada Atribut Kinerja Assets Indikator Perhitungan (%)

Penerimaan Rantai

Pasokan

Biaya Kegiatan

Rantai Pasokan Persediaan Utang Piutang

Pengembalian

Modal Kerja

(%)

Rp 1.478.285.250 Rp 1.087.701.500 0 Rp 1.387.701.500 Rp 150.000.000 -30

Pengembalian Modal Kerja = (Penerimaan rantai pasokan – Biaya kegiatan rantai pasokan) / (Persediaan + Piutang – Hutang)

= (Rp 1.478.285.250 – Rp 1.087.701.500) / (0 + Rp 150.000.000 – Rp 1.387.701.500)

= -0,3 atau -30%

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

126

Lampiran 3. Kuesioner Penelitian

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

KUESIONER

JUDUL : Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan

Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember

LOKASI : Desa Lembengan Kabupaten Jember

PEWAWANCARA

Nama :

NIM :

Hari/Tanggal Wawancara :

IDENTITAS RESPONDEN

Nama :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Umur :

Jumlah Anggota Keluarga :

Pendidikan Petani :

Pendidikan Istri :

Pendidikan Anak :

Lama Kegiatan Usaha : tahun

Status Pekerjaan : Utama/Sampingan

Luas Areal Tanam Usahatani Kelapa :

Kepemilikan Lahan/Status : Milik/Sewa

Responden

( )

PETANI

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

127

GAMBARAN UMUM USAHATANI

a. Latar Belakang Usahatani

1. Apakah anda memiliki mitra usaha?

Jawab: .................................................................................................................

2. Apa yang mendorong anda untuk melakukan usahatani kelapa?

a. Keinginan sendiri

b. Usaha turun temurun

c. Lain-lain,

3. Tahun berapa memulai usaha budidaya kelapa?

Jawab : ................................................................................................................

4. Berapa besar modal yang digunakan untuk melakukan usahatani kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

5. Darimana anda mendapatkan modal tersebut?

a. Modal sendiri

b. Modal pinjaman

c. Lain-lain,

6. Apakah anda menggunakan tenaga kerja dalam keluarga atau keluarga untuk

menjalankan usahatani ini?

a. Ya b. Tidak

7. Jika menggunakan tenaga kerja, berapa jam kerja TK per hari?

Jawab: ................................................................................................................

8. Apa tujuan anda mengusahakan kelapa?

a. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga

b. Untuk memenuhi permintaan pasar

c. Lain-lain,

9. Apakah anda menghadapi permasalahan selama melakukan usahatani ini?

Jawab: ................................................................................................................

10. Bagaimana solusi anda dalam mengatasi permasalah tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

128

11. Apa saja yang anda lakukan untuk meningkatkan produksi dari tanaman

kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

12. Apakah usahatani anda pernah mengalami gangguan atau kerugian?

Jawab: ................................................................................................................

13. Bagaimana anda mengatasi gangguan atau kerugian tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

B. RANTAI PASOKAN

a. Aliran Produk

1. Bagaimana pengaturan siklus produksi kelapa yang dilakukan?

Jawab : ...............................................................................................................

2. Apa faktor yang menentukan siklus produksi kelapa anda?

a. ditentukan oleh pesanan dari mitra

b. ditentukan sendiri

c. Lain-lain,

3. Berapa produksi yang dihasilkan setiap harinya?

Jawab: ................................................................................................................

4. Setelah panen, kegiatan apa saja yang dilakukan?

Jawab : ...............................................................................................................

5. Kepada siapa anda menjual hasil kelapa yang telah dipanen?

a. Agroindustri

b. Pedagang

c. Konsumen

d. Lain-lain,

6. Mengapa anda menjual kepada pihak tersebut?

Jawab: .................................................................................................................

7. Apakah anda selalu menjual kelapa kepada jawaban nomor 5?

Jawab: ................................................................................................................

8. Bagaimana sistem penjualan kelapa yang dilakukan?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

129

9. Bagaimana ciri-ciri kelapa yang siap dijual?

Jawab: ................................................................................................................

10. Karakteristik grade produk yang dijual?

Jawab : ...............................................................................................................

11. Bentuk produk akhir yang dijual?

Jawab : ...............................................................................................................

12. Produk akhir dijual kemana saja?

Jawab : ...............................................................................................................

13. Bagaimana proses pemesanan yang dilakukan oleh pengolah atau mitra?

Jawab : ...............................................................................................................

14. Bagaimana proses pendistribusian produk?

Jawab : ...............................................................................................................

15. Berapa jarak yang harus anda tempuh untuk menjual kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

16. Bagaimana dukungan infrastruktur yang terdapat dalam lokasi usaha?

Jawab: ................................................................................................................

17. Apa saja kendala yang anda hadapi dalam melakukan pemasaran kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

18. Bagaimana anda mengatasi kendala pemasaran tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

19. Sasaran pasar kelapa yang Bapak/Ibu jual: (Pasar domestik?pasar ekspor?)

Jawab : ...............................................................................................................

20. Tujuan penjualan?

Jawab : ...............................................................................................................

b. Aliran Informasi

1. Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi?

Jawab : ................................................................................................................

2. Siapakah yang berperan dalam penciptaan grade produk?

Jawab : ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

130

3. Apakah anda mengetahui perkembangan harga kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

4. Darimana anda memperoleh informasi tentang perkembangan harga kelapa?

a. Pemerintah

b. Agroindustri

c. Sesama petani

d. Pedagang

e. Lain-lain,

5. Siapa yang berperan dalam penentuan harga?

Jawab : ................................................................................................................

6. Apakah anda menggunakan patokan harga pasar ketika menjual kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

7. Apakah informasi harga kelapa terbuka dari setiap pelaku rantai pasokan?

Jawab : ................................................................................................................

8. Apakah anda mengetahui informasi tentang permintaan kelapa di pasaran?

Jawab: ................................................................................................................

9. Apa saja teknologi yang digunakan untuk mendukung penyaluran informasi

usaha?

Jawab : ................................................................................................................

10. Informasi apa saja yang didistribusikan?

Jawab : ................................................................................................................

11. Bagaimana informasi tersebut mengalir?

Jawab: ................................................................................................................

12. Bagaimana cara anda untuk membangun kepercayaan dalam rantai pasokan?

Jawab : ................................................................................................................

c. Aliran Keuangan

1. Berapa harga jual kelapa yang diterapkan?

Jawab: ................................................................................................................

2. Bagaimana mekanisme penentuan harga kelapa yang dijual?

Jawab : ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

131

3. Hal apa yang mendasari penentuan harga tersebut?

Jawab : ................................................................................................................

4. Bagaimana mekanisme pembayaran pada pembelian kelapa yang dilakukan?

Jawab : ................................................................................................................

5. Bagaimana aliran finansial yang selama ini dilakukan?

a. Lancar

b. Kurang Lancar

c. Tidak Lancar

Alasan: .......................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

132

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

KUESIONER

JUDUL : Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan

Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember

LOKASI : Desa Lembengan Kabupaten Jember

PEWAWANCARA

Nama :

NIM :

Hari/Tanggal :

IDENTITAS RESPONDEN

Nama :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Umur :

Jumlah Keluarga :

Pendidikan :

Pendidikan Istri :

Pendidikan Anak :

Lama Kegiatan Usaha : tahun

Status Pekerjaan : Utama/sampingan

Responden

( )

PEDAGANG

PENGUMPUL

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

133

A. GAMBARAN UMUM USAHA

a. Latar Belakang Usaha

1. Apakah anda juga melakukan budidaya kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

2. Apakah anda memiliki mitra usaha?

Jawab: ................................................................................................................

3. Apakah terdapat kegiatan pengolahan terhadap hasil produksi komoditas

kelapa tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

4. Apa yang mendorong anda untuk melakukan usaha pengupasan kelapa?

a. Keinginan sendiri

b. Usaha turun temurun

c. Lain-lain,

5. Tahun berapa memulai usaha tersebut?

Jawab : ................................................................................................................

6. Berapa besar modal yang digunakan untuk melakukan usaha pengupasan

kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

7. Darimana anda mendapatkan modal tersebut?

a. Modal sendiri

b. Modal pinjaman

c. Lain-lain,

8. Bagaimana mekanisme pengelolaan modal tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

9. Teknologi apa saja yang anda gunakan dalam usaha ini?

Jawab: ................................................................................................................

10. Apakah anda menggunakan tenaga kerja dalam keluarga atau keluarga untuk

menjalankan usaha ini?

a. Ya b. Tidak

11. Jika menggunakan tenaga kerja, berapa jam kerja TK per hari?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

134

12. Apa tujuan anda mengusahakan sabut kelapa?

a. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga

b. Untuk memenuhi permintaan pasar

c. Lain-lain,

13. Apakah anda menghadapi permasalahan selama melakukan usaha ini?

Jawab: ................................................................................................................

14. Bagaimana solusi anda dalam mengatasi permasalahan tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

15. Apa saja yang anda lakukan untuk meningkatkan produksi dari sabut kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

16. Apakah usaha pengupasan kelapa anda pernah mengalami gangguan atau

kerugian?

Jawab: ................................................................................................................

17. Bagaimana anda mengatasi gangguan atau kerugian tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

B. RANTAI PASOKAN

a. Aliran Produk

1. Bagaimana pengaturan siklus produksi sabut kelapa yang dilakukan?

Jawab : ...............................................................................................................

2. Apa faktor yang menentukan siklus produksi sabut kelapa anda?

a. Ditentukan oleh pesanan dari mitra

b. Ditentukan sendiri

c. Lain-lain,

3. Berapa produksi yang dihasilkan setiap harinya?

Jawab: ................................................................................................................

4. Setelah panen, kegiatan apa saja yang dilakukan?

Jawab : ...............................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

135

5. Kepada siapa anda menjual hasil sabut kelapa yang telah dihasilkan?

a. Agroindustri

b. Pedagang

c. Konsumen

d. Lain-lain,

6. Mengapa anda menjual kepada pihak tersebut?

Jawab: .................................................................................................................

7. Apakah anda selalu menjual sabut kelapa kepada jawaban nomor 5?

Jawab: ................................................................................................................

8. Bagaimana sistem penjualan sabut kelapa yang dilakukan?

Jawab: ................................................................................................................

9. Bagaimana ciri-ciri sabut kelapa yang siap dijual?

Jawab: ................................................................................................................

10. Karakteristik grade produk yang dijual?

Jawab : ...............................................................................................................

11. Bentuk produk akhir yang dijual?

Jawab : ...............................................................................................................

12. Produk akhir dijual kemana saja?

Jawab : ...............................................................................................................

13. Bagaimana proses pemesanan yang dilakukan oleh pengolah atau mitra?

Jawab : ...............................................................................................................

14. Bagaimana proses pendistribusian produk?

Jawab : ...............................................................................................................

15. Berapa jarak yang harus anda tempuh untuk menjual kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

16. Bagaimana dukungan infrastruktur yang terdapat dalam lokasi usaha?

Jawab: ................................................................................................................

17. Apa saja kendala yang anda hadapi dalam melakukan pemasaran sabut kelapa

pada usaha anda?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

136

18. Bagaimana anda mengatasi kendala pemasaran tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

19. Sasaran pasar sabut kelapa yang Bapak/Ibu jual: (Pasar domestik?pasar

ekspor?)

Jawab : ...............................................................................................................

20. Tujuan penjualan?

Jawab : ...............................................................................................................

b. Aliran Informasi

1. Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi sabut kelapa

anda?

Jawab : ................................................................................................................

2. Siapakah yang berperan dalam penciptaan grade produk?

Jawab : ................................................................................................................

3. Apakah anda mengetahui perkembangan harga jual sabut kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

4. Darimana anda memperoleh informasi tentang perkembangan harga tersebut?

a. Pemerintah

b. Agroindustri

c. Sesama pengupas kelapa

d. Lain-lain,

5. Siapa yang berperan dalam penentuan harga?

Jawab : ................................................................................................................

6. Apakah anda menggunakan patokan harga pasar ketika menjual sabut kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

7. Apakah informasi harga sabut kelapa terbuka dari setiap pelaku rantai

pasokan?

Jawab : ................................................................................................................

8. Apakah anda mengetahui informasi tentang permintaan sabut kelapa di

pasaran?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

137

9. Apa saja teknologi yang digunakan untuk mendukung penyaluran informasi

usaha?

Jawab : ................................................................................................................

10. Informasi apa saja yang didistribusikan?

Jawab : ................................................................................................................

11. Bagaimana informasi tersebut mengalir?

Jawab: ................................................................................................................

12. Bagaimana cara anda untuk membangun kepercayaan dalam rantai pasokan?

Jawab : ................................................................................................................

c. Aliran Keuangan

1. Berapa harga jual sabut kelapa yang diterapkan?

Jawab: ................................................................................................................

2. Bagaimana mekanisme penentuan harga sabut kelapa yang dijual?

Jawab: ................................................................................................................

3. Hal apa yang mendasari penentuan harga tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

4. Bagaimana mekanisme pembayaran pada pembelian sabut kelapa yang

dilakukan?

Jawab: .................................................................................................................

5. Bagaimana aliran finansial yang selama ini dilakukan?

a. Lancar

b. Kurang Lancar

c. Tidak Lancar

Alasan: ...............................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

138

UNIVERSITAS JEMBER

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

KUESIONER

JUDUL : Manajemen Rantai Pasokan (Supply Chain Management)

Produk Cocofiber di CV. Sumber Sari Desa Lembengan

Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember

LOKASI : Desa Lembengan Kabupaten Jember

PEWAWANCARA

Nama :

NIM :

Hari/Tanggal :

IDENTITAS RESPONDEN

Nama :

Jenis Kelamin :

Alamat :

Umur :

Jumlah Keluarga :

Pendidikan :

Pendidikan Istri :

Pendidikan Anak :

Lama Kegiatan Usaha :

Status Pekerjaan : Utama/sampingan

Responden

( )

AGROINDUSTRI

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

139

A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

1. Sejak kapan agroindustri pengolahan sabut kelapa (CV. Sumber Sari) ini

didirikan?

Jawab: ................................................................................................................

2. Bagaimana latar belakang berdirinya CV. Sumber Sari?

Jawab : ................................................................................................................

3. Dimanakah letak agroindustri pengolahan sabut kelapa?

Jawab : ................................................................................................................

4. Apakah pemilihan lokasi agroindustri dipertimbangkan?

Jawab : ................................................................................................................

5. Apakah CV. Sumber Sari menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga?

a. Ya b. Tidak

6. Siapa saja pihak yang menjalin kerjasama dengan CV. Sumber Sari?

Jawab: ................................................................................................................

7. Apa saja kegiatan yang dijalankan oleh CV. Sumber Sari?

Jawab: ................................................................................................................

8. Apa visi dan misi CV. Sumber Sari?

Jawab: ................................................................................................................

9. Bagaimana struktur organisasi Agroindustri pengolahan sabut kelapa ini?

Jawab: .................................................................................................................

10. Berapa tenaga kerja yang digunakan oleh CV. Sumber Sari selaku pelaku

usaha?

Jawab: ................................................................................................................

11. Bagaimana sistem pembagian tenaga kerja tersebut?

Jawab: .................................................................................................................

12. Bagaimana sistem upah karyawan (gaji, borongan atau harian)?

Jawab: .................................................................................................................

13. Apakah terdapat perbedaan dalam pemberian upah tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

140

14. Bagaimana mekanisme pengolahan komoditas kelapa yang dilakukan di CV.

Sumber Sari?

Jawab: ................................................................................................................

B. RANTAI PASOKAN

a. Aliran Produk

1. Apakah anda juga melakukan budidaya kelapa?

Jawab : ...............................................................................................................

2. Apa saja produk olahan sabut kelapa yang dihasilkan oleh CV. Sumber Sari

selain cocofiber?

Jawab: ................................................................................................................

3. Darimana anda memperoleh bahan baku sabut kelapa?

Jawab: ................................................................................................................

4. Apakah bahan baku yang digunakan hanya berasal dari satu pemasok? Jika

tidak darimana saja?

Jawab: ................................................................................................................

5. Bahan baku sabut kelapa yang seperti apa yang digunakan dalam proses

produksi?

Jawab: ................................................................................................................

6. Bagaimana apabila bahan baku yang digunakan tidak sesuai? Apakah terdapat

perbedaan hasil dan harga jual?

Jawab: ................................................................................................................

7. Bagaimana pengaturan siklus produksi cocofiber yang dilakukan?

Jawab : ...............................................................................................................

8. Apa faktor yang menentukan siklus produksi cocofiber anda?

a. ditentukan oleh pesanan dari mitra

b. ditentukan sendiri

c. Lain-lain,

9. Berapa produksi yang dihasilkan setiap harinya?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

141

10. Kepada siapa anda menjual hasil sabut kelapa yang telah diolah (cocofiber)

tersebut?

a. Pedagang

b. Konsumen

c. Lain-lain,

11. Mengapa anda menjual kepada pihak tersebut?

Jawab: .................................................................................................................

12. Apakah anda selalu menjual produk cocofiber kepada jawaban nomor 10?

Jawab: ................................................................................................................

13. Bagaimana sistem penjualan cocofiber yang dilakukan?

Jawab: ................................................................................................................

14. Apakah terdapat karakteristik grade produk yang dijual?

Jawab : ...............................................................................................................

15. Produk akhir dijual kemana saja?

Jawab : ...............................................................................................................

16. Bagaimana proses pemesanan yang dilakukan oleh pengolah atau mitra?

Jawab : ...............................................................................................................

17. Bagaimana proses pendistribusian produk?

Jawab : ...............................................................................................................

18. Berapa jarak yang harus anda tempuh untuk menjual produk cocofiber?

Jawab: ................................................................................................................

19. Bagaimana dukungan infrastruktur yang terdapat dalam lokasi usaha?

Jawab: ................................................................................................................

20. Apa saja kendala yang anda hadapi dalam melakukan pemasaran produk

cocofiber?

Jawab: ................................................................................................................

21. Bagaimana anda mengatasi kendala pemasaran tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

22. Sasaran pasar produk olahan sabut kelapa yang Bapak/Ibu jual: (Pasar

domestik? Pasar ekspor?)

Jawab : ...............................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

142

23. Tujuan penjualan?

Jawab : ...............................................................................................................

24. Apakah produk cocofiber yang dijual memiliki merk? (Ya/Tidak)

Jawab : ...............................................................................................................

25. Apakah anda memiliki langganan tetap?

Jawab: ................................................................................................................

26. Apakah CV. Sumber Sari menjual semua stok yang diproduksi?

Jawab: ................................................................................................................

27. Berapa total pesanan yang mampu perusahaan penuhi dalam sekali transaksi?

Jawab: ................................................................................................................

b. Aliran Informasi

1. Siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam proses pengolahan sabut kelapa

anda?

Jawab : ................................................................................................................

2. Siapakah yang berperan dalam penciptaan grade produk?

Jawab : ................................................................................................................

3. Apakah anda mengetahui perkembangan harga jual produk cocofiber?

Jawab: ................................................................................................................

4. Darimana anda memperoleh informasi tentang perkembangan harga tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

5. Siapa yang berperan dalam penentuan harga?

Jawab : ................................................................................................................

6. Apakah anda menggunakan patokan harga pasar ketika menjual cocofiber?

Jawab: ................................................................................................................

7. Apakah anda mengetahui informasi tentang permintaan produk cocofiber di

pasaran?

Jawab: ................................................................................................................

8. Apakah perusahaan melakukan kegiatan penjualan berdasarkan permintaan

konsumen?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

143

9. Bagaimana mekanisme pemesanan yang dilakukan oleh konsumen?

Jawab: ................................................................................................................

10. Apakah perusahaan berkomunikasi dengan pihak sebelumnya terkait stok

bahan baku?

Jawab: ................................................................................................................

11. Apakah perusahaan pernah menerima informasi berupa komplain ataupun

saran dari konsumen? Jika ada, bagaimana contohnya?

Jawab: ................................................................................................................

12. Apa saja teknologi yang digunakan untuk mendukung penyaluran informasi

usaha?

Jawab : ................................................................................................................

13. Informasi apa saja yang didistribusikan?

Jawab : ................................................................................................................

14. Bagaimana informasi tersebut mengalir?

Jawab: ................................................................................................................

15. Bagaimana cara anda untuk membangun kepercayaan dalam rantai pasokan?

Jawab : ................................................................................................................

c. Aliran Keuangan

1. Berapa harga jual produk cocofiber yang diterapkan?

Jawab: ................................................................................................................

2. Bagaimana mekanisme penentuan harga produk cocofiber yang dijual?

Jawab: ................................................................................................................

3. Hal apa yang mendasari penentuan harga tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

4. Bagaimana mekanisme pembayaran pada pembelian produk olahan sabut

kelapa yang dilakukan?

Jawab: .................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

144

5. Bagaimana aliran finansial yang selama ini dilakukan?

a. Lancar

b. Kurang Lancar

c. Tidak Lancar

Alasan: ...............................................................................................................

6. Darimana sumber modal usaha berasal?

Jawab : ................................................................................................................

7. Apakah terdapat kendala dalam pembiayaan usaha?

Jawab : ...............................................................................................................

8. Apakah ada kesepakatan dalam bentuk kontrak dengan pembeli?

Jawab : ...............................................................................................................

9. Apa saja yang menjadi poin kesepakatan di dalam kontrak baik informal

maupun informal dan bagaimana penjelasannya?

Jawab : ................................................................................................................

C. KINERJA RANTAI PASOKAN

1. Berapa jumlah pesanan rata-rata cocofiber yang perusahaan terima dalam satu

kali pemesanan?

Jawab: ................................................................................................................

2. Apakah perusahaan dapat memenuhi pesanan-pesanan tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

3. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memenuhi pesanan tersebut? Dan

apakah waktu tersebut sudah tepat?

Jawab: ................................................................................................................

4. Bukti transaksi apa yang digunakan oleh perusahaan dalam melakukan jual

beli?

Jawab: ................................................................................................................

5. Bagaimana perusahaan anda menjaga kualitas serta kesempurnaan produk

cocofiber yang akan maupun sedang dipasarkan?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

145

6. Apakah produk cocofiber mengalami kerusakan dalam waktu tertentu?

Jawab: ................................................................................................................

7. Apakah pernah terjadi pengembalian barang dalam proses transaksi?

Jawab: ................................................................................................................

8. Berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk pengadaan bahan baku

dalam satu kali siklus produksi?

Jawab: ................................................................................................................

9. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengolah sabut kelapa menjadi

produk cocofiber dalam satu kali siklus produksi?

Jawab: ................................................................................................................

10. Berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mendistribusikan

produk dari setelah proses produksi sampai ke tangan konsumen?

Jawab: ................................................................................................................

11. Apakah perusahaan pernah mengalami kenaikan permintaan produk cocofiber

dari biasanya?

Jawab: ................................................................................................................

12. Jika ada, seberapa besar kenaikan permintaan yang terjadi selama satu tahun?

Jawab: ................................................................................................................

13. Berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan bahan

baku untuk mengatasi kenaikan permintaan yang terjadi?

Jawab: ................................................................................................................

14. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengolah peningkatan bahan

baku akibat peningkatan permintaan tersebut?

Jawab: ................................................................................................................

15. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendistribusikan produk kepada

konsumen pada saat permintaannya meningkat?

Jawab: ................................................................................................................

16. Apakah perusahaan pernah mengalami komplain atau pengembalian barang

pada saat peningkatan permintaan terjadi?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

146

17. Berapa kapasitas permintaan maksimal yang perusahaan dapat penuhi dalam

satu bulan?

Jawab: ................................................................................................................

18. Apakah perusahaan pernah mengalami pembatalan pesanan?

Jawab: ................................................................................................................

19. Jika ada, seberapa besar kerugiannya dan bagaimana cara mengatasinya?

Jawab: ................................................................................................................

20. Apakah perusahaan pernah mengalami penurunan pesanan?

Jawab: ................................................................................................................

21. Seberapa besar penurunan pesanan yang mampu ditanggung perusahaan

tanpa mengalami kerugian?

Jawab: ................................................................................................................

22. Apakah dalam menjalankan usaha, perusahaan melakukan proses

perencanaan?

Jawab: ................................................................................................................

23. Jika ada, bagian apa saja yang termasuk dalam perencanaan?

Jawab: ................................................................................................................

24. Apakah perusahaan melakukan penjadwalan terhadap kegiatan keluar

masuknya barang pada perusahaan?

Jawab: ................................................................................................................

25. Bagaimana bentuk penjadwalan yang dilakukan oleh perusahaan?

Jawab: ................................................................................................................

26. Adakah kegiatan di dalam perusahaan yang memiliki risiko dalam

pelaksanaannya?

Jawab: ................................................................................................................

27. Bagaimana pengaruh kegiatan yang berisiko terhadap kinerja dalam

perusahaan?

Jawab: ................................................................................................................

28. Menurut anda, berapa persen pengaruh kegiatan-kegiatan yang memiliki

risiko tersebut terhadap keseluruhan kinerja dalam rantai pasokan?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

147

29. Berapa rata-rata produk yang terjual dari perusahaan setiap harinya?

Jawab: ................................................................................................................

30. Apakah perusahaan menerapkan stok atau penyimpanan produk sebelum

dijual?

Jawab: ................................................................................................................

31. Jika ada, berapa jumlah rata-rata persediaan di gudang sebelum dijual?

Jawab: ................................................................................................................

32. Berapa lama waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menjual persediaan

barang yang terdapat di gudang hingga menerima pembayaran?

Jawab: ................................................................................................................

33. Apakah perusahaan memiliki utang/piutang?

Jawab: ................................................................................................................

34. Jika ada, dalam bentuk apa?

Jawab: ................................................................................................................

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

148

DOKUMENTASI

Gambar 1. Wawancara dengan salah satu petani kelapa

Gambar 2. Wawancara dengan Tengkulak yang Memasok Sabut Kelapa di CV.

Sumber Sari

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

149

Gambar 3. Wawancara dengan Salah Satu Pedagang Pengumpul yang Memasok

Sabut Kelapa di CV. Sumber Sari

Gambar 4. Foto Bersama Direktur Utama CV. Sumber Sari

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

150

Gambar 5. Proses Pengupasan Kelapa untuk Dipisahkan dari Sabutnya

Gambar 6. Sabut Kelapa yang Siap untuk Diproduksi

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

151

Gambar 7. Proses Penjemuran Produk Cocofiber yang telah Diolah

Gambar 8. Proses Penimbangan Cocofiber Setelah Dipress

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember

152

Gambar 9. Produk Cocofiber yang Siap Dikirim

Gambar 10. Proses Pengiriman Cocofiber kepada Konsumen

Digital Repository Universitas JemberDigital Repository Universitas Jember


Recommended